| Kamu jadi aktivis rohis? Berbahagialah, karena kamu udah peduli dengan nasib
dirimu, dan juga kawanmu. Maklumlah, anak rohis kan identik banget dengan kegiatan
keislaman. Bahkan jadi ciri khas bahwa anak rohis adalah anak-anak yang hobinya
‘nyeramahin’ anak lain. Tapi jangan salah lho, bukan berarti aktivitas
itu tanpa risiko. Ada aja risiko yang kudu kamu tanggung. Bahkan mungkin kudu
dibayar mahal. Bener. Maka jangan kaget kalo anak rohis, selain banyak temannya,
juga nggak sedikit ‘musuh’nya.
Sobat muda muslim, sebenarnya aktivitas dakwah nggak dibebankan kepada anak-anak
yang udah biasa ngetem di masjid aja. Anak-anak lain, asal dia muslim or muslimah,
juga punya tanggung jawab yang sama untuk mengingatkan teman lain kalo berbuat
maksiat. Pendek kata, kamu yang bukan anak rohis pun, punya juga kewajiban menyampaikan
Islam kepada siapa saja. Itu artinya, dakwah emang bukan spesialis anak rohis
aja. Semua orang bisa dan bahkan kudu bin wajib melakukan dakwah. Nggak dikavling-kavling
tugasnya.
Kadang bagi sebagian remaja, mengingatkan teman yang berbuat maksiat gampang-gampang
susah (atau susah-susah gampang kali yee..?). Yup, dua-duanya juga bener. Begini,
dibilang gampang, emang gampang. Kita tinggal ngomong atau sekadar nulis apa
yang kita nggak suka terhadap apa yang dilakukan sebagian teman-teman kita.
Beres kan? Tapi kadang susah juga buat sebagian teman kita. Apa susahnya? Pas
mau ngomong ngingetin teman, suka nggak enak, sungkan, dan seabreg kendala teknis
lainnya. Nha lho, ati-ati tuh!
Kalo susah-susah gampang gimana? Begini, sebagian dari kita kadang susah banget
untuk menjalani aktivitas ini. Masih ngukur-ngukur diri. Katanya sih, belum
layak kalo harus ngingetin orang, sementara dirinya merasa masih belepotan dosa.
Hmm… padahal, apa susahnya cuma ngingetin. Iya nggak? Lagian, dengan begitu
kita jadi punya tanggung jawab moral. Sedikit demi sedikit bakalan tumbuh juga
kan sikap ingin menyesuaikan dengan apa yang kita ucapkan. Betul? Yakin itu.
Jadi ternyata gampang juga kan? He..he. udah deh, kita nggak usah ngeributan
istilah gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Nyang penting jalanin
aja deh aktivitas mulia ini.
Seperti sekarang nih, maksiat kian merajalela. Media massa cetak dan elektronik
getol ikut membantu mensyiarkan kemaksiatan. Hasilnya? Kita semua dikepung dari
berbagai arah penjuru angin. Nyaris nggak bisa bernafas. Semua media seperti
seragam; memberi menu pornografi, kekerasan, dan juga seks. Kalo pun ada media
Islam, ‘sinyal’nya nggak begitu kuat untuk mengalahkan dominasi
bacaan dan tayangan yang mengabaikan aspek moral dan ajaran agama. Menyedihkan.
Itu sebabnya, peran kita dalam dakwah juga harus terus diaktifkan. Nggak kenal
lelah, pantang menyerah. Maju terus pantang mundur. Nyalakan terus semangat
di jiwa kita. Dakwah adalah jalan yang harus kita tempuh, apa pun risikonya.
Sebab, tanpa dakwah, kemaksiatan ini makin membudaya dan orang yang bermaksiat
kian merasa aman. Betul?
Aktivitas yang mulia
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah
kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid)
dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang
menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek bebek sama
dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman
kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja?
Bahkan Allah memuji aktivitas mulia ini dalam firman-Nya: “Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan
amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim"
(QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada umatnya untuk berdakwah. Seperti
dalam firman-Nya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS
an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan
identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu
mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan
di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu
bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga
lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki
semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini.
Sesuai dengan seruan Allah: “Dan perangilah mereka itu, hingga tidak
ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.”
(al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”,
arus informasi makin sulit dikontrol. Internet, misalnya, telah mampu memberikan
nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata
dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut
dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya
nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni
pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja Muslim. Kita bisa saksikan dengan
mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan
maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil,
amburadul deh!
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk
menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka
kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan
kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung
kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja?
Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin
meroket? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi
dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi
persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi
makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban
yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat
untuk menyadarkan mereka.
Itu sebabnya, kita kudu melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih
sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan
keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah
kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka
membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian
di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air,
maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang
di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku
sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.”
Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.”
(HR Bukhari)
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita.
Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atawa Rambo yang bisa melakukan
aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan
berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah.
Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam
yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka
bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu
di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa
kita wajib berdakwah.
Subur dengan cobaan
Sobat muda muslim, aktivitas mulia ini ternyata kudu berhadapan dengan segala
risiko. Risiko yang nggak jarang bikin kita sebagian dari kita berguguran di
tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan
yang mantep sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Para pendahulu
kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam
cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah
datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah
itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)
Coba, gimana menderitanya Amar bin Yasir yang disiksa oleh para pembesar
Quraisy ketika awal-awal Islam berkembang di kota Mekkah. Nggak hanya itu,
beliau harus rela menyaksikan kedua ortunya gugur sebagai syuhada di depan mata
kepalanya sendiri. Kita juga bisa meneladani bagaimana pula pengorbanan Bilal
bin Rabbah yang rela dijemur di siang hari yang panas dan tubuhnya ditindih
batu, sementara pasir di bawahnya terasa membakar kulitnya. Tapi, subhanallah,
Bilal sanggup melewatinya dengan kesabaran dan keimanan yang tetap menancap di
hatinya.
Boleh dibilang, di balik manisnya aktivitas dakwah, ternyata menyimpan rasa
pahit yang amat sangat. Tapi ini sebuah pilihan. Dan setiap pilihan ada
risikonya. Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada pamannya, pada saat ia
meminta beliau untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: “(Paman), demi Allah,
seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan
kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya
sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.” (dalam Sirah Ibnu
Hisyam)
Kontan aja berbagai penyiksaan dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri
bahkan sempat akan membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan
kebenaran Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang
membenci Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah “bagi
mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukan”.
Pantes aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka
reaktif. Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan
sampe pukulan.
Padahal, maksud kita
juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita
udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya,
kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, “Engkau buta,
sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti” Tul nggak?
Kesabaran dan istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu
akan menjadi penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok
tahu, mau menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis.
Meski semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama
aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam
bentuk lain. Firman Allah Swt.:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
"Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka
malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa
takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS
Fushilat [41]: 30)
Oke deh, nyalakan terus semangatmu untuk berdakwah. Apa pun yang bakal
terjadi. Ini pilihan hidup kita. Jalan yang insya Allah bisa mengantarkan
kebangkitan Islam dan umatnya. Tetep semangat sobat!?
|