| "Rangkaian
Melati" ini merupakan kisah keseharian seorang Tokoh (Nisa) yang punya
keinginan yang teguh untuk merawat Melati-Melatinya agar tumbuh
subur, semerbak dan menebarkan keharumannya di segenap penjuru bumi.
Siapakah gerangan yang Nisa maksud dengan Melati?!..dan apa saja yang ia
lakukan agar Melati-Melatinya senantiasa disinari Cahaya dan abadi bersama
ridha Ilahi?!..Ikuti kisah-kisah berikut
ini. Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan
untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(QS. Al Anbiya 21:107) Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung.
(QS. Al Qalam 68:4) Wahai Ummul mu'minin, kabarkanlah
kepada kami tentang akhlak Rasulullah Saw. Aisyah berkata: Bukankah engkau
pernah membaca Al Qur'an?. Jawab: Ya, Kata Aisyah: Akhlak Nabi Allah itu
adalah Al Qur'an.
(HR. Muslim) Dari Aisyah binti Thalhah bahwasanya
Aisyah Ummul mu'minin r.a pernah berkata: tidak seorangpun pernah kulihat mirip
ucapan dan cara bicaranya dengan Rasulullah Saw lebih dari Fhatimah. Aisyah r.a
berkata: Pernah kulihat ketika Fhatimah berjalan, jalannya itu persis dengan
jalannya Rasulullah Saw. Aisyah r.a berkata: tidak kulihat seorangpun yang lebih
afdhal sesudah Rasulullah Saw dari Fhatimah.
(Thabrani) "Tetaplah Putih
Seputih Melati" Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan
pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari
diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yaasin 36:36) "Wahai Allah,
dimana tidak ada Tuhan selain diri_Mu Maha Suci Engkau, Yang menciptakan
makhluk_Mu berpasang-pasangan Siapakah gerangan sahabat sejati yang Engkau
pilihkan untukku? Yang mau berbagi suka dan duka dalam mengharungi hidup ini
Yang mau menemaniku merenda hari-hari untuk beribadah kepada_Mu Yang
menjadikanku kokoh kuat dalam menegakkan kalimat_Mu
Agar..diriku lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan
Agar..diriku lebih dekat kepada_Mu".
Nisa
tertegun mendengar do'a Ayuning di keheningan malam, kerinduan pada
sahabatnya itu, memutuskannya untuk menginap semalam di rumah Ayuning. Do'a
itupun usailah sudah. Wajah Ayuning bersemu merah, ketika tahu Nisa
terjaga dari tidurnya. "Kamu mendengar do'aku Nisa ?" Nisa hanya
tersenyum memandang Ayuning. "Apakah do'a itu yang s'lalu Ayu panjatkan
pada Allah ?" Ayuning diam, perlahan titik-titik embun jatuh
dari kelopak matanya. "Aduhai sayang.." Ujar Nisa sambil
merangkul sahabatnya. Perlahan ia menyeka air mata Ayuning, setelah agak
tenang. "Ayu.., apa yang menjadi keinginan Ayu itu adalah cita-cita
seluruh wanita mukminat di dunia ini. Namun, jikalau ia belum terwujud, itu
adalah rahasia Allah, Yang Menciptakan kita, Bukankah Ia
menciptakan makhluk_Nya menurut ukuran-ukuran yang telah ditetapkan? kita
selaku hamba_Nya hanya bisa berusaha dan ikhtiar, dan hanya Allahlah yang
menentukan. Ayu sayang sama Allah kan?, Ayu cinta sama Allah
kan?, sayang dan cinta Ayu pada Allah menjadikan Ayu yakin, Allah akan
memilihkan yang terbaik untuk Ayu. Allah berfirman: Wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik
adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An
Nuur 24:26) Demi Allah Ayu.., Allah Maha Adil
terhadap hamba-hamba_Nya, karena itu, bersyukurlah bahwa Ia masih memberi
Ayu kesempatan untuk menjadi wanita yang lebih baik dari
sekarang. Tidakkah ingin seperti Fhatimatuz Zahra? Beliau laksana melati
di hati setiap insan beriman. Fhatimah tumbuh diantara belukar berduri, namun
ia tak pernah peduli. Sepanjang hidupnya hanyalah memberi tanpa pernah
berharap menerima. Kehadirannya senantiasa menebarkan keharuman. Semua yang
ia lakukan karena cinta, Ayu..karena cintanya pada Allah. Bukankah itu
yang s'lalu Ayu cita-citakan dulu?, karena itu, "Tetaplah Putih Seputih
Melati", Ayu..seperti Fhatimatuz Zahra. Betapa dengan sayang_Nya Allah
menghadiahkan Beliau seorang pendamping yang sangat baik, Ali bin Abi
Thalib. Subhanallah.. Ayu harus kuat dalam mengitari perputaran
roda kehidupan ini, karena perkitarannya semakin hari semakin cepat.
Jangan pernah berhenti sesaatpun, Ayu.. masih banyak yang perlu Ayu
perhatikan, masih banyak yang memerlukan perhatian Ayu!. Kita datang
ke alam ini sendirian, Ayu.. dan kita juga akan pulang sendirian!, ayo..
jangan sedih-sedih lagi, ya...mana senyum manisnya?..". Ayu tersenyum
pada Nisa, dari bibir mungilnya keluar kata, "Tolong do'akan Ayu ya
Nisa..". Nisa membalas senyuman tulus itu, sambil mengangguk
ia berkata, "Ia, Ayu..Nisa do'akan". Mereka berdua sujud syukur pada
Allah, melanjutkan malam itu dengan tenggelam akan kerinduan
beribadah kepada Allah. Billaahi taufiq walhidayah
Wassalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh Ratna Dewi (wiwi_praty,
Qalbu)
---------------------------------------------------------------------------------------- "Melati Itu Semakin
Harum Mewangi" Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216) "Semua telah berakhir, Nisa! Aku harus
menerima kenyataan bahwa dia bukanlah untukku! Walau terkadang aku masih
berharap Allah akan merubah segalanya, Namun kecintaanku kepada_Nya
membuat aku yakin, bahwa ini adalah yang terbaik yang
diberikan_Nya!.. Sebenarnya aku menaruh harapan besar pada hamba
Allah yang sholeh itu, Untuk menjadi sahabat yang dapat kuajak
bersama mengelilingi perputaran roda ini, Bagaikan Matahari dan Bulan yang
silih berganti menerangi alam, Menjadi khalifah (pemimpin) bagi insan
taqwa di bumi Allah!, Namun sekali lagi aku sadar, Apa yang menurutku
baik belum tentu baik menurut_Nya, Aku tidak tahu apa-apa, sedangkan Allah
Maha Mengetahui segalanya! Yang terpenting bagiku kini, menjalani hidup
ini bagai air yang mengalir, Jika tiba saatnya nanti, Insya
Allah!". Kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibir Ayuning. Tak
ada kesedihan ataupun kekecewaan di sana, melainkan ketegaran!. Setiap
keinginan dan perbuatannya hanya dilandasi untuk mengharap
keridhaan Allah, begitu pula dalam menghadapi setiap persoalan, ia tak
banyak berkeluh kesah melainkan senantiasa tabah dan berusaha menemukan
rahasia dibalik cobaan Allah!. "Apakah pemuda itu tahu perasaanmu,
Ayu?", tanya Nisa. Ayuning tersenyum. "Ia tahu, Nisa.., dari
perbincangan kami yang panjang, dari persahabatan kami yang cukup lama. Aku
yakin ia juga merasakan hal yang sama, tapi sudahlah.. Pemuda itu lebih
dahulu mengenal wanita itu daripadaku, ia juga memutuskan untuk menikahinya
karena petunjuk Allah. Semoga Allah memberkahi pernikahannya
dan melimpahkan keberkahan atas pernikahannya". "Aamiin", Nisa memohon
pada Allah untuk memperkenankan do'a Ayuning. "Mungkin wanita itu
lebih baik dan lebih taqwa dariku, ya Nisa?". Sebelum sempat Nisa
berkomentar, Ayu telah meralat ucapannya. "Tapi bukankah yang berhak
menilai baik dan taqwanya seseorang hanyalah Allah?!..". "Benar,
Ayu!..". Nisa membenarkan ucapan sahabatnya, kemudian melirik jam tangan
kecilnya. "Sudah pukul 4 sore, Ayu.., nanti kerumah Panti Asuhannya
kemalaman". Seperti biasa setiap awal bulan, Ayu minta ditemani Nisa
mengunjungi anak-anak yatim kesayangannya. tidak ada hal yang terindah dalam
hidupnya kecuali melihat wajah-wajah mungil itu tersenyum. "Ingin
rasanya berbuat lebih banyak untuk mereka, Nisa!..tetapi hanya ini yang bisa
Ayu lakukan..". Anak-anak malang yang kehilangan kasih sayang
itu menyambut Ayu dengan riang. "Bunda Ayu datang..Bunda Ayu
datang..!". Ayu senang sekali dipanggil Bunda, mereka mencium tangan
Ayu. Ayu merangkul dan mencium mereka, satu-satu dibagiinnya kue cokelat.
Nisa ikut membantu. "Bagaimana keadaanmu Ali?.. 'Ainan?..
Qitri?.. bagaimana sekolahnya?..". Rentetan pertanyaan terlontar dari
bibir Ayuning, seperti Ibu beneran saja. Kemudian ia bercerita tentang
kisah Muhammad yang diutus Allah sebagai Rasul untuk menjadi rahmat bagi
semesta alam. Anak-anak manis itu ceria sekali mendengarkan cerita
Ayuning. Ketika tiba waktunya pulang, Ayu berkata pada
Nisa. "Semoga suatu saat nanti, Allah memperkenankan Ayu mengasuh
salah seorang dari mereka, ya Nisa..". "Aamiin". Ucap Nisa, dalam hati
ia berkata, "Subhanallah..". Menuju perjalanan pulang, Ayu minta Nisa
singgah di toko buah. "Kita berhenti sebentar, ya.., Ayu mau beliin
Bunda buah, Beliau paling senang buah Apel!..". Ayu sangat
memperhatikan ibunya, karena melalui perantara wanita mulia itulah ia
mengerti betapa besar kasih sayang Allah kepadanya. Seakan dengan buah
Apel yang diberikannya itu mewakili kata hatinya, "Ayu ingin selalu
mensyukuri nikmat Allah dengan berbuat baik pada Bunda yang telah mengandung,
mendidik dan membesarkan..". Akhirnya merekapun tiba di rumah Ayuning yang
sederhana namun asri. "Assalaamu'alaikum ..."
Wa'alaikumussalaam warahmatullaah ..". Bunda Ayu menyambut keduanya
dengan senyuman. Sosok Nisa sudah tidak asing lagi baginya. "Mari
masuk Nisa..". "Iya tante ". Nisa membalas senyum wanita mulia
itu. Ayu memcium tangan Bundanya, kemudian menyerahkan bungkusan Apel.
Bunda menerimanya dengan senyum bahagia. "Ayu repot-repot aja..", katanya
pada anaknya. Kemudian Ayu mengajak Nisa ke tempat favorit
keluarga, taman bunga. Dengan riang ia mengambil peralatan untuk menyiram
kembang-kembang kesayangan ibunya. Ditengah keasyikan bekerja, Ayu kembali
mengajak Nisa bicara. "Kesibukanku membuat aku kurang waktu
memperhatikan Bundaku, Nisa!. Terkadang Ayu fikir hidup Ayu ini hanya
merepotkan orangtua saja, ingin rasanya senantiasa membuat mereka bahagia,
tapi.. hanya hal-hal kecil inilah yang bisa Ayu lakukan!.." Ayu
terdiam sesaat, kemudian.. "Sekarang Ayu mulai mengerti kenapa Allah
belum mengizinkan Ayu menikah, Nisa.. Allah ingin Ayu mengabdi pada
orangtua dulu..! Bukankah ridha orangtua merupakan ridha_Nya Allah? Ayu
juga mulai memahami, bahwa Allah menghendaki Ayu masih sendiri, Agar Ayu
lebih menempa diri!, untuk menjadi seorang ibu di muka bumi
ini!..". Subhanallah..walhamdulillaah..walaa ilaaha ilallah..wallaahu
akbar..! (Nisa membathin), ia kagum pada kecerdasan sahabatnya membaca
Firman Allah dan rahasia cobaan Allah. Tiba-tiba matanya tertegun melihat
serumpun melati yang tumbuh subur di taman itu, dalam hati ia
berkata. "Melati Itu Semakin Harum Mewangi", Ya
Allah.. Aku memohon pada_Mu.., berikanlah yang terbaik bagi_Mu untuknya..
Aamiin, Ya Rabbal
'aalamiin.
------------------------------------------------------------------------------------------ "Kuncup Melati Itu
Telah Mengembang"
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Fhatihah
1:1) Rasulullah Saw bersabda: Apabila Allah
Ta'ala mengasihi seorang hamba, maka dipanggil_Nya Jibril seraya berfirman: "Hai
Jibril!, sesungguhnya Aku mengasihi si Fulan, maka kasihi pulalah dia!" Lalu
Jibril mengasihi orang itu. Kemudian dia berseru kepada penduduk langit,
katanya: Sesungguhnya Allah Ta'ala mengasihi si Fulan, maka kasihi pulalah dia
oleh kalian semuanya!. Lalu penduduk langit mengasihi orang itu, kemudian cinta
kasih itu sampai kepada penduduk bumi.
(HR. Muslim) Rasulullah Saw bersabda: Allah Ta'ala
menjadikan sifat rahmat 100 bagian (prosen). 1 bagian (prosen) diturunkan_Nya ke
bumi, dimana dengannya inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya,
sehingga seekor hewan mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak
olehnya. Sedangkan yang 99 bagian (prosen) untuk hari kiamat kelak.
(HR. Muslim) "Jangan
menangis dong, sayang.., Mba' kan jadi ikutan sedih..". Ucap Nisa lirih pada
Yanti yang menangis di pangkuannya. "Nggak ada yang sayang sama aku,
Mba'..". Nisa tersenyum seraya berkata, "Ah, masa ?.. itu
hanya perasaanmu saja, adikku..". "Orang-orang di sekitarku sepertinya
tak mau peduli padaku, Mba', Orangtuaku, saudara-saudaraku,
teman-temanku.. Seakan aku hidup sendiri ditengah keramaian peran.. Seakan
dunia ini gersang tanpa keteduhan.. Aku rindu kebahagian, ketenangan dan
ketentraman hati, Mba'.. Aku rindu kasih sayang...". Pilu sekali
kalimat itu terdengar oleh Nisa, ia berusaha keras menenangkan "Si Lembut
Hati" yang berada di pangkuannya. Yanti, anak pertama dari 3 bersaudara
yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Seandainya saja Mba' punya lebih
banyak waktu untuk memperhatikanmu, adikku.., seandainya saja jarak ini
tak berbatas untuk kita. Wahai Yang Maha Pengasih, tolong kasihi dia.., Duhai
Yang Maha Penyayang, tolong sayangi dia.., Sungguh.. seandainya saja dia
mengerti bahwa kasih sayang_Mu padanya melebihi seluruh manusia di dunia
ini, niscahya ia tak akan pernah merasa kehilangan kasih sayang. Nisa
memandang Yanti dengan tatapan mata perlahan, "Yanti, adikku
.. Apakah benar permadani yang terhampar indah ini telah berganti menjadi
padang yang gersang seperti yang engkau ungkapkan ? Apakah benar insan
dunia ini telah miskin akan rasa kasih sayang ?! Percayalah..! apa yang
engkau rasa tidaklah benar, karena mereka menyayangimu dengan pengungkapan
rasa yang berbeda. Adikku .. Cobalah telusuri kembali masa
kecilmu, Betapa Ibunda rela mengandungmu dengan keletihan diatas keletihan
yang bertambah, Betapa Orangtuamu rela membesarkanmu dari seorang yang tak
berdaya apa-apa atas dirinya, menjadi seorang yang mampu menjaga
diri, Apakah itu bukan kasih sayang namanya ?.. Mereka tetap setia
bersamamu, dibanding meninggalkanmu, Mereka memilih merawatmu daripada
membiarkanmu, Mereka rela mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan mereka hanya
karenamu, Apakah itu bukan kasih sayang namanya ?.. Kini engkau sudah
dewasa, adikku .. Waktu yang berjalan mengharuskanmu berganti peran, Dulu
engkau begitu dimanja dan disayang, Kinilah saatnya untuk
menyayang, Engkau suri tauladan bagi adik-adikmu, Engkau tumpuan harapan
orangtuamu. Telah banyak yang Beliau berikan, saatnyalah kini untuk
memberi, Telah banyak yang Allah anugerahkan, saatnyalah kini untuk
mensyukuri dengan berusaha menyajikan yang terbaik bagi hamba-hamba_Nya
.. Adikku .. Lihatlah di tepian telaga yang belum tersentuh air
di sana, Betapa banyak mereka yang tak pernah mengenal arti kasih
sayang, Jangankan untuk berharap, mengertipun tidak, Karena itu adikku,
bersyukurlah..! Bahwa dirimu jauh lebih beruntung dari mereka. Adakah
dirimu ingin Mba' beritahukan sebuah rahasia ? Bahwa Allah lebih
mengasihi seorang hamba_Nya daripada seorang Ibu kepada anaknya. Bahwa
jika Allah telah mengasihi seorang hamba, maka dipanggil_Nya Jibril untuk
mengasihi hamba_Nya itu, kemudian Jibril menyerukan kepada seluruh
penduduk langit untuk mengasihinya, dan akhirnya cinta kasih itu sampai
kepada penduduk bumi. Bahwa segala bentuk kasih sayang di muka bumi
ini hanya diturunkan Allah 1 prosen, dan disimpan_Nya 99 prosen untuk
hamba-hamba_Nya di akhirat kelak". "Subhanallah..walhamdulillaah..walaa
ilaa ha ilallah..wallaahu akbar.." Ucap Yanti, takjub
mendengarnya, "Betapa Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Allah
ya, Mba..". Nisa mengangguk sambil tersenyum. "Baru saja
Mba' mendapatimu bagai kuncup bunga, adikku .. Kini "Kuncup Melati Itu
Telah Mengembang". Insya Allah, Yanti akan melihat dunia ini
dengan penglihatan hati yang cemerlang, dan kelak Yanti akan katakan,
"Mampukah aku menyayangi insan dunia ini, seperti Kasih Sayang Yang
Telah Engkau berikan kepadaku, Ya Allah ?". Dari kejauhan, Ayu memanggil Nisa,
Tak!..Nisa terjaga dari tidurnya, rupanya ia telah bermimpi, bertemu Yanti, adik
yang ingin s'lalu
disayanginya.
---------------------------------------------------------------------------------------- "Engkau Harus
Bertahan, Melatiku!" Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali Imran 3:31) Iman yang paling utama adalah bahwa
engkau mencintai (seseorang) karena Allah dan membenci (seseorang) karena
Allah.
(At
Thabrani) "Segar sekali engkau hari ini,
Nisa..". Ayuning memandang Nisa yang telah rapi dengan gaun muslimah hijau
mudanya, yang dipuji hanya tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah, Ayu
juga..". Hari libur sering dimanfaatkan kedua sahabat itu
untuk bertukar fikiran, maklum, mereka hanya bisa bertemu sekali dalam
seminggu atau bahkan sebulan sekali, karena kesibukan masing-masing. Walaupun
demikian, komunikasi tetap berjalan. Keduanya kini sedang asyik bercanda
di teras rumah Nisa yang sederhana. Ketika perbincangan sampai ke titik
sentral. "Kenapa tidak semua wanita Islam berusaha
mencontoh Fhatimatuz Zahra, ya Ayu?" tanya Nisa penuh keheranan. "Mereka
semua ibarat bunga dengan seribu satu macam warnanya. Tapi bukankah tetap
Melati sebagai simbol kepribadian yang terindah? jumlah itu semakin
langka kini, dan akankah mereka segera musnah ataukah memilih bersembunyi
agar bisa menjaga diri?!". Pertanyaan yang cukup menggigit itu terlontar
dari bibir Nisa, dan Ayu mulai menanggapinya. "Jangan tanya kenapa
Nisa.. tapi cobalah untuk mengerti akan keadaan sesungguhnya!. Banyak
faktor yang menyebabkan mereka seperti itu. Didikan keluarga, lingkungan
sekitar, dan pendidikan yang salah menjadikan mereka tidak mengerti apa
sebenarnya tanggung jawab mereka di bumi ini. Simbol Melati terlalu
sederhana, sedangkan masih banyak bunga lain yang lebih menarik dan
mempesona, tentunya setiap wanita menginginkan yang terbaik untuk dirinya,
bukan? karena itulah, sebagian besar dari mereka memilih menjadi
bunga-bunga yang lain". "Yach, menurut mereka baik tetapi tidak baik
menurut Allah!". Nisa menghela nafas. "Nisa sediih, Ayu..". Ayu
tersenyum. "Kesedihan tidak menyelesaikan masalah, Nisa.." Kembali
Nisa berusaha minta pendapat sahabatnya. "Kenapa mereka tidak menyadari
bahwa mereka tengah dimanfaatkan?.. seharusnya dengan kekuatan rasa
yang mereka punya, menjadikan mereka cerdas untuk mencintai diri dan
mewujudkan akhlak bunga negeri ini! namun.. rasa itu dipalingkan salah
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab!". Kali ini Ayu mulai
serius menanggapi keluhan Nisa. "Iya.., seharusnya dengan kelebihan rasa
itu mereka mencintai Allah lebih dari segala yang ada di dunia ini,
Mencintai Allah dengan mengikuti Rasul_Nya yang berakhlak Qur'ani (akhlak
Fhatimatuz Zahra). Mencintai Allah dengan membuktikannya melalui amalan
perbuatan yang dicintai (diridhai) Allah dan menghindari segala perbuatan
yang dibenci Allah. Kita harus memikirkan bagaimana cara merangkul mereka
dengan sedaya upaya kita, Nisa.. dengan kunci kesabaran, ketekunan,
dan menyerahkan segalanya pada Allah". Kalimat-kalimat Ayu terasa
sejuk di Qalbu Nisa. Seketika semangatnya bangkit
kembali. "Mudah-mudahan apa yang menjadi keinginan kita dikabulkan
Allah, ya Ayu.. dengan perlahan menyadarkan mereka akan pentingnya akhlak
Qur'ani, semoga bunga-bunga itu akan disegani dan
dihormati!". "Aamiin". Ucap Ayu. Perlahan ia mengambil
gitar, mengisyaratkan Nisa untuk bernyanyi. Nisa menyenandungkan syair
gubahannya. Petikan gitar Ayuning menambah keindahan lagu itu. "Kau
yang s'lalu kurindu.., Kau yang s'lalu kuingin.., kuharap setiap waktu..,
dalam Qalbuku.. Kau yang s'lalu kucinta.., kau yang s'lalu kupuja..,
kudamba setiap waktu.. dalam hidupku.. Subhanallaah..,
walhamdulillaah.., walaa illaa ha ilallaah.., wallaahu akbar.. 2x Kala
kupandang bintang.., jauh di atas awan.., betapa indah ciptaan_Mu Tuhan..
Kala kutatap dunia.., dan seluruh isinya.., betapa besar.., kuasa_Mu,
Tuhan..". Subhanallaah.., walhamdulillaah.., walaa illaa
ha ilallaah.., wallaahu akbar.. 2x Lagu itupun berakhir sudah,
digantikan dengan alunan suara Adzan. "Suara Adzan itu lebih indah
dari nyanyian kita, Ayu..dan suara insan yang membaca Qur'an, jauh
lebih indah dari seluruh alam semesta ini!". Nisa dan Ayuning bergegas
memenuhi panggilan Ilahi. Usai shalat dan berdo'a, Nisa menghampiri
meja kerjanya, ada tumpukan surat-surat melati (sahabatnya) di sana, yang
menceritakan suka duka perjuangan mereka menghadapi kejamnya zaman dan
keterpurukan akhlak insan. Tak terasa air mata Nisa menitik, ia
mendekap lembut surat-surat itu seakan merangkul semua melati-melatinya,
dalam Qalbu ia berkata, "Engkau Harus Bertahan, Melatiku!".
Ayu terharu melihat sahabatnya, kemudian menghampiri seraya berbisik.
"Jangan sedih dan jangan takut, Nisa.. Allah senantiasa melindungi dan
menolong hamba-hamba_Nya!". ---------------------------------- Ratna Dewi
(wiwi_praty, Qalbu)
|