Bercermin dari Junior Master Chef
gaulislam edisi 210/tahun ke-5 (4 Dzulhijjah 1432 H/ 31 Oktober 2011)
04 November 2011 - 14:41
 

Apaan sih Junior Master Chef? Bisa jadi nggak banyak yang ngeh sama nama program talent show yang satu ini. Tapi, kalo kamu ingat dengan program Master Chef Indonesia, pastinya bisa mulai nebak-nebak Junior Master Chef (JMC) program yang serupa.

Yup! JMC adalah versi junior dari program televisi Master Chef, acara cooking game show yang memilih koki dengan keahlian memasak yang dinilai terhebat oleh para juri.

JMC yang saat ini on air di salah satu televisi swasta lokal adalah JMC Australia. Versi junior dari show ini membuka peluang bagi anak-anak usia 8-12 tahun sebagai kontestan. Anak-anak itu bersaing untuk menjadi koki cilik paling hebat di Australia.

Junior bervisi superior

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, kali pertama nonton JMC langsung membuat saya terkagum-kagum. Bukan semata-mata karena kelihaian mereka memasak, tapi yang lebih lagi adalah semangat mereka yang pantang padam menghadapi tiap tantangan yang juri berikan. Saya menyimpulkan bahwa semangat itu berasal dari visi mereka yang sangat jernih tentang “mau jadi apa” mereka di saat dewasa nanti. Jawaban mereka satu: mereka ingin menjadi koki yang bisa diandalkan untuk menghadirkan kreasi masakan yang istimewa.

Walhasil, di tiap episode anak-anak itu tampak sangat antusias, bergairah untuk menaklukkan tiap tantangan yang disodorkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Mereka berusaha memilih bahan-bahan masakan yang diperlukan, mengatur sebaik mungkin mana yang diolah lebih dulu mana yang belakangan, mana yang bisa diolah sambil menunggu olahan yang lain matang atau setengah matang. Mereka memotong, mem-blender, memanggang, menggoreng, merebus, mengukus. Mereka lakukan itu dengan sepenuh hati, dengan konsentrasi tingkat tinggi. Bukan hanya karena mengejar gelar sebagai Junior Master Chef, tapi karena mereka paham bahwa di dapur Master Chef itulah kesempatan emas bagi mereka untuk belajar dari para ahli dan mengaplikasikannya di depan sang ahli. Bisa jadi tidak ada lagi kesempatan berikutnya. Hasilnya, di tiap waktu penjurian tiba rata-rata hasil olahan mereka mendapat pujian dari para juri.

Junior oh junior

Menonton antusiasme para peserta JMC lalu kembali ke fakta saat ini membuat saya terpaksa harus membuka file-file hati yang bernama “duka”, “sedih”, “lara”, “marah”, dan “kecewa”. Gimana nggak? Mengindera antusiasme dan semangat membara para kontestan JMC versus fakta remaja kebanyakan, khususnya muslim, lebih khusus lagi yang ada di Indonesia memang bikin sedih banget.

Tawuran dan pacaran yang udah pada kebablasan jadi fenomena yang marak terjadi. Pornografi yang seremnya udah menjangkiti anak-anak di usia dini bikin tambah miris hati. Ada yang menjadi korban meninggal karena tawuran atau salah sasaran bukan hal yang aneh lagi. Pacaran jadi kegiatan wajib pun oleh mayoritas remaja itu diamini. Walaupun banyak fakta yang mengerikan terjadi akibat pacaran, itu nggak diambil pusing lagi.

Kebayang deh kalo generasi muda muslim jadi bagian generasi tawuran, pacaran, dan mania pornografi mau jadi gimana negeri ini. Ya…negeri yang semarak dengan aksi tawuran, adu otot jadi andalan. Negeri ini jadi negeri liar karena jadi tempat hidup, tumbuh, dan berkembangnya manusia liar. Kehancuran bukan hal yang mustahil jadi kenyataan.

Emang sih masih banyak para junior yang mau memfokuskan diri untuk benar-benar belajar. Bela-belain ikut bimbel dari sore sampai malam. Belum lagi ikut les-les lain sebagai tambahan.  Tapi, itu semua dilakukan demi mengejar nilai doang. Dapet nilai tinggi berharap dengan begitu bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan level kualitas nomor satu. Jenjang pendidikan berkualitas tinggi diharapkan bisa membawa mereka ke level pekerjaan yang tinggi juga. Level pekerjaan tinggi, gaji juga tinggi dong. Kemewahan hidup pun bisa dilakoni. Gitu sih harapannya.

Tapi, kalo junior yang tipe begini ditanya lebih detail lagi sebenarnya cita-cita mereka entar mau jadi apa, pastinya banyak yang nggak bisa kasih jawaban tegas en pasti. Rata-rata jawabannya global: “Pengen jadi orang sukses”. Sukses yang seperti apa dan gimana cara juga nggak clear. Jadi nggak heran usaha yang dilakoni nggak terarah dengan pas. Nyali yang sering ciut kalo datang sedikit tantangan jadi fenomena yang bertebaran. Gampang down, gampang ngambek kalo ketemu masalah jadi “penampakan” yang lazim.

Kalaupun ada yang menunjukkan daya juang yang berapi-api tetap nggak bersih dari efek samping. Efek sampingnya adalah junior-junior tipe study oriented gini jadi makhluk yang susah peduli sama kondisi sekitar. Boro-boro mau ikut mikir tentang nasib negeri dan bangsa ini, mau peduli sama lingkungan sekitarnya aja susah. Paling banter juga nunjukinnya dengan ucapan, “Saya ikut prihatin.”

Sobat gaulislam, tahu nggak kalo negeri kita ini lagi kena musibah kebanjiran? Bukan cuma kebanjiran air tapi lebih parah yaitu kebanjiran barang impor. Nggak cuma impor barang-barang fashion yang branded tapi juga sayuran bahkan sampai garam!

Sekjen Pedagang Pasar Tradisonal (PPT) Ngadiran mengatakan, banjir sayuran impor di pasar tradisional terjadi sejak 3 tahun lalu. Pedagang lebih senang menjual sayur impor karena harga yang murah sehingga untung besar ( detikNews, 18082011). Akibatnya, sayuran lokal kalah bersaing padahal kualitasnya juga nggak beda jauh. Miris. Karena Indonesia kan negeri agraris.

Ikan dan garam saat ini juga jadi komoditi yang diimpor! Masih menurut detikNews nih, jika pada tahun 2007, impor ikan hanya berkisar pada jumlah 145,2 ribu ton, di tahun 2010 sudah meningkat menjadi 318,8 ribu ton! Gimana dengan garam? Dalam setahun nilai impor garam Indonesia mencapai Rp 1 triliun! Ironis! Karena Indonesia kan negeri bahari.

Itu secuil fakta ganjil bin aneh yang sedang terjadi di negeri kita ini. Heh? Baru tahu kalau ada fakta separah itu? Nah, itu seharusnya udah jadi warning buat kamu semua untuk mau lebih menilai diri. Sudahkah kita peduli?

Remaja muslim sejati

Punya visi en cita-cita yang jelas bikin tahapan pencapaian target juga jadi jelas. Jalan mana yang mesti ditempuh jadi terang.  Belajar tentang apa, tanya ke siapa juga jadi jelas. So, wajar kalo mereka jadi yakin terhadap apa yang mereka idam-idamkan.

Beda banget sama kebanyakan remaja sekarang. Banyak fakta anomali yang berkeliaran di depan mata, didengar menembus gendang telinga, tetap aja merasa lebih nyaman jadi makhluk cuek. Padahal peduli terhadap permasalahan ummat itu bentuk kepedulian tertinggi, mulia. Bikin kita jadi manusia yang ingin selalu mengasah diri jadi orang cerdas untuk bisa mencerdaskan orang lain. Bikin kita jadi orang yang mau segera menyadari kesalahan lalu sadar dan menyadarkan orang lain untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Hebat kan?

Lalu bagaimana memulai menjadi remaja muslim sejati?

Pertama, bertakwa. Apa sih arti takwa itu? Rasulullah saw bersabda: “Seorang mukmin tidak akan mencapai derajat takwa hingga meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir terjerumus ke dalam hal-hal yang haram.” (HR. al Bukhari, at-Tirmidzi. Ibn Majah, al Hakim, dan al Baihaqi)

Kedua, cerdas. Remaja muslim yang berkualitas kudu punya ciri yang satu ini. Cerdas yang nggak cuma diukur dari nilai di rapor atau yang tercantum di hasil UAN. Tapi cerdas yang hakiki, yaitu cerdas dalam menghadapi permasalahan hidup, mampu memahami sebuah permasalahan dan memperoleh solusi jitu sebagai jalan keluar. Intinya sih remaja yang cerdas adalah sosok yang problem solver (penyelesai masalah) bukan yang trouble maker (pembuat masalah). Problem solver-nya juga nggak sembarang problem solver, tapi problem solver yang selalu menyandarkan solusinya kepada petunjuk hukum syara (Islam). Nah, kamu kira-kira saat ini di posisi yang mana? Lebih banyak berperan sebagai problem solver atau trouble maker.

Ketiga, peduli dan berani. Remaja muslim yang high quality kudu punya sikap peduli. Sikap peduli yang nggak melulu berhubungan dengan jumlah materi yang kita berikan, misalnya sumbangan, atau infak-sedekah, tapi juga bisa terpancar dari perhatian yang kita curahkan kala orang lain sedang membutuhkannya. Mau dengan ikhlas dan cara yang sesuai tuntunan Islam dalam memberikan saran dan nasihat kala orang lain tanpa sadar melangkah menuju dosa.

Keempat, mudah mengingat dosa untuk jadi pribadi yang lebih baik. Remaja yang berkualitas prima bukan berarti  malaikat yang tanpa dosa. Kekhilafan sebagai manusia biasa pastinya sangat berpeluang ada. Tapi yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya adalah seberapa mudah mereka ber-istighfar tiap sadar telah melakukan kesalahan dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Sehingga proses menjadi sosok yang lebih baik dan lebih baik lagi bisa berjalan sesuai yang diharapkan.

Itu beberapa ciri remaja muslim sejati. Di mana ya posisi kamu? Sudahkah semua ciri di atas ada di dirimu? Mudah-mudahan seperti itu. Kalaupun belum, bukan berarti nggak bisa mencapainya. Pasti bisa! Kamu, saya pasti bisa! Karena Alloh Maha Penyayang para hambaNya,  Alloh Swt. pasti selalu ada buat kita semua untuk menuntun kita menjadi sosok yang Dia pinta. Sosok muslim sejati. Sosok generasi terbaik, pembangkit peradaban terbaik. Peradaban Islam, peradaban satu-satunya yang cemerlang dan bisa memberikan pencerahan kepada seluruh umat manusia di dunia ini. Saatnya berubah untuk mengubah! Siap! Semangat! [Rumaisha Hawa]