Aceh Membara!
Edisi 146/Tahun ke-4 (26 Mei 2003)
27 Mei 2003 - 15:51
 

Aceh kayaknya nggak pernah sepi dari konflik. Tanah Rencong ini benar-benar subur banget dengan pergolakan. Nggak percaya? Sejak kamu bisa melek, mungkin cerita yang disodorkan tentang Aceh adalah kekerasan. Sangat boleh jadi, kisah tentang kampung halamannya Tjut Nyak Dien ini adalah sebuah pergolakan, yang tentunya pula dibumbui dengan adegan berdarah-darah. Yup, Aceh memang bersimbah darah.

Sobat muda muslim, kita pengen ngajak kamu berpikir politis dalam kasus ini. Tapi bukan berarti kudu terjun ke dunia politik praktis ya? Kita sekadar ngajak kamu berpikir politis. Anak muda kudu hebat dong dalam masalah ini. Supaya nggak identik terus dengan urusan hura-hura dan miskin idealisme. Inilah saatnya membangun imej baru tentang kiprah remaja Islam euy! Remaja pun kudu ngeh politik. Oke?

Oke deh, sekadar tahu aja bahwa pergolakan Aceh belakangan ini, kian menjadi-jadi setelah GAM diproklamirkan pada 4 Desember 1976. Gerakan Aceh Merdeka ini getol banget merongrong kedaulatan NKRI. Sejak berdirinya sampe sekarang, telah bikin pusing pemerintah negeri ini. Kalo dulu GAM berniat ngomporin rakyat Aceh untuk hengkang dari Indonesia dan menerapkan aturan sendiri berdasarkan Islam, kini tujuan GAM yang paling kentara adalah memisahkan diri, tanpa embel-embel menerapkan syariat Islam. Emang sih, kudu diakui bahwa GAM udah terpecah ke dalam beberapa kelompok. Celakanya, GAM yang pro-Syariat Islam pimpinan Daud Beureueh sudah mati muda. Mereka kalah bersaing dengan GAM versi Hasan Tiro yang lebih primordialisme (baca: semangat kesukuan). Inilah yang sekarang memainkan peran besar di Aceh.

Untuk menumpas GAM, pemerintah orba yang dikomandani Pak Harto menyatakan Aceh sebagai DOM alias Daerah Operasi Militer. Karuan aja, ini ikut memperburuk situasi Aceh, khususnya rakyat Aceh yang mungkin masih kebingungan. Dalam situasi seperti itu, pihak ketiga (baca: pihak asing yang berlindung di balik berbagai LSM) gemar juga memancing di air keruh. Hasilnya, sentimen rakyat Aceh terbakar dan mereka juga ikut-ikutan ingin memerdekakan diri dari negeri ini. Gawat!

Nah, karena situasinya makin menjadi-jadi dengan beragamnya visi rakyat Aceh dalam memandang persoalan ini; ada yang masih pro-Syariat Islam, juga ada yang masih betah dengan semangat kesukuan, akhirnya diambil jalan tengah oleh pemerintah. Yup, didirikanlah NAD, Nangroe Aceh Darussalam pada tahun 2000. Tapi ini nggak memupus semangat GAM versi Hasan Tiro, yang secara politis bertujuan untuk melepaskan diri dari Indonesia. Buktinya, juru bicara GAM di luar negeri yang bermarkas di Swedia, Bachtiar Abdullah, menyatakan bahwa otonomi khusus hanyalah merupakan basis negosiasi, tetapi tidak mengikis harapan untuk merdeka (Media Indonesia, 23/8/2002) Nah lho, ternyata memang perjuangan GAM itu nggak identik lagi dengan semangat Islam.

Itu sebabnya, meski udah dikasih hak otonom, GAM tetap bikin masalah. Perundingan demi perundingan dengan pemerintah RI terus digelar. Tapi rupanya perundingan hanya mengulur waktu bagi GAM untuk menyiapkan amunisi baru. Pertempuran pun kerap terjadi. Emang sih, dalam kondisi seperti itu kita sulit menentukan siapa yang mulai; GAM atau justru TNI? Yang jelas, masa depan Aceh kian tak pasti.

Nah, rupanya pemerintah RI udah habis kesabarannya dalam perang dingin dengan GAM ini, maka digelarlah operasi militer di propinsi paling Barat negeri ini. Pada minggu malam 18 Mei lalu, Presiden mengeluarkan Keppres nomor 28 tahun 2003 yang menyatakan bahwa seluruh Propinsi Nangroe Aceh dalam keadaan bahaya dengan tingkatan darurat militer. Keppres tersebut berlaku efektif sejak pukul 00.00 WIB tanggal 19 Mei 2003; berlaku selama enam bulan dan dapat diperpanjang. Keppres tersebut menandai dimulainya operasi terpadu. ‘Terpaksa’ deh dikeluarkan menyusul gagalnya pertemuan antara Pemerintah dan GAM dengan mediator Henry Dunant Centre (HDC) dan negara-negara donor (AS, Uni Eropa, Jepang, dan Bank Dunia) di Tokyo, Jepang.

Sobat muda muslim, persoalan Aceh adalah persoalan kaum muslimin seluruh dunia. Ya, seperti halnya Palestina, Afghanistan, Irak, Kashmir, dan yang lainnya. Why? Karena tanah ini adalah bagian dari kawasan kaum muslimin yang tidak boleh jatuh sedikit pun ke dalam pelukan penjajah. Itu sebabnya, keterlibatan pihak asing dalam kasus ini harus dicegah.
Mengapa kudu dicegah? Sebab, intervensi asing berarti alarm tanda bahaya. Jangan kaget, sebab mereka emang doyan ngacak-ngacak keutuhan sebuah negara. Catet itu…

Sekilas sejarah Islam di Aceh
Sobat muda muslim, secara historis masuknya Islam ke Indonesia, khususnya via Aceh beragam banget versinya. But, ada pendapat yang tergolong 'radikal', menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Aceh sejak abad pertama hijriah, berarti telah ada sejak abad 7 atau 8 masehi. Bahkan dalam naskah tua berjudul Idharul Haq tulisan Ibnu Ishak al-Makarany, disebutkan Islam masuk ke Indonesia tahun 173 H.

Sebagi tambahan, kamu bisa cek dalam website resmi milik pemerintah daerah Aceh, www.bandaaceh.go.id, di situ dipaparkan sedikit tentang Aceh. Disebutkan bahwa, Islam masuk ke Indonesia pada akhir abad pertama hijriah dipantai-pantai Tanah Aceh sepanjang Selat Malaka yang dibawa oleh para pedagang Arab dan Persia dalam perjalanan niaga menuju ke Timur Jauh dan singgah di Tanah Aceh untuk berniaga serta memperbaiki kapal mereka.

Pada akhir abad kedua hijriah, barulah Islam secara terang-terangan di syiarkan oleh para pendakwah yang bertolak dari Teluk Persia menyinggahi Teluk Kambey (India sekarang) dan mendarat di Bandar Perlak tahun 173 hijriah. Tahun 225 H tepatnya pada hari Selasa tanggal 1 Muharram 225 H diproklamirkan Kerajaan Islam Perlak sebagai Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara dengan raja pertamanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.

Setelah Kerajaan Islam Peureulak, barulah berdiri Kerajaan Islam Samudera Pase, Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan-kerajaan Islam lainnya di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.

Dari penemuan batu-batu nisan di Kampung Pande salah satu dari batu nisan tersebut terdapat batu nisan Sultan Firman Syah cucu dari Sultan Johan Syah, maka terungkaplah keterangan bahwa Banda Aceh adalah ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada hari Jum'at, tanggal 1 Ramadhan 601 H ( 22 April 1205 M) yang dibangun oleh Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Hindu/Budha Indra Purba dengan ibukotanya Bandar Lamuri.

Yup, ekspansi besar-besaran yang dilakukan Khilafah Islamiyah ternyata mampu menembus kawasan paling barat negeri ini, sekarang bermana Aceh. Emang sih, dalam naskah-naskah kuno disebutkan kerajaan Aceh, padahal yang dimaksud adalah kesultanan. Bukan kerajaan. Beda lho. Maklum, pemahaman tentang pemerintahan saat itu di benak rakyat Indonesia adalah kerajaan. Karena sistem kerajaan udah ada sebelum Islam datang.

Pengaruh Islam yang begitu kuat telah membuat rakyat negeri ini mengenal konsep Islam politik. Ulama sekelas Ibnu Battuta pun pernah mengunjungi negeri yang dijuluki Serambi Mekah ini. Samudra Pasai dan Perlak menjadi bagian terpenting dalam penerapan syariat Islam di bumi Nusantara. Paling nggak ada bukti-bukti historis yang menunjukkan bahwa Islam mewarnai kehidupan masyarakat ketika Samudra Pasai dan Perlak berdiri.

Menurut Prof. Ali Hasymi dalam bukunya "Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia" (hlm. 149), menuliskan bahwa mata uang asli tertua di kepulauan Nusantara--digunakan Kerajaan Samudra Pasai—menggunakan logam emas, perak, dan timah. Satuan dirham digunakan untuk emas, kupang (perak), dan keuh (timah). Ini adalah bukti pengaruh Khilafah Islamiyah yang menjadikan emas dan perak sebagai alat tukar dalam jual-beli.

Sobat muda muslim, sejarah terus menggelinding. Perkembangan berikutnya, mulai abad ke-13, Islam atau paling nggak Kesultanan Islam Aceh mulai mengembangkan wilayah pemerintahan Islamnya ke daerah Aru, Bengkulu, Pariaman, Malaka, Johor, Kedah, Pahang dan Perak. Bahkan di bidang hukum pun telah terbukti Islam menjadi bagian yang mewarnai Kerajaan Melayu Malaka. Liaw Yok Fang, menuliskan dalam bukunya "Undang-undang Malaka", KITLV, Leiden 1976 bahwa ada hukum Qanun Malaka, di sini terbukti bahwa hukum-hukum Islam dipergunakan dalam Kerajaan Melayu Malaka. Di bidang politik, Ibnu Battuta mendapati bahwa Samudra Pasai sebagai kesultanan Islam pertama yang berdiri di dunia melayu, telah mempunyai hubungan luar negeri.

Hukum Islam, terbukti telah menjadi pilihan pemerintahan kerajaan-kerajaan Nusantara untuk diterapkan. Namun ketika era itu surut, maka lemahlah kekuatan kaum muslimin. Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya "Menemukan Sejarah", ketika kekuatan politik Islam di Indonesia runtuh, para Sultan dipaksa Belanda untuk melepas simbol kesultanannya sekaligus meninggalkan syariat Islam. Menyedihkan!

Selamatkan Aceh!
Sobat muda muslim, cara inilah yang kudu kita lakukan. Bukan apa-apa, Aceh adalah bagian dari tanah kaum muslimin. Sebab, gimana pun juga, Indonesia adalah negeri kaum muslimin. Dan satu pun wilayah negeri kaum muslimin di dunia ini tak boleh jatuh ke tangan kaum penjajah. Itu sebabnya, pemerintah wajib menumpas seluruh gerakan separatisme yang memang didanai besar oleh negeri-negeri Eropa dan juga Amerika. Dan itulah musuh Islam yang sesungguhnya. Cuma mereka berlindung di tubuh GAM, OPM (yang menuntut kemerdekaan bagi Papua), juga RMS yang memiliki link langsung ke negerinya Ruud van Nistelrooy terus merongrong kedaulatan negeri ini. Payahnya, pemerintah Indonesia lambat banget ngasih respon. Hasilnya, gerakan separatis itu keburu beranak-pinak dan kian menggelembungkan kekuatannya. Nah lho.

Jadi, jalan untuk menyelamatkan Aceh adalah menumpas seluruh gerakan yang menginginkan Aceh terpisah. Penjajah memang begitu. Hobinya bikin ulah. Catatan sejarah, negara-negara Barat, khususnya Inggris dan AS, sering berada di balik aksi separatisme. Ambil contoh, Amerikalah yang ada di balik munculnya separatis Kristen di Sudan; AS juga menyokong separatis Kurdi di Irak. Dalam kasus PRRI/Permesta, tertangkap salah satu pilot Amerika. Sejarah juga mencatat bahwa Inggrislah yang paling kenceng dalam mengacak-ngacak negeri-negeri Arab yang bergabung di bawah kesatuan Khilafah Utsmaniyah di Turki.

Itu sebabnya, untuk menyelamatkan Aceh pun jangan mengikutsertakan mereka. Bahaya! Allah Swt. berfirman: Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin. (QS an-Nisa’ [4]: 141)

Sobat muda muslim, Allah juga mengharamkan menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong kaum muslimin. Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian). (QS an-Nisa’ [4]: 144)

Oke deh, Aceh kini membara. Tapi, moga-moga saja menjadi bara yang terakhir. Setelah itu, nggak ada lagi pergolakan. Pengen aman lagi? Terapkan syariat Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Insya Allah kejayaan Islam akan kembali kita raih. Percayalah dan tetep semangat. Allahu Akbar! ?