| Manusia modern kayaknya makin kesulitan untuk mengatur dirinya sendiri. Termasuk
rada repot kalo harus bergaul dengan manusia lainnya. Pendek kata, gaya hidup
manusia kian berubah. Celakanya, berubah ke arah yang kurang baik. Ambil contoh
dalam mencari teman gaul. Manusia modern bener-bener dibuat senewen. Semakin
berkembang teknologi informasi, malah tambah betah hidup menyendiri. Bahkan
untuk sekadar berteman pun, banyak juga yang akhirnya mencarinya di "udara"
atau di dunia maya.
Sobat muda muslim, sekadar contoh, bagi kamu yang sering nongkrongin acara
televisi, kayaknya udah akrab banget dengan iklan jasa "party line".
Itu lho, jalur bebas bicara, jalur bebas curhat, dan juga bebas ngobrol ngalor-ngidul
dengan teman yang kita sendiri nggak tahu orangnya. Tapi, atas nama kesamaan
"penderitaan" biasanya langsung klop dan langsung tancap gas ngomong
sampe ngebusa. Apa yang diobrolin? Wallahualam, yang pasti hanya mereka yang
pernah melakukannya saja yang tahu apa yang diobrolkannya.
Kita menduga, mungkin bagi sebagian orang, ada juga yang kesulitan mencari
teman. Rasanya sesulit ketika kita harus ngerjain tugas pelajaran yang "dibenci"
segala ummat; matematika, kimia, dan fisika. Sulit banget mengerjakan soal pelajaran
begituan. Tapi tentunya nggak berlaku dong bagi yang otaknya "encer"
mah.
Kehadiran seorang teman, memang amat dibutuhkan oleh seseorang. Sebab tanpa
lawan bicara, kita menjadi terisolasi, en dijamin nggak ngerti apa-apa. Artinya,
komunikasi menjadi amat penting. Dan sebenarnya banyak sarana komunikasi, dan
siapa yang bisa diajak komunikasi. Bisa ortu, guru, nenek, kakek, kakak, adik
dan yang lainnya, termasuk teman. Tapi biasanya, khusus bagi remaja, teman sebaya
sangat besar pengaruhnya ketimbang ortu sekalipun. Itu sebabnya, banyak yang
memilih lebih percaya kepada omongan dan perilaku teman ketimbang petuah dari
ortu yang panjang lebar. Gaswatnya, nggak sedikit teman yang akhirnya malah
mencelakakan temannya sendiri. Walah?
Melihat fakta sekarang, sangat boleh jadi ada masalah juga dalam gaya hidup
kita saat ini. Yang tadinya kita sering bertemu dengan orang. Ngobrol dalam
suka dan duka. Tapi sekarang, peran teknologi informasi telah mengubah gaya
hidup kita dalam bersosialisasi. Telepon misalnya, cukup dengan memencet tombol
angka-angka, dan beberapa detik kemudian terdengar suara di seberang sana. Bagus
juga sebenarnya untuk berkomunikasi, karena membantu melancarkan urusan. Efektif
dan efisien lagi. Tapi sayangnya, namanya juga teknologi, tergantung siapa yang
memanfaatkan dan menggunakannya. Bisa baik tapi juga sekaligus bisa berubah
jadi ancaman.
Contohnya? Kian marak saja jasa "party line", yang tidak saja bikin
kantong bolong karena pulsa telepon yang tiap bulannya membengkak, tapi juga
mengubah gaya hidup kita menjadi manusia yang "anti dunia nyata".
Apalagi kalo kita ngomongin internet. Walah, yang namanya chatting, kayaknya
udah jadi jalur "wajib" bagi para user. Pengalaman penulis aja, kalo
lagi browsing di warnet, di kanan-kiri banyak ABG yang asyik dan heboh "ngobrol"
via jaringan itu. Bahkan banyak alasan yang meluncur dari mulut mereka; sekadar
iseng nyari teman, siapa tahu dapat yang cucok untuk curhat. Hmm... bisa tambah
runyam deh urusannya.
Party line dan chatting
"Ingin gabung dengan teman di seluruh dunia. Ingin dapat teman curhat.
Ingin cari jodoh. Gabung segera di nomor ini... bla..bla..bla" Begitu kira-kira
pesan yang disampaikan jasa party line. Rupanya, masih untung juga tuh. Padahal
internet udah bisa diakses di mana-mana dengan harga murah. Artinya, meski ada
jaringan internet, tapi jalur ini masih banyak juga peminatnya.
Sobat muda muslim, melihat kenyataan ini, kita jadi prihatin. Sebab, bukan karena
pulsa telepon yang kian membengkak dipake fasilitas tersebut, tapi lebih karena
sudah mengubah gaya hidup. Membengkaknya pulsa telepon bukan masalah utama.
Sebab bagi yang cekak tapi nekat bisa memanfaatkan telepon kantor, sekolah,
atau nyuri-nyuri punya tetangga (idih..?). Tapi masalahnya adalah terletak pada
perubahan gaya hidup. Manusia yang hanya berkomunikasi dengan lawan bicaranya
tapi nggak tahu siapa dan bagaimana orang yang diajak bicaranya bisa berbahaya.
Dalam kondisi tertentu bukan tak mungkin melahirkan manusia-manusia "sakit".
Nggak mau gaul. Temannya bukan di dunia nyata, tapi di dunia maya, dan di "udara".
Orang yang seperti itu biasanya akan sulit menerima kenyataan. Apalagi bagi
mereka yang udah keedanan, bisa jadi manusia yang malas dan nggak pernah bisa
hidup dalam dunia nyata. Bayangin aja, kalo setiap hari kamu tune-in di party
line. Mengurung diri di rumah, nggak mau gaul dengan orang yang ada di sekitar
lingkunganmu. Lama-lama kamu akan asing sendiri dengan dunia kamu. Bukan tak
mungkin kan kalo akhirnya kamu nggak mau menerima kenyataan tersebut? Berbahaya!
Sobat muda muslim, dulu, sebelum ada jasa party line ini, interkom bisa menjadi
obat penawar rindu dan sarana efektif bagi mereka yang sulit bergaul langsung
di dunia nyata. Hmm.., jamannya interkom dulu, ada juga ibu-ibu yang sampe "lupa"
sama suami dan anak-anaknya. Maksudnya, karena saking asyiknya dengan lawan
bicara di seberang sana, akhirnya melupakan, atau paling nggak melalaikan tugasnya
sebagai ibu rumah tangga. Asyik memang, apalagi yang diajak bicaranya bisa ngertiin
apa yang kita mau. Peduli dengan nasib kita. Pokoknya, asyik diajak curhat deh.
Wuah, kamu bisa keedanan tuh. Tuh kan, interkom yang antar RT aja bisa mengubah
gaya hidup manusianya, apalagi yang jangkauannya lebih luas? Bukan tak mungkin
kan kalo budaya dan gaya hidup lawan bicara kita kemudian "lengket"
dengan gaya hidup kita?
Oya, omong-omong tentang chatting, kayaknya fasilitas ini udah akrab banget
dalam gaul kamu. Apalagi yang udah gape soal internet. Sstt... ada yang belum
tahu juga istilah ini? Hmm…, yang pasti bukan kependekan dari "Chanda
itu Penting" yang sering dibawakan Narji, Deny, dan Bedu di TPI. Fasilitas
bicara dengan menggunakan jaringan internet ini bisa memungkinkan kita kontak
dengan siapa saja di chanel apa saja yang disediakan berbagai komunitas. Dari
sekadar chanel untuk nyari kenalan, teman curhat, teman diskusi, sampe untuk
nyari pengakuan dari setiap orang tentang dirinya.
Sarana chatting juga efektif bagi yang merasa kesulitan nyari teman di dunia
nyata. Mungkin, karena di dunia nyata kamu kalah bersaing. Baik dalam status
sosial atau akademis, juga dalam hal-hal yang menyangkut diri kamu. Misalnya
aja, kamu yang wajahnya nggak kece-kece amat tentu ada rasa minder kalo harus
bergaul langsung di dunia nyata. Kamu khawatir kalo kemudian nggak diterima
dalam kelompok gaul teman-temen kamu yang kondisi wajahnya di atas kamu. Tapi
tidak dengan chatting atau di party line, lawan bicara kita, yang kita harapkan
sebagai teman nggak bakalan tahu siapa kita. Jadi aman deh di balik topeng party
line atau fasilitas chatting. Ujungnya kamu merasa pede untuk bergaul. Salah-salah
saking hebohnya dan nggak tahan dengan suara merdu "teman" kamu itu,
lalu nekat janjian untuk ketemu di "darat". Jangan salah pula kalo
kejadian kayak di iklan salah satu pasta gigi bisa menimpa kamu. Inginnya ketemu
bidadari, eh, nggak tahunya yang datang "penggilingan". "Cari
siapa ya...?". Upps, sori.
Jangan salah gaul!
Sobat muda muslim, perkembangan teknologi informasi ini kudu disikapi dengan
bijak. Artinya, rambu-rambu dalam kehidupan yang udah baku jangan dilanggar.
Utamanya dalam urusan gaul ini. Kalo gaul bebas antar lawan jenis secara langsung
jelas berdosa. Lalu gimana kalo melalui fasilitas party line atau chatting?
Yup, memang aktivitas itu nggak disebut berkhalwat. Karena emang nggak bertemu.
Meski demikian, interaksi di antara keduanya harus tetep dijaga. Nggak boleh
menjurus ke perbuatan maksiat. Misalnya, nggak boleh ngerayu, ngegoda, atau
membicarakan hal-hal yang porno dan yang melanggar syariat lainnya. Kalo itu
dilanggar, ya, berdosa dong.
Jadi, bukan hanya berbahaya tapi sekaligus sebuah kesalahan dalam pandangan
syariat Islam. Itu hanya sebuah sarana yang bisa menghantarkan kepada perbuatan
haram. Emang kudu ekstra waspada. Udah deh, daripada kamu keterusan, apalagi
sampe kebablasan, mendingan hentikan aja aktivitas begituan. Masih banyak manfaat
yang bisa kamu ambil dari cara lain. Misalnya, gaul di dunia nyata. Tentunya
dengan tuntunan yang benar dari ajaran Islam dong.
Oya, secara umum rasanya aneh kalo manusia nggak mau gaul dengan manusia lainnya.
Bahkan sebenarnya temen-temen kita yang nyari teman lewat party line atau chatting
adalah bagian dari pemenuhan bahwa dirinya nggak bisa hidup sendiri. Tapi emang
ada bedanya antara yang berani bergaul di dunia nyata dengan yang cuma berani
gaul di dunia maya atau di "udara". Biasanya, yang hanya berani gaul
dan nyari teman di dunia maya atau di "udara", adalah orang-orang
yang merasa nggak aman dengan dunia nyata tempat ia tinggal. Selalu saja menaruh
curiga terhadap calon gaulnya. Sebaliknya, bagi mereka yang berani menghadapi
kenyataan hidup, biasanya lebih betah gaul di dunia nyata. Nyari teman nggak
susah kok. Asal kita mau gaul. Lagian, lebih seru bergaul dengan orang-orang
yang nyata dan kita kenal baik sehari-harinya. Tul nggak?
Sobat muda muslim, keuntungan kita bergaul dengan teman di dunia nyata adalah
bisa mengenal lebih dekat. Dan kita tahu kesehariannya. Bukan tak mungkin kepercayaan
kita bisa tambah kepadanya. Sebab, faktanya bisa kita saksikan langsung. Beda
banget dengan teman chatting atawa di party line, kita seharusnya layak memberikan
keraguan dan tetap waspada kepada mereka. Kenapa? Kita nggak tahu orangnya kayak
apa, gimana sikapnya bila bicara dengan selain kita. Pokoknya, kita nggak tahu
dalamnya kayak apa. Ada yang tampaknya baik, namun tetep kudu waspada, siapa
tahu kan itu hanya sebatas perangkap untuk mengambil simpati kamu? Wallahu alam.
Sobat muda muslim, sebenarnya nggak sulit nyari teman di dunia nyata. Mungkin
yang jadi sulit adalah karena kitanya sendiri nggak punya prinsip hidup. Kalo
pun punya malah salah. Akhirnya nggak karuan kan? Sebagai remaja Islam, maka
pastikan teman gaul kita adalah seorang muslim. Sebab, teman bisa membawa berkah,
tapi juga bencana. Makanya jangan berteman dengan orang-orang yang rusak kepribadiannya.
Kamu bahkan kudu pede dalam bergaul. Jangan pernah minder hanya karena kamu
berbeda dengan orang lain. Nggak usah. Kamu yang punya bodi gendut, jangan pernah
merasa rendah diri. Justru anggap aja itu kelebihan kamu. Kelebihan berat badan
maksudnya? He..he..he.. tentu bukan itu yang kita maksud. Anggap aja itu "potensi"
besar kamu. Siapa tahu malah dibutuhkan suatu saat nanti. Lagian yang terpenting,
kepribadian orang nggak dinilai dari cakep atawa gantengnya. Juga nggak dinilai
dari kaya apa miskin. Tapi dinilai dari ketakwaan-nya kepada Allah. Firman Allah
Swt.: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(TQS al-Hujurât [49]:
13)
Dalam kitab Adabul Mufrad, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
"Tidaklah saling mencintai dua orang dalam agama
Allah Ta'ala, kecuali orang yang paling utama di antara keduanya adalah yang
paling besar cintanya pada sahabatnya." (H.R. Bukhari).
Sobat muda muslim, untuk mencari teman selain syarat utama mereka harus muslim,
dan punya kepribadian Islam yang bagus, juga boleh-boleh aja kamu pake syarat
tambahan, yakni teman muslim yang akhlaknya bagus, plus yang ngertiin kita.
Sebab, kita emang bisa berteman dengan setiap muslim dan yang kepribadiannya
bagus tapi yang bisa ngertiin sifat kita nggak banyak. Meski demikian, kamu
tetap boleh bergaul dengan seluruh kaum muslimin, karena hukum asal seorang
muslim bisa dipercaya. Hanya saja, untuk kondisi sekarang, kamu kudu ekstra
hati-hati. Sebab, banyak juga teman yang ngakunya muslim, tapi gaya hidupnya
malah mencontoh orang-orang kafir. Gaswat bener kan?
Jadi emang teman gaul kita kudu yang bener-benar oke kepribadian Islamnya.
Kalo kebetulan nggak? Ya, berarti kamu yang kudu ngajak doi ke jalan yang benar.
Sebab teman baik ialah yang bisa mengingatkan ketika kita lalai dan berbuat
maksiat. Dan tentunya, doi selalu mengajak kepada kebenaran.
Oke deh, ini barangkali sekadar tips singkat dari kita untuk mencari teman
sejati. Oya, nyari teman di sini maksudnya tentu bukan teman lain jenis, lho.
Ya, teman biasa gitu. Ssstt.., siapa tahu Studia malah bisa jadi 'teman' dekat
kamu (deeuuuhhh pede sekali). Semoga saja demikian. Begitu, sobat.
_________________________
Buletin Studia Bogor Edisi 086/Tahun ke-3
|