Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
Jika engkau menaklukkan dirimu dalam hal-hal kecil, sesungguhnya engkau melatih kemauanmu untuk menjadi batu karang yang kukuh dan menjadi tuan atasmu.
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
13 Juli 2005 - 15:15
Mengapa Harus Jadi Waria?       
STUDIA Edisi 253/Tahun ke-6 (18 Juli 2005)
 

Jangan ganggu banciiii.!/jangan ganggu banciiii..!/jangan ganggu banciiii....!/jangan, ganggu....!”

Penggalan lirik lagu terbaru dari Project Pop ini kian mengakrabkan kosakata ‘banci' di telinga kita. Dan kayaknya, bukan cuma kosakatanya aja yang makin dekat dengan kita, tapi juga wujud aslinya. Buktinya, Ahad 26 Juni lalu komunitas banci, bencong, waria, atau wadam berani ngegelar hajatan gede-gedean dalam acara pemilihan Miss Waria Indonesia 2005 di Gedung Sarinah Lt. 14, Jakarta. Meski sempet diancam laskar FPI bakal dibubarkan, kontes itu jalan terus. Urusan kayak gini, emang negara yang kudu turun tangan untuk menyelesaikannya.

Sebanyak 30 waria dari berbagai daerah mengikuti kontes ini. Mereka menunjukkan kebolehan masing-masing seperti bernyanyi, menari, dan tentunya berperilaku plus berdandan seperti wanita. Olivia, kontestan dari Jakarta, akhirnya terpilih sebagai Miss Waria Indonesia 2005 . Penyematan mahkota langsung dilakukan Miss Waria Indonesia 2004 Megi Megawati. Menurut ketua dewan juri Ria Irawan, salah satu penilaian adalah kesempurnaan fisik peserta yang menyerupai wanita. ( Liputan 6, 27/06/05 )

Nggak cuma berlomba tampil cantik, para waria juga berusaha nunjukkin kalo mereka punya skill . Sebut saja Merlyn Sopjan, seorang penulis buku Jangan Lihat Kelaminku . Waria lulusan Institut Teknologi Nasional Malang ini pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif Kota Malang mewakili Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia pada 2003. Waria cantik kelahiran Kediri ini bahkan dianugerahi gelar Doktor HC dari Northern California Global University Amerika karena keterlibatannya sebagai aktivis sosial HIV/AIDS. Ketua Ikatan Waria Malang yang pernah menjadi Ratu Waria Indonesia 1995 ini akan mengikuti kontes Miss Internasional Waria di Thailand November mendatang. ( Suara Merdeka, 12/05/2005 )

Selain Merlyn, ada juga Shunniyah R.H, seorang waria berkerudung (atau sengaja dikerudungin untuk mengesankan simbol islami?) yang menulis buku berjudul Jangan Lepas Jilbabku . Doi adalah alumni UGM Yogyakarta jurusan sospol dengan predikat cum laude dalam waktu 3 tahun 40 hari.

Inilah beberapa aksi dan prestasi dari para pria cantik ini demi mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Sebab seperti yang udah sering diberitakan media massa, negeri kita yang dihuni mayoritas muslim ini masih banyak yang belum bisa menerima keberadaan mereka. Maklumlah, perilaku dan dandanan mereka yang menyerupai wanita, terlihat ganjil jika mengingat statusnya sebagai lelaki. Gagah gemulai, cantik berotot, tentu dengan gaya bicara yang dibuat segenit mungkin. Kok bisa ya? Makanya kita cari tahu. Yuk!

Menjadi waria sebuah kodrat?

Ario Pamungkas alias Merlyn Sopjan pernah menuturkan, “Kami tak pernah meminta dilahirkan sebagai waria” . Bagi Ario, dengan mendandani diri seperti perempuan, ia mendapatkan kenikmatan batin yang begitu dalam. Ia seolah berhasil melepas beban psikologi yang selama ini masih memberatkannya. (Republika, 29/10/2004)

Waria, menurut Pakar Kesehatan Masyarakat dan pemerhati waria dr Mamoto Gultom, adalah subkomunitas dari manusia normal. Bukan sebuah gejala psikologi, tetapi sesuatu yang biologis. Kaum ini berada pada wilayah transgender: perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki. (Kompas, 07/04/2002).

Kenapa orang bisa menjadi waria, menurut Guru besar psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan (jawapos.com, 08/06/2005)

Sobat, boleh jadi pada diri laki-laki terdapat sisi feminin yang Allah anugerahkan. Tapi nggak lantas dengan alasan itu, laki-laki dibolehkan jadi waria. Nggak sobat. Karena pada hakikatnya, seperti penuturan Prof. Dr. Koentjoro, kecenderungan menjadi waria lebih diakibatkan oleh salah asuh atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Bukan penyakit turunan atau karena urusan genetik. Ini pun diakui oleh Merlyn Sopjan ( Republika, 29/10/2004 ).

Parahnya, opini yang dikembangkan oleh media massa tertentu membuat pilihan untuk menjadi waria adalah hal yang wajar, normal, manusia bin kodrati. Mereka semakin merasa menjadi waria bukanlah sebuah penyimpangan, tapi hanya sebuah perbedaan yang terdapat pada diri manusia sama seperti halnya orang yang cacat secara fisik. Sehingga mereka berusaha memperjuangkan haknya untuk diterima oleh masyarakat. Seperti yang terjadi di Papua pada tahun 1992-1997. Mereka berhasil memperjuangkan pencantuman “waria” pada kolom-kolom kartu tanda penduduk (KTP). Waduh!

Padahal pilihan untuk menjadi waria bagi seorang muslim, adalah pilihan buruk yang dibenci Allah dan RasulNya. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ibn Abbas, telah melaknat perilaku seperti itu:

Rasulullah saw. telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan para wanita yang menyerupai para lelaki. (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad)

Adanya kata-kata ‘melaknat' ( la‘ana ) dalam hadis di atas adalah indikasi ( qarînah ) yang menunjukkan bahwa perilaku semacam itu telah diharamkan oleh Rasulullah saw. Sehingga lebih pas kalo laki-laki yang meniru perempuan disebut sebagai pelaku maksiat, bukannya menyesuaikan dengan kodrat. Betul?

Bagian dari serangan budaya Barat

Sobat, maraknya kampanye legalisasi keberadaan waria menunjukkan gencarnya serangan budaya Barat ke negeri kita. Hal ini berdampak pada dua hal:

Pertama , setelah keberadaan mereka dipopulerkan televisi dalam sinetron atau iklan komersil, masyarakat jadi penasaran pengen tahu banyak dengan kehidupan waria. Dari asal-usulnya, suka-dukanya, kesehariannya, sampe masa depan mereka. Liputan tentang diskriminasi terhadap waria dikemas sedemikian rupa untuk memancing emosi dan perasaan kasian pemirsa. Ujung-ujungnya, informasi seputar waria yang disuguhkan lebih diarahkan kepada legalisasi waria di mata masyarakat. Parah banget kan?

Media mampu menyulap kebiasaan yang salah menjadi sesuatu yang lumrah. Waria dijadikan produk hiburan. Dengan cara bicaranya yang kemayu, keluar deh tuh kata-kata asing khas kamus gaulnya Debby Sahertian yang mengundang gelak tawa. Cara berdandannya juga rada-rada unik. Wajah dipoles sana-sini pake kosmetik biar tampak cantik. Meski hasilnya lebih sering bikin yang ngeliat cekakak-cekikik.

Dan akhirnya, terjadi pergeseran sudut pandang dan sikap kaum Muslimin terhadap keberadaan waria. Kita seperti nggak punya pilihan untuk mengatakan kalo perilaku mereka itu keliru. Yang ada, kita dikasih pilihan untuk cuek bebek atau mendukung. Sebab dalam kehidupan sekuler yang banyak diopinikan media, kebebasan dalam berperilaku adalah hak individu yang nggak bisa diganggu gugat. Dan menjadi waria, merupakan salah satu ekspresi kebebasan yang dimaksud. Kalo ada yang nggak setuju? Ya, dilarang dengan keras untuk ngerecokin. Termasuk nggak boleh aktif mengingatkan waria untuk kembali ke jalan yang benar. Apalagi sampai melarang atau memvonis bersalah. Bisa-bisa berurusan ama aparat karena dianggap mengganggu kebebasan orang lain. Nah lho? Diajak baik kok ngancem ya?

Kedua , maraknya ekspos media terhadap waria menjadi cara yang jitu yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kampanye penerapan syariat Islam yang tengah gencar di berbagai daerah di nusantara ini. Aktivitas amar makruf nahyi munkar pun terlupakan. Masyarakat semakin cuek dengan berbagai permasalahan yang muncul akibat diterapkannya sistem sekuler. Jika dibiarkan, boleh jadi negeri kita akan semakin liberal dan mungkin suatu saat nanti legalisasi perkawinan sejenis nggak cuma terjadi di Belanda, Spanyol atau Kanada. Tapi juga di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini. Gawat nih!

Back to Islam

Sobat, sampe kiamat pun Islam nggak akan pernah mentoleransi keberadaan waria di tengah masyarakat. Meski media massa tertentu mengopinikan kalo menjadi waria itu bagian dari kodrat, Islam tetep melihatnya sebagai perilaku maksiat.

Aturan hidup sekuler telah memanjakan manusia untuk berbuat semau gue. Penyaluran yang salah dari potensi yang dimiliki manusia dalam peradaban Barat lebih populer dibanding cara yang benar. Makanya nggak heran kalo gaya hidup free sex , homoseks, lesbian, atau waria merajalela di Eropa. Sebab mereka pikir lebih baik mati-matian mereguk kepuasan dunia daripada setengah hidup menahan hasrat demi kehidupan akhirat. Apa kita mau ikut sesat?

Dan baru-baru ini terdengar kabar di beberapa negara Eropa seperti di Belanda, Belgia, Spanyol, dan Kanada, pemerintahnya melegalkan perkawinan sejenis. Seolah melestarikan keberadaan kaum homoseks dan lesbian. Padahal lebih dari 500.000 umat Katolik berkampanye didukung sekitar 20 uskup senior untuk menentang hukum baru di Spanyol yang mengesahkan perkawinan sesama jenis. Tapi tetep aja pemerintah Spanyol nggak menggubris larangan itu. Nekat, man!

Di sinilah pentingnya kita kembali kepada aturan Islam sebagai jalan kebaikan yang udah dijamin keselamatan dunia-akhirat oleh Allah Swt. Dalam kasus waria, Islam mengajarkan agar orang tua mendidik anaknya sesuai dengan kodratnya. Perlahan-lahan diperkenalkan hukum-hukum Islam sesuai dengan jenis kelaminnya. Ketika beranjak dewasa, diajarkan untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis.

Dan peran negara dalam hal ini, membentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak sesuai dengan kodratnya. Di antaranya dengan mencegah masuknya peradaban Barat yang rusak melalui media massa cetak dan elektronik. Kalo masih ada yang nekat berperilaku waria, mereka kudu berhadapan dengan aturan Islam yang diterapkan negara. Mereka bakal terkena sanksi yang ditentukan oleh khalifah ( ta'jir ). Bisa berupa karantina di balik jeruji besi sambil diberikan nasihat agar tobat dan tidak mengulanginya lagi. Makanya mending jadi cowok tulen. U are u!

Saat ini, sikap terbaik yang kudu kita tunjukkan terhadap waria bukanlah dengan kebencian, tapi cinta. Eits, jangan salah. Wujud cinta kita adalah dengan mengajak para waria untuk meninggalkan statusnya. Tulisan ini adalah satu bentuk penyadaran terhadap mereka untuk jadi cowok tulen. Bukti cinta kita. Kalo kita cuek kan, kita biarin aja nggak usah dinasihatin. Betul? Oya, selain itu, kita juga kudu terus berupaya menyadarkan masyarakat untuk ber- amar makruf nahyi munkar ; dan meminta negara untuk menerapkan aturan Islam. Kita udah bosen hidup sengsara di bawah naungan kapitalisme-sekularisme. Sumpah!

Oya, teknisnya nih, kalo kamu punya temen cowok yang agak-agak feminin dan lebih suka gaul ama cewek, ajaklah doi untuk berpikir lebih jernih tentang kodratnya sebagai cowok tulen. Bukan dijauhi atau malah dikucilkan. Biar doi nggak terjerumus ke dalam dunia ‘eike bin akikah' tsb. Jangan lupa untuk memperkenalkan aturan Islam padanya. Sebab cuma aturan Islam yang akan membebaskan manusia dari kebodohan dan kesesatan. So , jangan jadi waria ya. Nggak baik. Menyalahi kodrat tuh. Oke? [Hafidz: hafidz341@telkom.net]

 
 
(Dibaca: 33078 kali | Dikirim: 18 kali | Print: 195 kali | Nilai: 8.83/6 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2014, Dudung Abdussomad Toha