Sobat muda muslim, ngomongin soal cinta, nuansanya bisa berwarna-warni. Apalagi
kalo yang ngomongin adalah anak sekolah seusia kamu. Dijamin obrolan seputar
cinta jadi acara yang spesial dan seru. Utamanya bagi kamu yang baru kenal makhluk
bernama cinta. Serasa menemukan dunia baru. Persis adik kita yang kesengsem
berat sama mainan barunya. Sampe tidur pun dibawa-bawa aja tuh mainan. Bahkan
boleh jadi kebawa juga dalam mimpinya. Sampe-sampe ortu kita suka geleng-geleng
kepala, saat adik kita ngigo soal mainan barunya. Maklum saja, baru merasakan
gimana senengnya suasana hati.
Kata Mbak Titik Puspa dalam sebuah lagunya, jatuh cinta itu katanya berjuta
rasanya. Bener nggak sih? Hanya mereka yang pernah merasakannya. Konon kabarnya,
emang begitu kok. Dari mulai asem, manis, asin, kecut, sampe pedes dan turunannya
yang berjumlah ribuan rasa. Wah, kayak lidah aja yang punya ribuan sensor syaraf
untuk mengidentifikasi rasa. Seru banget ya? Hmm…
Well, apalagi kalo yang jatuh cinta itu remaja yang masih pada sekolah. Bisa
tambah heboh sekaligus menggelikan. Lho, kok bisa? Maklum, biasanya teman remaja
suka malu-malu kucing. Sebab, bagi kamu yang jatuh cinta pertama kali adalah
pengalaman yang mendebarkan. Boleh dibilang bisa bakalan dicatat dalam lembaran
sejarah kehidupan kamu. Soalnya, emang seru sih. Tul nggak? Jadi deh, sesuatu
yang terindah dalam hidup kamu.
Sobat muda muslim, anak remaja mana sih yang awalnya nggak malu-malu kucing
kalo ketemu kecengannya? Kayaknya, hampir semua teman remaja begitu. Biasanya
anak SMP yang paling banyak, meski anak SMU juga nggak sedikit yang masih polos
tentang urusan cinta.
Bagi tipe kebanyakan dari kamu yang emang malu-malu kucing, biasanya cuma seneng
ngincer doang. Pas ketemu orangnya bisa salting banget. Kalo jauh dengan doi,
hati kita rindu. Eh, begitu doi dekat kita, malah dak-dik-duk, sebagian lagi
malah memasang tampang jual mahal. Pura-puranya sih, nggak suka. Padahal, justru
pengen disapa. Dasar!
Nah, rupanya di sinilah serunya urusan cinta anak sekolah. Selain karena masih
pemula dalam masalah cinta, juga karena persoalan kesiapan mental. Maklum saja,
baru lepas dari masa kanak-kanak beranjak dewasa. Itulah remaja. Pengennya nggak
disebut anak kecil lagi. Itu sebabnya, untuk bisa lepas dari predikat bocah
cilik, biasanya teman remaja suka melakukan banyak hal, termasuk dalam urusan
cinta, yang katanya salah satu ciri anak remaja. Tapi sayangnya, dari segi mental
masih belum mapan. Artinya kadang masih merasa sebagai anak kecil. Cirinya apa?
Biasanya teman remaja merasa jangan disalahkan bila berbuat sesuatu. Anggaplah
itu sebagai sebuah 'kesalahan' kecil yang wajar dilakukan. Walah?
Termasuk dalam urusan cinta ini. Nggak heran kalo ada anak puteri yang suka
ngumpet-ngumpet alias backstreet bareng gebetannya karena takut ketahuan sang
ortu. Satu sisi pengen disebut udah dewasa, dengan menjalin hubungan cinta dengan
sang kekasih, tapi di satu sisi lagi, doi nggak mau disalahkan juga. Itu sebabnya,
doi melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Takut direcokin sama ortunya. Berbahaya
memang!
Mewujudkan cinta
Hmm… ini yang paling greng dan favorit untuk dibicarakan. Bukan apa-apa,
rasanya cinta yang hadir dalam diri kita kagak bakalan seru kalo nggak berusaha
untuk diwujudkan. Artinya, kalo cinta cuma mampir di hati, bikin jantung berdetak
dua kali lebih kenceng, dada kita terasa bergolak oleh panasnya api cinta, itu
belum seberapa dahsyat. Kenapa? Sebab, bagi sebagai teman remaja, biar oke kudu
diwujudkan dalam bentuk aktivitas yang lebih kreatif. Yang paling mudah adalah
pacaran. Nah lho?
Betul, banyak teman kita yang menempuh jalur itu. Katanya sih, pacaran adalah
wujud dalam mengekspresikan cinta yang hadir dalam diri kita. Tanpa diwujudkan
dengan pacaran, cinta ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Begitulah komentar para
aktivis pacaran.
Sobat muda muslim, pacaran bukan barang aneh bagi anak jaman kiwari. Jaman
penulis kecil dulu, kira-kira ketika masih SD, sebetulnya rasa suka sama lawan
jenis sudah muncul. Naluriah kok. Tapi tentunya belum berani untuk maju sejauh
anak sekarang. Maklum saja, jaman dulu sarana komunikasi terbatas banget. Televisi
yang ada baru TVRI. Siarannya kebetulan masih lebih banyak pendidikannya. Jadi
nggak banyak contoh untuk berbuat lebih jauh dari itu, misalnya untuk melakukan
pdkt (baca: pendekatan) ke lawan jenis. Cukup ngincer di balik pohon kembang
di taman sekolah.
Nah, ketika jaman berubah. Teknologi informasi makin mudah diakses, maka dimulailah
babak baru perubahan gaya hidup masyarakat. Siaran radio masuk, televisi swasta
banyak didirikan. Koran, tabloid, dan majalah muncul dan dicetak ribuan eksemplar.
Semuanya berlomba menggaet iklan sebanyak mungkin. Maka jangan kaget kalo para
konglomerat media massa, khususnya televisi jor-joran bikin tayangan unggulan.
Tujuan mulianya, tentu saja untuk menggenjot pendapatan usahanya. Tapi celakanya,
mereka nggak peduli lagi apakah program acaranya bakalan merusak ataukah tidak
bagi pemirsanya.Prinsip kapitalisme mengajarkan: "Asal ada manfaat di sana
yang berupa materi, kejar!" Jadi, yang penting bisa mendatangkan rejeki
nomplok. Habis perkara.
Saat ini, jangankan anak SMP, anak SD aja udah banyak yang berani untuk ngedeketin
lawan jenis. Bahkan pake acara nge-date segala. Kok bisa? Siapa lagi teladannya
kalo bukan ngeliat dari tayangan di televisi. Atau baca di media cetak. Nggak
repot kan?
Jadi, keberanian anak sekolah dalam mewujudkan cintanya secara berlebihan ternyata
amat dipengaruhi juga oleh berkembangnya teknologi informasi. Komunikasi yang
berkembang dalam kehidupan masyarakat kita melaju dengan cepat dan adakalanya
mengalahkan norma-norma yang berlaku.
Sobat muda muslim, jadi jangan heran kalo pacaran dinobatkan sebagai cara untuk
mewujudkan cinta yang paling efektif. Bahkan boleh jadi pacaran diyakini betul
oleh sebagian besar remaja sebagai satu-satunya cara untuk mengekspresikan cintanya
kepada lawan jenis. Ah, masak iya sih?
Benar. Bagi sebagian teman kamu boleh jadi berpendapat begitu. Sebab, berdasarkan
bisik-bisik tetangga, pacaran itu bikin hidup lebih hidup. Nggak heran, banyak
teman remaja yang meyakini bahwa pacaran tempatnya untuk mendapat perhatian
dari lawan jenis. Lihat deh teman sekelas kamu yang kuat pacarannya, biasanya
selalu memperhatikan penampilan. Gengsi dong kalo penampilannya kumuh bin kucel,
sementara sang kekasih kayak guru yang kelewat telaten merhatiin kita. Tapi
berbeda dengan guru, kalo diperhatiin sama si doi mah bisa jadi bikin kaki kita
serasa nggak di tanah lagi, alias mengawang-awang. Suweneng buwanget.
Pokoknya OK's bang-get deh! :
Memang manusia itu seneng diperhatiin kok. Itu sebabnya, teman kamu yang lagi
getol pacaran, biasanya jadi rajin banget ke sekolah. Biar bisa merhatiin dan
diperhatiin sama lawan jenisnya. Lho, jadi bukan untuk nuntut ilmu? Ssssttt,
itu mah usahasampingan. Walah?
Bagi teman kamu yang lagi dilanda kasmaran, kadang cuma denger suaranya atawa
papasan di perpus aja suasana hatinya udah berbunga-bunga. Saking senangnya
tentu. Apalagi kalo kemudian doi ngajak jalan-jalan ke kantin or sekadar duduk-duduk
di taman sekolah. Ditanggung anti manyun deh. Dan biasanya langsung sregep menyambut
rayuan tersebut.
Sobat muda muslim, pacaran sebagai perwujudan dari rasa cinta sering dianggap
mendatangkan berkah. Berdasarkan desas-desus teman sekelas yang dulu pernah
aktif, pacaran juga sebagai ajang sharing, alias berbagi. Coba deh kamu lihat
teman kamu yang getol pacarannya, biasanya suka berbagi cerita, pengalaman,
masalah, termasuk mungkin berbagi utang (he…he…, kayaknya yang ini
mah jarang diungkap. Malu dong).
Yup, pacaran seringkali dianggap harus dijalani karena diyakini sebagai cara
ampuh untuk berbagi cerita di antara dua lawan jenis ini. Katanya sih, cita-cita
mulianya kepingin bisa menyelami siapa jati diri pasangannya. Itu sebabnya,
banyak teman remaja yang merasa wajib melakukan pacaran. Berbahaya!
Padahal, itu cuma alasan aja. Klise lagi. Biar disebut legal aja hubungan gelapnya
itu. Pacaran hubungan gelap? Betul, sebab itu udah termasuk gaul bebas. Hati-hati
lho!
Antara cinta dan cita-cita
Sebagian dari kamu boleh jadi protes karena nggak setuju dengan apa yang diungkap
di atas. Tapi ingat sobat, kita ngebahas dan menilai masalah ini bukan karena
benci sama kamu, bukan pula karena sinis. Nggak lah yauw. Justru kita ingin
supaya kamu juga lebih dewasa dan bijak menilai setiap perbuatan. Nggak cuma
ngikutin apa kata hawa nafsu kamu. Itu sih, bisa gaswat suraswat atuh! :
Sobat muda muslim, kalo kamu masih sekolah, pantasnya fokus mikirin pelajaran
dong, ketimbang mikirin pujaan hati kamu. Memang, rasa cinta bisa muncul di
mana saja, termasuk di sekolah. Tapi kan nggak mesti kudu diwujudkan dalam aktivitas
maksiat. Tul nggak?
Di sekolah boleh ada cinta, tapi jangan sampe membunuh cita-cita kamu. Cinta
itu anugerah kok, dan bahkan sangat boleh jadi membawa berkah kalo kita bisa
mengendalikannya. Tapi cinta bakalan membawa petaka, kalo kita nggak bisa mengendalikannya.
Kata pepatah, Omnia vincit Amor: et nos cedamus Amori. Dalam bahasa kita berarti,
Cinta menaklukan segalanya: dan kita takluk demi cinta.
Bahaya banget kankalo kita takluk oleh cinta, justru pada saat kita kudu meraih
cita-cita dalam belajar kita. Sayang dong, cita-cita ortu kita, cita-cita kita
untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya harus kandas gara-gara hadir juga cinta
dalam diri kita, dan menggerogoti niat kamu untuk meraih cita-cita. Artinya,
sekolah bagi kamu bukan ladang memuluskan cita-cita kamu, tapi malah jurang
untuk menghancurkan cita-cita dan mengejar cinta yang, barangkali, masih belum
pantas untuk kamu dapatkan. Maklum saja, cinta anak sekolah kan masih angin-anginan.
Tul nggak?
So, daripada kamu mengorbankan masa depanmu dengan mengejar cinta dan mewujudkannya
dalam pergaulan bebas, mending kamu konsentrasi mikiran pelajaran sebagai bagian
dari usaha kamu meraih cita-cita setinggi langit. Tapi sayangnya, nggak banyak
dari kita yang kemudian menyadari masalah ini. Akibatnya, meski masih sekolah,
banyak teman remaja yang getol menyalurkan syahwatnya via pergaulan bebas (baca:
pacaran), dengan atas nama cinta. Kalo udah kebablasan dalam bergaul, yang repot
bukan cuma guru, sekolah, dan ortu kamu, tapi kamu pun bisa ketiban getahnya.
Anggaplah misalnya bagi kamu yang puteri, ternyata hamil akibat hubungan intim
dengan pacar kamu. Sekolah udah pasti mengeluarkan kamu, guru kamu sewot, terlebih
ortu kamu merasa dikhianati sama kamu. Dan, kamu pun menanggung malu juga. Duh,
jangan sampe deh itu menimpa kamu.
Nah, sebagai bekal kamu dalam meniti cita-cita dengan tanpa terganggu oleh
cinta (palsu), kamu perlu tahu tips-tips berikut:
Pertama, jangan sekali-kali menganggap bahwa cinta kudu diwujudkan dengan
pacaran. Kedua, cinta bisa muncul di sekolah. Tapi kamu kudu tetap meraih
cita-cita. Caranya? Tunda dulu keinginan kamu untuk mikirin soal cinta dengan
banyak belajar dan aktivitas untuk meraih cita-cita. Ketiga, dekati teman-teman
yang emang nggak suka ngomongin soal pacaran. Keempat, menempa diri dengan
banyak mengkaji Islam. Jadi kamu jangan malas ikut pengajian. Kelima, sekuat
mungkin kendalikan nafsumu, misalnya dengan banyak olah raga dan puasa.
Yup, semoga ini bisa bikin kamu tentrem dan bisa untuk ngendaliin
diri kamu. Tapi tentunya, karena yang terjadi sekarang ini bersifat massal,
maka kita menyeru juga kepada bapak-bapak pejabat kita supaya jangan segan untuk
memberangus tayangan dan bacaan yang merusak kepribadian remaja. Khususnya yang
berkaitan dengan masalah pergaulan bebas.
___________________________________________
Edisi 109/Tahun ke-3 (5 Agustus 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com