| Setelah kasus Bom Bali, 12 Oktober 2002, atau satu tahun, satu bulan, dan satu
hari setelah tragedi WTC, Islam dan kaum muslimin selalu jadi inceran. Maksudnya
jadi target utama untuk dituduh sebagai biang keonaran. Lengkap dengan embel-embel
bahwa Islam adalah terorisme, dan kaum muslimin dicap sebagai teroris. Utamanya
mereka yang disebut-sebut sebagai kelompok militan. Pokoknya yang suka menumpahkan
darah.
Terus, dampaknya juga besar dan luas lho. Saat ini, banyak ortu yang nggak
sudi anaknya ikutan aktif dalam kegiatan pengajian. Alasannya, takut anaknya
terlibat dalam jaringan terorisme. Maklum, pemberitaan di media massa selalu
menyebutkan bahwa orang-orang yang terlibat adalah mereka yang tergabung dalam
Jamaah Islamiyah, juga kelompok al-Qaida pimpinan Usamah bin Laden. Waduh.
Sobat muda muslim, tentu aja ini bikin temen-temen kita yang aktif di pengajian
sekolah, kampus, or lingkungan sekitar tempat tinggalnya jadi nggak nyaman.
Mereka yang militan dalam bersikap rada risih, soalnya merasa bahwa setiap langkahnya
itu selalu diintai dan jadi bahan omongan yang nggak enak.
Bahkan pernah ada seorang teman yang dulunya ahli maksiat, dan sekarang dapet
hidayah jadi baik; doi aktif di pengajian dan bahkan semangat banget dalam berdakwah.
Eh, nggak tahunya ada yang ngomongin kalo doi itu sesat, dan jangan didekati.
Kontan aja ngambek total. Soalnya, waktu doi dulu ahli maksiat nggak ada yang
ngelarang dan ngingetin. Eh, sekarang udah benar, malah dicurigai. Hmm.. itu
namanya masyarakat yang kejam bin bengis. Dan yang pasti logikanya cekak. Mungkin
karena mereka naro otaknya di dengkul kali. He..he.. yang kesinggung jangan
marah ya? Anggap aja bukan guyon, tapi beneran. Huahaha…
Tapi terus terang, dengan kondisi ini kita juga jadi sedih. Bukan apa-apa,
bagi teman-teman yang masih belum kuat mendapat kecaman dan cibiran dari lingkungan
sekitar bisa langsung ambruk. Nggak jarang bagi sebagian besar teman remaja
merasa risih kalo dicap militan. Meski secara istilah banyak yang barangkali
nggak ngeh dengan artinya, tapi cap ini udah kadung menjadi ‘monster’
yang bikin bulu kuduk berdiri.
Misalnya, ketika ada orang yang getol nyari ilmu, rajin ke masjid, bahkan ada
yang keukeuh dengan sikapnya dalam beragama, masyarakat nggak segen untuk ngasih
label militan kepada yang bersangkutan. Lengkap dengan cerita seram di baliknya.
Gimana nggak, istilah militan selalu berbanding lurus dengan fanatik, mau menang
sendiri, hobi menyalahkan orang lain, radikal, keras, dan tentu nggak jauh dari
pengejaran, penangkapan, pemenjaraan, dan penyiksaan bagi para aktivisnya. Glodaks,
bukankah itu semua bikin ketar-ketir bagi yang lemah iman?
Sobat muda muslim, Islam merindukan remaja-remaja yang tangguh dan tahan bantingan
dalam membela agamanya. Islam butuh remaja yang no compromise terhadap
segala budaya dan pemikiran yang merusak ajaran Islam. Semuanya bakalan dilawan
dengan penuh keberanian dan semangat tinggi. Ngomong-ngomong, apa sih definisi
militan? Yup, itu pertanyaan bagus.
Militan itu adalah...
Kalo kamu mau rajin baca-baca buku or surfing di internet nyari istilah tentang
militan, insya Allah bisa kamu dapatkan datanya. Enak kan bisa tambah wawasan?
Selain itu, kamu jadi lebih bijak memandang persoalan, utamanya dalam menyikapi
istilah militan ini.
Oke deh, jika kamu baca Kamus Besar Bahasa Indonesia, bakalan menemukan definisi
militan. Di situ disebutkan bahwa militan adalah bersemangat tinggi, penuh gairah,
dan berhaluan keras. Wah, oke banget kan kalo jadi orang yang militan?
Kalo pengen lebih mantep, ada definisi dari kamus lainnya. Dalam MiriamWebster
Dictionary tertulis, bahwa istilah ini termasuk kata sifat, dan kosakata ini
dimasukkan ke dalam kamus pertama kali pada abad ke-15. Dalam kamus ini, militan
didefinisikan sebagai, “engaged in warfare or combat” (disibukkan
dalam peperangan atau pertempuran). Dalam kamus ini juga disebutkan militan
adalah menunjukkan sikap yang agresif dan aktif banget.
Hal serupa dijelaskan pula dalam Cambrige International Dictionary,
istilah militan sebagai kata sifat didefinisikan sebagai, “active,
determined and often willing to use force” (aktif, tekun, dan acapkali
sudi untuk menggunakan kekuatannya).
Dan, militan juga didefinisikan sebagai “self-assertive”
(ketegasan diri) dan memiliki semangat yang tak pernah henti, seolah ada di
mana-mana (WordNet ® 1.6, © 1997 Princeton University)
Dari semua definisi yang disebutkan tadi tentunya kamu udah mulai paham. Seterusnya,
tentu bisa membedakan, mana yang pantas dan tidak pantas dalam hidup ini. Mana
yang benar dan mana yang salah. Jadi, istilah militan ini bisa diterapkan dalam
kasus yang baik-baik. Sebab, militan lebih identik dengan individu atau kelompok
yang selalu bergairah, tekun, gigih, punya semangat tinggi, pantang menyerah,
tidak mudah untuk putus asa meski banyak rintangan dan hambatan. Bahkan acapkali,
rintangan yang ada di hadapannya dianggap sebagai tantangan. Untuk sikap-sikap
seperti itu, tentunya juga berlaku umum alias untuk siapa saja dan dari kalangan
mana pun; bisa seorang pekerja, seorang pendidik, seorang tentara, pelajar,
atau profesi lainnya.
Hanya saja, saat ini istilah militan makin menyempit. Terbukti, saat ini istilah
militan ‘cuma’ ditujukan dan selalu identik dengan orang atau kelompok
yang kadang diberi label ‘garis keras’. Ini yang kemudian menempatkan
istilah ini tidak pada tempat yang semestinya. Bahkan cenderung dibumbui sinisme
kepada individu atau kelompok tertentu.
Ambil contoh kasus penyerangan WTC, Bush langsung menguber kelompok al-Qaida—apa
yang disebutnya sebagai militan garis keras, yang dituduhnya sebagai dalang
teror terhadap menara kembar yang menjadi simbol kedigdayaan Amrik itu. Kasus
Bali dan Makasar juga dihubungkan dengan aktivitas kelompok Islam garis keras,
kelompok Islam militan. Wah?
Akibatnya, opini yang terbangun menjadi tidak berimbang, alias njomplang. Walhasil,
masyarakat jadi alergi dengan istilah militan. Ya, lain di kamus lain pula dalam
pandangan masyarakat. Celakanya, istilah militan dalam pandangan masyarakat
yang nampaknya lebih mendominasi pengertian istilah ini. Gaswat banget memang.
Kejamnya masyarakat sekarang
Kadang masyarakat memang kejam. Meski tidak memiliki aturan secara tertulis,
tapi tajamnya kecaman bisa berdampak buruk. Remaja militan, dalam kondisi masyarakat
yang seperti sekarang ini, seperti sebuah kanker ganas yang harus segera disingkirkan.
Sebuah pengalaman pernah penulis alami. Waktu itu pernah ikut membina teman-teman
remaja dalam mengelola organisasi remaja masjid. Saat organisasi itu tumbuh
dan semarak dengan berbagai kegiatan; seminar, pengajian, baca al-Quran dan
lainnya, anehnya banyak tanggapan miring yang dialamatkan kepada teman-teman
remaja masjid. Padahal, sejak maraknya masjid oleh berbagai kegiatan keislaman,
banyak remaja berkumpul di masjid. Masjid menjadi lebih berarti. Hanya saja,
gara-gara bentuk kegiatan dan pemahaman yang sedikit berbeda dengan yang dipahami
selama ini, khususnya oleh pihak DKM, teman-teman remaja langsung dicurigai.
Ini memang aneh, padahal jika ‘perbedaan’ yang menjadi masalah,
kan bisa ditempuh dengan jalur dialog. Tul nggak? Nah, yang terjadi justru sebaliknya.
Main berangus aja. Secara sepihak lagi. Waduh. Alasannya, aktivitas itu katanya
menganggu ketentraman warga. Glodaks! Apa nggak salah?
Justru banyak juga warga masyarakat yang seneng dengan maraknya kegiatan tersebut,
lho. Pertanyaannya, apakah karena sedikit perbedaan lalu mengambil jalur keras;
diancam dan diberangus? Mbok ya kalo berbeda, misalnya, kan bisa ditegur, bisa
diajak dialog. Dan teman remaja diminta untuk menjelaskan tentang pendapatnya
itu. Insya Allah bisa dicari titik temu. Sayang, ‘penyakit’ status
quo seringkali mengalahkan akal sehat. Akibatnya, bukan saja tamat riwayat organisasi
remaja itu, tapi sekaligus memadamkan semangat dan kreativitas remaja masjidnya.
Kasihan.
Pandangan masyarakat seperti ini jelas merugikan perjuangan Islam. Bahkan memadamkan
semangat yang mulai menyala dalam dada setiap remaja Islam. Padahal, gampang-gampang
susah menumbuhkan rasa cinta kepada Islam di kalangan remaja. Eh, yang baru
tumbuh malah dibabat. Apa nggak kejam tuh? Anehnya lagi, dalam waktu yang bersamaan,
masyarakat seringkali menutup mata, atau tepatnya cuek dengan maraknya remaja
yang gaul bebas, kejerat narkoba, bahkan yang doyan berantem antar temannya.
Untuk semua itu, nggak ada kampanye dalam rangka menyadarkan mereka. Sebaliknya,
malah dibiarkan. Aneh bin ajaib.
Pertanyaannya, kenapa masyarakat bisa seperti itu? Sebab, nggak mungkin dong
orang ujug-ujug benci kalo nggak ada alasan yang menurut mereka ‘wajib’
dibenci. Orang yang cinta saja kudu ada alasannya, kenapa ia mencintai. Tul
nggak?
Nah, kalo ditelusuri ternyata masyarakat kita mengidap sejenis penyakit Islamophobia,
alias ketakutan terhadap Islam. Ambil contoh, ada anak puteri yang ‘cuma’
pakai kerudung ke sekolah aja dicurigai. Lucunya, banyak prasangka yang nggak-nggak
di kalangan guru sendiri. Dibilangin ikut aliran ini dan itu. Kalo kebetulan
kegiatan remaja masjid sekolah di sekolah umum marak, mereka mulai dimata-matai.
Bahkan pihak sekolah nggak segen untuk menghentikan, dengan alasan, ini bukan
sekolah agama. Konon kabarnya nggak rela kalo di sekolah umum justru yang maraknya
adalah kegiatan keagamaan, khususnya Islam. Walah kok minder jadi muslim ya?
Jangan takut sobat!
Sobat muda muslim, apa nggak kesel bin gondok digituin? Padahal, nggak jarang
bahwa yang kita lakuin itu adalah sebagai wujud kecintaan kita kepada Islam.
Kita bangga dong bisa menjadikan Islam sebagai identitas kita. Kita ingin menyampaikan
pesan bahwa kita remaja muslim. Teman remaja puteri yang rapi berkurudung dan
berjilbab, justru karena ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya adalah seorang
muslimah yang berusaha untuk menjalankan satu kewajiban dalam ajaran agamanya.
Teman remaja putera yang aktif di kegiatan remaja masjid, pakai baju koko lengkap
dengan pecinya, dan getol ngaji, justru secara tidak langsung ingin menyampaikan
pesan, bahwa kamilah pemuda muslim. Simbol-simbol yang dikenakan dan perbuatan
yang dilakukan muncul akibat panasnya semangat yang menggelora dalam dada. Mereka,
setidaknya ingin menunjukkan; inilah kami, remaja muslim yang mencintai Islam
sepenuh hati. Apa itu salah? Apa itu layak untuk dicurigai? Asal!
Kasus “Bom Bali”, dengan tuduhan dialamatkan kepada para aktivis
Islam sebagai pelakunya, kian memberikan stigma (noda) dan mengukuhkan semua
prasangka yang telah ada. Nyaris semua orang mengarahkan telunjuknya; bahwa
Islam itu kejam, bahwa kaum muslimin itu teroris, bahwa orang yang terlibat
dalam aktivitas keislaman perlu dicurigai. Celaka dua belas itu namanya!
Sobat muda muslim, jangan takut dicap sebagai remaja militan. Justru kudu bangga.
Sebab, remaja militan adalah remaja idaman umat, dambaan Islam. Militansi itu
bahkan kudu ditanamkan sejak sekarang. Bukankah Allah Swt. sudah memuji dan
memberi kabar gembira kepada mereka yang teguh pendirian dalam berpegang teguh
kepada Islam? Firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
"Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,
maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (TQS
Fushshilat [41]: 30)
Jadi nggak usah risih, malu, apalagi takut dicap sebagai remaja militan. Mari
kita tunjukkan, bahwa kita bisa menjadi remaja militan yang mencintai Islam
sepenuh hati kita, dan membelanya dengan penuh keberanian. Ketegasan tidak identik
dengan kekerasan. Tapi menunjukkan keyakinan. Kita lahir ke dunia ini dengan
berlumur darah, jadi kenapa musti takut mati berlumur darah karena membela Islam?
Sobat muda, tetap semangat!?
|