Saya mencoba melalukan penterjemahan bebas dari artikel yang dibuat di http://www.builder.com/Business/Ecommerce20/
yang berisi sepuluh pertanyaan yang sering ditanyakan tentang e-commerce. Memang
tidak 100% persis saya terjemahkan karena dalam beberapa hal mungkin akan berbeda
kondisi yang ada di Indonesia dengan kondisi yang ada di Amerika Serikat.
Bisnis di Internet tampaknya akan / sedang booming, hampir semua orang tampaknya
sibuk membicarakan hal ini dan bersiap-siap untuk turut berkiprah dalam dunia
perdagangan millenium ini. Tentunya sebelum melakukan terjun bebas ke dunia
perdagangan elektronik ini ada baiknya kita mengetahui sedikit tentang teknologi
yang digunakan, berbagai standard, maupun nuasa regulasi yang ada dalam bisnis
online di Internet tersebut.
Mudah-mudahan terjemahan bebas yang saya berikan untuk 10 pertanyaan yang
sering ditanyakan dalam e-commerce ini dapat menguntungkan anda-anda yang ingin
melakukan e-dagang. Sehingga dapat menjadikan Website anda yang tadinya pasif
menjadi lebih aktif toko yang dapat menghasilkan pendapatan / uang bahkan menjadikan
tempat untuk memotong jalur distribusi.
Adapun ke-sepuluh (10) pertanyaan yang sering kali ditanyakan tentang e-commerce
adalah:
- Apakah e-commerce (e-dagang)? (what is e-commerce?)
- Apakah pemerintah akan me-regulasi e-commerce? (Is the government going
to regulate e-commerce?).
- Seberapa aman e-commerce? (Is e-commerce safe?)
- Bagaimana cara saya memulai berjualan secara online? (How do I start selling
online?)
- Adakah standar teknologi untuk e-commerce? (Are there any technology standards
for e-commerce?)
- Istilah apa saja yang perlu saya ketahui? (What buzzwords do I need to
know?)
- Bagaimana cara usaha kecil mengambil keuntungan dari e-commerce? (How can
small businesses take advantage of e-commerce?)
- Apa penghalang utama untuk melakukan e-commerce? (What are the biggest
barriers to e-commerce?)
- Siapa yang kalah jika pengusaha berpindah kepada bisnis online? (Who stands
to lose from businesses moving online?)
- Bagaimana masa depan e-commerce? (What is the future of e-commerce?)
Apakah e-commerce (e-dagang)? (what is e-commerce?)
Umumnya orang berfikir e-commerce adalah online shopping - belanja di, membeli
barang melalui Web.
Terus terang Web shopping / online shopping sebetulnya hanya sebagian kecil
sekali dari belantara e-commerce. Web shopping yang termasuk di dalamnya transaksi
online stok, men-download software langsung dari web sebetulnya menghubungkan
bisnis ke konsumen ini hanya sekitar 20% dari total e-commerce, sedang sebagian
besar sebetulnya lebih banyak berupa hubungan dagang bisnis ke bisnis yang memudahkan
proses pembelian antar perusahaan-perusahaan. Banyak orang berharap supaya dimungkinkan
terjadinya transaksi mikro yang memungkinkan orang membayar dalam bentuk recehan
-beberapa ribu / ratus rupiah - untuk mengakses content atau game di Internet.
Transaksi yang sangat hot di e-commerce untuk barang-barang dagangan di Internet
maupun melalui media elektronik lainnya, menurut Simba Information http://www.simbanet.com/
yang merupakan best seller adalah produk komputer, produk konsumer, buku dan
majalah, musik dan produk entertainment (audio, video, TV).
Dari berbagai statistik yang ada tampaknya e-commerce akan semakin marak,
terutama di amerika serikat tentunya. International Data Corporation http://www.idc.com/
memprojeksikan bahwa 46 juta orang amerika akan membeli melalui e-commerce berbagai
barang senilai US$ 16 juta di tahun 2001, dan US$54 juta di tahun 2002. Forrester
Research http://www.forrester.com/ memprediksikan sales e-commerce sekitar US$7
juta di tahun 2000. Untuk jangka panjang, Morgan Stanley Dean Witter http://www.deanwitter.com/
meng-estimasikan penjualan melalui e-commerce pada tahun 2005 antara US$21 juta
s/d US$115 juta.
Tentunya bagi Indonesia yang jumlah pengguna Internet-nya masih sedikit belum
sebanyak US, kecuali kalau WARNET-WARNET makin marak. Strategi e-commerce akan
menjadi lain - tampaknya yang menjadi hot sekarang ini justru situs-situs berita,
seperti kompas.com, detik.com. Sebuah permulaan yang baik untuk membangun community
- yang bukan mustahil berlanjut ke focus groups dan e-commerce bisnis ke bisnis.
Apakah pemerintah akan me-regulasi e-commerce? (Is the government going
to regulate e-commerce?)
President Clinton barangkali cukup nekad dengan mengajukan Internet Tax Freedom
Act http://www.house.gov/chriscox/nettax/frmain.htm yang ternyata sangat di
setujui oleh Senat Amerika Serikat, undang-undang ini melarang semua negara
bagian dan lokal di amerika untuk memajak informasi & perdagangan melalui Internet.
Artinya bangsa Amerika Serikat telah menset Internet sebagai Internet Trade
Free Zone, sebuah ide yang cukup gila barangkali - tapi akan sangat effektif
bagi para produsen barang / informasi karena usaha eksport yang mendatangkan
banyak devisa ke negara menjadi sangat baik sekali. Logikanya sederhana sekali
- orang akan berlomba-lomba untuk membeli barang ke negara lain yang harganya
lebih murah.
Bagaimana dengan Indonesia? tampaknya akan menjadi tantangan yang cukup serius
bagi orang-orang pajak di Indonesia karena transaksi-transaksi yang bersifat
intangible melalui Internet sangat sulit di deteksi, semakin hari semakin banyak
transaksi jenis ini terjadi di Internet. E-Commerce yang melibatkan pemindahan
barang cukup mudah di deteksi di pelabuhan atau bandar udara sehingga dapat
di deteksi oleh beacukai / custom, selain itu rasanya sulit.
Kalau saya boleh saran, alangkah cantiknya negara ini kalau sebagian besar
bangsanya bisa menjadi produsen di Internet dan melakukan transaksi dagang /
eksport ke Internet. Tampaknya banyak orang di Indonesia yang belum sadar bahwa
negara tempat kita berdiri sangat banyak menjanjikan hal-hal yang diminati oleh
bangsa lain, apakah itu kekayaan alam-nya, sosial, budaya dll. Contohnya - apakah
ada yang pernah berfikir bahwa harga kepompong kupu-kupu adalah US$7 / buah-nya?
Pak Anshori dari UNILA http://www.unila.ac.id ternyata sangat jeli melihat hal
ini. Masih banyak lagi hal-hal lain yang menarik yang hanya mungkin dilakukan
oleh orang Indonesia di Internet.
Seberapa aman e-commerce? (Is e-commerce safe?)
Di media massa cukup banyak berita tentang pembobolan sistem keamanan Internet,
akan tetapi umumnya vendor dan analis komputer berargumentasi bahwa transaksi
di Internet jauh lebih aman daripada di dunia biasa.
Sebenarnya sebagian besar dari pencurian kartu kredit terjadi di sebabkan
oleh pegawai sales yang menghandle nomor kartu kredit tersebut. Sistem e-commerce
sebetulnya menghilangkan keinginan mencuri tadi dengan cara meng-enkripsi nomor
kartu kredit tersebut di server perusahaan. Untuk merchants, e-commerce juga
merupakan cara yang aman untuk membuka toko karena meminimalkan kemungkinan
di jarah, di bakar atau kebanjiran. Hal yang paling berat adalah meyakinkan
para pembeli bahwa e-commerce adalah aman untuk mereka.
Umumnya pengguna kartu kredit tidak terlalu mempercayai-nya, tapi para pakar
e-commerce mengatakan bahwa transaksi e-commerce jauh lebih aman daripada pembelian
kartu kredit biasa. Setiap kali anda membayar menggunakan kartu kredit di toko,
di restauran, di glodok, di mangga dua atau melalui telepon 800 - setiap kali
anda membuang resi pembelian kartu kredit - anda sebetulnya telah membuka informasi
kartu kredit tersebut untuk dicuri.
Sejak versi 2.0 dari Netscape Navigator dan Microsoft Internet Explorer, transaksi
dapat di enkripsi menggunakan Secure Sockets Layer (SSL) http://www.builder.com/Business/Ecommerce20/ss05.html,
sebuah protokol yang akan mengamankan saluran komunikasi ke server, memproteksi
data pada saat dikirimkan melalui Internet. SSL menggunakan public key encryption,
salah satu metoda enkripsi yang cukup kuat saat ini. Untuk melihat apakah sebuah
Web site di amankan menggunakan SSL dapat dilihat pada awal URL digunakan https
bukan http.
Pembuat browser dan perusahaan kartu kredit saat ini mempromosikan sebuah
standar tambahan bagi keamanan di namakan Secure Electronic Transaction (SET)
http://www.builder.com/Business/Ecommerce20/ss05.html. SET akan mengenkode nomor
kartu kredit yang ada di server vendor di Internet - yang hanya dapat membaca
nomor kartu kredit tersebut hanya bank dan perusahaan kartu kredit - artinya
pegawai vendor / merchant tidak bisa membaca sama sekali sehingga kemungkinan
terjadi pencurian oleh vendor menjadi tidak mungkin.
Terus terangnya memang tidak ada sistem e-commerce yang bisa menggaransi proteksi
100% kepada kartu kredit anda, tapi kemungkinan untuk di copet dompet anda di
toko online akan jauh lebih rendah dibandingkan di tempat biasa.
Bagaimana cara saya memulai berjualan secara online? (How do I start selling
online?)
Saat ini banyak sekali produk-produk yang memungkinkan kita mensetup situs
e-commerce dan langsung berjualan dalam waktu beberapa hari / minggu, mulai
dari yang simple, murah hingga mahal dan kompleks.
Para pengusaha kecil mungkin harus melihat jauh diluar ISP-nya untuk melihat
solusi-solusi murah tadi. Contohnya, Forman interactive http://www.formaninteractive.com/
memberikan produk Internet creator seharga kurang dari US$150. Perangkat lunak
tersebut menggunakan beberapa wizard untuk menolong anda membuat halaman web
yang aman untuk menjual produk anda. Bahkan jika meletakan halaman web tersebut
di server Forman, mereka akan membantu menangani pembayaran melalui CheckFree
http://www.checkfree.com/.
Jika anda sudah siap untuk masuk ke bisnis ini, anda dapat juga menggunakan
yahoo store http://store.yahoo.com/ yang akan memungkinkan anda untuk membangun
situs web untuk bertransaksi melalui browser web di rumah anda. Yahoo akan berfungsi
sebagai host, biaya di sesuaikan dengan jumlah barang yang di jual - yaitu US$100
/ bulan untuk toko yang menjual 50 barang, US$300 / bulan untuk toko dengan
barang sampai dengan 1000 barang.
Solusi-solusi yang murah dan menarik ini juga tampaknya juga diberikan oleh
indosatcom sebuah anak perusahaan dari Indosat yang memfokuskan diri di e-commerce.
Salah satu produk indosatcom adalah EDIWeb menjadi menarik untuk para pengusaha
kecil yang hanya bermodal akses ke WARNET. Telkom juga meluncurkan plasa.com
belum terhitung inisiatif lain seperti Wasantara dll.
Tentunya untuk solusi-solusi komplex yang membutuhkan kemampuan integrasi
yang tinggi antara berbagai proses transaksi yang dilakukan ada banyak perangkat
lunak yang berharga cukup tinggi di antara US$5000 s/d US$100000 cukup untuk
membuat seorang pengusaha kecil jatuh bangkrut.
Tampaknya solusi paling menarik adalah jasa e-commerce hosting yang dijalankan
banyak perusahaan termasuk indosatcom, AT&T http://www.ipservices.att.com/wss/,
MCI http://www.wcom.net/commercehost/, dan GTE BBN Planet http://www.bbn.com/.
Karena resiko & biaya rendah untuk melakukan e-commerce demikian dikatakan oleh
Karl Lewis dari Proxicom http://www.proxicom.com/ yang merupakan perusahaan
konsultan web yang mensetup situs e-commerce Day-Timer http://www.daytimer.com/
dan extranet untuk Mobil Oil dan distributor-nya.
Adakah standar teknologi untuk e-commerce? (Are there any technology standards
for e-commerce?)
Di samping berbagai standar yang digunakan di Intenet, e-commerce juga menggunakan
standar yang digunakan sendiri, umumnya digunakan dalam transaksi bisnis-ke-bisnis.
Beberapa diantara yang sering digunakan adalah: Electronic Data Interchange
(EDI): dibuat oleh pemerintah di awal tahun 70-an dan saat ini digunakan oleh
lebih dari 1000 perusahaan Fortune di Amerika Serikat, EDI adalah sebuah standar
struktur dokumen yang dirancang untuk memungkinkan organisasi besar untuk mengirimkan
informasi melalui jaringan private. EDI saat ini juga digunakan dalam corporate
web site.
Open Buying on the Internet (OBI): adalah sebuah standar yang dibuat oleh
Internet Purchasing Roundtable yang akan menjamin bahwa berbagai sistem e-commerce
dapat berbicara satu dengan lainnya. OBI yang dikembangkan oleh konsorsium OBI
http://www.openbuy.org/ didukung oleh perusahaan-perusahaan yang memimpin di
bidang teknologi seperti Actra, InteliSys, Microsoft, Open Market, dan Oracle.
Open Trading Protocol (OTP): OTP dimaksudkan untuk menstandarisasi berbagai
aktifitas yang berkaitan dengan proses pembayaran, seperti perjanjian pembelian,
resi untuk pembelian, dan pembayaran. OTP sebetulnya merupakan standar kompetitor
OBI yang dibangun oleh beberapa perusahaan, seperti AT&T, CyberCash, Hitachi,
IBM, Oracle, Sun Microsystems, dan British Telecom.
Open Profiling Standard (OPS): sebuah standar yang di dukung oleh Microsoft
dan Firefly http://www.firefly.com/. OPS memungkinkan pengguna untuk membuat
sebuah profil pribadi dari kesukaan masing-masing pengguna yang dapat dia share
dengan merchant. Ide dibalik OPS adalah untuk menolong memproteksi privasi pengguna
tanpa menutup kemungkinan untuk transaksi informasi untuk proses marketing dsb.
Secure Socket Layer (SSL): Protokol ini di disain untuk membangun sebuah saluran
yang aman ke server. SSL menggunakan teknik enkripsi public key untuk memproteksi
data yang di kirimkan melalui Internet. SSL dibuat oleh Netscape tapi sekarang
telah di publikasikan di public domain.
Secure Electronic Transactions (SET): SET akan mengenkodekan nomor kartu kredit
yang di simpan di server merchant. Standar ini di buat oleh Visa dan MasterCard,
sehingga akan langsung di dukung oleh masyarakat perbankan. Ujicoba pertama
kali dari SET di e-commerce dilakukan di Asia.
Truste http://www.truste.org/ adalah sebuah partnership dari berbagai perusahaan
yang mencoba membangun kepercayaan public dalam e-commerce dengan cara memberikan
cap Good Housekeeping yang memberikan approve pada situs yang tidak melanggar
kerahasiaan konsumen.
Istilah apa saja yang perlu saya ketahui? (What buzzwords do I need to
know?)
E-commerce memang penuh dengan berbagai istilah, beberapa diantara-nya adalah:
Digital atau electronic cash: juga dikenal sebagai e-cash, istilah ini ditujukan
untuk beberapa pola / metoda yang memungkinkan seseorang untuk membeli barang
atau jasa dengan cara mengirimkan nomor dari satu komputer ke komputer yang
lain. Nomor tersebut, seperti yang terdapat di mata uang, di isukan oleh sebuah
bank dan merepresentasikan sejumlah uang betulan. Salah satu kelebihan yang
dibawa oleh digital cash adalah sifatnya yang anonymous dan dapat di pakai ulang,
seperti uang cash biasa. Hal ini merupakan perbedaan utama antara e-cash dengan
transaksi kartu kredit melalui Internet. Untuk informasi lebih lanjut dapat
dilihat di PC Webopaedia http://www.sandybay.com/pc-web/digital_cash.htm.
Digital money: adalah terminologi global untuk berbagai e-cash dan mekanisme
pembayaran elektronik di Internet. Yahoo http://www.yahoo.com/Business_and_Economy/
Companies/Financial_Services/Transaction_Clearing/Digital_Money/ mencatat paling
tidak ada 21 perusahaan yang memberikan jasa digital money di Internet.
Disintermediation: adalah proses untuk memotong jalur perantara. Kira-kira
pada saat perusahaan yang berbasiskan web membypass kanal retail tradisional
dan menjual secara langsung ke pelanggan / pembeli, maka perantara tradisional
- seperti toko dan jasa mail order - akan kehilangan pekerjaan.
Electronic checks: pada saat ini sedang di ujicoba oleh CyberCash http://www.cybercash.com/,
sistem check elektronik seperti PayNow akan mengambil uang dari account check
di bank pelanggan untuk membayar PAM atau telepon.
Electronic wallet: Pola pembayaran - seperti CyberCash Internet Wallet http://www.cybercash.com/,
akan menyimpan nomor kartu kredit anda di harddisk anda dalam bentuk terenkripsi
yang aman. Anda akan dapat melakukan pembelian-pembelian pada situs Web yang
mendukung electronic wallet tersebut. Jika anda ingin membeli sesuatu pada toko
yang mendukung electronic wallet, maka pada saat menekan tombol Pay maka proses
pembayaran melalui kartu kredit akan dilakukan transaksinya secara aman oleh
server perusahaan electronic wallet. Vendor browser pada saat ini telah berusaha
untuk melakukan negosiasi untuk memasukan teknologi e-wallet tadi ke produk
mereka.
Extranet: adalah sebuah kelanjutan dari intranet perusahaan yang mengkaitkan
jaringan internal satu perusahaan dengan jaringan internal supplier mereka maupun
pelanggan mereka. Dengan cara itu sangat mungkin untuk mengembangkan aplikasi
e-commerce yang memungkinkan menyambungkan semua aspek bisnis, dari proses pemesanan
hingga pembayaran.
Micropaymet: transaksi dalam jumlah kecil antara beberapa ratus rupiah hingga
puluhan ribu rupiah, misalnya untuk mengambil / mengakses grafik, game maupun
informasi. Pay-as-you-go micropayment seharusnya akan membuat revolusi di dunia
e-commerce. Contohnya ESPN SportsZone http://espn.sportszone.com/ menggunakan
CyberCoin untuk membayar US$1 untuk mengaskses situs mereka selama satu hari
- tanpa perlu membayar penuh langganan bulanan. Kenyataan di lapangan sebagian
besar pelanggan yang potensial tidak terlalu bersedia untuk bermain-main dengan
micropayment.
Bagaimana cara usaha kecil mengambil keuntungan dari e-commerce? (How can
small businesses take advantage of e-commerce?)
Ternyata bukan hanya perusahaan besar saja yang berkecimpung dalam e-commerce
tapi juga banyak pengusaha kecil yang berkiprah dengan Web sederhana, dan situs
kacangan.
Seringkali yang dibutuhkan untuk sukses hanya promosi sederhana agar terlihat
oleh para pelanggan. Berita mulut ke mulut, posting di newsgroup, dan mendaftarkan
diri di search engine cukup sudah untuk menarik pelanggan ke situs anda.
Sebuah contoh sederhana yang bisa ditampilkan adalah Kevin Donlin seorang
penulis dan Web developer yang membuat Guaranteed Resumes http://www.gresumes.com/
di Internet berawal dari tahun 1994. Saat ini dia memperoleh sekitar 100 pendatang
setiap hari dan memperoleh sebagian dari pemasukannya dari bisnis penulisan
resume.
Keberhasilan Donlin terletak pada keberhasilan dalam menekan serendah-rendahnya
biasa yang dibutuhkan. Server yang digunakan diletakan di ISP lokal, dan pelanggan
berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Transaksi kartu kredit dilakukan menggunakan
swipe terminal yang dia sewa seharga US$30 / bulan - tapi tidak perlu menggunakan
jasa pihak ketiga untuk mengambilkan dana dari kartu kredit.
Tentunya masih banyak sekali cerita-cerita menarik seperti yang dialami oleh
Kevin tersebut.
Apa penghalang utama untuk melakukan e-commerce? (What are the biggest
barriers to e-commerce?)
Menurut survey yang dilakukan oleh CommerceNet http://www.commerce.net/ para
pembeli / pembelanja belum menaruh kepercayaan kepada e-commerce, mereka tidak
dapat menemukan apa yang mereka cari di e-commerce, belum ada cara yang mudah
dan sederhana untuk membayar. Di samping itu, surfing di e-commerce belum lancar
betul.
Pelanggan e-commerce masih takut ada pencuri kartu kredit, rahasia informasi
personal mereka menjadi terbuka, dan kinerja jaringan yang kurang baik. Umumnya
pembeli masih belum yakin bahwa akan menguntungkan dengan menyambung ke Internet,
mencari situs shopping, menunggu download gambar, mencoba mengerti bagaimana
cara memesan sesuatu, dan kemudian harus takut apakah nomor kartu kredit mereka
di ambil oleh hacker.
Tampaknya untuk meyakinkan pelanggan ini, e-merchant harus melakukan banyak
proses pemandaian pelanggan. Walaupun demikian Gail Grant, kepala lembaga penelitian
di CommerceNet http://www.commerce.net/ meramalkan sebagian besar pembeli akan
berhasil mengatasi penghalang tersebut setelah beberapa tahun mendatang.
Grant mengatakan jika saja pada halaman Web dapat dibuat label yang memberikan
informasi tentang produk dan harganya, akan sangat memudahkan untuk search engine
menemukan sebuah produk secara online. Hal tersebut belum terjadi memang karena
sebagian besar merchant ingin agar orang menemukan hanya produk mereka tapi
bukan kompetitor-nya apalagi jika ternyata harga yang diberikan kompetitor lebih
murah.
Untuk sistem bisnis-ke-bisnis, isu yang ada memang tidak sepelik di atas,
akan tetapi tetap ada isu-isu serius. Seperti para pengusaha belum punya model
yang baik bagaimana cara mensetup situs e-commerce mereka, mereka mengalami
kesulitan untuk melakukan sharing antara informasi yang diperoleh online dengan
aplikasi bisnis lainnya. Masalah yang barangkali menjadi kendala utama adalah
ide untuk sharing informasi bisnis kepada pelanggan dan supplier - hal ini merupakan
strategi utama dalam sistem e-commerce bisnis ke bisnis.
Kunci utama untuk memecahkan masalah adalah merchant harus menghentikan pemikiran
bahwa dengan cara menopangkan diri pada Java applets maka semua masalah akan
solved, padahal kenyataannya adalah sebetulnya merchant harus me-restrukturisasi
operasi mereka untuk mengambil keuntungan maksimal dari e-commerce. Grant mengatakan,
"E-commerce is just like any automation - it amplifies problems with their operation
they already had."
Siapa yang kalah jika pengusaha berpindah kepada bisnis online? (Who stands
to lose from businesses moving online?)
Perusahaan yang akan secara langsung dirugikan oleh e-commerce adalah agen
perjalanan, tiket bioskop, katalog mail-order, dan toko retail - terutama toko
perangkat lunak. Mungkin kalau di Indonesia yang terasa hanya bagi agen perjalanan
& bisnis sekitar turis. E-commerce dengan nyata telah mempengaruhi teritori
bisnis tersebut. Menurut laporan Forrester Research http://www.forrester.com/
prediksi penjualan di sales & tiket perjalanan melalui Internet akan naik dari
US$475 juta di tahun 1997 ke US$10 milyar di tahun 2001. Angka tersebut merepresentasikan
8% dari semua penjualan tiket perjalanan di US.
Kalau Bill Gates mengatakan e-commerce akan menghilangkan perantara (middleman).
Kalau buzzword sekarang ini adalah disintermediation http://www.builder.com/Business/Ecommerce20/ss06.html,
cara mengatakan bahwa siapapun yang berada di antara pembeli dan penjual akan
memperoleh masalah besar. Akan tetapi jika kita melihat lebih lebih dalam lagi
akan terlihat bahwa sebenarnya e-commerce akan menciptakan pola perantara yang
baru.
Cerita sukses e-commerce, seperti amazon.com http://www.amazon.com/, sebetulnya
merupakan bentuk lain dari sebuah proses perantara. Amazon.com tidak menerbitkan
buku. Mereka semua umumnya hanyalah sebuah distributor online saja.
Tampaknya e-middleman harus mendemonstrasikan bahwa mereka menambahkan nilai
dalam proses pembelian, melalui marketing, customer service, juga metoda-metoda
lain. Kalau tidak maka pelanggan akan memutuskan modem-nya dan tidak akan menggunakan
jasa mereka lagi.
Bagaimana masa depan e-commerce? (What is the future of e-commerce?)
Tampaknya e-commerce mempunyai masa depan yang cerah. Jika berbagai detail
dari perdagangan online ini dapat di selesaikan maka bukan mustahil e-commerce
dan Internet akan mengubah struktur dunia usaha secara global.
Dengan perkembangan masyarakat virtual yang demikian besar - banyak orang
yang berpartisipasi dalam berbagai interest group online - memperlihatkan pergeseran
pardigma dari kekuatan ekonomi yang bertumpu pada pembuat / manufacturer ke
kekuatan pasar. Paling tidak demikian yang dilihat oleh John Hagel dan Arthur
Armstrong, sepasang analis dari McKinsey http://www.mckinsey.com/ sebuah perusahaan
konsultan manajemen internasional.
Masyarakat virtual telah memperlihatkan effek-nya. Situs investment seperti
Motley Fool http://www.fool.com/ memungkinkan anggota untuk bertukar pengalaman
tanpa melalui broker / perantara. ParentsPlace http://www.parentsplace.com/
merupakan tempat pertemuan para orang tua yang akhirnya memberikan kesempatan
pada vendor-vendor kecil untuk mencapai pelanggan potensial mereka untuk produk
yang sangat spesifik seperti makanan bayi dan shampo.
Masyarakat virtual akan menggoyang kehebatan divisi marketing dan penjualan
di perusahaan-perusahaan besar. Justru perusahaan-perusahaan kecil dengan produk
yang lebih baik dan customer service yang baik akan dapat menggunakan masyarakat
virtual ini untuk mengalahkan perusahaan besar - sesuatu yang cukup sulit dimengerti
di dunia nyata.
Dalam bukunya Net Gain: Expanding Markets Through Virtual Communities, yang
dipublikasikan oleh Harvard Business School Press, Hagel dan Armstrong berargumen
bahwa daripada melawan trend yang ada, perusahaan yang pandai akan membantu
terbentuknya virtual community ini dan menggunakannya untuk mencapai pelanggannya.