| Satu lagi film keluaran Warner Bros
telah membuat geger dunia, Harry Potter and the Sorcerer's Stone.
Semuanya; tua-muda, putra-putri dibuat gempar oleh film yang diangkat dari
novel terkenal karya JK Rowling, Harry Potter. Film ini konon
diramalkan bakal menjadi box office. Gimana nggak, novelnya aja laris manis
bak kacang goreng. Padahal kacang goreng aja nggak laku kayak begitu
ya? Sekadar tahu aja, 4 judul buku Harry Potter yang ditulis Joanne
Kathleen Rowling ini udah diterjemahkan ke dalam 46 bahasa dan berhasil
mencetak angka penjualan sekitar 100 juta kopi. Wah, fantastis
bukan? Mungkin aja di antara kamu ada yang termasuk pembaca beratnya.
Soalnya emang udah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia. Sejak
peluncuran perdananya di Inggris, 4 Nopember 2001 lalu, kemudian di Amrik dan
beberapa negara di Eropa pada 16 Nopember 2001 Harry Potter and
the Sorcerer's Stone dengan biaya produksi 125 juta dolar AS, kini sudah
berhasil meraup keuntungan total 239,7 juta dolar AS. (Kompas, 10 Desember
2001). Seperti pada novel aslinya, cerita di layar lebar ini berkisah
tentang petualangan bocah cilik yang pandai menyihir, Harry Potter
(diperankan oleh Daniel Radcliffe yang baru berusia 12 tahun). Di
sekolah sihir Hogwart itu, Potter nggak sendirian, banyak anak-anak lain
yang menjadi muridnya Mr. Dumbledore (diperankan Richard Harris), di
antaranya adalah Hermione (Emma Watson), juga ada Ron (Rupert Grint).
Harry Potter memang fenomenal. JK Rowling telah berhasil mengubah dunia,
meski lewat fantasinya. Tapi itulah sebuah hiburan. Meski tentu, masih
menyisakan persoalan; bahwa bukan berarti hiburan tak lepas dari muatan
budaya dan gaya hidup tertentu. Sangat boleh jadi kemudian jadi tren. Bahaya!
Sebagai sebuah hiburan, jelas aja Harry Potter adalah tambang uang
yang menggiurkan. Tapi, kita jangan lupa, bahwa hiburan juga acapkali lahir
dari sebuah pandangan hidup. Celakanya, bila pandangan hidup tersebut
ternyata bermasalah; tepatnya kacau-beliau. Walah? Bisa dimaklumi,
sobat muda muslim. Bukan apa-apa, film ini-termasuk dalam novelnya-full
dengan persoalan dunia ilmu hitam. Ini memang warisan dari masa kegelapan
Eropa. Sekadar mengingatkan, bahwa masyarakat Inggris sangat percaya dengan
hal-hal klenik alias supranatural bin tahayul. Sampe sekarang lho. Ya,
nggak jauh beda juga dengan masyarakat negerinya Nini Pelet ini, masih doyan
dan percaya dengan hal-hal supranatural; tepatnya ilmu sihir. Hih! Itu
sebabnya, ada juga orang yang keberatan dengan hadirnya Harry Potter ini.
Sekadar contoh, pihak Sekolah Dasar Seventh Day Adventist di
pinggiran Nunawading, Melbourne telah melarang para siswanya membawa ke
kelas buku yang ditulis oleh JK Rowling dari Inggris itu. Menurut pihak
sekolah tersebut, novel itu mempromosikan ilmu sihir dan
hal-hal supranatural. (Kompas, 26 Nopember 2001) Belum lagi aksi lainnya.
Ambil contoh di New Mexico, ratusan pemrotes dari Komunitas Gereja
Kristus membakar buku Harry Potter dan beberapa buku lainnya. Jack Brock,
pastor sekaligus pendiri komunitas gereja Kristus ini mengatakan, pembakaran
buku Potter pada hari Minggu lalu karena buku tersebut dianggap
sebagai karya tipuan setan terbesar. "Buku-buku ini mendidik anak
bagaimana mereka bisa menjadi seorang penyihir dan bagaimana melakukan
sihir," kata Brock. (satunet.com, 01/Januari 2002) Sobat muda muslim,
kitapun kudu kritis juga dong. Sebab, ini udah menyangkut hajat hidup orang
banyak. Setidaknya, kita kudu berupaya memberikan gambaran yang benar
terhadap persoalan ini. Kamu bisa bayangin deh, gimana kalo seandainya
adik-adik kamu jadi ikut-ikutan berperilaku seperti Harry Potter cs
yang pandai menyihir? Berabe kan? Itulah sebabnya kita mengangkat
tema tersebut di buletin kesayangan kita ini. Tujuannya, tentu supaya kamu
juga bisa ngejelasin lagi persoalan ini kepada yang lain.
Bahaya terselebung Sekilas! Yup, kesan sekilas
tapi sering hadir bisa membangun opini. Kalo kamu nonton acara musik di
tivi, apalagi ada video klipnya. Sementara yang muncul dalam tayangan itu
adalah gambaran tentang gaya hidup ala remaja Barat. Niscaya (cieee..), kamu
bisa terpengaruh, meski sekilas banget. Suer, kalo di video musik itu
ditayangan adegan, maaf, "gulet" cowok-cewek, meski sekilas, lama-lama bisa
bikin opini: bahwa itu boleh dan sah-sah saja kamu lakukan. Walah? Di film
juga sama. Kamu pernah nonton film Eraser-nya Arnold Schwarzenegger? Hmm, di
situ ada dialog tentang terorisme. Pandangan Barat, bila ngomongin soal
terorisme, pasti yang ditunjuk hidung adalah Islam, diwakili bangsa Arab.
Dalam salah satu adegan dialognya, Arnold menuduh bahwa
Hammas-kelompok perjuangan rakyat Palestina--adalah teroris. Walah? Bisa
kamu bayangkan akibatnya, meski sekilas, itu bakalan bikin opini umum.
Berbahaya banget kan? Dan, siapa tahu ada di antara teman kita yang
kebetulan nonton film itu langsung teropini bahwa Hammas memang jahat dan
bajingan, plus teroris. Aduh biyung. Nah, ngomongin soal film Harry
Potter, berarti di sini ada misi terselubung untuk mencuci otak
penontonnya (dan juga pembaca novelnya). Paling nggak, penulis novel dan
juga pembuat film ini. Tapi dengan catatan, bila mereka berpikir politis.
Artinya mereka memang sengaja menciptakan jalur khusus untuk
menjerumuskan kita ke dalam kesesatan. Tapi, kalo mereka termasuk
"polos", artinya semata hanya soal pertimbangan bisnis semata. Maka
tentu mereka menganggap bahwa hiburan bebas nilai dan yang penting
mendatangkan keuntungan. Prinsipnya: bodo amat, orang mau keder apa kagak
karena hiburan tersebut, yang penting doku masuk kocek. Full.
Habis perkara. Wuah, dua-duanya sama bahayanya sobat muda
muslim. Kalo begitu, hiburan bisa berubah jadi ancaman dong? Boleh jadi,
inilah yang kita maksud bahaya terselubung itu. Ancaman yang dibungkus dalam
sebuah hiburan. Dan biasanya, orang lebih memaklumi sebuah hiburan.
Seni, begitu kata mereka. Kalo bicara masalah ini, maka hampir semua
hiburan saat ini sulit dicari mana yang mengajarkan kebenaran. Ya, ibarat
rumah yang hampir semuanya bocor, maka pertanyaan yang tepat adalah
menanyakan mana yang nggak bocornya. Tul nggak? Coba kamu runut dari
mulai film anak-anak, remaja, sampe dewasa. Nyaris semuanya nggak bener.
Film Shinchan misalkan, itu bisa berbahaya meski diselubungi dengan
kelucuan. Doraemon, menciptakan kahayalan yang nggak-nggak. Tom and Jerry,
Tweety and Silvestre doyan mengajarkan kekerasan. Yang lokal punya seperti
sinetron Jin dan Jun, Jinny oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, bikin keset hati
dan meracuni otak anak-anak. Wah, pokoknya bejibun deh. Pun untuk konsumsi
remaja dan dewasa, seperti telah kamu ketahui, nyaris tak ada yang memberikan
arah kepada kebenaran Islam. Kasihan deh umat! Sekilas tentang
sihir dan ilmu sihir JK Rowling boleh kaya raya mandi uang dan
bangga karena karyanya telah menggemparkan masyarakat dunia. Juga boleh
jadi ada setitik rasa puas menghadirkan kembali ilmu sihir-meski lewat
fantasinya. Tapi kudu diingat, bahwa apa yang diajarkannya bisa
berdampak buruk bagi masyarakat penonton dan pembacanya. Sangat boleh
jadi, jika di kemudian hari ilmu hitam itu kembali menjadi pilihan manusia
untuk menyelesaikan problem kehidupan yang makin menghimpit ini.
Sebab, aplikasinya bisa banyak. Dan semuanya untuk menyenangkan dirinya.
Misalnya, kalo kesel-kesel dengan saingannya, bisa aja menggunakan jasa
tukang sihir untuk menyantetnya. Walah, itu namanya udah kebangetan. Parah
banget, deh. Sakadar ngingetin, Islam menentang keras perbuatan sihir
dan tukang sihir. Tentang orang yang belajar ilmu sihir, Allah Swt.
berfirman: Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan
sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari
sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.
Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya
(kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan
amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka
mengetahui. (TQS al-Baqarah[2]: 102) Rasulullah saw. menilai
sihir sebagai salah satu dari dosa besar yang bisa merusak dan menghancurkan
suatu bangsa sebelum terkena kepada pribadi seseorang, dan dapat
menurunkan derajat pelakunya di dunia ini sebelum pindah ke akhirat. Nabi
bersabda: Jauhilah tujuh perkara besar yang merusak. Para
sahabat bertanya: Apakah tujuh perkara itu, ya Rasulullah? Jawab Nabi,
yaitu: 1) menyekutukan Allah; 2) sihir; 3) membunuh jiwa yang oleh Allah
diharamkan kecuali karena hak; 4) makan harta riba; 5) makan harta
anak yatim, 6) lari dari peperangan; 7) menuduh perempuan-perempuan baik,
terjaga dan beriman. (HR Bukhari dan Muslim) Sebagian ahli fiqih
menganggap, bahwa sihir itu berarti kufur, atau membawa kepada
kekufuran. Sementara ada juga yang berpendapat: ahli sihir itu wajib
dibunuh demi melindungi masyarakat dari bahaya sihir. Al-Quran juga
telah mengajarkan kepada kita supaya kita berlindung kepada Allah dari
kejahatan tukang sihir, yaitu firman-Nya: (Dan aku berlindung diri)
dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada
buhul-buhul, (TQS al-Falaq [113]: 4) Menghembuskan pada
buhul-buhul (simpul) adalah salah satu cara dan ciri yang dilakukan para
tukang sihir. Dalam salah satu hadis dikatakan: "Barangsiapa
meniup simpul, maka sungguh ia telah menyihir, dan barangsiapa menyihir
maka sungguh dia telah berbuat syirik." (HR
Thabarani) Sebagaimana halnya Islam telah mengharamkan pergi ke tempat
dukun untuk menanyakan perkara-perkara ghaib, maka begitu juga Islam
mengharamkan perbuatan sihir atau pergi ke tukang sihir untuk mengobati
suatu penyakit yang telah dicobakan kepadanya, atau untuk mengatasi
problem yang sedang dideritanya. Cara-cara semacam ini tidak diakuinya oleh
Nabi sebagai golongannya. Sebagaimana sabdanya: Tidak
termasuk golongan kami, barangsiapa yang menganggap sial karena alamat
(tathayyur) atau minta ditebak kesialannya dan menenung atau minta
ditenungkan, atau menyihir atau minta disihirkan. (HR
Bazzar) Haramnya sihir di sini tidak hanya terbatas kepada si tukang
sihirnya saja, tetapi juga meliputi setiap yang percaya kepada sihir dan
percaya kepada apa yang dikatakan oleh si tukang sihir
itu. Kemana media Islam?Betul. Kita berharap
banyak ada orang atau pihak yang bisa membela dan menyuarakan Islam dengan
benar. Aksinya amat diperlukan dalam kondisi saat ini, lho. Bener. Di
tengah gelombang arus informasi yang kian cepat ini, bukan mustahil kalo kita
bakalan kebawa arusnya yang deras. Sementara, kita kudu mengakui, nggak
semuanya informasi itu membawa berkah. Sebaliknya, justru malah membawa
malapetaka. Contohnya Harry Potter ini, bagaimanapun, ide rusak yang
dikemas dalam bentuk hiburan ini bakal menyulap pemikiran pembaca dan
penontonnya. Maka, bila tak ada langkah pencegahan, wah, jangan salahkan
mereka aja bila akhirnya kaum muslimin jadi berantakan
pemikirannya. Sebab, ada yang salah juga dari kita. Yakni, diem aja atau
bahkan larut dalam gaya hidup yang diajarkan mereka (musuh-musuh
Islam). Kita, remaja Islam sebenarnya sangat berharap akan ada media
Islam yang mampu bersaing dengan media-media lain. Apakah majalah atau
tabloid, juga novel, pokoknya bisa tampil memikat, gaul, ngertiin
gaya remaja dan tentu saja menampilkan wajah Islam
yang ramah. Lagipula, untuk urusan dakwah bukankah keikhlasan
dan keseriusan menjadi prioritas. Sekarang pilih mana; membiarkan terus
remaja dan anak-anak kita tenggelam dalam bacaan dan tontonan yang
'menyesatkan' atau memberikan bacaan dan tayangan alternatif
yang 'mencerahkan'? Rasanya semua sudah tahu
jawabnya.n "Katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit"
(al-hadits)
________________ Diambil dari
Buletin Remaja Studia Bogor, Edisi 079/Tahun ke-3
milisnya : buletin-studia@yahoogroups.com
|