Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
" Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna". (Einstein)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
02 April 2002 - 12:42
Musik Manis, Musik Meringis       
 

Musik adalah mata untuk telinga. Demikian tertulis dalam sebuah peribahasa. Telinga kamu pasti bisa membedakan, mana musik yang enak, dan mana musik yang bikin bete. Telingalah yang bisa menyeleksi. Ibarat kamu melihat sesuatu, matalah yang pandai menyeleksi, mana gambar yang indah dan mana tampilan yang buruk. Begitulah.

Ngomong-ngomong soal musik, kayaknya paling asyik deh. Bukan apa-apa, musik ibarat udah jadi teman hidup kita. Menemani kita dalam segala kondisi. Saat sedih atawa pas kita lagi seneng, musik jadi teman setia kita. Termasuk, musik juga teman dalam mengekspresikan keinginan kita. Sampe ada teman yang bilang kalo musik emang bikin hidup lebih hidup.

Sobat muda muslim, tanpa kita sadari biasanya kita udah punya selera sendiri tentang musik. Ada yang senang musik dan lagu yang romantis, juga ada yang suka musik yang bikin meringis. Jenis musik dan lagu romantis? Hmm... siapa sih yang nggak kenal Rio Febrian? Wah, anak cewek biasanya udah hapal banget sama suara emas milik cowok ganteng ini. Lagu-lagunya? Wow, pasti banyak disuka. Kelompok musik Padi, juga nggak ketinggalan dari daftar selera anak muda saat ini. Gimana nggak, grup band asal Surabaya ini udah mengumpulkan banyak penggemar, selain tentunya juga mengeruk banyak duit.

Taruhlah itu di jalur musik pop. Musik dangdut juga sebetulnya banyak penggemarnya lho. Cuma biasanya anak sekolah rada malu-malu kalo harus ngobrolin jenis musik ini di sekolahan. Maklum, selera mereka kalah bersaing dengan teman-temannya yang udah kecantol sama jenis musik pop, rock, dan juga metal. Jadi yang diobrolin di sekolah biasanya musik begituan. Karena ngikutin teman. Katanya sih, kalo seneng musik dangdut takut disebut kampungan. Di sekolah bolehlah ngalah, tapi tidak untuk di rumah. Buktinya banyak juga yang aktif nge-request lagu ke radio khusus yang muterin lagu-lagu dangdut. He..he..he... di sekolah sih ngomongin Lem Biskuit (sori, maksudnya Limp Bizkit), eh, pas di rumah yang didengerin lagu-lagunya Bung Meggy Z. :))

Sobat muda muslim, ada juga teman kita yang menyukai musik berisik. Sebut saja mereka gandrung sama Metallica, Guns 'N Roses, Sepultura, Limp Bizkit, atau yang lokal punya macam Power Metal, Slank, juga termasuk PAS dan Netral, serta Jamrud.

Eh, nggak ketinggalan, ada juga teman kita yang suka musik dan lagu kocak. Kayak lagu-lagunya P-Project dan HarJay alias Harapan Jaya. Lagu Piki-Piki milik gerombolannya P-Project ini banyak disuka remaja. Maklum kocak banget. Atau lagu-lagunya HarJay. Ambil contoh, kalo kamu kebetulan dengerin lagu metal 80-an "NKOTB" (singkatan dari Narkotika Berbahaya) milik HarJay, yang bisa jadi idenya ngambil dari lagu Tornado of Souls-nya Megadeth. Ada yang bilang kagak kuat dengerin lengkingan "nar-ko-ti…kaaaa!!!" di akhir lagu ini. Kocak abis. Selain itu, judul lagu yang pake singkatan ada "Maju 13 KL" (Malam Jumat 13 Kliwon) yang pake suara efek turntable seadanya, dan "MKBP" (Mulutnya Kok Bau Pete). Ah, dunia ternyata cuma dimanfaatkan untuk main-main 99

Jangan cuma enak didengar

Sobat muda muslim, karena musik hampir selalu berkaitan erat dengan lagu-lagunya, maka biasanya ketika kita ngomongin musik, udah pasti ngomongin lagunya juga.

Nah, dari sekian banyak jenis musik yang ada, paling nggak kita bisa membagi dua kutub. Pertama adalah musik yang emang manis, dan yang kedua musik yang bikin kita meringis. Maksud "manis" di sini bukan cuma karena genre alias jenis musiknya yang emang slow dan kemudian bisa dibilang enak didengar. Nggak. Dan emang bukan cuma itu yang kita nilai. Tapi kita menilai lagunya juga dong. Disebut manis, berarti emang lagunya oke punya. "Oke" di sini maksudnya mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Kalo meringis, ya sebaliknya.

Sebut saja ada jenis musik dan lagunya yang bikin kita meringis. Kamu kenal Ozzy Osbourne? Yup, yang suka dengan musik metal biasanya hapal banget dengan nama ini. Maklum, rocker yang punya nama asli John Michael Osbourne ini gemar berpenampilan aneh. Ozzy pernah beraksi di panggung ditemani puluhan babi yang kemudian disembelihnya. Pernah pula ia menggigit kepala kelelawar hingga putus. Ozzy juga termasuk musisi yang tak lepas dari pengaruh obat-obatan dan minuman keras. Pokoknya, namanya selalu identik dengan segala hal yang menyeramkan dan menjijikkan.

Berbagai protes dan kecaman pernah silih berganti mendera Ozzy. Misalnya dari tiga pasang keluarga asal Georgia dan California, yang menuduh Ozzy telah mempengaruhi anak mereka untuk bunuh diri. Menurut mereka, lirik lagu Ozzy yang berjudul Suicide Solution (dari album Blizzard of Ozz) berisi ajakan untuk menghabisi hidup anak mereka. Tapi tuduhan tersebut ditampik oleh Ozzy. ''Lagu Suicide Solution justru berisi imbauan anti-alkohol dan anti-bunuh diri,'' kilahnya. Wah, jangan-jangan pas ngejawabnya Ozzy lagi teler berat. Jadi ngelantur!

Lagu kondang We are the Champions sepintas bersyair baik, namun ternyata oleh kelompok Queen lagu itu dibuat untuk mendukung keberadaan homo seksual. Lagu tersebut dijadikan "lagu kebangsaan" kaum homo dan dipakai untuk mendukung gerakan Gay Liberation (Pembebasan kaum homo). Maklum Freddy Mercury, sang vokalis, ternyata juga seorang bohemian biseksual penganut freesex yang meninggal akibat AIDS. Hmm...

Syair yang parah ternyata nggak cuma milik musik dan lagu metal. Di jalur musik pop dan dangdut juga banyak yang nakal. Hih, syairnya bikin otak kita mau pecah. Maklum, di situ ada juga lagu-lagu yang "menawarkan" seks bebas, narkoba, kerusuhan, dan juga anti-agama. Sebut saja lagunya milik Dewa 19, Restoe Boemi. Kalau kamu pernah dengar lagu ini mungkin bakalan miris. Kenapa? Karena Dewa ngajak melakukan freesex. Coba perhatikan syair lagunya "Sewangi bunga mawar tubuhmu/Menghampar di permadani/Mengetuk hasrat 'tuk menyentuh …surgamu" Hmm... logikanya, gimana kamu mampu merasakan keharuman tubuh seseorang, taruhlah sewangi mawar, bila tak menciumnya sedekat mungkin dan sedalam mungkin tanpa embel-embel nafsu setan? Walah?

Kamu juga bisa menilai sendiri, gimana "nakalnya" lagu Semua Tak Sama milik Padi. Simak potongan syairnya, "...Coba tuk melawan getir yang terus kukecup merasuk ke dalam relung sukmaku/Coba 'tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu mengalir mengisi laju darahku" Wah, wah, wah, pantesan aja banyak teman remaja yang demen banget lagu beginian, terutama yang lagi kasmaran.

Oya, lagu "manis" milik Rio Febrian juga udah memberi peluang dalam merusak hati kita. Lagu Katakan Kau Milikku, terutama pas reff-nya juga parah, "Dengarkanlah kata hatiku Ini bukanlah rayu atau sekedar janji/Untuk memikat hatimu/Seribu bintang yang jadi saksinya/ Betapa kumau hanya kamu dan hanya dirimu satu-satunya yang kucinta, kasih" Wah, kita diajak untuk mengagungkan kekasih kita, padahal, Allah lebih utama untuk kita cintai.

Lagu yang mengajarkan anti agama juga ada, meski dibawakan dengan merdu dan dengan musik kalem. Bagi kamu yang kenal grup musik The Beatles, pasti mengenal sosok John Lenon. Nah, John Lenon pernah berkoar lewat lagu Imagine-yang juga menjadi soundtrack film terkenal The Killing Field-. Doi bilang begini,"No heaven, no hell, and no religion too.."
Lagu dangdut gimana? Wah, ada juga tuh yang "ngeres-ngeres" seperti Goyang Dombret, Gula Gula, Bisik-Bisik Tetangga, dan sejenisnya.

Sobat muda muslim, jadi yang kita amati bukan sekadar enak didengar telinga, tapi kudu menilai juga syair-syairnya. Siapa tahu emang bermasalah kan? Seperti contoh lagu di atas.

Mana yang manis?

Sobat muda muslim, selain musik-musik yang bisa merusak pikiran dan perasaan kita, ternyata masih ada juga yang bikin perasaan kita tentrem. Sebut saja nasyid, saat ini perkembangannya cukup menggembirakan, meski masih kalah bersaing. Maklum, jenis musik ini bagi sebagian kalangan hanya cocok untuk diputer saat bulan puasa. Padahal, banyak syair-syairnya yang bisa menjaga hati kita. Malah bukan tak mungkin bisa menimbulkan semangat rela berkorban untuk agamanya bagi kaum muslimin yang dengerin.

Ambil contoh lagu Rasulullah milik The Zikr. Grup nasyid asal Malaysia ini lewat lagu itu berupaya menggambarkan bagaimana Rasulullah, simak potongan syairnya, "Engkau taburkan pengorbananmu/ Untuk umatmu yang tercinta/Biar terpaksa tempuh derita/Cekalnya hatimu menempuh ranjaunya" Duh....manis bukan? Yup, emang manis banget.
Lagu nasyid juga ada yang bikin kita gembira dan bersemangat untuk membela Islam. Ambil contoh lagunya Intifada milik Rabbani, yang irama musiknya emang ceria. Simak deh potongan syairnya..." Oh..semerbak harum bingkisan annur/Berterbangan tinggi ke Intifada/Oh merentas misi risalah suci/Mewangikan taman yang dicemari" Coba, siapa yang nggak semangat dengerin lagu begini?

Sobat muda muslim, nasyid paling nggak bisa menjadi alternatif musik dan lagu yang ada saat ini. Tentunya di tengah gemuruh musik dan lagu yang amburadul. Tapi sayangnya, baru sedikit remaja yang menggandrunginya. Ada apa sebenarnya?
Ini amat berkaitan erat dengan cara pandang masyarakat sekarang, sobat. Maklum, sistem kehidupan yang ada sekarang memberi peluang orang untuk bebas berbuat sesukanya. Tak terkecuali dalam urusan musik dan lagu. Karena para musisi dan penyanyi udah terbiasa dengan kehidupan yang rusak, maka jangan heran pula bila karya yang dihasilkannya nggak jauh dari situ. Rusak juga.

Saat ini nyaris tak ada yang mengontrol aliran dan macam musik-musik seperti itu. Bahkan untuk sekadar mengendalikan kelakuan remaja-remaja yang error. Maka tatkala ada remaja yang nyeleneh hampir-hampir tak ada yang menghiraukannya.
Bagi kita, remaja muslim, sikap yang harus diambil sudah jelas. Yang merusak harus kita hindari dan kalo sanggup kita ubah. Mengapa kita tidak sama-sama mengajukan protes atau boikot atau apalah yang bisa bikin kapok para musisi dan artis yang mengusung gaya hidup liberal. Bukannya sok suci, tapi itu semua kan demi kebaikan kita bersama.

Terus, masyarakat juga harus kompak dalam menilai tercela atau tidaknya suatu perbuatan. Yang jelas-jelas maksiat, ya harus distop dengan tanpa pandang bulu. Dan akan lebih afdhol, bila kemudian negara memberikan sanksi yang tegas, misalnya membreidel albumnya atau mencekal dan memperkarakan pemusik dan pencipta lagunya. Kasus lagu Takdir-nya Dessy Ratnasari bisa menjadi contoh, bahwa lagu-lagu yang membahayakan akidah dan akhlak remaja, dan juga masyarakat, memang harus diberi peringatan. Bila demikian, rasanya bakal tak muncul para pemusik yang berekspresi macam-macam.

Para musisi dan artis juga harus sama-sama paham, bahwa lagu-lagu mereka dan juga gaya hidup mereka itu diteladani oleh para penggemar mereka. So, kalau mereka bertingkah macam-macam sama artinya dengan mengajarkan perilaku yang buruk kepada remaja. Apakah mereka siap tanggung jawab di akhirat nanti? Pasti nggak mau kan? Kayaknya kalo tahu begitu, pasti mikir-mikir deh.

Ini bukan berarti mendengarkan musik menjadi barang yang terlarang. Musik tetap boleh-boleh saja didengarkan, asal selektif. Nggak boleh asal telan saja. Harus bijaksana. Kata orang bijak, kalau itu manis, jangan segera ditelan. Dan bila pahit, jangan cepat dimuntahkan. Kan masih banyak lagu-lagu yang syairnya baik dan musiknya enak didengar. Dan pastikan selalu, bahwa Islam akan membawa kebahagiaan. Di dunia dan akhirat lho. Maka, mulai sekarang, tanamkan kecintaan kita kepada Islam. Salah satunya dengan mulai ikut ngaji.

______________________________
Edisi 091/Tahun ke-3 (1 April 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com

 
 
(Dibaca: 9921 kali | Dikirim: 9 kali | Print: 356 kali | Nilai: 6.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2018, Dudung Abdussomad Toha