Diary Hati...
23 Maret 2005 - 16:39
 
03 Februari 2003
Dear diary…


04 Februari 2003
Hari ini aku bahagiaaa baget, ry. Pagi-pagi sekali Dad ‘n Mom bangunin aku. Mereka mencium pipiku dan ngucapin happy b' day. Tapi setelah itu aku langsung disuruh bangun buat shalat shubuh. Yee, kirain mau kasih hadiah. Tunggu dulu. Pas sarapan, Mom kasih kado berpita merah jambu. Katanya dari Dad ‘n Mom. Langsung dech aku buka. Kamu tahu isinya apa? Jilbab, lagi? Ya, ini adalah jilbab kelima yang dihadiahkan oleh Dad ‘n Mom sejak ultahku yang ke dua belas. Dan seperti biasa ada secarik kertas bertuliskan ‘SEMOGA TETAP ISTIQOMAH'. Hm… Dad ‘n Mom ini, kayaknya gak percaya dech kalau aku sudah bisa beristiqomah berjilbab semenjak masuk SMP dulu. Oh iya hampir lupa, bang Aldi kasih aku sebuah novel dan tiga buah buku kumpulan cerpen remaja islami. Wah senangnya. Nggak biasanya lho abangku yang satu ini ngasih aku hadiah buku banyak begini. I love you all.

Di sekolah aku habis-habisan dikerjain temen-temen sekelas. Mulai dari dicuekin sejak jam pelajaran pertama sampai pulang sekolah, pas mau pulang dibanjur air beraneka rupa, dilemparin telor, ditaburin tepung terigu. Pokoknya jail abis. Tapi aku seneng mereka ingat hari ulang tahunku. Thanks dude.

06 Februari 2003
Dear diary…
Aku bosan dengan novel dan kumpulan cerpen yang sering dihadiakan bang Aldi. Isinya monoton. Tema-tema yang diangkat pasti tidak jauh dari tokoh utamanya yang anak Rohis, cewek-cewek, eh akhwat yang mencoba istiqomah berbusana muslimah, kesedihan sang tokoh utama karena orang tuanya meninggal dan dia terpaksa menjadi gelandangan atau gembel, orang-orang yang segera insyaf dari dosa dan maksiat yang dilakukannya setelah mendengar adzan atau orang mengaji, dan masih banyak lagi tema-tema membosankan lainnya.

Mengapa yach para pengarang novel dan cerpen itu selalu menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang yang tampan atau cantik, pintar di sekolah, aktiv di organisasi – utamanya Rohis –, jago basket atau karate, gape ngomong English and so on and so on. Sungguh, they are too good to be true. Atau aku aja yang ngiri kali yach? He he he ….

08 Februari 2003
Dear diary…
Aku sayang Dad ‘n Mom, namun kadang-kadang aku nggak suka sama sikap mereka yang sok tahu. Gimana nggak sebel coba. Tadi pagi pas sarapan aku minta ijin buat datang ke pestanya Sherly, teman sekelasku. Kakaknya – Dani – baru menyelesaikan studinya di Aussie, jadi Sherly and Dani kompakan mengadakan syukuran yang nanti diadakan bertepatan dengan hari Valentine. Biar seru katanya.

Kamu tahu reaksi mereka, Ry? Aku diberondong banyak banget pertanyaan. Mulai dari Pestanya siang atau malem? Yang dateng siapa aja? Acaranya ngapain aja? Pulangnya jam berapa? Entar dateng dan pulang sama siapa? dan banyak lagi. Kenapa sich mereka kok heboh banget, apalagi Bang Aldi. Abangku yang satu ini kayaknya nggak suka dech ngeliat adiknya ini seneng dikit ajah.

Mati-matian aku meyakinkan mereka. Aku bilang pestanya jam delapan malem, yach paling-paling sempe jam sebelasan gitu. Emang agak malem sich. Khan biasanya aku harus sudah ada di rumah paling malem jam sembilanan gitu, kasian yach. Aku bilangin juga bahwa aku nggak dateng sendirian kok nantinya. Ada si Erin, Wiwi, Evelyn, Siska dan Doni, pacarnya Siska yang nanti jadi sopir dan siap antar jemput. Mengenai acaranya, ya apalagi? Namanya juga pesta syukuran. Pasti ada acara makan-makan, ngumpul-ngumpul bareng temen-temennya Sherly dan kakanya, ngobrol banyak hal. Itu ajah kok.

Kata Mom gimana besok dech dan itu sudah cukup membuat kesan bahwa aku tidak akan diizinkan.

12 Februari 2003
Dear diary…
Kadang-kadang kepikiran lho buat sesekali ngelanggar apa yang dilarang Dad ‘n Mom. Kayak apa yach rasanya?

Bukankah selama ini aku sebagai seorang anak tergolong penurut. Aku nggak pernah bertingkah yang macem-macem, sebagai seorang perempaun aku turuti perintah Mom untuk menutup aurat sejak masuk SMP, nilai rapotku tidak terlalu jelek, walaupun belum dapat dikatakan memuaskan. Tapi aku selalu berusaha lho untuk memenuhi semua kriteria anak baik di mata Dad ‘n Mom.

13 Februari 2003
Jadi rencananya gini ry…
Besok siang – mungkin sampai sore, I hope so – ada rapat untuk acara pelantikan anak-anak PMR yang baru (gini gini aku memiliki jiwa sosial yang tinggi lho). Terus aku bilangin aja ke Mom minta izin pulang agak terlambat, mungkin agak malem. Baju buat ke pesta akan aku bawa pas paginya. Berat dikit nggak pa pa, yang penting Mom nggak curiga. Nah, pas sorenya Siska and the gang suruh jemput aku disekolah. Dengan begitu aku bisa bolos rapat, bilang aja ada keperluan mendadak.

Gimana? Rencanaku oke khan.

14 Februari 2003 ultahnya Sherly
Dear diary…
This is the day. Waktu berangkat tadi pagi, aku ngelihat sorot mata Mom mencurigai sesuatu. Aduh aku jadi gemeteran waktu itu. Tapi bukan Adella namanya kalau enggak bisa merayu Mom sedemikian rupa. Namun bagaimanapun juga, sorot mata Mom menyiratkan sesuatu. Apa yach?

Siang sampe sorenya aku rapat PMR. Sebenarnya aku nggak konsen, tapi mau gimana lagi. Namanya juga demi memenuhi undangan teman.

And then, let the party started. Tepat jam enam sore Siska and the gang datang. Langsung aku cabut dari rapat setelah sebelumnya ganti kostum (cie…) di ruang OSIS. Kulihat Siska, Erin, Wiwi dan Evelyn nampak cantik dengan pakaian yang serba pink, seperti juga jilbab dan pakaian yang aku kenakan. Emang malam ini khan dress coat-nya serba pink, namanya juga hari valentine.

Tiba di rumah Sherly yang berada di kawasan elit kota ini, kami langsung masuk. Sherly menyambut kami di ruang tengah. Ia memperkenalkan Dani kepada kami. Lucu juga… Aku, Erin, Wiwi, dan Evelyn sepakat. Setelah itu kami dipersilahkan menuju ruangan pesta akan berlangsung.

Tempat pesta itu terletak di pinggir kolam, di sayap kanan rumah mewah itu. Tempat itu sudah disulap sedemikian rupa sehingga atmosfir valentinenya begitu terasa. Balon-balon berbentuk hati, pita-pita yang dibentangkan dari sudut ke sudut, serta lampu-lampu hias semuanya berwarna pink. Di salah satu sudut – food court – tertata rapih aneka hidangan yang mengundang selera sementara di sudut lainnya ada sebuah panggung kecil yang menjadi sentra acara. Dentuman house music membuat suasana pesta kian meriah. Undangan yang datang sudah cukup banyak. Kebanyakan teman-teman Dani sewaktu SMU dulu, sesisanya adalah teman-teman Sherly yang sudah kukenal. Kami pun asyik ngobrol ke sana ke mari sebelum acara dimulai. Dalam keramaian itu aku merasa ada sepasang mata yang sejak aku datang tadi selalu memperhatikan aku. Aku mencari-cari kesekeliling. Ah, nggak ada yang…. Tunggu dulu, kayaknya Dani ngeliatin aku terus dech. Gimana nggak diperhatiin coba, aku khan eye catching banget. Aku satu-satunya gadis berjilbab di pesta itu, atau… Ah aku aja yang kege-eran kali yach.

Aku menikmati acara demi acara dalam pesta itu, sampai akhirnya acara blind date itu membuat perasaanku tak menentu. Saat itu semua undangan dipasang-pasangkan dan mereka di beri waktu satu jam untuk saling mengenal untuk selanjutnya tiap-tiap pasangan akan disuruh tampil keatas panggung menyatakan perasaan mereka. Waktu itu entah disengaja atau tidak aku berpasangan dengan Dani. Semula aku tidak memiliki perasaan curiga apa pun juga walaupun aku tahu tujuan acara ini agar tiap undangan yang jomblo bisa mendapatkan pasangan. Aku tahu reputasi Dani sebagai play boy dari Sherly. Malam ini Dani tidak bertingkah macam-macam, kok. Kami hanya ngobrol tentang pengalaman dia di Aussie. Aku merasa cukup aman dengan pakaianku sehingga cowok play boy macam Dani nggak akan berani macam-macam. Namun dugaanku salah. Di sela-sela obrolan kami saring aku dapati mata Dani liar memperhatikan sekujur tubuhku. Dari ujung jilbab sampai ujung kaos kaki yang aku kenakan. Dari bau nafasnya aku tahu jenis minuman apa yang berada di gelas yang ia pegang, walaupun ia tidak – atau mungkin belum – nampak mabuk. Dan satu hal yang membuat keputusanku bulat adalah saat ia berusaha memegang tanganku, bahkan akan merangkulku.

STOP. Dengan tergesa dan tanpa permisi aku berlari pulang. Meninggalkan beberapa pasang mata yang menatapku heran, meninggalkan Dani dengan kegagalannya menyentuhku, meninggalkan hingar bingar pesta yang kian menggila, serta meninggalkan kebodohanku datang ke pesta semacam itu. Aku biarkan air mataku menganak sungai. Aku menyesal dan merasa berdosa telah melakukan ini semua.

Sampai di rumah sudah pukul sepuluh lebih dua belas menit. Kulihat Mom menungguku di teras. Aku langsung menghambur ke pelukan Mom dan menangis sejadi-jadinya. Tidak ada kata yang terucap. Mom membimbingku ke kamar dan menyuruhku istirahat.

15 Februari 2003
Diary….
Aku malu sekali atas kejadian kemarin. Ketika sarapan, kulihat Dad, Mom dan bang Aldi saling diam. Aku sudah siap apabila nanti aku akan disidang habis-habisan. Aku harus mempertanggungjawabkan kesalahanku. Namun tidak ada yang berkomentar. Semua orang asik dengan sarapannya masing-masing. Kuberanikan diri berkata Adella minta maaf atas kejadian semalem. Semua saling pandang. Dad angkat bicara. Katanya Semoga kamu dapat mengambil pelajaran atas kekhilafan kemarin. Oh Dad, kenapa Daddy tidak marah atau menghakimi aku? Mom? Mom menarik nafas sebelum berkata Sekarang kamu tahu khan alasan kami melarangmu? Ya, lebih dari mengerti, Mom. Bang Aldi diam saja.

Satu hal lagi Mom, tantang rapat itu Adella tidak bohong. Mama hanya tersenyum dan berkata Tentu saja sayang, Mom tidak pernah mengajarkan anak Mom berbohong khan? Terima kasih Mom atas kepercayaannya. Aku janji tidak akan mengkhianatimu lagi, Mom.

17 Februari 2003
Dear Diary…
Tiga hari setelah kejadian di pesta itu Sherly minta maaf. Aku bilang itu bukan kesalahannya. Tapi tetap saja dia merasa berdosa karena telah mengundang aku. Sudahlah kita lupakan saja kejadian 14 Februari yang kelabu itu.

20 Februari 2003
Diary…
Hari ini Evelyn curhat. Katanya, semua cowok itu brengsek. Evelyn ingat kejadian di pesta Sherly. Ketika ia melihat aku lari keluar dari pesta itu, ia sedang bersama sorang laki-laki yang baru ia kenal malam itu. Laki-laki itu berkata Wah Dani lagi apes hari ini. Nggak biasanya ada cewek yang nolak dia. Baru pemanasan ajah udah lari. Gimana kalau… Evelyn tidak harus melanjutkan kisahnya, aku sudah tahu apa yang direncanakan Dani dan teman-temannya dalam pesta itu. Syukurlah keputusanku meninggalkan pesta itu menyadarkan Evelyn, Wiwi, Erin serta teman-teman sekelasku – terutama yang wanita – untuk menyadari ada apa di balik pesta itu sekaligus menggagalkan rencana Dani cs.

Aku tidak habis pikir, seorang wanita berjilbab saja masih menjadi sasaran mata jalang laki-laki yang haus syahwat, apalagi mereka yang pada saat pesta itu menggunakan pakaian serba terbuka.

24 Februari 2003
Dear diary…
Hari ini aku pinjam majalah remaja edisi Valentine yang di beli Wiwi kemarin. Tentu saja isinya semua tentang Valentine. Dari acara valentine yang paling romantis, pernak-pernik valentine, pakaian yang asik buat nge-date di malam valentine, serta rencana artis-artis – baik lokal maupun internasional – dalam merayakan valentine. Kayaknya semua itu nggak cocok dech sama aku. Terlalu menyeramkan dan membuat bulu kudukku berdiri, apalagi bila ingat kejadian di pestanya Sherly itu. Hi…..

28 Februari 2003
Diary…
Malam ini hujan turun cukup deras memberikan sensasi kesejukan di hati ini. Hilang sudah kekeringan yang selama beberapa bulan terakhir mencengeram bumi. Entahlah, aku ingin agar bulan Februari ini segera berakhir agar dapat kugoreskan lembar kisah baru di lembaranmu ini. Biarlah semua kenangan buruk di bulan yang mereka sebut ‘Bulan Cinta' larut bersama tetes-tetes airu hujan yang terserap bumi.

Have a nice sleep, Adella. Semoga mimpi indah.


Bandung, 13 Agustus 2003
Teruntuk rekan-rekan jilbaber yang senantiasa istiqomah
[sly@percikan-iman.com]