Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Hendaklah engkau menjadi orang yang berilmu atau yang belajar atau mendengar ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang ke empat yakni yang tidak termasuk salah seorang dari kelompok orang di atas agar engkau tidak binasa." (Abu Darda)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
29 Juni 2002 - 12:15
World Cup 2002; Pestamu, Dukaku    
 

Gebyar World Cup 2002 Korea-Jepang makin panas menjelang semifinal dan final pada akhir bulan ini. Tim-tim unggulan banyak yang rontok. Pemain dan ofisial Argentina, Perancis, dan Portugal bahkan lebih dulu mengemas koper mereka untuk meninggalkan medan tempur sepakbola sejagat itu. Mereka babak belur di babak pertama.

Ada tangis dan tawa di arena dan di kampung mereka. Saat tim Dinamit Denmark "melepes" dihantam tim "Union Jack" Inggris 3 gol tanpa balas, pendukung Inggris di Niigata, stadion tempat mereka bertarung gegap gempita. Pun nggak ketinggalan masyarakat London, dan juga penggemar di negeri ini yang menyaksikan adegan itu, ikutan heboh. Sebaliknya, di Kopenhagen dan belahan dunia lainnya, pendukung tim "Dinamit" merana total.

Begitu pula saat tim Rusia digasak Jepang dalam babak penyisihan, ratusan pendukung kesebelasan "Beruang Merah" mengamuk di kota Moskow. Sebaliknya, di Jepang pendukung kesebelasan negeri "Matahari Terbit" itu tenggelam dalam pesta.

Pendukung tim "Azzurri" Italia gondok berat saat timnya dibungkam tuan rumah Korea dalam babak perdelapan final. Penggemar Del Piero dan kawan-kawan di seluruh dunia, termasuk di negeri ini terpaksa gigit jari menyaksikan tim favoritnya terjungkal. Yup, dalam pertandingan memang selalu ada suka dan ada duka. Yang satu pesta, yang lainnya sudah pasti berduka. Itulah 'perjuangan'.

Tapi sobat muda muslim, bagi kita, kaum muslimin, adanya hajatan ini makin membuat kita berduka. Gimana nggak, nyaris seluruh penduduk dunia perhatiannya tersedot untuk mantengin aksi-aksi bintang lapangan hijau mengolah si kulit bundar. Sementara persoalan umat ini nyaris nggak teramati.

Coba aja perhatiin di stadion Sogwipo, pemain, ofisial, dan pendukung tim Jerman pesta ketika Miroslav Klose dan kawan-kawan berhasil menjegal langkah tim asuhan Cesare Maldini, Paraguay. Kita di sini juga ikutan heboh. Sementara di Jenin, serdadu Israel kian garang menggempur rumah-rumah penduduk Palestina. Di Miyagi, pemain dan pendukung Turki meneteskan airmata kebahagiaan setelah sukses menghentikan langkah Jepang di babak perdelapan final, sementara di Yerusalem, airmata dan darah warga Palestina menjadi saksi kekejaman Israel. Tentunya dua kenyataan ini amat kontras. Lalu, mana kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita di sana?

Sobat muda muslim, gara-gara hajatan sepakbola sejagat ini, sebagian dari kita kian nggak peduli dengan nasib saudara kita sendiri. Entah itu yang dekat, lebih-lebih di tempat yang jauh dari tempat tinggal kita. Gimana nggak, saat tak ada hajatan putaran final sepakbola dunia aja banyak di antara kita yang cuek bebek ama nasib saudaranya, apalagi sekarang yang nyaris tiap hari hadir di layar kaca siaran langsung dan tunda ajang bal-balan sedunia itu. Pastinya makin lupa diri tuh. Ih, jangan sampe deh.

Globalisasi emosi
Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat dunia ini bak sebesar daun kelor. Jarak satu kota di suatu negeri dengan kota di negeri lain nyaris tanpa batas. Jauhnya jarak bukan lagi persoalan. Sekarang, hal itu bisa diatasi dengan satelit dan kabel. Pertandingan di Jepang dan Korea bisa dinikmati langsung di Jakarta, hanya dengan me-relay siaran tersebut melalui stasiun televisi RCTI sebagai official tv partner World Cup 2002. Gratis lagi. Akibatnya, luapan emosi penonton di stadion dengan di rumah atau yang nonton bareng di kafe dan tempat umum lainnya sama hebohnya. Tertawa dan nangis barengan!

Hmm ternyata sepakbola pun menyimpan pesona globalisasi juga. Coba aja, kita bisa saksikan kesedihan yang amat mendalam dari para pendukung tim Portugal di Lisabon saat menyaksikan pahlawan mereka gagal membungkam Korea Selatan di babak penyisihan. Bahkan kesedihan para penggemar berat tim Portugal di seluruh dunia menjadi "satu". Teman-teman kita di sini yang ngefans sama Luis Figo dan Rui Costa juga ikutan sedih, apalagi yang kalah taruhan. Dijamin kecewa berat.

Untuk mendukung 'program' globalisasi emosi ini, seluruh negara yang menjadi peserta Piala Dunia 2002 dan juga negara yang tak ikutan Piala Dunia rela me-relay siaran pertandingan tersebut. Termasuk di negeri ini, meski kesebelasan Indonesia nggak ikutan di ajang itu, tapi penggemar tim-tim langganan juara seperti Brasil, Jerman, Italia, Spanyol, dan Argentina bejibun. Itu bisa disaksikan saat acara nonton bareng yang digelar di restoran, kafe, sampe hotel, bahkan rencananya RCTI bakalan menggelar nonton bareng di stadion Senayan saat pertandingan final berlangsung akhir bulan ini. Wuih, bener-bener merasa kudu ikutan heboh di ajang bal-balan sejagat ini.

Kita jadi merasa ikut terlibat secara emosi dengan para pemain yang sedang berlaga. Saat tim favorit kita menyerang dan menjaringkan bola ke gawang musuhnya, kita ikutan seneng, lega, dan teriak kegirangan. Dan sebaliknya, saat tim kesayangan kita terdesak, bahkan kipernya harus memungut bola dari dalam gawangnya sendiri, kita juga ikutan sedih, kecewa, dan gondok. Nggak habis pikir memang. Tapi inilah kenyataannya.

Pestamu, dukaku
Sobat muda muslim, terus terang kita sedih lho. Ternyata ada juga di antara kita yang mudah meneteskan airmata. Sayangnya, airmata itu bukan ketika mendengar atau membaca berita tentang saudaranya di Palestina yang dibantai serdadu Israel. Ada juga teman kita yang ternyata bisa tertawa dan heboh bela-belain tim kesayangannya berjuang. Tapi kita amat jarang menemukan teman kita, atau malah mungkin kita sendiri yang begitu senang dan gembira ketika saudara kita berhasil menggempur serdadu Israel misalnya. Malah celakanya, banyak di antara kita yang kemudian mengutuki aksi "bom syahid" saudara kita di sana. Ironi bukan? Inilah yang membuat kita sedih banget sobat.

Padahal, persoalan umat jauh lebih penting ketimbang persoalan hiburan tersebut. Sekarang begini. Kita pikirkan dan renungkan secara mendalam. Apakah ada pengaruhnya buat kita, ketika tim "Ayam Jantan" Perancis harus pulang kandang lebih awal? Apakah ada pengaruhnya bagi kita ketika tim "Azzurri" Italia keluar lapangan dengan wajah ditekuk setelah kalah secara menyakitkan dari Korea Selatan? Juga apakah ada keuntungannya bagi kita ketika tim "Samba" Brasil sukses melenggang ke perempat final dan berhadapan dengan Inggris di semifinal? Apakah kita akan dikasih hadiah ketika Senegal berhasil menjegal Swedia dan akan bertemu tim "Abu Nawas" Turki di perempat final? Rasanya, di antara kita sendiri sebetulnya udah tahu jawabannya. Yup, nggak ada untungnya buat kita. Yang taruhan sekalipun sebetulnya nggak untung, karena ia sedang terlena. Bahkan ia telah melupakan kewajibannya sendiri sebagai seorang muslim.

Di Korea dan Jepang, juga di belahan dunia yang lain tengah berlangsung drama. Ada kesenangan dan kesedihan. Tapi yakinlah, bahwa itu sekadar permainan. Itu sekadar hiburan. Ya, cuma menemani di sela-sela waktu luang kita aja. Nggak lebih dari itu. Lagi pula, bagi kita di sini, rasanya, yang kita dapatkan hanyalah sedikit rasa lega dan senang kalo tim favorit kita sukses. Atau kita kecewa kalo "jagoan" kita keok. Tapi apakah kemudian akan berpengaruh kuat dalam kehidupan kita di dunia ini atas kegagalan atau kesuksesan mereka? Nothing!

Itu sebabnya, kita sedih, kecewa, dan tentu saja berduka banget menyaksikan teman-teman kita yang ternyata lebih semangat mengikuti berita mengenai seputar piala dunia, lebih getol menyaksikan siaran langsung pertandingan demi pertandingan yang digelar dengan tanpa ngantuk sedikitpun. Padahal kalo ngaji mah, baru setengah jam aja matanya udah 5 watt, alias redup. Tinggal nungguin "ngampleh" aja. Aduh, betul-betul prihatin. Benar, pesta itu milik mereka, tapi duka ternyata jadi milik kita. Kita berduka karena sebagian besar dari kita lebih care dengan urusan yang mubah, bahkan cenderung sia-sia itu. Sementara urusan penting bagi kelangsungan masa depan ummat ini diabaikan, alias nggak mendapat perhatian sedikitpun. Gaswat!

Hidup hanya untuk Islam
Kita, kaum muslimin, udah diajarkan oleh Rasulullah untuk belajar memahami hidup ini. Setelah kita mampu menjawab pertanyaan; dari mana kita? Mau ngapain di dunia ini, serta akan kemana kita setelah kehidupan dunia ini, insya Allah kita bisa memahami arti kehidupan ini. Yup, kita berasal dari Allah Swt., di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Dan tempat kembali pasti kepada Allah Ta'ala. jua. Firman Allah Swt.: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (TQS adz-Dzriyt [51]: 56)

Apalagi kita sudah menyatakan "sumpah setia" kita kepada Allah dalam doa iftitah kita ketika shalat. Firman Allah Swt.: "Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam," (TQS al-An'm [6]: 162)

Sobat muda muslim, hidup kita hanyalah untuk Islam. Pastikan itu tetap berada dalam tujuan kita. Kalo kita udah merasa hidup untuk Islam, insya Allah, biasanya kita akan selalu menjadi pembela Islam. Itu bisa diwujudkan dengan perhatian kita terhadap persoalan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Kemudian juga bisa kita wujudkan dengan perhatian yang mendalam tentang masa depan Islam.

Jadi ketika kita bergaul dengan masyarakat, Islam selalu jadi patokan dalam menyelesaikan problem mereka. Itu sebabnya, kalo kita nggak serius untuk mempelajari dan memahami Islam, rasanya bakalan nggak ngeh terhadap problem-problem yang dihadapi kaum muslimin dan persoalan yang mengancam keberlangsungan agama kita ini.

So, kalo sekarang kita lebih betah, lebih getol, en kian semangat mengikuti perkembangan World Cup, ketimbang mendalami Islam dan mengamati perkembangan kaum muslimin ini, satu tenaga sudah terkuras sia-sia. Dan bayangkan bila ada sekitar 100 juta kaum muslimin yang begitu sikapnya di seluruh dunia, berarti energi yang seharusnya dicurahkan untuk Islam, berkurang sebesar itu pula. Umat ini jelas sudah kalah, sobat. Telak lagi.

Sobat muda muslim, kesedihan, kekecewaan, dan duka kita seharusnya dialamatkan ketika kita melihat umat Islam ini berada dalam jurang kehancuran. Ibarat tim favorit kita berada di ujung tanduk. Meski tentu ada bedanya. Yakni, bila kita sedih menyaksikan penderitaan umat, lalu kita berusaha untuk menyelesaikannya, insya Allah dapat pahala, sementara kalo kita sedih dan kecewa karena tim favorit kita bangkrut di ajang World Cup 2002, nggak dapat pahala sedikit pun. Jadi, berpikirlah sejernih mungkin, sobat.

So, pikiran dan perasaan hanya kita curahkan semata untuk Islam dan kaum muslimin, bukan untuk yang lain. Itu sebabnya, rasa suka dan duka kita pun pastikan ada kaitannya dengan Islam. Kita gembira, bila memang Islam mulai banyak dipelajari dan dibela oleh umatnya. Kita gelisah dan marah, saat kita menyaksikan ada orang yang mengancam Islam dan umatnya.
Oke deh. Jangan sampe gempita World Cup 2002 menyita dan memalingkan perhatian kita dari upaya mengemban dakwah dalam rangka melanjutkan kembali kehidupan Islam. Catet ya!

_____________________________
Edisi 103/Tahun ke-3 (24 Juni 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com

 
 
(Dibaca: 7010 kali | Dikirim: 4 kali | Print: 229 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha