Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Orang-orang yang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi". (Ernest Newman)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
19 Agustus 2005 - 09:53
Terima Kasih Guruku       
STUDIA Edisi 258/Tahun ke-6 (22 Agustus 2005)
 

Engkau bagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan / Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Rasa-rasanya lagu ini selalu inget di hati kita. Yup, bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah kayaknya nggak bakalan lupa deh sama syair lagu ini. Apalagi buat kamu yang masih duduk di bangku sekolah. Iya kan? Lagu yang kalo sekarang dinyanyikan pun harusnya tetap membuat kita menghormati para guru. Soalnya cita-cita dan harapan yang bisa kita raih sekarang ini juga ada andil dari mereka. Sekecil apa pun. Apalagi kalo besar.

Masih terbayang bagaimana kita pas pertama kali masuk sekolah, pertama kali belajar nulis. Pensil yang kita pegang ikut bergetar karena tangan kita baru melakukannya, ditambah grogi pula. Tapi guru kita di sekolah dasar itu dengan telaten mengajari dan membimbing kita dengan tanpa pernah bosen. Seorang teman malah menikmati profesi guru sebagai jalan hidupnya. Ya, memberi pelita kepada yang sedang kegelapan adalah perbuatan yang insya Allah mulia. Apalagi jika ikhlas dilakukan. Allah pasti akan memberikan hujan pahala yang deras. Sangat deras barangkali.

Boys en galz , lagu Hymne Guru ini selalu mengingatkan kita pada mereka, para guru. Perhatian, kasih sayang, dan rasa pedulinya begitu luas hingga sulit bagi lisan ini untuk mengukir kata-kata yang terindah untuk mereka. Didikan dan bimbingannya masih terekam dalam benak kita dan tiap kata yang diucapkannya banyak mengandung nasihat.

Kalo di rumah kita mendapatkan rasa itu dari ayah, ibu, dan juga kakak-adik kita. Sementara di sekolah, guru yang memberikan semua rasa itu pada kita. Rasanya tak mungkin kalo bukan karena itu semua mereka mau membimbing kita. Mereka mengajar dengan penuh perhatian, selain karena ada tujuan materi yang diinginkan dari ilmu yang diajarkan kepada kita-kita, juga insya Allah berangkat dari idealisme untuk menciptakan manusia-manusia pembelajar di masa depan. Tentu, kita-kita ini diharapkan yang akan meneruskan perjuangan membangun negeri ini sesuai bidang yang digarap dan mampu kita lakukan. Awalnya, tentu kita belajar karena ada guru di sekolah.

Kalo udah ngomongin kebaikan juga pengorbanan yang mereka berikan untuk kita sepertinya nggak ada the end -nya. Bener nggak seh? Coba aja lihat, setiap hari mereka lebih banyak luangkan waktu di sekolah mulai dari ngajar, pertemuan para guru dan mengerjakan soal-soal ditambah lagi kudu membimbing dan membina kalo ada murid yang error tingkah lakunya. Waah itu semua rasanya butuh mata yang harus awas dan tentunya waspada. Berat memang tugasnya dan juga pengorbanannya. Tapi tentu betapa mulianya menjadi guru.

Pernah kan kamu lihat murid-murid pada ngumpul pada jam istirahat? Bagi seorang guru fenomena ini tidak pernah lepas dari perhatiannya. Tentu harapan guru semoga ngumpulnya mereka membicarakan sesuatu yang baik. Bukan sebaliknya malah 'hajatan' obat. Berabe kan kalo masalah ini lepas dari perhatian guru? Makanya bagi mereka dijuluki pahlawan sudah bukan sesuatu yang langka. Emang sih bukan pahlawan dalam kisah peperangan tapi kalo baca di Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah pahlawan itu terkait erat dengan sifat pengorbanannya. Setuju nggak? BTW, gimana neh nasib guru kita saat ini? Sejahterakah mereka? Cerahkah masa depan mereka?

Nasib guru kita

Entah, karena pemerintah menerjemahkan lirik lagu ‘hymne guru' itu secara keliru, sehingga yang dimaksud ‘pahlawan tanpa tanda jasa' itu adalah mereka yang tanpa pamrih. Sehingga nggak dihargai dengan gaji pun mungkin nggak akan melawan atau berontak. Kenapa? Ya gitu deh, namanya pahlawan tanpa tanda jasa. Menyedihkan sekali ya?

Jadi inget lagunya Bang Iwan Fals yang sangat terkenal, yakni “Oemar Bakri”. Lagu ini berkisah tentang keprihatinan terhadap nasib guru. Seorang guru bernama Oemar Bakri dalam lagu Bang Iwan Fals ini digambarkan sebagai sosok guru yang sangat mengabdi sampai usia tuanya. Tetap semangat mengajar murid-murid tercintanya meski gaji sering ‘disunat'. Tragis sekali.

Bahkan ketika murid-muridnya sudah ‘jadi orang', sosok Oemar Bakri tetap saja sederhana, dan nasibnya tak kunjung membaik. Saat ini pun kita sering mendengar kisah-kisah memilukan tentang profesi guru. Ada banyak ‘Oemar Bakri' lainnya yang kini menderita. Ya, seperti melanjutkan ‘estafet' nasib Oemar Bakri dalam lagu Bang Iwan Fals tersebut.

Salah satunya adalah kisah seorang guru yang mengajar di sebuah wilayah di daerah Gorontolo. Ibu guru kita ini bercerita di acara Kembang Api-nya API (Audisi Pelawak TPI) 14 Agustus 2005 lalu. Untuk mengambil gajinya yang menurut pengakuannya sekitar 1 jutaan itu, ia harus berangkat dari rumahnya jam 5 pagi, dan baru sampai di kota tujuan untuk mendapatkan gajinya sekitar jam 8 malam. Wuih, jauh banget tuh (berapa kali ganti sendal ya?). Untuk menempuh perjalan jauh itu, 200 ribu rupiah katanya harus dikeluarkan. Kita bisa bayangin sendiri gimana memprihatinkannya nasib guru di daerah.

Kalo di kota mungkin masih agak-agak bisa terobati kali ye? Misalnya untuk menambah biaya dapur, bisa jadi tukang ojeg. Ini juga ada kisah memilukan tentang seorang guru. Saya melihatnya di Trans TV dalam acara Good Morning yang dipandu Ferdy Hassan dan Rieke ‘Oneng' Dyah Pitaloka. Dalam salah satu laporannya, ada seorang guru di Bekasi yang nyambi jadi tukang ojeg. Maklum guru honorer. Jika tak salah dengar gajinya sekitar 400 ribuan gitu deh per bulannya.

Ini memang baru satu kasus, entah kasus lainnya yang tak terberitakan. Wallahu'alam . Tapi meski hanya satu atau beberapa kasus yang bisa dihitung dengan jari, tentunya ini adalah sebuah musibah. Ya, musibah bagi profesi pengajar yang dengan ilmunya menjadikan kita-kita bisa belajar dan bahkan bisa lebih pinter dari mereka dan nasib kita barangkali juga ada yang lebih baik dari mereka.

Kita yakin juga kok, bahwa nasib guru yang agak-agak lebih baik atau mungkin sangat baik juga ada. Tapi jumlahnya tak sebanyak yang ‘merana'. Tentunya harus ada perhatian dan juga tindakan nyata dari pemerintah untuk memikirkan solusi dari nasib guru dan juga masalah pendidikan ini.

Ini memang harus diupayakan untuk segera ditangani. Maklum saja, waktu terus berjalan dan roda kehidupan juga butuh energi untuk menggerakkannya. Jika nasib guru terus memburuk, khawatir idealisme sebagai pengajar juga akan pudar. Tergerus oleh naluri untuk mempertahankan hidup. Idealismenya dikalahkan oleh urusan perut. Itu sebabnya, jangan salahkan pula jika banyak dari kita sudah tak punya cita-cita untuk menjadi guru. Karena melihat nasib para guru (secara umum) yang mengenaskan.

Kenapa ini terjadi?

Sobat muda muslim, kita jadi berpikir lebih jauh, ada apa sebenarnya dengan kondisi guru? Separah inikah nasib “pahlawan tanpa tanda jasa”? Mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa terus menghantui kita dan berusaha mendapatkan jawaban yang benar dan masuk akal.

Memang sih, masalah di negeri kita bukan hanya soal guru. Bukan hanya soal pengangguran, bukan pula sekadar masalah kriminal yang kian menggila. Masalah di negeri kita banyak sekali. Saking banyaknya, rasanya tak akan cukup dituliskan secara lebih detil di buletin kesayangan kamu yang cuma empat halaman ini.

Jika kita melihat lebih dalam (sumur kale!), tentu kita berpikir bahwa kondisi masyarakat ini tak bisa lepas dari sistem kehidupan yang mengendalikannya. Apakah akan bergolak atau tetap dingin, sistemlah yang mengaturnya. Ambil contoh air yang ada di tempayan. Jika tidak dipanasi dengan api ia tidak akan bergolak. Tetep dingin. Nggak bereaksi sedikit pun.

Air yang ada di lemari es, karena dikondisikan oleh ‘sitem pendingin' dari kulkas itu, maka ia akan menjadi dingan dan bahkan beku. Di sinilah sebuah sistem berperan besar.

Itu sebabnya, jika melihat fakta saat ini, ternyata dalam kehidupan negara yang menerapkan kapitalisme-sekularisme, asas manfaat yang disandarkan pada materi menjadi tolok ukur. Memang sangat kompleks untuk menjelaskan tentang sistem kapitalisme. Mungkin saja memerlukan berlembar-lembar halaman. Tapi di sini kita ‘bicara' singkat aja. Semoga mengena. Oke?

Kita lebih melihat fakta dari diterapkannya kapitalisme di sini, bahwa pemerintah lebih memfokuskan perhatiannya kepada sektor-sektor yang cepat menghasilkan duit (itu pun jika tidak dikorupsi pejabatnya). Dalam satu kasus saja, misalnya program pemberdayaan guru dan peningkatan kesejahteraannya sering hanya berhenti di seminar-seminar saja. Nyaris realisasinya tak terwujud di lapangan. Menyedihkan.

Tapi sebaliknya, pemerintah kelihatan sangat getol jika ada proyek-proyek yang cepat mendatangkan uang, seperti eksplorasi minyak bumi, izin untuk tempat-tempat hiburan, pelacuran, perjudian, pabrik minuman keras, dan bahkan ‘tutup mata' terhadap peredaran narkoba. Tentu untuk beberapa kasus ada yang ditindak juga, tapi biasanya itu yang nggak mendapatkan izin dan nggak ‘nyetor' upeti.

Coba aja dipikirin deh, daripada bikin lokalisasi pelacuran, komplek perjudian dan ‘melindungi' peredaran narkoba, anggarannya kan bisa dipake untuk kesejahteraan guru. Jangan sampe guru yang kesulitan mengepulkan asap dapurnya karena gajinya rendah ikutan-ikutan masang nomer cantik pembawa hoki di arena judi togel.

Menyoroti nasib guru ini, Ketua Umum Persatuan Guru RI, Muhammad Surya menyampaikan, “Apa pun yang diperjuangkan untuk perbaikan kesejahteraan guru berpulang pada sejauh mana komitmen penyelenggara negara terhadap pendidikan. Studi banding kemana pun jika tidak mengedepankan kepentingan pendidikan itu sendiri maka percuma” (Koran Tempo, 5 Agustus 2005)

Sobat muda muslim, masalah ini memang kompleks banget. Satu-satunya jalan adalah dengan mengubah kondisi yang ada supaya menjadi lebih baik. Selama sistem yang mengkondisikan kehidupan ini tidak kita enyahkan, maka selama itu pula kita akan tetap terkurung dalam arus kehidupan yang membuat kita semua menderita lahir-batin.

Ini insya Allah nggak akan terjadi jika kita mau menerapkan aturan Islam yang akan mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini. Yakin itu.

Untukmu guruku

Semoga saja, nasib guru menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang. Kita sendiri baru bisa mendoakan dan sedikit memberi solusi. Namun, solusi yang baru bersifat wacana ini membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk merealisasikannya. Sebab, tanpa peran mereka, harapan kita untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para guru tak akan pernah terwujud. Karena jasa guru termasuk berharga bagi kemajuan sebuah peradaban. Pemerintah harus menghargai para pendidik dan memajukan dunia pendidikan.

Itu sebabnya, amat wajar bahwa kita pantas dan layak untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru kita semua. Ijinkan kami memberikan tanda cinta kami yang tak pernah luntur oleh waktu. Guruku, ketulusan dan keluasan ilmumu yang berguna selalu kau limpahkan untuk bekalku nanti. Bila masih bisa mulutku berbicara kukatakan padamu: terima kasih guruku.

Dan, semoga saja pemerintah bisa mewujudkan niat baiknya untuk menghormati, menghargai, dan memberikan yang terbaik untuk para guru sebagai tanda cinta dan rasa terima kasih yang amat dalam. Semoga Allah memudahkan niat dan langkah baik kita. Amin.

Tapi, rasanya sangat sulit terwujud jika pemerintah masih menerapkan kapitalisme. Saatnya menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Siap kan? [fahmarosyada: fahmarosyada@yahoo.co.id]

 
 
(Dibaca: 37607 kali | Dikirim: 3 kali | Print: 162 kali | Nilai: 8.25/4 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2014, Dudung Abdussomad Toha