Pagi tadi saya kedatangan
pasien Mohammad Nasser, mengeluh sakit di bahu kirinya sejak 2 hari terakhir
karena 3 hari yang lalu dia, yang bekerja di Store, sempat memindahkan
batterey sebanyak 10 buah, masing-masing beratnya sekitar 20 kg. Jangankan
dia yang berperawakan kurus. Saya saja, yang 6 kg berat badan diatas dia
barangkali tidak sanggup melakukan hal serupa. Saat memasuki klinik,
kebetulan saya sedang membaca ayat suci Al Quran, sebuah kebiasaan yang saya
lakukan pada pagi hari ketika memulai pekerjaan di kantor. Hal itu saya
lakukan karena memang pada pagi-pagi sekali hanya satu-dua pasien yang
datang, sebagian waktu sesudah membikin journal pasien hari kemarin, saya
manfaatkan waktunya untuk membacanya. Alhamdulillah. Saya syukuri hal ini
karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, meski hanya 10
menit.
Ketika Nasser mengetahui apa yang saya lakukan, dia sepertinya
mau urungkan niatnya melangkahkan kakinya ke klinik. Saya bilang tidak
apa-apa, karena melayani pasien adalah kewajiban dan tanggungjawab saya,
bukan membaca Al Quran didalam dinas. Saya dibayar untuk melayani pasien,
bukan untuk membaca Kitab Suci tersebut. Untuk sementara saya tutup Kitab
Suci tersebut.
Saat saya tanya apakah dia sering membaca Al Quran, dia
jawab kadang- kadang. Istilah 'kadang-kadang' amat umum kita gunakan, sebagai
suatu jawaban yang 'defensif' guna menutupi kekurangan kita. Itu lebih baik
dari pada jawaban 'tidak pernah sama sekali' kan?
Membaca Al Quran
ibarat membangun sebuah rumah, bukanlah ada pada fondasi rumah, pula bukan
dinding, tiang rumah, bahkan atap rumah. Konstruksi dasar rumah jika
dikaitkan dengan agama adalah rukun Islam. Lima dasar tersebut, syahadah,
shalat, zakat, puasa dan haji, adalah pilar dalam pembangunan rumah. Islam
belum sempurna apabila kelima dasar tersebut tidak terpenuhi. Belum bisa
dikatakan kokoh apabila fondasi, dinding, atap, tiang-tiang, serta genting
tidak ada. Satu unsur aja diantara kelima elemen ini tidak terpenuhi, rumah
tidak bakal berdiri. Bayangkan jika rumah tanpa atap? Sama hanya rukun
iman tanpa zakat. Belum lengkap.
Membaca Al Quran adalah dalam upaya
memperindah bangunan rumah apabila sudah berdiri. Agar nampak indah,
bangunan rumah tersebut bisa saja dindingnya perlu dicat warna Krem.
Sejumlah perkakas rumah tangga, kulkas, mesin cuci, hiasan dinding, korden,
meja kursi, tempat tidur, bahkan menanam bunga di halaman perlu dipikirkan
agar rumah tersebut bukan hanya nyaman ditempati, namun indah
dipandang.
Tidak jarang si pemilik rumah sudah puas dengan
berdirinya rumah saja. Barangkali dia tidak perlu meja kursi meski yang
namanya tamu akan sering datang. Jika tamu datang, bukankah tuang rumah akan
kerepotan? Mereka tidak membutuhkan almari makan karena sekali masak
langsung dihabiskan. Jika saja ada sisa makanan akan disimpan
sembarangan tempat. Kalau kondisi didalam rumah tidak mendapatkan
perhatian yang cukup, apalagi keadaan halaman. Jangankan menanam bunga,
membersihkannya saja barangkali jarang dilakukan.
Demikian pula halnya
agama. Menjalankan kewajiban yang ada dalam rukun Islam saja belum cukup.
Kita diajak untuk membangun silaturahmi, menyebarkan salam, berbuat baik
pada tetangga dan sanak keluarga, berbelas kasih kepada anak yatim dan orang
miskin, membantu teman yang membutuhkan, menggali dan menularkan ilmu dan
ketrampilan yang kita punya, berdakwa, atau membaca Al Quran, hingga mencuci
pakaian dan membersihkan rumah.
Aspek-aspek diatas jika mendapatkan
cukup perhatian akan nampak keharmonian kehidupan muslim ditengah-tengah
masyarakat, sebagaimana indahnya rumah ditengah lingkungannya. Orang-orang
yang berlalu- lalang di sekitar rumah akan mengagumi keindahannya. Walupun
bukan kekaguman itu tujuan membangun rumah. Tujuan membangun Islam juga
bukan untuk dikagumi.
Kebanyakan diantara kita menganggap bahwa toh
kita sudah melaksanakan shalat, zakat, puasa, atau haji. Misalnya, shalat
berjamaahpun tidak mendapatkan tekanan yang cukup. Akibatnya, jika shalat
identik dengan tiang rumah, maka bangunan rumah tersebut rapuh. Bila ada 100
rumah dalam satu kampung, kenyataannya tidak ada satupun yang kokoh.
Sebaliknya rumah-rumah tersebut ternyata rawan keropos. Demikian halnya
dengan kondisi kita umat Islam saat ini, sudah kondisinya kurang solid,
ditambah lagi mudah dirongrong dari luar. Diperlukan integrasi yang
paripurna agar nampak bahwa pengikutnya menjadi suatu komunitas yang kokoh,
dalam arti tidak hanya menyangkut praktek ubudiah, namun juga amalia.
Membaca Al Quran saja, memang belum cukup. Sama halnya mengecat
sebuah rumah. Rumah tidak akan nampak cantik hanya karena warna catnya.
Islam belum akan nampak indah hanya karena umatnya membaca ayat-ayat suci Al
Quran. Islam lebih bersifat praktis. Apa yang diajarkan, wajib dipraktekan.
Akan terdapat ketimpangan jika di sekolah kita mendapatkan teori, namun
disaat kerja kita ternyata tidak pernah mepraktekan teori tersebut. Disaat
shalat kita membaca salam (usai membaca takhiyat akhir, ditutup dengan
'Assalamu'alaikum warahmatullah ', dua kali, sambil menoleh arah kanan
kemudian ke kiri). Ironisnya selesai shalat, kita tidak pernah tahu siapa
yang ada di samping kiri dan kanan kita. Apalagi yang namanya memberi
salam. Kita tidak pernah tahu siapa tetangga disebelah rumah kita,
apalagi yang namanya menawarkan bantuan. Meski shalat 5 waktu, puasa,
zakat, dan haji kita lakukan, ternyata kita juga membuang sampah
sembarangan. Jika kondisinya sudah demikian, itu berarti bahwa
kitalah yang 'menginjak-injak' ajaran praktis Islam.
Lantas kenapa
disaat orang lain pada berbondong-bondong menghina Islam, kita
kemudian bereaksi keras? Sementara kita dari dalam sudah melakukan
'penggerogotan' sejak awal?
Tahun 2002 ini, kita tidak tahu apakah Islam
akan memasuki babak baru yang lebih cerah atau tidak. Permasalahannya memang
sudah kronis. Dari dalam kita seharusnya melakukan pembenahan, menghiasi
rumah dengan segala perabotan yang perlu disiapkan, bukan hanya demi
kepentingan kita sendiri, tapi jaga-jaga andai saja ada tamu yang
menginap. Seandainya ada halaman, ada baiknya kita manfaatkan agar
lingkungan nampak hijau. Asal saja jangan berlebihan, melebihi anjuran
konstruksi bangunan itu sendiri. Lihat perabotan orang-orang Amerika Serikat
yang amat konsumtif! Barang-barang yang mestinya tidak perlu ditumpuk di
rumah. Kulkas saja misalnya, ditempeli banyak gambar-gambar hingga tidak
kelihatan 'bentuk' kulkas aslinya, bahkan catnya pun diganti. Dalam ajaran
Islam, itu berarti mengadakan hal- hal baru yang tidak diajarkan oleh Quran
dan Rasulullah Muhammad SAW. Bid'ah! 'Baiti, jannati', demikian Rasulullah
SAW menggambarkan kesempurnaan sebuah rumah keluarga.
Betapa indahnya kehidupan Islam ini
apabila kita isi dengan segala 'perabotan' yang diperlukan didalamnya. Kenyaman
ini tidak hanya akan dinikmati oleh umat Islam sendiri, akan tetapi juga
oleh orang-orang Yahudi, Budha, juga Nasrani, karena keindahan yang
dipancarkan bukan sebatas dalam masjid saja, namun juga keluar. The
universal and practical religion! Namun kapan impian ini
terwujud? Bilamana tidak ada kesadaran mempraktekan misi Islam dalam
kehidupan sehari-hari bukan tidak mungkin umat Islam akan tetap mengalami nasib
yang serupa dari tahun ke tahun, termasuk tahun 2002 ini. Menginjak-injak dari
dalam, dan mendapatkan cemoohan dari luar. Jika sudah demikian kondisi sebuah
rumah, jangankan mau beli, kontrakpun barangkali enggan.
Astaghfirullah hal adzim!