Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
Jika jiwa terbebas dari dorongan duniawi dan berputus asa dari mahluk,maka ia akan membawa hasrat dan ketamakan kepada dorongan ukrawi,sehinga jiwa bersunguh- sunguh menaatinya,mengindari dunia,menentangg hawa nafsu dan setan,serta mengikuti ilmu.Ia menjadi mitra akal dan bersabar atas apa yang menunjuki kepada kebenaran sehingga ia selamat dan menyelamatkan (Anonymous)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
28 Agustus 2003 - 09:32
Yang Terlupakan...       
Edisi 159/Tahun ke-4 (25 Agustus 2003)
 

Yang terlupakan dari perhatian kita tentang Islam ternyata banyak banget euy. Energi kita lebih banyak digunakan untuk memperhatikan masalah lain, hingga akhirnya lupa ama Islam.

Kalo bicara keimanan, kita selalu mudah nyetel dengan daftar yang disusun dalam rukun iman yang enam itu. Mulut kita hapal banget menyebutkan susunan rukun iman, tanpa teks lagi. Sayangnya, kita seringkali merasa puas bahkan pede abis dan merasa udah jadi muslim beneran. Nggak salah-salah amat sih, cuma kita belum optimal aja belajar Islam dan terikat dengan ajarannya. Iya, pernah nggak kamu berpikir kalo kamu ngaku beriman, dan juga apal dengan daftar rukun iman itu, terus kamu ngelakuin perbuatan sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya? Soalnya, keimanan itu nggak cukup terucap di bibir, tapi kudu ada amalnya. Betul apa betul?

Nah, itu salah satu yang terlupakan dari kita semua tentang keimanan. Ngakunya beriman, tapi kelakuannya malah identik banget dengan pembangkangan. Ada seorang penyanyi dangdut yang saya lihat di acara infotainment di salah satu televisi swasta berkomentar tentang keimanan. Iya, dengan pede (atau emang nggak ngerti?) menyebutkan percaya banget dengan saudaranya, yang juga penyanyi dangdut dengan menyebutkan, “Saya yakin deh dengan kakak saya itu. Dia adalah tipe kakak yang penyayang, baik hati, dan saya akui deh keimanannya yang bagus itu.” Wacks?

Nggak salah? Tapi begitulah anggapan sebagian besar masyarakat kita. Kalo sholat udah getol dilakuin, kalo puasa Ramadhan nggak pernah absen, dan juga perbuatan lain yang bagus-bagus menurut ukurannya, lalu disebut udah beriman. Meski apa yang dilakukannya justru bertentangan dengan sifat orang yang beriman. Banyak maksiatnya!

Yang lebih lucu dan menggelikan ada juga. Salah satunya adegan dalam salah satu serial SICS (Sinema Indonesia Crime Story) yang ditayangkan Lativi. Kalo nggak salah tuh cerita judulnya “Pahitnya Jari Manis”. Waktu itu Iwan, yang diperankan Tengku Firmansyah yang terjerumus ke dunia hitam, ibunya sakit. Masuk RS dan hendak dioperasi karena gawatnya penyakit yang diderita ibunya itu. Tapi, doi nggak punya duit. Pas cerita ke bosnya, yang diperankan Andre Stinky, sang bos dunia hitam ini punya ide untuk melakukan perampokan. Hasilnya, bakalan dipake untuk membiayai operasi ibunya Iwan. Apalagi hal itu diamini sama Toni, teman satu gengnya. Akhirnya, mereka tega merampok bahkan membunuh orang lain, untuk menyelamatkan ibu dari temannya itu. Gubrak!

Kedengarannya memang ganjil banget, tapi begitulah kehidupan saat ini. Padahal dalam Islam, berbuat kebaikan tentu kudu dengan cara yang juga diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Boleh jadi sangat aneh bin ajaib kalo kita ikhlas mau nolong orang, tapi dengan cara yang sama sekali dilarang dalam ajaran Islam yang udah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari lainnya juga sering kita jumpai kok. Ada teman remaja yang kejeblos dengan pergaulan bebas, padahal doi ngakunya muslim. Sebagian yang lain asyik berteman dengan minuman keras dan narkoba, padahal nggak sedikit dari mereka berasal dari keluarga muslim yang baik-baik.

Sobat muda muslim, inilah akibat kita memahami Islam setengah-setengah. Kita lupa tentang bab keimanan yang semestinya menjadi bagian penting dalam hidup kita. Emang sih, kita juga nggak menafikan kalo sebagian dari kita menjadi muslim karena ortu dan kerabat kita juga muslim. Proses keimanan kita nyaris sebatas turunan aja. Jadinya nggak terlalu mantep. Padahal, kalo kita memahami Islam dan menjadi muslim melalui proses berpikir yang mendalam, insya Allah akan lebih kuat memegang ajaran Islam. Inilah salah satu yang terlupakan dari kita dalam memahami keimanan.

Oya, kamu tahu kan Salman al-Farisi, sahabat Rasul yang pernah terlunta-lunta untuk menemukan kebenaran yang hakiki dari apa yang ia imani? Sebelumnya, Salman adalah salah satu jamaah kaum penyembah api, yakni Majusi. Kemudian nggak puas, ia mencari agama lain. Masuk Nasrani. Tapi agama itu nggak bikin dia tentrem, bahkan semakin haus akan kebenaran. Singkat kata, ia menempuh perjalanan jauh dari Persia (sekarang Iran) menuju ke Madinah. Beruntung bertemu dengan Rasulullah saw. hingga akhirnya ia memeluk Islam, dan ia konsisten dalam berpegang teguh dengan ajarannya. Sahabat Rasul pencetus ide membuat parit dalam Perang Khandaq ini beriman dengan melalui proses berpikir yang mendalam, sekaligus memahami Islam secara lengkap, nggak setengah-setengah kayak kebanyakan kaum muslimin saat ini. Hasilnya? Ruaarrr biasa…!

Sebatas pengetahuan aja
Sobat muda muslim, yang terlupakan dari Islam lainnya adalah tentang syariat. Wah, kayaknya di bab ini banyak yang butek tuh. Jangankan remajanya, yang udah punya anak remaja aja kayaknya banyak yang nggak ngeh. Suer. Sebab, ngeliat dari gelagatnya dalam beriman dan berislam aja udah bisa menunjukkan kalo kenal Islam cuma sebatas pengetahuan aja. Nggak sampe paham.

Padahal Allah Swt. udah ngasih tahu kalo kita tuh wajib memahami Islam secara utuh, bukan setengah-setengah aja. Boleh dibilang, bukan sekadar sebagai pengetahuan, tapi kudu diamalkan dalam kehidupan. Firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Bener lho, sebab kalo kita memeluk Islam secara totalitas, maka nggak ada lagi yang cuma mempelajari Islam sebagai pengetahuan aja. Tapi bakal dipahami, lalu diamalkan. Yup, sebab “tahu” itu belum tentu “paham”. Kalo paham udah pasti tahu dong. Kayak kamu ngerjain soal kimia tentang reaksi redoks (reduksi oksidasi). Nah, kalo kamu paham tentang rule of the game hitung-hitungan pelajaran itu, dikasih modifikasi soal gimana pun insya Allah bisa jawab, termasuk kalo yang ngasih soal salah kamu bisa membenarkan. Beda banget dengan yang cuma tahu doang. Insya Allah nggak bakalan bisa ketika soalnya diutak-atik sedikit sama guru kita. Ujungnya, bingung aja yang menggunung. Waduh!

Ini juga berlaku dalam pengamalan ajaran agama. Bagi kaum muslimin yang udah paham dengan ajaran Islam, maka dia akan merasa tertantang untuk mengetahui segala macam yang berkaitan dengan ajaran agamanya. Udah gitu, dia pahami sebagai pandangan hidup. Kalo udah dipahami sebagai pandangan hidup (baca: ideologi), maka insya Allah dijamin oke banget deh. Sebab, kamu belajar ajaran Islam bukan sekadar untuk pengetahuan, tapi untuk diamalkan. Bahkan akhirnya berusaha untuk mendakwahkan ajaran Islam ini. Kalo udah berani mendakwahkan, berarti nggak ada alasan untuk nyantai dalam hidup ini, juga nggak ada ruang untuk coba-coba berbuat maksiat. Kenapa? karena takut dengan murka Allah.

Sedihnya, kaum muslimin sekarang justru menjadikan Islam sebatas pengetahuan, bahkan banyak di antaranya sebagai status aja. Banyak juga lho teman kita yang begitu. Setulus hati ia mengatakan kalo dirinya adalah muslim, tapi sepenuh hati pula ia lupakan sebagian besar kewajiban yang kudu dilakukannya sebagai seorang muslim.

Coba deh tengok kehidupan remaja sekarang. Aduh, sedih banget ngeliat teman remaja putri yang wara-wiri nggak pake jilbab. Boro-boro jilbab, kerudung aja nggak dipake. Sekalinya ada yang pake, eh, karena ikut tren doang. Banyak teman remaja yang mengejar terus tren kerudung gaul, diulik sampe akhirnya diterapkan dalam kehidupannya. Apalagi kalo itu dipake juga oleh para selebriti. Udah deh, pasti cepat nyebarnya. Tapi teman remaja putri melupakan aturan main dalam Islam soal busana muslimah.

Sobat muda muslim, terlalu banyak yang terlupakan dari ajaran Islam. Sebagian besar dari kita justru masih terjebak antara jahiliyah dan Islam. Ngeliat kehidupan kita saat ini, rasanya kok makin bebas banget ya? Apalagi kalo nonton tayangan televisi yang kian hari kian menunjukkan kedahsyatannya dalam merusak kepribadian Islam kita, para pemirsanya.

Lebih tragis lagi para pelakunya adalah mereka yang juga mengaku muslim. Sekadar menyebut contoh, tiga orang akhwat, eh, cewek yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut menamakan dirinya Bidadut, alias Bidadari Dangdut berusaha menggoyang pemirsa dalam acara Dag Dig Dut. Waduh, kalo ngeliat tayangan itu, udah nggak ada bedanya dengan pentas tarian striptease. Sori ya, soal detilnya saya nggak berani nyebut. Tapi yang pasti vulgar abis deh. Ckckckck…. apa mereka nggak merasa dieksploitasi ya? Mungkin nggak, karena mereka dapet duit dari aksinya. Aduh maaf aja ya, saya nggak tega sih kalo nyebutin mereka mirip pagelaran topeng monyet mah (lho, ini nyebut? Bukan, ini nulis kok hehehehe..)

Terlalu banyak bergaul dengan ideologi selain Islam (dalam hal ini kapitalisme), jelas akan melunturkan, bahkan memupus kepribadian Islam kita. Maklumlah, dengan ‘pengemban dakwah’ mereka yang lebih agresif dalam menyebarkan paham-paham kehidupan khas ideologi tersebut, kita keteteran. Bahkan banyak yang kemudian tergoda menjadi pengamalnya, bahkan pengembannya. Waduh! Padahal Allah Swt. udah mewanti-wanti dalam firman-Nya:  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 118).

Oya melupakan Islam sebagai ideologi juga bakalan bisa membuat kita nggak tahan goncangan euy. Sangat boleh jadi malah membuat kita keteteran dan kemudian dijajah. Malah sebagian dari kita nggak ngeh kalo udah dijajah. Ironi banget kan? Ibnu Khaldun mengatakan: “Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”

Sobat muda muslim, inilah akibat kita melupakan Islam sebagai ideologi. Terus terang aja, banyak di antara kaum muslimin yang nggak ngeh kalo Islam tuh ideologi. Kebanyakan saudara kita cuma mengenal Islam sebagai agama biasa yang subur dengan ibadah ritual belaka. Belum tahu dia... kalo Islam itu adalah sebuah pandangan hidup alias ideologi. Itu sebabnya, Islam sekarang identik dengan wirid melulu.

Akibatnya, kita nggak kenal ajaran Islam secara utuh. Udah gitu, yang diketahui dan dilakuin yang ‘kecil-kecilnya’ aja, sementara yang lebih wajib dilupakan. Nggak salah-salah amat sih di antara kita. Karena emang ini skenario global untuk menjauhkan Islam dari umatnya. Salahnya kita cuma satu, nggak mau belajar Islam secara utuh. Jadinya mudah diobok-obok. Tragis banget kan?

Iya, contoh paling heboh dan hangat adalah kasus terorisme. Ternyata, intelijen dalam negeri dan asing memanfaatkan kebodohan umat Islam. Beberapa orang Islam yang mudah diprovokasi, disuruh nyundut bom. Udah gitu, ditangkep deh. Akhirnya, Islam juga yang dicitrakan buruk. Gaswat!

Oke deh, mulai sekarang kita pahami Islam sebagai sebagai pandangan hidup. Terapkan sebagai ideologi negara di bawah naungan Daulah Islam. Karena selama ini, kita ternyata udah melupakannya. Bangkit euy! ?

 
 
(Dibaca: 8695 kali | Dikirim: 17 kali | Print: 301 kali | Nilai: 9.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha