| Yang terlupakan dari perhatian kita tentang Islam ternyata banyak banget euy.
Energi kita lebih banyak digunakan untuk memperhatikan masalah lain, hingga
akhirnya lupa ama Islam.
Kalo bicara keimanan, kita selalu mudah nyetel dengan daftar yang disusun dalam
rukun iman yang enam itu. Mulut kita hapal banget menyebutkan susunan rukun
iman, tanpa teks lagi. Sayangnya, kita seringkali merasa puas bahkan pede abis
dan merasa udah jadi muslim beneran. Nggak salah-salah amat sih, cuma kita belum
optimal aja belajar Islam dan terikat dengan ajarannya. Iya, pernah nggak kamu
berpikir kalo kamu ngaku beriman, dan juga apal dengan daftar rukun iman itu,
terus kamu ngelakuin perbuatan sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya? Soalnya,
keimanan itu nggak cukup terucap di bibir, tapi kudu ada amalnya. Betul apa
betul?
Nah, itu salah satu yang terlupakan dari kita semua tentang keimanan. Ngakunya
beriman, tapi kelakuannya malah identik banget dengan pembangkangan. Ada seorang
penyanyi dangdut yang saya lihat di acara infotainment di salah satu televisi
swasta berkomentar tentang keimanan. Iya, dengan pede (atau emang nggak ngerti?)
menyebutkan percaya banget dengan saudaranya, yang juga penyanyi dangdut dengan
menyebutkan, “Saya yakin deh dengan kakak saya itu. Dia adalah tipe kakak
yang penyayang, baik hati, dan saya akui deh keimanannya yang bagus itu.”
Wacks?
Nggak salah? Tapi begitulah anggapan sebagian besar masyarakat kita. Kalo sholat
udah getol dilakuin, kalo puasa Ramadhan nggak pernah absen, dan juga perbuatan
lain yang bagus-bagus menurut ukurannya, lalu disebut udah beriman. Meski apa
yang dilakukannya justru bertentangan dengan sifat orang yang beriman. Banyak
maksiatnya!
Yang lebih lucu dan menggelikan ada juga. Salah satunya adegan dalam salah
satu serial SICS (Sinema Indonesia Crime Story) yang ditayangkan Lativi.
Kalo nggak salah tuh cerita judulnya “Pahitnya Jari Manis”. Waktu
itu Iwan, yang diperankan Tengku Firmansyah yang terjerumus ke dunia hitam,
ibunya sakit. Masuk RS dan hendak dioperasi karena gawatnya penyakit yang diderita
ibunya itu. Tapi, doi nggak punya duit. Pas cerita ke bosnya, yang diperankan
Andre Stinky, sang bos dunia hitam ini punya ide untuk melakukan perampokan.
Hasilnya, bakalan dipake untuk membiayai operasi ibunya Iwan. Apalagi hal itu
diamini sama Toni, teman satu gengnya. Akhirnya, mereka tega merampok bahkan
membunuh orang lain, untuk menyelamatkan ibu dari temannya itu. Gubrak!
Kedengarannya memang ganjil banget, tapi begitulah kehidupan saat ini. Padahal
dalam Islam, berbuat kebaikan tentu kudu dengan cara yang juga diajarkan oleh
Allah dan Rasul-Nya. Boleh jadi sangat aneh bin ajaib kalo kita ikhlas mau nolong
orang, tapi dengan cara yang sama sekali dilarang dalam ajaran Islam yang udah
ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari lainnya juga sering kita jumpai kok. Ada teman
remaja yang kejeblos dengan pergaulan bebas, padahal doi ngakunya muslim. Sebagian
yang lain asyik berteman dengan minuman keras dan narkoba, padahal nggak sedikit
dari mereka berasal dari keluarga muslim yang baik-baik.
Sobat muda muslim, inilah akibat kita memahami Islam setengah-setengah. Kita
lupa tentang bab keimanan yang semestinya menjadi bagian penting dalam hidup
kita. Emang sih, kita juga nggak menafikan kalo sebagian dari kita menjadi muslim
karena ortu dan kerabat kita juga muslim. Proses keimanan kita nyaris sebatas
turunan aja. Jadinya nggak terlalu mantep. Padahal, kalo kita memahami Islam
dan menjadi muslim melalui proses berpikir yang mendalam, insya Allah akan lebih
kuat memegang ajaran Islam. Inilah salah satu yang terlupakan dari kita dalam
memahami keimanan.
Oya, kamu tahu kan Salman al-Farisi, sahabat Rasul yang pernah terlunta-lunta
untuk menemukan kebenaran yang hakiki dari apa yang ia imani? Sebelumnya, Salman
adalah salah satu jamaah kaum penyembah api, yakni Majusi. Kemudian nggak puas,
ia mencari agama lain. Masuk Nasrani. Tapi agama itu nggak bikin dia tentrem,
bahkan semakin haus akan kebenaran. Singkat kata, ia menempuh perjalanan jauh
dari Persia (sekarang Iran) menuju ke Madinah. Beruntung bertemu dengan Rasulullah
saw. hingga akhirnya ia memeluk Islam, dan ia konsisten dalam berpegang teguh
dengan ajarannya. Sahabat Rasul pencetus ide membuat parit dalam Perang Khandaq
ini beriman dengan melalui proses berpikir yang mendalam, sekaligus memahami
Islam secara lengkap, nggak setengah-setengah kayak kebanyakan kaum muslimin
saat ini. Hasilnya? Ruaarrr biasa…!
Sebatas pengetahuan aja Sobat muda
muslim, yang terlupakan dari Islam lainnya adalah tentang syariat. Wah, kayaknya
di bab ini banyak yang butek tuh. Jangankan remajanya, yang udah punya anak
remaja aja kayaknya banyak yang nggak ngeh. Suer. Sebab, ngeliat dari gelagatnya
dalam beriman dan berislam aja udah bisa menunjukkan kalo kenal Islam cuma
sebatas pengetahuan aja. Nggak sampe paham.
Padahal Allah Swt. udah ngasih tahu kalo kita tuh wajib memahami Islam secara
utuh, bukan setengah-setengah aja. Boleh dibilang, bukan sekadar sebagai
pengetahuan, tapi kudu diamalkan dalam kehidupan. Firman-Nya: “Hai orang-orang
yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah
kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)
Bener lho, sebab kalo kita memeluk Islam secara totalitas, maka nggak ada
lagi yang cuma mempelajari Islam sebagai pengetahuan aja. Tapi bakal dipahami,
lalu diamalkan. Yup, sebab “tahu” itu belum tentu “paham”. Kalo paham udah pasti
tahu dong. Kayak kamu ngerjain soal kimia tentang reaksi redoks (reduksi
oksidasi). Nah, kalo kamu paham tentang rule of the game hitung-hitungan
pelajaran itu, dikasih modifikasi soal gimana pun insya Allah bisa jawab,
termasuk kalo yang ngasih soal salah kamu bisa membenarkan. Beda banget dengan
yang cuma tahu doang. Insya Allah nggak bakalan bisa ketika soalnya diutak-atik
sedikit sama guru kita. Ujungnya, bingung aja yang menggunung. Waduh!
Ini juga berlaku dalam pengamalan ajaran agama. Bagi kaum muslimin yang udah
paham dengan ajaran Islam, maka dia akan merasa tertantang untuk mengetahui
segala macam yang berkaitan dengan ajaran agamanya. Udah gitu, dia pahami
sebagai pandangan hidup. Kalo udah dipahami sebagai pandangan hidup (baca:
ideologi), maka insya Allah dijamin oke banget deh. Sebab, kamu belajar ajaran
Islam bukan sekadar untuk pengetahuan, tapi untuk diamalkan. Bahkan akhirnya
berusaha untuk mendakwahkan ajaran Islam ini. Kalo udah berani mendakwahkan,
berarti nggak ada alasan untuk nyantai dalam hidup ini, juga nggak ada ruang
untuk coba-coba berbuat maksiat. Kenapa? karena takut dengan murka Allah.
Sedihnya, kaum muslimin sekarang justru menjadikan Islam sebatas pengetahuan,
bahkan banyak di antaranya sebagai status aja. Banyak juga lho teman kita yang
begitu. Setulus hati ia mengatakan kalo dirinya adalah muslim, tapi sepenuh hati
pula ia lupakan sebagian besar kewajiban yang kudu dilakukannya sebagai seorang
muslim.
Coba deh tengok kehidupan remaja sekarang. Aduh, sedih banget ngeliat teman
remaja putri yang wara-wiri nggak pake jilbab. Boro-boro jilbab, kerudung aja
nggak dipake. Sekalinya ada yang pake, eh, karena ikut tren doang. Banyak teman
remaja yang mengejar terus tren kerudung gaul, diulik sampe akhirnya diterapkan
dalam kehidupannya. Apalagi kalo itu dipake juga oleh para selebriti. Udah deh,
pasti cepat nyebarnya. Tapi teman remaja putri melupakan aturan main dalam Islam
soal busana muslimah.
Sobat muda muslim, terlalu banyak yang terlupakan dari ajaran Islam. Sebagian
besar dari kita justru masih terjebak antara jahiliyah dan Islam. Ngeliat
kehidupan kita saat ini, rasanya kok makin bebas banget ya? Apalagi kalo nonton
tayangan televisi yang kian hari kian menunjukkan kedahsyatannya dalam merusak
kepribadian Islam kita, para pemirsanya.
Lebih tragis lagi para pelakunya adalah mereka yang juga mengaku muslim.
Sekadar menyebut contoh, tiga orang akhwat, eh, cewek yang berprofesi sebagai
penyanyi dangdut menamakan dirinya Bidadut, alias Bidadari Dangdut berusaha
menggoyang pemirsa dalam acara Dag Dig Dut. Waduh, kalo ngeliat tayangan itu,
udah nggak ada bedanya dengan pentas tarian striptease. Sori ya, soal detilnya
saya nggak berani nyebut. Tapi yang pasti vulgar abis deh. Ckckckck…. apa mereka
nggak merasa dieksploitasi ya? Mungkin nggak, karena mereka dapet duit dari
aksinya. Aduh maaf aja ya, saya nggak tega sih kalo nyebutin mereka mirip
pagelaran topeng monyet mah (lho, ini nyebut? Bukan, ini nulis kok
hehehehe..)
Terlalu banyak bergaul dengan ideologi selain Islam (dalam hal ini
kapitalisme), jelas akan melunturkan, bahkan memupus kepribadian Islam kita.
Maklumlah, dengan ‘pengemban dakwah’ mereka yang lebih agresif dalam menyebarkan
paham-paham kehidupan khas ideologi tersebut, kita keteteran. Bahkan banyak yang
kemudian tergoda menjadi pengamalnya, bahkan pengembannya. Waduh! Padahal Allah
Swt. udah mewanti-wanti dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di
luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan
bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.
Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 118).
Oya melupakan Islam sebagai ideologi juga bakalan bisa membuat kita nggak
tahan goncangan euy. Sangat boleh jadi malah membuat kita keteteran dan kemudian
dijajah. Malah sebagian dari kita nggak ngeh kalo udah dijajah. Ironi banget
kan? Ibnu Khaldun mengatakan: “Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari
segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap
cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat
mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di
dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”
Sobat muda muslim, inilah akibat kita melupakan Islam sebagai ideologi. Terus
terang aja, banyak di antara kaum muslimin yang nggak ngeh kalo Islam tuh
ideologi. Kebanyakan saudara kita cuma mengenal Islam sebagai agama biasa yang
subur dengan ibadah ritual belaka. Belum tahu dia... kalo Islam itu adalah
sebuah pandangan hidup alias ideologi. Itu sebabnya, Islam sekarang identik
dengan wirid melulu.
Akibatnya, kita nggak kenal ajaran Islam secara utuh. Udah gitu, yang
diketahui dan dilakuin yang ‘kecil-kecilnya’ aja, sementara yang lebih wajib
dilupakan. Nggak salah-salah amat sih di antara kita. Karena emang ini skenario
global untuk menjauhkan Islam dari umatnya. Salahnya kita cuma satu, nggak mau
belajar Islam secara utuh. Jadinya mudah diobok-obok. Tragis banget kan?
Iya, contoh paling heboh dan hangat adalah kasus terorisme. Ternyata,
intelijen dalam negeri dan asing memanfaatkan kebodohan umat Islam. Beberapa
orang Islam yang mudah diprovokasi, disuruh nyundut bom. Udah gitu, ditangkep
deh. Akhirnya, Islam juga yang dicitrakan buruk. Gaswat!
Oke deh, mulai sekarang kita pahami Islam sebagai sebagai pandangan hidup. Terapkan
sebagai ideologi negara di bawah naungan Daulah Islam. Karena selama ini, kita
ternyata udah melupakannya. Bangkit euy! ?
|