| Sebut saja Sinta, gadis berjilbab itu merasa resah dan cemas. Hari-harinya
ia lalui dengan perasaan takut dan khawatir. Apa pasal? Sinta dan beberapa orang
temannya tiga hari yang lalu dipanggil salah seorang guru. Sinta diinterogasi
atas sikapnya yang keukeuh untuk tidak menanggalkan jilbabnya di sekolah
tersebut. Maklum, pihak sekolah sangat keberatan dengan banyaknya siswi yang
mengenakan busana muslimah, padahal sekolah tersebut bukan sekolah agama. Walah,
kenapa resah, bukankah itu kudu disyukuri?
Kecemasan Sinta kian menebal saat pihak sekolah mengancam akan "merumahkan"
siswi yang tetep ngotot untuk memakai jilbab ke sekolah. Ancaman tersebut dibuktikan
dengan surat edaran kepala sekolah yang menyatakan bahwa, jika ada siswi yang
tetap bersikeras mengenakan busana muslimah itu ke sekolah, maka dipastikan
siswi tersebut akan diskors dan tidak dibolehkan mengkuti ujian Cawu di sekolah.
Ancaman seperti ini tentu aja bikin ciut nyali para siswi berjilbab. Bukan tak
mungkin bagi mereka yang lemah iman bakalan keder bin riweuh lalu mengalah terhadap
peraturan sekolah tersebut. Bahaya bin gaswat!
Sobat muda muslim, yang jadi pertanya-an adalah, mengapa sekolah bisa begitu
kejam dalam bersikap terhadap para siswi muslimah yang ngotot mengenakan jilbab
ke sekolah? Bukankah hal itu udah nggak jamannya lagi? Wuah, kayaknya kita kudu
menelusuri lebih jauh. Siapa tahu, emang ada salah paham di antara pihak sekolah
dengan teman remaja puteri. Atau jangan-jangan emang sengaja kasus tentang jilbab
sekolah ini kembali dimunculkan oleh pihak-pihak yang nggak suka dengan maraknya
syiar Islam. Kita kudu teliti dulu, sobat.
Hmm..., kalo diperhatiin, sebenarnya nggak beralasan pihak sekolah mengeluarkan
"ultimatum" seperti itu. Mengapa? Sebab, apa salahnya jilbab? Apakah
pelajar puteri yang ingin melaksanakan salah satu kewajibannya dalam Islam dianggap
melanggar aturan sekolah? Juga, apakah merupakan sebuah aib bila sekolah negeri
atau yang bersifat umum (baca: bukan sekolah agama) banyak siswi muslimahnya
mengenakan jilbab? And than... apakah akan mengganggu proses belajar mengajar
hanya karena para siswinya mengenakan jilbab? Kita rasa beberapa pertanyaan
ini perlu dijawab oleh pihak sekolah. Walah berani amat...? He..he...he... adakalanya
memang kita tak perlu takut dalam beberapa hal. Utamanya bila itu menyangkut
urusan keyakinan dalam beragama.
Memang aneh bin ajaib kalo merhatiin keadaan sekarang. Misalnya aja akhir tahun
lalu, seorang karyawati SOGO, Mbak Misye A Sasongko, harus memilih keluar dari
perusahan tersebut. Pasalnya, pihak perusahaan keberat-an bila karyawatinya
mengenakan jilbab. Konon kabarnya akan merusak citra perusahaan tersebut. Walah?
Apa hubungannya coba? Apakah karena jilbab dianggap menghambat produktivitas
dan melemahkan etos kerja? Rasanya semua pihak kudu melihat persoalan ini dengan
bijak. Jilbab bukan masalah!
Definisi jilbab
Sobat muda muslim, mungkin kejadian ini bisa muncul karena kesalahan dalam
memahami dan mendefinisikan jilbab. Rasanya, banyak juga di antara kaum muslimin
sendiri agak kesulitan dalam mendefinisikan jilbab. Ada yang bilang bahwa jilbab
itu, ya kerudung itu. Kalo ada anak puteri udah pake kerudung, lantas disebut
udah pake jilbab. Wah, itu salah besar. Dan jelas belum dikatakan berjilbab.
Firman Allah Swt.: "Hai Nabi katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah
mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan
Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang."(TQS. al-Ahzab
[33]: 59).
Yup, kita coba ngasih penjelasan. Begini sobat, jilbab bermakna milhâfah
(baju kurung atau semacam kabaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ')
apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh
bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu
laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau
pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang
dapat menutupi pakaian keseharian-nya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo mau pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam
kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain
panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ'ah (baju
kurung).
Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah pergi keluar
rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan mahrom). Sebab
memang tujuannya juga adalah untuk menutup auratnya. Oya, untuk bisa disebut
mengenakan busana muslimah, maka seorang muslimah harus mengenakan jilbab lengkap
dengan kerudungnya. Begitu deh, secara singkatnya.
Persoalan inilah yang kayaknya nggak nyambung bagi pihak sekolah. Utamanya untuk
kasus yang terjadi sekarang. Kalo dulu pihak sekolah mengikuti peraturan Depertemen
PDK dalam aturan pakaian seragam sekolah yang emang melarang sama sekali bagi
siswi muslimah untuk mengenakan kerudung, apalagi jilbab. Aturan itu dirasa
begitu "kejam". Tapi yang terjadi sekarang, pihak sekolah konon kabarnya
masih membolehkan siswi yang berkerudung, tapi syaratnya masih mengenakan pakaian
atas-bawah (baca: kemeja dan rok).
Tentu saja, bagi para siswi yang udah mendapat pemahaman bahwa jilbab adalah
seperti dalam definisi di atas, maka wajar bila kemudian ia menjahit pakaian
atas (baju) dengan pakaian bawah (rok). Sehingga menjadi nyambung (baju terusan).
Nah, rupanya pihak sekolah rada ngadat dengan kejadian ini. Dan dianggap telah
menyalahi aturan pakaian seragam sekolah yang telah ditetapkan Depdiknas. Walah?
Sobat muda muslim, mungkin disinilah letak masalahnya. Yakni kesalahan dalam
memahami definisi jilbab. Sebab, pihak sekolah nggak melarang bagi mereka yang
mengenakan kerudung dan pakaiannya (baju dan rok) yang nggak dijahit.
Bagaimana sikap kita?
Oke deh. Kalo itu persoalannya, ini jelas harus dibicarakan dengan pihak sekolah.
Kamu bisa mengadakan dialog secara terbuka dengan para guru dan kepala sekolah
untuk menjelaskan definisi jilbab, dan konsekuensi bagi seorang muslimah ketika
mereka mengetahui tentang kewajiban untuk mengenakannya. Bila itu tidak berhasil,
rasanya kamu butuh mediator. Bisa dari orang tua murid. Bisa juga dari guru
yang udah mendukung langkah kamu. Atau bisa mencari dukungan dari seluruh kaum
muslimin yang ada di wilayah kamu.
Tapi yang jelas, kamu jangan menyerah dengan kenyataan ini. Dan jangan pernah
ada istilah putus asa. Sebaliknya, kamu nyari dukungan dari berbagai kalangan.
Dan yakinlah, bahwa sikap keukeuh kamu dalam berjilbab adalah bagian
dari upaya untuk mempertahan-kan keyakinan agama.
Sobat muda muslim, kita mengakui kok, bahwa tak selalu mudah menghadapi setiap
masalah. Itu sebabnya, kita kudu menggalang kekuatan bersama. Misalnya aja,
bila kemudian jalan dialog mengalami deadlock alias jalan buntu, maka bagaimana
sikap kita?
Tetep yakin. Jangan menyerah. Anggap saja itu sebagai rintangan dalam perjalanan
dakwah kita. Dan rintangan bukan untuk dihindari, tapi disingkirkan. Bila di
jalan ada duri, kamu jangan nyari jalan lain, tapi singkirkan duri itu, supaya
kamu tetep bisa jalan di jalan yang sama.
Sobat muda muslim, kamu juga kudu yakin, bahwa nggak bakalan pihak sekolah
itu mengambil tindakan yang begitu berbahaya, misalnya mengeluarkan kamu dari
sekolah. Insya Allah itu tidak akan terjadi. Lagi pula apa salahnya? Karena
melanggar aturan sekolah? Wuah, rasanya kita kudu menyampaikan bahwa Islam sebagai
patokan dalam kehidupan seorang muslim. Setiap muslim, siapa pun ia, wajib terikat
dengan hukum syara. Dan hanya patuh pada hukum Islam, bukan hukum yang lain.
Jadi emang Islam nggak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Nggak bisa juga
dikavling-kavling dalam melaksanakan kewajiban. Misalnya, untuk mengenakan jilbab
hanya boleh di sekolah agama atau pesantren. Walah, ini mah bisa diketawain
ama semut tuh : :
Nggak bisa. dan emang nggak boleh dipisahkan seperti itu. Di manapun dan kapanmu,
seorang muslim, siapapun ia, wajib terikat dengan aturan Islam. Bukan aturan
yang lain.
Uppss.. tapi kayaknya nggak ada yang berani deh pihak sekolah melakukan konfrontasi
dengan siswanya sendiri. Lagian daripada capek-capek "ngatur" yang
udah baik-baik, mendingan ngurusin temen-temen remaja puteri Islam yang masih
bermasalah. Pamer aurat, terlibat seks bebas, terlilit masalah narkoba. Itu
lebih bermanfaat dan emang bagian dari tanggung jawab dalam mendidik. Lagian
dosa kan membiarkan anak-anak puteri pamer aurat. Rasulullah saw. bersabda :
"Wanita yang berpakaian
tapi telanjang, mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya bagai punuk
unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan keharumannya,
meskipun harum surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian."(HR
Muslim).
Tapi gimana kalo ternyata mereka ngotot memberikan sanksi? Sabar dan tetap
terus berusaha. Insya Allah seluruh kaum muslimin akan mendukung langkah kamu.
Jalin kerjasama dengan berbagai ormas Islam atau partai politik Islam yang ada
di sekitar kamu. Masak sih mereka pada cuek aja. Lagian itu kan tugas mereka.
Tul nggak? Tenang, sabar, dan tetap berusaha!
Perjuangan butuh pengorbanan
Rasanya, dalam kamus orang yang berjuang, pasti ia sadar betul bahwa itu akan
senantiasa bersanding dengan pengorbanan. Karena emang itulah konsekuensi dari
sebuah perjuangan. Perjuangan tanpa pengorbanan, rasanya nggak seru. Nggak bermakna.
Kamu yang sukses mendapat posisi juara umum di sekolah, pasti udah merasakan
gimana lelahnya sebuah perjuangan, sekaligus merasakan "nikmatnya"
sebuah pengorbanan. Untuk jadi JU, kamu perlu waktu dan tenaga lebih dari teman
yang lain, yang hanya cukup merasa puas mendapat nilai minimal untuk bisa naik
kelas.
Untuk meraih perjuangan yang berat dalam dakwah ini, tentunya banyak pula pengorbanan
yang kudu kita berikan. Firman Allah Swt.: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang
yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan
Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS
al-Baqarah [2]: 214)
Kamu pun jangan takut dan bersedih hati, apalagi Allah akan memberikan surga
bagi orang-orang beriman yang istiqomah dalam keyakinannya. Firman Allah Swt.
: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan
kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat
akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut
dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh)
surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (TQS Fushshilat
[41]: 30)
Sobat muda muslim, tetap melangkah dan jangan hentikan. Dakwah ini kudu tetap
ada dan tumbuh subur dalam jiwa kita. Kita semua menyeru kepada pihak sekolah,
dan juga pihak Dinas P dan P, bahwa janganlah hanya karena sebuah aturan dalam
seragam sekolah, lalu akhirnya mencampakkan aturan agama yang sudah baku. Jangan
mengharamkan yang sudah dihalalkan oleh Allah Swt. Firman Allah Swt: "Mereka
menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi
(manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan
itu."(TQS. at-Taubah [9]: 9)
______________________ Buletin Studia Bogor Edisi
085/Tahun ke-3 |