Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya seseorang telah datang pada hari kiamat dengan amal-amal saleh yang bila diletakkan di atas gunung maka ia akan memberatinya. Lalu bangkitlah salah satu nikmat dari nikmat-nikmat Allah, maka nikmat itu hampir saja menghabiskan semua amal saleh orang tadi, kalau saja Allah tidak mengaruniakan kepadanya rahmat-Nya."(HR. al-Mundziry)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
01 Maret 2002 - 09:43
Teman Gaul Kita Itu…    
 

Manusia modern kayaknya makin kesulitan untuk mengatur dirinya sendiri. Termasuk rada repot kalo harus bergaul dengan manusia lainnya. Pendek kata, gaya hidup manusia kian berubah. Celakanya, berubah ke arah yang kurang baik. Ambil contoh dalam mencari teman gaul. Manusia modern bener-bener dibuat senewen. Semakin berkembang teknologi informasi, malah tambah betah hidup menyendiri. Bahkan untuk sekadar berteman pun, banyak juga yang akhirnya mencarinya di "udara" atau di dunia maya.

Sobat muda muslim, sekadar contoh, bagi kamu yang sering nongkrongin acara televisi, kayaknya udah akrab banget dengan iklan jasa "party line". Itu lho, jalur bebas bicara, jalur bebas curhat, dan juga bebas ngobrol ngalor-ngidul dengan teman yang kita sendiri nggak tahu orangnya. Tapi, atas nama kesamaan "penderitaan" biasanya langsung klop dan langsung tancap gas ngomong sampe ngebusa. Apa yang diobrolin? Wallahualam, yang pasti hanya mereka yang pernah melakukannya saja yang tahu apa yang diobrolkannya.

Kita menduga, mungkin bagi sebagian orang, ada juga yang kesulitan mencari teman. Rasanya sesulit ketika kita harus ngerjain tugas pelajaran yang "dibenci" segala ummat; matematika, kimia, dan fisika. Sulit banget mengerjakan soal pelajaran begituan. Tapi tentunya nggak berlaku dong bagi yang otaknya "encer" mah.

Kehadiran seorang teman, memang amat dibutuhkan oleh seseorang. Sebab tanpa lawan bicara, kita menjadi terisolasi, en dijamin nggak ngerti apa-apa. Artinya, komunikasi menjadi amat penting. Dan sebenarnya banyak sarana komunikasi, dan siapa yang bisa diajak komunikasi. Bisa ortu, guru, nenek, kakek, kakak, adik dan yang lainnya, termasuk teman. Tapi biasanya, khusus bagi remaja, teman sebaya sangat besar pengaruhnya ketimbang ortu sekalipun. Itu sebabnya, banyak yang memilih lebih percaya kepada omongan dan perilaku teman ketimbang petuah dari ortu yang panjang lebar. Gaswatnya, nggak sedikit teman yang akhirnya malah mencelakakan temannya sendiri. Walah?

Melihat fakta sekarang, sangat boleh jadi ada masalah juga dalam gaya hidup kita saat ini. Yang tadinya kita sering bertemu dengan orang. Ngobrol dalam suka dan duka. Tapi sekarang, peran teknologi informasi telah mengubah gaya hidup kita dalam bersosialisasi. Telepon misalnya, cukup dengan memencet tombol angka-angka, dan beberapa detik kemudian terdengar suara di seberang sana. Bagus juga sebenarnya untuk berkomunikasi, karena membantu melancarkan urusan. Efektif dan efisien lagi. Tapi sayangnya, namanya juga teknologi, tergantung siapa yang memanfaatkan dan menggunakannya. Bisa baik tapi juga sekaligus bisa berubah jadi ancaman.

Contohnya? Kian marak saja jasa "party line", yang tidak saja bikin kantong bolong karena pulsa telepon yang tiap bulannya membengkak, tapi juga mengubah gaya hidup kita menjadi manusia yang "anti dunia nyata". Apalagi kalo kita ngomongin internet. Walah, yang namanya chatting, kayaknya udah jadi jalur "wajib" bagi para user. Pengalaman penulis aja, kalo lagi browsing di warnet, di kanan-kiri banyak ABG yang asyik dan heboh "ngobrol" via jaringan itu. Bahkan banyak alasan yang meluncur dari mulut mereka; sekadar iseng nyari teman, siapa tahu dapat yang cucok untuk curhat. Hmm... bisa tambah runyam deh urusannya.

Party line dan chatting

"Ingin gabung dengan teman di seluruh dunia. Ingin dapat teman curhat. Ingin cari jodoh. Gabung segera di nomor ini... bla..bla..bla" Begitu kira-kira pesan yang disampaikan jasa party line. Rupanya, masih untung juga tuh. Padahal internet udah bisa diakses di mana-mana dengan harga murah. Artinya, meski ada jaringan internet, tapi jalur ini masih banyak juga peminatnya.
Sobat muda muslim, melihat kenyataan ini, kita jadi prihatin. Sebab, bukan karena pulsa telepon yang kian membengkak dipake fasilitas tersebut, tapi lebih karena sudah mengubah gaya hidup. Membengkaknya pulsa telepon bukan masalah utama. Sebab bagi yang cekak tapi nekat bisa memanfaatkan telepon kantor, sekolah, atau nyuri-nyuri punya tetangga (idih..?). Tapi masalahnya adalah terletak pada perubahan gaya hidup. Manusia yang hanya berkomunikasi dengan lawan bicaranya tapi nggak tahu siapa dan bagaimana orang yang diajak bicaranya bisa berbahaya. Dalam kondisi tertentu bukan tak mungkin melahirkan manusia-manusia "sakit". Nggak mau gaul. Temannya bukan di dunia nyata, tapi di dunia maya, dan di "udara". Orang yang seperti itu biasanya akan sulit menerima kenyataan. Apalagi bagi mereka yang udah keedanan, bisa jadi manusia yang malas dan nggak pernah bisa hidup dalam dunia nyata. Bayangin aja, kalo setiap hari kamu tune-in di party line. Mengurung diri di rumah, nggak mau gaul dengan orang yang ada di sekitar lingkunganmu. Lama-lama kamu akan asing sendiri dengan dunia kamu. Bukan tak mungkin kan kalo akhirnya kamu nggak mau menerima kenyataan tersebut? Berbahaya!

Sobat muda muslim, dulu, sebelum ada jasa party line ini, interkom bisa menjadi obat penawar rindu dan sarana efektif bagi mereka yang sulit bergaul langsung di dunia nyata. Hmm.., jamannya interkom dulu, ada juga ibu-ibu yang sampe "lupa" sama suami dan anak-anaknya. Maksudnya, karena saking asyiknya dengan lawan bicara di seberang sana, akhirnya melupakan, atau paling nggak melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Asyik memang, apalagi yang diajak bicaranya bisa ngertiin apa yang kita mau. Peduli dengan nasib kita. Pokoknya, asyik diajak curhat deh. Wuah, kamu bisa keedanan tuh. Tuh kan, interkom yang antar RT aja bisa mengubah gaya hidup manusianya, apalagi yang jangkauannya lebih luas? Bukan tak mungkin kan kalo budaya dan gaya hidup lawan bicara kita kemudian "lengket" dengan gaya hidup kita?

Oya, omong-omong tentang chatting, kayaknya fasilitas ini udah akrab banget dalam gaul kamu. Apalagi yang udah gape soal internet. Sstt... ada yang belum tahu juga istilah ini? Hmm…, yang pasti bukan kependekan dari "Chanda itu Penting" yang sering dibawakan Narji, Deny, dan Bedu di TPI. Fasilitas bicara dengan menggunakan jaringan internet ini bisa memungkinkan kita kontak dengan siapa saja di chanel apa saja yang disediakan berbagai komunitas. Dari sekadar chanel untuk nyari kenalan, teman curhat, teman diskusi, sampe untuk nyari pengakuan dari setiap orang tentang dirinya.

Sarana chatting juga efektif bagi yang merasa kesulitan nyari teman di dunia nyata. Mungkin, karena di dunia nyata kamu kalah bersaing. Baik dalam status sosial atau akademis, juga dalam hal-hal yang menyangkut diri kamu. Misalnya aja, kamu yang wajahnya nggak kece-kece amat tentu ada rasa minder kalo harus bergaul langsung di dunia nyata. Kamu khawatir kalo kemudian nggak diterima dalam kelompok gaul teman-temen kamu yang kondisi wajahnya di atas kamu. Tapi tidak dengan chatting atau di party line, lawan bicara kita, yang kita harapkan sebagai teman nggak bakalan tahu siapa kita. Jadi aman deh di balik topeng party line atau fasilitas chatting. Ujungnya kamu merasa pede untuk bergaul. Salah-salah saking hebohnya dan nggak tahan dengan suara merdu "teman" kamu itu, lalu nekat janjian untuk ketemu di "darat". Jangan salah pula kalo kejadian kayak di iklan salah satu pasta gigi bisa menimpa kamu. Inginnya ketemu bidadari, eh, nggak tahunya yang datang "penggilingan". "Cari siapa ya...?". Upps, sori.

Jangan salah gaul!

Sobat muda muslim, perkembangan teknologi informasi ini kudu disikapi dengan bijak. Artinya, rambu-rambu dalam kehidupan yang udah baku jangan dilanggar. Utamanya dalam urusan gaul ini. Kalo gaul bebas antar lawan jenis secara langsung jelas berdosa. Lalu gimana kalo melalui fasilitas party line atau chatting?

Yup, memang aktivitas itu nggak disebut berkhalwat. Karena emang nggak bertemu. Meski demikian, interaksi di antara keduanya harus tetep dijaga. Nggak boleh menjurus ke perbuatan maksiat. Misalnya, nggak boleh ngerayu, ngegoda, atau membicarakan hal-hal yang porno dan yang melanggar syariat lainnya. Kalo itu dilanggar, ya, berdosa dong.
Jadi, bukan hanya berbahaya tapi sekaligus sebuah kesalahan dalam pandangan syariat Islam. Itu hanya sebuah sarana yang bisa menghantarkan kepada perbuatan haram. Emang kudu ekstra waspada. Udah deh, daripada kamu keterusan, apalagi sampe kebablasan, mendingan hentikan aja aktivitas begituan. Masih banyak manfaat yang bisa kamu ambil dari cara lain. Misalnya, gaul di dunia nyata. Tentunya dengan tuntunan yang benar dari ajaran Islam dong.

Oya, secara umum rasanya aneh kalo manusia nggak mau gaul dengan manusia lainnya. Bahkan sebenarnya temen-temen kita yang nyari teman lewat party line atau chatting adalah bagian dari pemenuhan bahwa dirinya nggak bisa hidup sendiri. Tapi emang ada bedanya antara yang berani bergaul di dunia nyata dengan yang cuma berani gaul di dunia maya atau di "udara". Biasanya, yang hanya berani gaul dan nyari teman di dunia maya atau di "udara", adalah orang-orang yang merasa nggak aman dengan dunia nyata tempat ia tinggal. Selalu saja menaruh curiga terhadap calon gaulnya. Sebaliknya, bagi mereka yang berani menghadapi kenyataan hidup, biasanya lebih betah gaul di dunia nyata. Nyari teman nggak susah kok. Asal kita mau gaul. Lagian, lebih seru bergaul dengan orang-orang yang nyata dan kita kenal baik sehari-harinya. Tul nggak?

Sobat muda muslim, keuntungan kita bergaul dengan teman di dunia nyata adalah bisa mengenal lebih dekat. Dan kita tahu kesehariannya. Bukan tak mungkin kepercayaan kita bisa tambah kepadanya. Sebab, faktanya bisa kita saksikan langsung. Beda banget dengan teman chatting atawa di party line, kita seharusnya layak memberikan keraguan dan tetap waspada kepada mereka. Kenapa? Kita nggak tahu orangnya kayak apa, gimana sikapnya bila bicara dengan selain kita. Pokoknya, kita nggak tahu dalamnya kayak apa. Ada yang tampaknya baik, namun tetep kudu waspada, siapa tahu kan itu hanya sebatas perangkap untuk mengambil simpati kamu? Wallahu alam.

Sobat muda muslim, sebenarnya nggak sulit nyari teman di dunia nyata. Mungkin yang jadi sulit adalah karena kitanya sendiri nggak punya prinsip hidup. Kalo pun punya malah salah. Akhirnya nggak karuan kan? Sebagai remaja Islam, maka pastikan teman gaul kita adalah seorang muslim. Sebab, teman bisa membawa berkah, tapi juga bencana. Makanya jangan berteman dengan orang-orang yang rusak kepribadiannya.

Kamu bahkan kudu pede dalam bergaul. Jangan pernah minder hanya karena kamu berbeda dengan orang lain. Nggak usah. Kamu yang punya bodi gendut, jangan pernah merasa rendah diri. Justru anggap aja itu kelebihan kamu. Kelebihan berat badan maksudnya? He..he..he.. tentu bukan itu yang kita maksud. Anggap aja itu "potensi" besar kamu. Siapa tahu malah dibutuhkan suatu saat nanti. Lagian yang terpenting, kepribadian orang nggak dinilai dari cakep atawa gantengnya. Juga nggak dinilai dari kaya apa miskin. Tapi dinilai dari ketakwaan-nya kepada Allah. Firman Allah Swt.: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(TQS al-Hujurât [49]: 13)

Dalam kitab Adabul Mufrad, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Tidaklah saling mencintai dua orang dalam agama Allah Ta'ala, kecuali orang yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling besar cintanya pada sahabatnya." (H.R. Bukhari).

Sobat muda muslim, untuk mencari teman selain syarat utama mereka harus muslim, dan punya kepribadian Islam yang bagus, juga boleh-boleh aja kamu pake syarat tambahan, yakni teman muslim yang akhlaknya bagus, plus yang ngertiin kita. Sebab, kita emang bisa berteman dengan setiap muslim dan yang kepribadiannya bagus tapi yang bisa ngertiin sifat kita nggak banyak. Meski demikian, kamu tetap boleh bergaul dengan seluruh kaum muslimin, karena hukum asal seorang muslim bisa dipercaya. Hanya saja, untuk kondisi sekarang, kamu kudu ekstra hati-hati. Sebab, banyak juga teman yang ngakunya muslim, tapi gaya hidupnya malah mencontoh orang-orang kafir. Gaswat bener kan?

Jadi emang teman gaul kita kudu yang bener-benar oke kepribadian Islamnya. Kalo kebetulan nggak? Ya, berarti kamu yang kudu ngajak doi ke jalan yang benar. Sebab teman baik ialah yang bisa mengingatkan ketika kita lalai dan berbuat maksiat. Dan tentunya, doi selalu mengajak kepada kebenaran.

Oke deh, ini barangkali sekadar tips singkat dari kita untuk mencari teman sejati. Oya, nyari teman di sini maksudnya tentu bukan teman lain jenis, lho. Ya, teman biasa gitu. Ssstt.., siapa tahu Studia malah bisa jadi 'teman' dekat kamu (deeuuuhhh pede sekali). Semoga saja demikian. Begitu, sobat.

_________________________
Buletin Studia Bogor Edisi 086/Tahun ke-3

 
 
(Dibaca: 11105 kali | Dikirim: 11 kali | Print: 300 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2018, Dudung Abdussomad Toha