| Perang AS dan sekutunya melawan Irak sudah berjalan lebih dari seminggu. Belum
ada tanda-tanda perang akan usai dalam waktu dekat. Pejabat-pejabat Pentagon
bahkan mulai cemas, jangan-jangan perang ini akan ‘awet’. Saat tulisan
ini dibuat (27 Maret 2003), perang masih berlangsung. Pasukan koalisi alias
gabungan yang terdiri dari Amrik, Inggris, dan Australia (kabar terakhir, Cina
dan Korea Selatan juga akan mengirim tentara untuk mendukung misi AS di Irak)
masih terus menggempur kota-kota pinggiran sekitar Baghdad. Baghdad memang belum
ditaklukan. Ngelihat faktanya yang banyak ditulis di media massa, nggak salah-salah
amat kalo kita juga ikut meragukan kalo pasukan koalisi akan berhasil menduduki
Baghdad dalam waktu dekat. Jangankan di Baghdad, kota-kota pinggiran seperti
Umm Qasr, Nasiriyah, dan Basra saja alot juga untuk ditaklukan. Tentara dan
rakyat Irak di sana bahu-membahu menghadapi gempuran pasukan koalisi itu.
Sobat muda muslim, perang AS-Irak ini juga tidak saja berlangsung secara militer.
Sebab, perang opini sedang berlangsung dengan gencarnya bahkan sebelum genderang
perang ditabuh. Masing-masing kubu mengklaim ini dan itu. Sementara terus terang
saja, kita yang jauh dari medan tempur kesulitan nyari berita yang akurat tentang
situasi di sana. Mulai dari jumlah korban tewas dari rakyat sipil, militer Irak
dan pasukan koalisi, juga berapa tentara yang ditawan, jumlah mereka yang hilang
dalam pertempuran atau cedera, dll.
Contohnya, menurut laporan Kementerian Pertahanan Inggris, tentara Irak menembaki
rakyatnya sendiri dan pasukan AS dan Inggris telah menghancurkan sejumlah mortir
dan artileri Irak. Dugaan telah terjadi pemberontakan itu juga disebutkan oleh
Mayjen Peter Wall, panglima pasukan Inggris, kepada para wartawan di Qatar,
bahwa perlawanan terhadap Saddam terjadi di Basra, kota kedua terbesar di Irak.
Namun laporan seperti ini sulit dikonfirmasi kebenarannya dan apakah itu merupakan
bentuk perang propaganda. Basra sampai hari ini juga belum diduduki pasukan
koalisi AS-Inggris (sinarharapan.co.id, 26 Maret 2003)
Tapi yang pasti, invasi AS ke Irak adalah sebuah pelanggaran besar. Apalagi
AS dikenal banyak masyarakat dunia sebagai negara yang katanya mengagungkan
nilai-nilai HAM. Nyatanya? Mereka sendiri malah yang menginjak-injaknya. Ironi
banget kan?
Selain itu, invasi AS ke Irak menandakan betapa bernafsunya Bush, yang mewakili
Amrik, untuk mengacak-acak kedaulatan negara lain. Tentunya, lengkap dengan
embel-embel kepentingan yang menyertai misinya itu. Baik kepentingan individu,
maupun kepentingan nasional Amrik. Bukan rahasia lagi memang kalo Amrik dari
dulu adalah biang kerok yang ‘kebetulan’ selalu ‘beruntung’
(kirain cuma Bang Benyamin Sueb aja ya? He..he..he..). Kenapa? Karena negara
lain, masih takut untuk ngelawan Amrik. Paling nggak sampe saat ini. Entah suatu
saat nanti. Sangat boleh jadi Amrik bakal bangkrut!
Mengapa Amrik Menyerang Irak?
Sobat muda muslim, emang sih nggak terlalu mudah mengungkap motif serangan Amrik
dan sekutunya ke Irak. Banyak kemungkinan memang. Mulai dari soal minyak, dendam
pribadi Bush kepada Saddam, juga ambisi AS untuk mempertahankan dominasi kekuatannya
di Timur Tengah, sekaligus menghapus rejim Saddam Husein (yang sampe saat ini
pamornya masih belum redup), termasuk membebaskan rakyat Irak dari penindasan
Saddam Husein. Selain itu, alasan yang sering digembar-gemborkan Amrik pascatragedi
WTC; war against terrorism (perang melawan terorisme).
Sejauh mana kebenaran dugaan tersebut, memang masih bisa diperdebatkan. Tapi
yang pasti, sebagai seorang muslim, kita kudu memiliki kesadaran politik yang
tinggi menyikapi masalah invasi AS ke Irak ini. BTW (by the way), udah tahu
kan istilah kesadaran politik? Soalnya kita pernah berkali-kali nulis di buletin
kesayangan kita ini. Oke deh, sekadar mengingatkan doang, secara sederhananya
kesadaran politik adalah kejelian kita dalam memperhatikan perkembangan politik
lokal dan dunia dengan sudut pandang yang khas.
Itu sebabnya, Muhammad Ismail dalam kitab al-Fikru al-Islamiy menyebutkan bahwa
kesadaran politik (wa’yu siyasi) haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama,
kesadaran itu haruslah bersifat universal atau mendunia (internasional). Bukan
kesadaran yang bersifat lokal semata. Kedua, kesadaran politik yang dimiliki
harus berdasarkan pada sudut pandang tertentu alias zawiyatun khosshoh. Dengan
kata lain kaum muslim harus bertindak subyektif dan obyektif dalam menilai peristiwa
politik yang terjadi. Subyektif artinya, kita kudu memandang semua peristiwa
politik yang terjadi dengan sudut pandang Islam. Obyektif berarti, kita kudu
jeli dan teliti dalam menyikapi berbagai peristiwa politik. Dengan kata lain
kita kudu mencari informasi yang akurat. Itu mutlak lho. Supaya kita bisa menjelaskan
dengan benar dan baik. Sebab, adakalanya ‘hukum’ opini, peristiwa
itu bisa direkayasa. Kita, dituntut untuk mencari yang sejelas-jelasnya. Begitu.
Nah, kalo ditanya kenapa Amrik menyerang Irak, maka kita bisa sampaikan bahwa
tujuan mulia AS adalah untuk menjajah Irak dan mempertahankan hegemoninya di
kawasan tersebut. Soal ekonomi, termasuk dalam hitungan itu juga dong. Boleh
dibilang, Bush sedang mempraktikkan peribahasa, “Sekali dayung, dua tiga
pulang terlampaui”. Jadi, invasi militer ke Irak, tentu memiliki tujuan
lainnya, yakni menguasai sumber daya alam yang dimiliki negeri seribu satu malam
itu.
Jangan heran, sebab ideologi Kapitalisme, dalam menyebarkan pengaruhnya adalah
dengan isti’mar (penjajahan); baik militer, ekonomi, politik, hukum dll.
Itu sebabnya, Amrik getol banget nyari dukungan untuk menyerang Irak.
Alasan untuk memerangi terorisme adalah alasan yang sebetulnya dibuat-buat
doang sama Bush. Selain cenderung sepihak dalam mendefiniskan terorisme, Bush
juga menjadikan isu ini sebagai penarik simpati dari negara-negara lain. Harapannya,
mereka akan sama-sama berjuang di belakang Bush untuk memerangi teroris (yang
dalam kamus AS adalah Islam dan kaum muslimin). Celaka memang. Jadi tujuan utama
Bush memerangi Irak adalah untuk menguasai, mendominasi, dan memaksakan hegemoninya,
dan terbentuknya situasi politik dan pembagian wilayah baru yang dibuat AS.
Nah lho, ini jelas kudu kita cermati betul. Okeh?
Semangat Perang Salib
Kayaknya nggak banyak orang yang menghubungkan bahwa peperangan yang dikobarkan
Amerika adalah bagian dari Perang Salib. Apalagi jika kita cuma berpikir tentang
Irak saja. Kelihatannnya rada aneh jika kemudian menghubungkan dengan istilah
Perang Salib. Tapi jangan salah lho, kalo kita mau mengutip pernyataan-pernyataan
Bush pascatragedi WTC 11 September 2001, kita bakalan menemukan benang merah
(ingat benang merah, bukan anggur merah.. he..he..he..) dari peristiwa politik
yang berkembang sekarang.
Coba perhatikan saat Bush berkoar-koar kepada kaum muslimin pada tanggal 16
September 2001: “…Dan bangsa Amerika memahami perang Salib ini…”;
kemudian dia tegaskan ucapannya itu pada kesempatan lain pada tanggal 16 Pebruari
2002 : “ … Kita tidak punya kawan yang lebih baik dari Kanada,
yang berpihak kepada kita pada Perang Salib ini…”. Itu sebabnya
jangan heran kalo semangat perang salib sedang tumbuh dalam pasukan AS saat
menyerang Irak.
Sebelumnya, Bush juga melancarkan serangan pertamanya atas kaum muslimin di
Afghanistan. Bush pun melancarkan peperangannya atas kaum muslimin di Palestina
tatkala membiarkan gembong pembantaian di Sabra-Shatila, Ariel Sharon, untuk
kembali membantai kaum muslim di Palestina, menghancurkan rumah-rumah mereka
Inilah Bush, hari ini melancarkan serangan salibis IV kepada kaum muslimin di
Irak dan negeri Islam lainnya.
Mungkin ada yang protes, kalo dikatakan seperti ini. Tapi jangan salah, bahwa
kita kudu mencermati sejauh mungkin. Bila perlu pandangan kita bisa ‘menembus’
tembok masa depan dengan bekal peristiwa yang berkembang saat ini dan menghubungkan
dengan yang telah terjadi. Itulah perlunya kesadaran politik. Inilah perlunya
mengasah kejelian kita dalam mengamati perkembangan yang terjadi.
Nah, peristiwa sekarang ini boleh jadi adalah bagian dari rangkaian kisah di
masa lalu. Pada penghujung abad ke-5 H atau 11 M, terjadilah peristiwa besar
dan kolosal, tetapi merupakan momen yang sangat menyedihkan bagi kaum muslimin.
Peristiwa tersebut adalah Perang Salib. Perang ini memakan waktu hampir 200
tahun, dengan beberapa gelombang serangannya. Perang ini adalah peperangan antara
kaum muslimin dan kaum Salib Eropa (Kristen Eropa).
Saat itu, seruan Kaisar Alexius Comenent dari Konstantinopel kepada Paus Urbanus
II, dan para raja di Eropa agar segera menyerang negeri-negeri Islam secara
serentak terhadap kekuasan Turki, yang menurut mereka akan mengancam kekuasaan
kerajaan Byzantium di Konstantinopel.
Dengan semboyan “Begitulah kehendak Tuhan”, kaum Kristen
Eropa menyerbu wilayah Timur, negeri-negeri tempat kaum Muslimin berada. Tujuannya
untuk merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin dan mendirikan kerajaan
(kekuasaan) Kristiani di wilayah Asia—Afrika. Dengan segala keganasan
dan ketamakannya, kaum Kristen Eropa melampiaskan dendam, memuaskan nafsu serakahnya
serta mencari keuntungan duniawi dengan kedok agama. Weleh weleh...
Bagaimana kekejaman yang dilakukan tentara Salib? Jangan kaget sobat. Seorang
orientalis, Gustave Le Bon, menceritakan hal itu dalam bukunya, “Hadlaratul
Arab” sebagai berikut: “Ketika tentara Salib berhasil mengalahkan
tentara Turki Muslim, mereka memenggal semua kepala tentara Turki yang terluka
dalam medan tempur. Kemudian mayatnya diikat pada pelana kudanya, selanjutnya
diseret ke tempat pembuangan bangkai di seputar kota (Antiokia) itu.”
Selamatkan Irak!
Dengan apa? Kita tak punya tentara, kita tak punya mesin perang yang canggih,
kita juga masih tekotak-kotak kekuatannya. Dengan apa kita selamatkan Irak?
Sobat muda, tak mudah menjawab pertanyaan dari seruan untuk menyelamatkan Irak
ini. Tapi, kita punya argumen begini. Untuk menyelamatkan Irak, dan negeri Islam
lainnya tentu, ada beberapa langkah. Pertama, membuat opini umum, bahwa masalah
Irak adalah masalah kaum muslimin seluruh dunia. Kedua, menyeru kepada penguasa-penguasa
kaum muslimin untuk menanggalkan sistem kapitalisme yang selama ini telah membuat
sengsara milyaran umat manusia di muka bumi ini. Ketiga, kita bisa mendorong
kaum muslimin di seluruh dunia, khususnya dunia Arab, untuk meminta pemerintah
setempat mengirimkan bala tentaranya untuk mengusir Amerika dan sekutunya dari
tanah Irak. Firman Allah Swt.: "(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan
kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan
"(TQS al-Anfâl [8]: 72)
Keempat, kita kampanyekan dan perjuangkan untuk tegaknya kembali Daulah Khilafah
Islamiyah. Negera yang akan menerapkan Islam sebagai ideologi dan memberikan
rasa aman kepada kaum muslimin, sekaligus menjadi andalan untuk melawan kekuatan
negara-negara yang berseberangan secara ideologi.
Jadi, tunggu apa lagi? Kini saatnya berjuang untuk menegakkan Islam sebagai
ideologi negara. Ayo selamatkan Irak. Allahu Akbar! ?
|