| Banyak berita berseliweran di media massa. Dari mulai berita gosip selebriti, kriminalitas, perkembangan ekonomi, fenomena sosial, peristiwa budaya, sampe berita hukum dan politik. Semua menghiasai mata dan telinga kita. Media cetak, media elektronik, hingga internet. Malah media yang memanfaatkan jaringan internet nggak henti-hentinya alias nonstop selama 24 jam sehari untuk menyampaikan informasi. Kita bisa memilih dan memilah informasi semampu dan sesuai keperluan kita. Nggak mungkin lah kalo sampe semua kita perhatiin. Iya nggak sih? Kamu pasti tahu dong kasus Manohara Odelio Pinot yang kabur dari suaminya, sang pangeran Kerajaan Kelantan, Malaysia? Tahu juga kan kasus Ibu Prita yang ‘berperang’ melawan RS Omni Internasional, Tangerang? Ngeh juga kan seputar gosip artis terkini? Hmm. Tapi kita nggak bakalan bahas itu. Nah, yang sekarang kita bakalan bahas adalah yang ada hubungannya langsung dengan remaja, juga masalah pakaian (khususnya kerudung dan jilbab), yang kemudian ada yang menghubung-hubungkannya dengan masalah politik. Wow, berat amir nih temanya. Ah, nggak juga sih. Tergantung sudut pandang kamu kok. Kalo kamu nganggepnya berat, bakalan berat, tapi kalo kamu anggap masalah ini enteng, insya Allah akan enteng juga. Makanya, supaya nggak berat, pas baca buletin kesayangan kamu ini jangan sambil gendong traktor ya, dijamin nggak berat. Lho, apa hubungannya? Gejlig! Bro en Sis, sesuai judul dalam tulisan di buletin gaulislam ini, “politik, jilbab, dan remaja”, maka saya ingin agar kamu bisa memahami masalah ini dengan benar sesuai sudut pandang Islam. Kenapa harus Islam? Ya, karena kaum muslimin hanya taat kepada Allah Swt. dan RasulNya, yang udah tercantum dalam ajaran Islam. Islam, sebagai akidah sekaligus syariat bagi kaum muslimin untuk mengatur kehidupan di dunia agar bisa membawa bekal yang benar dan baik bagi kehidupan di akhirat kelak. Akhir-akhir ini, kamu juga pasti ngikutin berita seputar jilbab. Sebenarnya istilah jilbab yang sedang digembar-gemborkan media massa tuh keliru. Soalnya yang sedang dibicarakan adalah sebenarnya kerudung (bukan jilbab) yang dipakai “senjata” oleh capres/cawapres yang mendompleng isu ini demi naikkin popularitas dan simpati masyarakat supaya tertarik dengan masalah seperti ini dan akhirnya milih dia. Di satu sisi lagi, ada juga yang tidak mempersoalkan masalah kerudung (dan jilbab), karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah ekonomi atau masalah politik lainnya. Maklum, yang bersangkutan sedang dalam kondisi memilih pasangan capres/cawapress yang kebetulan para istrinya boro-boro pake jilbab, kerudung aja kagak. Selain itu, ada juga capres yang kebetulan wanita malah bikin pernyataan ngeles, ketika disinggung soal kerudung (dan jilbab) ini, yang bersangkutan bilang, “Islam ada di hati saya”. Halah, ternyata masalah kerudung dan jilbab aja bisa dihubungkan dan diikat-kaitkan dengan masalah politik. Jadi ajang untuk saling serang. Ada yang memanfaatkan, ada yang menolak. Nah, gimana nih sikap remaja? Apa yang harus dinilai dan diperhatikan dalam masalah ini? Yuk, kita geber aja bareng agar masalah ini nggak bikin kamu tambah bodoh atau masa bodoh. Setuju kan? Salah kaprah seputar politik Kalo kamu ngomongin politik pasti bawaannya males, sebel, dan muak kalo ngeliat para pelakunya. Gimana nggak, politik dalam sistem demokrasi saat ini memang dianggap sebagai jalan untuk meraih kekuasaan. Maka, apapun bisa dilakukan yang penting kekuasaan bisa diraih. Maklumlah, manusia kan memiliki gharizah al-baqa’ alias naluri mempertahankan diri, yang salah satu penampakannya adalah hubbuttamaluk (keinginan untuk memiliki). Memiliki di sini bisa diartikan luas: harta, kekuasaan, jabatan, dan apa saja yang bisa mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Maka, tak heran jika manusia ingin berkuasa atas manusia lainya. So, kalo udah berkuasa apa aja bisa diraih. Nyari harta gampang, nyari orderan nggak sulit, makan enak, rumah megah, keluarga bahagia, kendaraan keren, duit full terus dan beragam fasilitas lainnya. Siapa yang nggak tergiur? Apalagi jabatan tersebut adalah sekelas presiden, wakil presiden, menteri dan pejabat tinggi negara lainnya. Pasti deh bikin asoy untuk dikejar dan diraih. Bro en Sis, karena politik udah kadung dianggap sebagai sarana meraih kekuasaan, maka saat ini capres dan cawapres beserta tim suksesnya masing-masing giat bekerja dan rajin bikin terobosan. Mencari berbagai isu yang bisa dijual untuk mendongkrak popularitas jagoannya. Jangankan cuma kerudung, hadis dan al-Quran aja jadi laku dijual di masa kampanye. Berharap akan banyak orang yang tertarik dengan capres/cawapres yang religius. Padahal, seperti yang udah-udah, karena niatnya nggak terbukti untuk kebaikan, tujuannya pun bukan untuk menerapkan syariat Islam, akhirnya mereka hanya sholeh sesaat aja. Begitu selesai masa kampanye ya lupa semua. Baik yang menang maupun kalah kembali ke habitat awal khas kehidupan sekularisme: hedonis, dan bahkan yang menang tetap menerapkan demokrasi dan kapitalisme. Padahal, sistem tersebut bertentangan dan bahkan menentang ajaran Islam. Aneh memang. Dan, yang lebih parah adalah rakyatnya yang mau aja dibodohi terus menerus. Kalo kata Kasino Warkop sih, “bodo dipelihara, kambing dipelihara bisa gemuk!” Hehehe.. “Selembar kain” bernama kerudung ini sekarang jadi ngetren: dipuja dan dicela. Satu kubu menjadikan senjata menarik simpati massa, kubu yang lain justru mencela, atau setidaknya meremehkan bahwa hal itu nggak ada hubungannya dengan masalah politil, ekonomi atau kemaslahatan bangsa lainnya. Well, keduanya justru jadi persoalan bagi kita, kaum muslimin. Sebab, gimana pun juga sebenarnya dalam pandangan Islam, masalah politik, masalah kerudung (dan jilbab), serta masalah lainnya seharusnya menjadi perhatian dan diatur dengan benar dan baik. Itu sebabnya, nggak perlulah ajaran syariat menjadi “senjata” untuk saling serang demi meraih kekuasaan. Apalagi nggak ngerti apa-apa tentang syariat itu sendiri. Cuma modal semangat dan niat yang kurang terpuji, ditambah salah juga dalam pemahaman dan pengamalannya. Lengkap sudah kekacauan ini. Boys and gals, kita jangan terkecoh untuk mendukung satu pihak dan menolak satu pihak lainnya dalam kasus ini, tapi yang perlu kita kaji dan cermati adalah, apakah mereka yang terlibat dalam pro-kontra tentang “selembar kain” itu sudah benar niat dan tujuannya berdasarkan aturan Islam atau belum. Kalo semuanya belum ada niat menerapkan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ngapain didukung? Iya nggak sih? Analoginya gini, apa yang bakal kamu lakukan kalo disodorin ke hadapanmu 3 gelas berisi racun, kamu memilih menolak semuanya atau mencari gelas yang jumlah racunnya sedikit? Kondisi saat ini pilihannya adalah racun semua. Maka, orang cerdas dan takwa, pastinya menolak semua gelas berisi racun. Tapi kalo yang mau coba “bunuh diri” dan menggadaikan akidahnya demi tujuan sempit dan mungkin saja hina, dia akan memilih racun, baik yang racunnya mematikan secara langsung atau mematikan perlahan-lahan. Ah, urusan politik dalam sistem demokrasi-kapitalisme memang payah dan parah. Sistem ini sudah cukup menjadi ‘neraka’! Berbeda dengan Islam, politik didefinisikan sebagai pengaturan urusan umat manusia. Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan ummat. Adapaun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain. Pengen bukti? Nah, Islam telah memberikan gambaran yang utuh dalam masalah ini, bahkan sejarah memperlihatkan selama lebih dari 14 abad, kaum muslimin hidup dengan menerapkan aturan Islam. Tidak pernah ada satu masa pun kaum muslimin hidup dengan aturan selain Islam. Catet nih, Bro! Terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuhkan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemimpin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui penghapusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam. Menyedihkan bukan? Ini tanggungjawab kita untuk menegakkannya kembali, Bro! Well, kok bengong? Atau sedih? Soalnya memang itulah gambaran kita saat ini. Coba dari dulu memahami istilah politik seperti ini, pasti nggak bakalan bengong or bingung kayak sekarang. Tapi alhamdulillah, sekarang kamu mulai paham sedikit demi sedikit tentang politik dalam pandangan Islam. Hehehe, sedikit promosi nih, kalo kamu pengen lebih detil membaca dan memahami masalah Islam sebagai ideologi, yang tentu saja mencakup politik di dalamnya, kamu bisa baca buku saya berjudul Yes! I am MUSLIM (Gema Insani, 2007), dan Muda Luar Biasa (Gazzamedia, 2009), infonya klik: www.osolihin.com. Kalo belum punya bisa pinjem atau beli aja kedua buku tersebut ya. Hehehe… Insya Allah bisa lebih puas deh memahaminya, kalo di buletin ini dijembrengin detil pastinya jadi tambah banyak jumlah karakternya padahal jatah halamannya terbatas. Jilbab sebagai identitas muslimah Muslimah taat syariat Islam, pasti akan mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah. Soalnya, jilbab dan kerudung adalah pakaian untuk menutupi aurat muslimah. So, kerudung dan jilbab bukan cuma untuk nunjukkin ke orang-orang bahwa dirinya sebagai muslimah, sementara dirinya justru melanggar syariat Islam lainnya. Pake kerudung dan jilbab tapi sekuler, pake kerudung dan jilbab tapi hedonis, pake kerudung dan jilbab tapi ikut mendukung feminisme, pake kerudung dan jilbab tapi membela mati-matian demokrasi. Itu sih namanya aneh yang punya bapak ajaib. Oya, sedikit nih perbedaan antara kerudung dan jilbab. Jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung). Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung. Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59) Bro en Sis, dengan penjelasan ini semoga kamu jadi tambah paham: apa itu jilbab, pebedaannya dengan kerudung, dan konsekuensinya ketika mengenakan jilbab. Itu sebabnya, kamu jadi tidak mudah tergoda dengan “pro-kontra” kerudung (dan jilbab) yang digunakan untuk kampanye politik dalam rangka meraih kekuasaan. Sebab, gimana pun juga kalo memang yang mau diterapkan sebagai aturan kehidupan adalah demokrasi dan kapitalisme, maka bertaburannya simbol-simbol agama dan poin-poin aturan syariat jadi tidak ada gunanya. Bahkan itu adalah bagian dari upaya menghina ajaran Islam itu sendiri. Wallahu’alam. So, sebagai remaja muslim, kamu kudu ngeh masalah ini. Sekarang udah banyak orang yang ngerti Islam dengan benar dan mereka ikhlas memperjuangkan dan membela Islam. Mereka yang tidak berambisi meraih atau mengemis jabatan dalam sistem kufur sembari mereka melecehkan Islam. Coba deh, kamu bisa belajar dari mereka. Buletin gaulislam pun berusaha memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam buat kamu semua. Kami berusaha memberikan informasi yang benar seputar ajaran Islam. Jadi, kamu bisa stay tune terus di website gaulislam (www.gaulislam.com). Oke deh, sebagai catatan terakhir, Islam udah ngasih aturan yang jelas. Sehingga kita seharusnya bisa menerima Islam sepenuh pikiran dan perasaan kita. Nggak ada lagi deh, demi alasan kekuasaan atau tren, syariat hanya dijadikan penarik simpati masyarakat untuk mendukung seseorang yang akan berkuasa. Nggak banget! Jangan sampe kita dibenci oleh Allah Swt. karena kita melanggar (bahkan senantiasa) membangkang perintahNya. Naudzubilah min dzalik. Yuk, kita mulai belajar Islam lebih dalam, lebih luas. Tetap semangat! [solihin: osolihin@gaulislam.com] |