| Jack, begitu orang sekampung biasa memanggilnya. Nama aslinya sih Jaka. Tapi
kayaknya doi lebih seneng dipanggil dengan nama yang berbau Barat itu. Tampangnya
dingin. Kira-kira hampir sodaraan deh ama tampang aktor watak Robert De Niro
yang langganan meranin tokoh berkarakter “dingin” tapi ganas.
Di lingkungan RW setempat, Jack dikenal tukang judi, doyan nenggak miras, dan
tentunya main perempuan. Aksi bejatnya selama ini nyaris tak bisa diubah, dan
itu terus berlangsung sampe sekarang. Kenapa bisa begitu bebas? Sebab doi punya
wadyabalad yang jumlahnya lumayan banyak. Yup, para preman yang selalu bikin
onar di kampung itu siap mendukung Jack.
Suatu hari, Jack dan komplotannya lagi asyik main judi rolet. Konyolnya, ia
lakukan perjudian itu dekat masjid. Barangkali doi udah tahu reaksi warga. Pikirnya,
paling-paling juga diem dan nyuekkin aja kelakuan bejatnya. Bukan apa-apa, warga
pasti takut dong dengan para begundalnya yang nekat-nekat itu. Dugaan Jack tak
salah. Warga yang tak setuju alias benci dengan kelakuan Jack dan gerombolannya
cuma berani cas-cis-cus di belakang.
Nah, karena masalah ini makin rame dibicarakan orang, dan Jack kian agresif
saja memamerkan keberaniannya, maka nggak salah dong kalo suatu saat bakalan
ada tandingannya. Tapi Jack tak takut itu terjadi padanya, sebab dia punya banyak
jaringan yang siap mati membela bisnis dirinya. Itu sebabnya, kian hari aksi
Jack kian menjadi-jadi. Makin tak bisa dikendalikan lagi oleh pengurus warga
setempat. Karena konon kabarnya juga Jack udah punya link dengan banyak polisi
di kota tersebut. Celaka!
Jadinya, Jack tak hanya berani bicara, tapi juga berani beraksi. Perjudian
dan pesta miras kian menjadi-jadi di lingkungan itu. Apalagi pas banget dengan
ajang perayaan kemerdekaan yang kerap menggelar acara lomba gaple yang direstui
oleh ketua RW setempat seperti memberi angin sorga buat komplotan Jack untuk
pesta judi.
Sobat muda muslim, untungnya, di tengah kondisi seperti itu masih ada orang
yang peduli dan berani untuk melawan kedzaliman. Anak masjid yang tadinya juga
nggak berani melarang aksi Jack dan kawan-kawanya, mulai bangkit. Apalagi setelah
mendapat dukungan dari sebagian warga yang juga tak rela kampungnya itu jadi
sarang perjudian, prostitusi dan peredaran miras.
Agenda aksi tandingan disiapkan anak-anak masjid. Mulai dari menyebarkan pamflet
berisi ajakan untuk kembali kepada Islam dan meninggalkan aktivitas maksiat,
terus ngadain ceramah di masjid secara marathon. Hampir tiap malam diisi oleh
para ustadz, baik dari warga setempat maupun ngundang dari tempat lain. Selain
itu, anak-anak remaja masjid juga aktif melobi ketua RW/RT untuk menggunakan
kekuasaannya dalam melawan kemaksiatan.
Sobat muda muslim, sepertinya memang perjuangan lengket banget dengan yang
namanya pengorbanan. Itu sebabnya, perjuangan anak-anak remaja masjid juga tak
selalu kudu berjalan mulus. Akibat aksi tandingan yang dilancarkan seminggu
belakangan ini, teror mulai mengancam anak-anak remaja masjid. Ada anak buah
Jack yang dengan sewotnya merobek pamflet yang banyak disebar di lingkungan
itu.
Nggak cukup di situ, mereka mendatangi ketua RW dan RT setempat. Mereka melobi
(baca; mengancam) juga supaya tetap mendukung kegiatan maksiat mereka selama
ini. Kalo berani mengusik, maka jabatan RW dan RT bakalan melayang ke tangan
orang lain. Lucunya, ketua RW dan RT malah ngeper. Akibatnya, anak-anak remaja
masjid kian berat aja perjuangannya. Sebab, kudu melawan konspirasi antara pejabat
pemerintah setempat dengan komplotan Jack yang punya duit dan mengendalikan
keamanan.
Ternyata kini orang-orang yang maksiat udah berani bicara dan beraksi. Ironi,
jadi lebih galak yang maksiat ketimbang yang bener.
Sobat muda, kisah tadi boleh jadi terjadi juga di tempat lain. Tak menutup kemungkinan
kan? Sebab, kondisi kehidupan sekarang memang memberi peluang kepada individu
dan masyarakat untuk berani berbuat maksiat. Gimana nggak, perjudian, pelacuran,
peredaran miras dan narkoba tak mampu diselesaikan dengan benar dan baik. Bahkan
cenderung mengalami peningkatan yang berarti. Ada apa ini? Apakah orang-orang
udah tak peka lagi dengan perbuatan dosa? Apanya yang salah?
Masyarakat kita sedang sakit
Kamu pernah nggak sakit or ngeliat orang yang sakit? Misalnya, menderita sakit
yang berat. Biasanya, penampilan yang muncul selalu yang jelek-jelek dong. Badan
kurus kering, rambut rontok, kulit borok-borok, napas udah senen-kemis, degub
jantung aja lemah banget.
Kondisi masyarakat kita sekarang juga nggak jauh beda dengan orang yang sedang
sakit. Tanda-tandannya apa? Angka kejahatan terus membesar, perjudian, pelacuran,
kemiskinan yang grafiknya kian meningkat, biaya pendidikan yang kian mahal,
pejabat pemerintah yang doyan korupsi, ekonomi yang morat-marit, perpecahan
di mana-mana, kerusuhan seperti udah nggak kenal lelah, hiburan bertabur maksiat
kian marak, baik di tayangan tv maupun lingkungan kita sendiri, dan beragam
kemaksiatan lainnya udah jadi label yang kayaknya sulit banget untuk dihapus
dari masyarakat kita.
Idih, siapa sudi sih hidup kayak begini? Andai semua orang tahu kalo masyarakatnya
sedang sakit, kayaknya bakalan cepet berusaha untuk menyembuhkannya. Seperti
halnya, kalo yang sakit tubuh kita sendiri. Biasanya, langsung trengginas berobat
ke dokter. Sayangnya, sebagian besar masyarakat nggak ngeh dengan panyakit yang
mendera kehidupan ini. Atau karena mereka menjadi bagian dari penyakit itu?
Wah, sangat boleh jadi, dan itu artinya nggak bakalan merasakan kejanggalan
tersebut, dong? Tepat sekali.
Akibatnya, sebagian ada yang berusaha untuk memberikan penyembuhan, eh, sebagian
yang lain, yang emang pelaku kemaksiatannya malah kalap dan nolak mentah-mentah,
bahkan pake ngancem segala. Kayak bujangan yang lagi seneng ngimpi ketemu puteri
cantik dan dikipasin segala di taman yang indah, eh, kita bangunin. Udah untung
nggak disepak juga. Padahal, kalo kita pikir kan kesenangan itu cuma mimpi.
Ya, seperti dalam kisah di atas tadi. Orang-orang yang maksiat malah lebih
galak ketimbang yang baik-baik. Aneh bin ajaib. Padahal mereka itu sedang bersenang-senang
dengan sesuatu yang buruk. Kenapa? Meski menurut mereka mendatangkan kenikmatan
dengan banyak duit dan kebebasan tapi kan Allah nggak ridho. Itu artinya mereka
tengah menabung untuk azab Allah di akhirat.Amit-amit deh!
Sobat muda muslim, idealnya, karena sedang sakit berarti butuh dokter dong?
Tepat sekali. Dan biasanya, kalo orang udah sadar dengan penyakitnya, maka ia
akan berusaha untuk menyembuhkannya. Bahkan boleh jadi taat banget sama anjuran
dokter. Misalnya aja dokter memberi resep agar obat ini diminum sehari tiga
kali, obat yang itu diminum setelah makan siang, obat lain lagi diiminum dua
hari sekali. Selain itu, kudu getol menjaga kesehatan badan, misalnya dianjurkan
untuk olahraga ringan di pagi hari. Ada makanan yang pantang untuk dimakan,
guna mempercepat proses penyembuhan. Bahkan bila sang dokter menganjurkan untuk
ngecek kesehatan secara rutin tiap bulan pun akan dilakukan. Kenapa? Karena
doi sayang sama badannya.
Sobat muda muslim, itu juga bisa diumpamakan kepada kehidupan masyarakat lho.
Bener. Jadi, kondisi masyarakat yang tengah sakit ini butuh dokter sebagaimana
halnya kalo tubuh kita lagi nggak enak badan. Tentu tujuannya supaya masyarakat
ini bisa sembuh dari penyakit yang selama ini dideritanya.
Nah, yang jadi dokter masyarakat ini adalah orang-orang yang tentunya udah tahu
kondisi penyakit masyarakat. Dalam contoh kasus di atas adalah anak-anak remaja
masjid dan ustadz-ustadz yang mencoba untuk menyadarkan orang-orang di lingkungan
sekitarnya itu. Sayangnya, orang yang sakitnya itu sok tahu. Tak mau diobatin,
malah ngancam segala.
Maklum sobat, mereka kan lagi kenceng-kencengnya maksiat. Menurut kita memang
maksiat, tapi bagi mereka bisa jadi jalan hidup. Itu sebabnya, mereka bakalan
bela-belain untuk melakukannya meski kanan-kiri banyak yang nggak suka dengan
aktivitas rusak bin bejatnya. Ya , namanya juga orang lagi gelap kali ye?
Kita selamatkan mereka
Sobat muda muslim, ini memang tugas kita untuk menyelamatkan mereka. Bukan so
tahu, bukan pula sok jagoan, apalagi sok suci. Nggak. Kita mencoba empati dengan
keadaan teman-teman kita yang masih berada dalam kegelapan. Bukan apa-apa, kita
bisa begini ‘hebat’ tahu ini dan itu, juga dengan melalui proses
yang amat panjang dalam hidup ini. Kita bisa merasakan bagaimana nikmatnya saat
kita berhasil melaksanakan kewajiban. Dengan proses yang amat panjang pula dalam
belajar kita, kita jadi tahu kalo kita melakukan perbuatan yang dilarang dalam
ajaran Islam adalah haram. Dan jelas dosa. Dan kita pun berupaya untuk bisa
menghindari aktivitas tersebut.
Nah, jadi jangan putus asa untuk bisa menjadi penerang orang-orang yang sedang
berada dalam kegelapan. Kita coba raih mereka. Kita sampaikan kebenaran ini
dengan jelas dan tegas. Apalagi, kita sebagai seorang muslim dituntut untuk
melakukan amar ma’ruf dan nahyi munkar. Itu kan dalam upaya menyelamatkan
mereka. Tul nggak? Meski kadang kita kudu menghadapi cemoohan dan celaan dari
mereka, karena kita berusaha mengusik ketenangannya dalam bermaksiat. Tapi kalo
kita mendiamkan, alamat kita juga bakalan kena dampaknya.
Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum/masyarakat
yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat
satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing,
ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang
di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk
di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya
aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku
tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain)
membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda: “Apabila zina
dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja
telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab dari Allah.”
(HR Ath Thabrani, Al Hakim dari ibnu Abbas)
Sobat muda muslim, kita sering mengkritisi keadaan bukan berarti tanda benci,
apalagi antipati, tapi menunjukkan sikap empati dan peduli. Tul nggak? Apalagi
yang melakukan maksiatnya teman sendiri, atau tetangga sendiri, bahkan mungkin
saudara sendiri. Jadi jangan dimusuhi, tapi kita dekati.
Tapi gimana kalo setelah kita menggunakan cara yang baik tapi mereka tetep
ngeles dan bahkan galak? Ya, bersabar saja. Tugas kita kan menyampaikan. Tapi
tetap jangan menyerah. Teruskan perjuangan kita, meski, barangkali sekadar menuliskannya
seperti dalam buletin ini. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa
di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan
tangannya; maka bila ia tidak mampu, maka dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu
maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”
(HR Muslim)
Sobat muda muslim, kondisi ini rasanya sulit kalo kita cegah
sendirian, maka perlu peran negara dalam mengatasinya. Bukan apa-apa, kemaksiatannya
udah mengglobal. Jadi kalo ingin aman dan sejahtera, ingin hidup tanpa kekerasan,
ingin selamat dunia dan akhirat, tak usah repot dan pusing-pusing, kita ajak
masyarakat dan minta kepada bapak-bapak pejabat di negeri ini untuk mencampakkan
sistem kehidupan kapitalisme yang selama ini diterapkan, dan ganti dengan sistem
pemerintahan Islam. Supaya tak banyak yang berani bicara dan beraksi dalam kemaksiatan.
Tapi justru nantinya masyarakat akan berani bicara dan beraksi sesuai tuntunan
syariat Islam. Setuju kan??
_______________________________________
Edisi 112/Tahun ke-3 (26 Agustus 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke studia@dudung.net
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|