Di tengah frustrasi banyak kalangan melihat upaya
Pemerintah yang tak kreatif dalam mengatasi krisis, dunia pertelevisian
Indonesia justru tumbuh meyakinkan. TV swasta baru bermunculan, dengan berbagai
program menarik dan inovatif. Salah satunya, Ar Rahman Channel, yang mulai 1
November 2001 akan menjamu pemirsanya dengan tayangan penuh nuansa Islam.
Ar Rahman, yang program-programnya disiarkan melalui satelit,
memang dicanangkan menjadi saluran TV pendidikan bernuansa Islam. Konsep seperti
ini belum pernah digarap pemain lain di Asia Selatan, cuma ada di Inggris, Arab
dan Amerika Serikat. TV telesterial atau TV kabel di Indonesia dan negara-negara
Asia lainnya selama ini hanya memiliki program keagamaan, tapi bukan merupakan
saluran khusus seperti Ar Rahman. ART, misalnya, bukan merupakan televisi
pendidikan Islam, melainkan TV hiburan biasa dari Arab dengan beberapa program
bernuansa Islam.
Ar Rahman didirikan oleh Budiman dan Ery Prabowo di bawah
bendera PT Ar Rahman Media. Keduanya memberikan kontribusi 50:50 dalam
kepemilikan. Budiman adalah sosok yang mulai dikenal Februari 2001, ketika
mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris melalui teleconference.
Sebelumnya, dia pernah bergabung dengan PT Astra International Tbk., PT Fajar
Mas Murni dan PT Kalimanis. Kini Budiman menjabat Presdir di PT Ar Rahman Media.
"Pemikiran awalnya memang sederhana. Kami ingin membangun satu usaha yang
menyentuh dunia-akhirat," jawab Budiman mantap ketika ditanyakan alasannya
mendirikan saluran TV keagamaan.
Sementara Ery, mitranya, memiliki bekal mantap di dunia
pertelevisian. Dialah konseptor I Music Channel yang banyak digandrungi pemirsa
TV di Indonesia. Dia juga advisor Quick Channel. Konon peranannya lumayan bagus
saat membangun SCTV.
Budiman menyadari pasar buat produk semacam itu memang sempit.
Namun di balik pasar yang sempit itu, katanya, terdapat populasi umat Islam yang
sangat besar. Apalagi bila diingat sentimen pasarnya, jelas saluran ini akan
mampu menarik banyak pemirsa TV. Ia yakin Ar Rahman pun akan mampu menarik minat
produsen berbagai produk konsumsi dan jasa untuk pasang iklan.
"Kalau bicara mengenai niche marketing, pasarnya memang
sempit. Jadi, harus ada yang spesial. Itulah yang kami jual," kata Budiman.
Untuk itu, Ar Rahman menghubungi TV kabel lain, yaitu MTA Inggris, Islamicity
USA yang memiliki subscriber hampir 2,5 juta, dan semua TV di Jazirah
Arab. "Televisi-televisi kabel tersebut memiliki produk-produk yang cukup
beragam dan menarik, makanya kami tidak khawatir kehabisan konten," ujarnya.
Sebagai contoh, ia menunjuk program Adam`s World yang menceritakan -- via
animasi boneka Adam -- bagaimana Adam belajar salat, belajar puasa, atau
menghormati sesama muslim. Untuk menghormati kaum perempuan, juga ada tayangan
Adam`s dan Annisa. Juga, ada cerita tentang Pangeran Salam seperti
kartun Aladine, tetapi lebih islami, misalnya Putri Jasmine memakai
jilbab.
Untuk tayangan program sandiwara, Ar Rahman lebih banyak
bekerjasama dengan stasiun TV lain seperti RCTI, SCTV, TPI atau Indosiar.
Artinya, kata Budiman, Ar Rahman akan membeli program dari TV telesterial yang
sudah ditayangkan dan terbilang sukses. "Kami tidak akan membuat program. Kami
akan membeli atau outsourcing," jelasnya. Dengan konsep seperti itu,
manajemen Ar Rahman, menurutnya, bisa dibuat ramping dan efisien. "Ar Rahman
paling hanya butuh SDM sekitar 20 orang," katanya bangga. "Meskipun demikian,
tidak berarti kami asal beli program dari orang lain. Sebagian besar konsep dan
konten program dari kami. Cuma pengerjaannya akan dilempar ke berbagai
production house," sambungnya. Cara ini selain memudahkan, menurut dia,
juga lebih efisien karena harga setiap program menjadi lebih fair dan
masuk akal. Di samping itu, Ar Rahman juga memasok konsep acara atau program
agama Islam ke berbagai TV telesterial, misalnya TransTV atau Lativi.
Pada tahun pertama nampaknya Ar Rahman ingin menjaring kalangan
pesantren dan penganut Islam konservatif di Tanah Air. Untuk itu, saluran ini
meluncurkan tayangan Cahaya Ilahi. Program ini berisi pembahasan suatu
tema berdasarkan Kitab Riadus Sholihin dari bab awal sampai akhir secara
berseri. Topik dan temanya diatur sedemikian rupa sehingga penonton bisa tahu
jadwal penayangan tema-tema tertentu. Pembahasan Kitab Kuning juga menjadi
andalan Ar Rahman setelah Cahaya Ilahi. Untuk mewujudkannya, Ar Rahman
mendekati Pondok Pesantren (Ponpes) Gontor, yang cukup berwibawa di kalangan
Ahlussunnah Wal Jamaah di Tanah Air. Gontor adalah ponpes pesantren modern yang
bisa secara terbuka mengkaji dan menerima sesuatu yang baru. Apalagi, dia
memiliki cabang atau afiliasi sebanyak 250 ponpes. "Ponpes merupakan target
pasar yang potensial," kata Budiman meyakinkan.
Itu sebabnya, segmen pasar yang dibidik untuk semester I adalah
40 ponpes terbesar di Indonesia. Kini Ar Rahman tengah melengkapi pembangunan 40
receiver di 40 ponpes tersebut. Para siswa ponpes akan mendapatkan
tayangan gratis. Secara teknis, kata Budiman, Ar Rahman Channel disiarkan,
didistribusikan dan dipancarkan melalui satelit. Penonton di seluruh Indonesia
dapat menyaksikan gratis dengan menggunakan antena parabola dan receiver.
Satelit ini disewa dari Cakrawarta sebagai sarana transmisi.
Menurut Ery, itu baru tahap pertama. Ar Rahman menargetkan pada
2003 bisa menggunakan lima satelit. Total harga sewa lima satelit sekitar Rp 300
juta/bulan. Ar Rahman akan mengembangkan situs web melalui video
streaming yang bisa mencakup seluruh
dunia. "Initial capital kami Rp
2 miliar. Diperkirakan bisa mencapai Rp 5 miliar sampai ke tahap penggunaan
website," tutur Ery. Pemasukan Ar Rahman bisa bersumber dari pelanggan,
pemasang iklan dan pemasang program atau blocking. "Setidaknya Rp 300
juta/bulan akan bisa dijala Ar Rahman pada tahun-tahun pertama," ujarnya. Itu
berarti, tambahnya, BEP diharap tercapai pada tahun kedua. Sementara tayangan
melalui cable operator, ditargetkan terlaksana pada 2002.
Meskipun Indonesia dengan 227 juta penduduk yang 90%-nya muslim
merupakan pasar potensial, Ar Rahman tampaknya tidak ingin membatasi siarannya
di Nusantara. Penduduk muslim dari negara-negara jiran juga dibidiknya. Untuk
itu, meskipun belum on air, Ar Rahman sudah mengadakan penjajakan ke
cable operator Malaysia, yaitu Astro. Ar Rahman berencana masuk di salah
satu saluran Astro selain HBO, Cinemax ataupun MTV. Dari situ, saluran ini
berharap bisa menjala 750 ribu pelanggan di Malaysia dan Brunei Darussalam.
Bentuk kerjasamanya, kata Ery, masih dinegosiasikan, terutama menyangkut berapa
dolar yang bisa diambil Ar Rahman. "Mungkin, US$ 5-10 sen/pelanggan,"
ujarnya.
---------------
sumber :
swanet.com