Ada tulisan menarik di Harian Suara Pembaruan. Disebutkan dengan panjang lebar
bahwa arus deras komunikasi massa yang menghujani Indonesia, ternyata nggak
hanya memunculkan fenomena baru dalam kebudayaan negeri ini, atau sekadar perubahan
ekonomi politik, tapi juga menandai kelahiran sebuah generasi baru, yang bisa
dikatakan tercerabut dari masa lalu.
Dimulai sejak Oil Boom pada dekade 70-an, kemajuan sosial ekonomi memang
mendatangi negeri ini, ditambah masuknya kebudayaan pop yang notabene didominasi
kebudayaan Barat. Kebudayaan pop (pop culture) ditandai dengan industrialisasi
barang-barang budaya seperti makanan, pakaian dan kesenian, tapi lebih dari
itu, kebudayaan jenis ini membawa masyarakat pada fenomena McWorld.
McWorld adalah sebuah dunia yang dicirikan dengan globalisme, informasi,
hiburan, dan komersialisme. Maka, McWorld ditandai oleh tiga buah ikon
penting; MTV, Macintosh, dan McDonald,. Sebuah paradigma berpikir global
McWorld akhirnya membawa manusia Indonesia pada sebuah fenomena global,
internasionalisasi budaya dan konsumerisme.
Peranan media komunikasi sangat besar karena lewat media inilah gelombang komunikasi
dan kapitalisme mutakhir sampai ke Indonesia. Budaya pop adalah budaya yang
dibentuk oleh media. Sebagai saluran komunikasi, media sangat berperan efektif
sebagai pembentuk semangat konsumerisme masyarakat sekaligus alat dari produsen
untuk memanipulasi kesadaran konsumen, sehingga membeli komoditas yang sebenarnya
tidak terlalu dibutuhkan. Maka, Mc World pun dibentuk oleh kedua fenomena
di atas; perluasan media lewat teknologi informasi, dan kapitalisme mutakhir.
Sebuah McWorld adalah sebuah dunia tanpa batas, nasionalisme, agama,
dan etnisitas atau kebudayaan. Semua itu lebur dalam sebuah interaksi universal
antarbudaya. Globalisasi informasi dan budaya ini, menandai kemunculan postmodernisme
alias pemberontakan terhadap modernitas yang mengharuskan keseragaman
dalam pola pikir dua rasionalisasi yang berlebihan. Gaungnya bergema hingga
saat ini dari munculnya Flower Generation di Amerika yang memulai Woodstock
pertama pada tahun 1969, yang memprotes Perang Vietnam dan perlombaan senjata
nuklir, hingga demonstrasi mahasiswa Indonesia pada tahun 1998 dan Woodstock
1999 yang berakhir dengan kekerasan.
Generasi yang lahir pada dekade 70-an dan 80-an yang saat ini menjadi remaja,
pemuda, siswa sekolah menengah, dan mahasiswa hidup dalam era McWorld.
Mereka hidup dalam hujan deras kebudayaan pop, terutama yang hidup di kota-kota
besar. Generasi itu hidup dalam multikulturalisme dan pluralisme nilai. Gaya
hidup mereka adalah gaya hidup global, hingga kerap kali kehilangan identitas
ketika harus merumuskan ke-Indonesia-an. Mereka dibesarkan dalam tingkat kemapanan
yang cukup tinggi dan akses yang begitu luas terhadap berbagai bidang. (www.surapembaruan.com,
5 April 2000)
Melahirkan budaya pop
Ngomong-ngomong soal semen, eh, soal budaya pop, saya kepikiran sama kamu-kamu,
para remaja. Kenapa? Karena remajalah yang paling rentan termakan isu instant
culture, yang juga biasa disebut budaya pop. Do you know budaya
pop? Betul. Kamu pinter banget deh. Yup, budaya pop adalah budaya yang ringan,
menyenangkan, trendi, dan cepat berganti. Nah, teman remaja paling doyan kalo
udah njiplak gaya hidup hasil imbas budaya pop. Pokoke, cepet banget nyetelnya
euy! Itu sebabnya, kita jadi kepikiran terus sama kamu-kamu. Khawatir kalo kamu
terjerumus main ikut-ikutan aja tanpa memandang halal dan haram dalam berbuat.
Kritikus Lorraine Gamman dan Margaret Marshment, keduanya penyunting buku "The
Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture (1998)", bersepakat
bahwa budaya populer adalah sebuah medan pergulatan ketika mengemukakan bahwa
tidaklah cukup bagi kita untuk semata-mata menilai budaya populer sebagai alat
kapitalisme dan patriarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak
orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugatnya
ideologi dominan. Walah, moga kamu nggak error untuk memahami maksud kritikus
ini. ?
Celakanya, dalam pertarungan tersebut, siapa pun bisa terlibat dalam lingkarannya.
Termasuk tentunya remaja. Perang ideologi nggak bisa dihindarkan lagi sobat,
alias kudu pasti terjadi benturan. Lucunya, acapkali kita, kalangan remaja,
udah merasa down duluan dari pada harus bertarung melawan budaya tersebut. Hmm..
ini untuk tidak mengatakan kalo remaja biasanya pura-pura tidak tahu apa-apa,
dan lebih memilih ‘terbawa’ arus budaya yang lebih kuat. Parahnya
lagi, seperti diakui banyak pengamat, bahwa budaya populer yang sekarang lagi
ngetren bergerak amat cepat. Saking cepatnya, sampe tanpa sadar kita dipaksa
patuh dengan logic of capital, logika proses produksi, yakni hal-hal yang dangkal
dan cepat ditangkap yang cepat laku. Inilah yang sering dijuluki sebagai instans
culture.
Kamu bisa lihat gimana sregepnya teman-teman remaja saat gandrung dengan tren
yang muncul saat ini. Cepet banget nyetelnya. Udah nggak pernah pake kalkulasi
untung-rugi lagi. Apalagi mikir halal-haram, kayaknya blas deh. Pokoknya, kalo
itu dianggap baru dan trendi, hajar aja. Nyang penting dapat label anak gaul.
Habis perkara. Astaghfirullah…
Sobat muda muslim, nggak selamanya yang baru dan trendi itu baik lho buat kamu.
Kalo soal ilmu pengetahuan dan teknologi, boleh aja kamu ikutan nyetel. Itu
sebabnya, kamu jangan kuper-kuper amat dalam masalah ini. Tapi sayangnya, teman-teman
remaja lebih mudah nyetel kalo urusannya dalam gaya hidup. Soalnya, memang mudah
ditiru sih.
David Beckham, suaminya Victoria Adams, cepat jadi idola. Model rambutnya dicontek
abis. Pas doi kepalanya plontos, banyak para akhwat, eh, cewek langsung teriak
histeris. Begitu ganti model lagi, cepet-cepet pengagumnya meniru total beliau.
Aduh, jadi sesembahan deh. Ckckckck…
Genderang perang budaya udah ditabuh saudara-saudara. Ini globalisasi Bung!
Semua wajib seragam. Di Amrik heboh Harry Potter, Spiderman, The Lord of The
Ring, X-Men United, Matrix Reloaded, sampe Hulk, di sini juga 'wajib' ikutan
heboh. Nggak seru dan afdhol kalo cuma diem. Semua serentak ngobrolin hiburan
kelas dunia ini. Begitu pun ketika rumah-rumah mode Eropa memamerkan busana
oke karya perancang dunia, di sini seperti tersihir; ikutan heboh pake. Sama
halnya ketika George W Bush gembar-gembor mengumumkan “Perang Melawan
Terorisme”, seluruh negara (termasuk di sini) ikutan heboh ngomongin terorisme
(meski banyak juga yang nggak paham). Hasilnya? Ditangkepi deh seluruh kelompok
Islam yang udah kadung dituduh jaringan teroris, atau paling nggak dimata-matai
atas perintah Amrik. Lihat aja Komnas HAM, getol nyerang pemerintah Indonesia
soal kasus Aceh, eh, begitu banyak ulama yang ditangkepi, Komnas HAM menunjukkan
sikap sejatinya, mengelurkan jurus ATM alias Aksi Tutup Mulut kalo
kasusnya berkaitan dengan Islam. Dasar!
Emang sih, nggak seluruhnya globalisasi itu salah. Nggak semuanya dampak globalisasi
bikin kita gerah. Ada kok yang baiknya. Contoh: perkembangan teknologi informasi
dan sejenisnya. Namun, teknologi memang ibarat pisau bermata dua; bisa baik,
bisa juga buruk. Tapi anehnya, mengapa yang buruk van jelek yang cepet menular
dan kadernya beranak pinak? Jawabannya sama: ringan dan trendi. Wasyah! Itu
pula yang bikin kita ketar-ketir ngeliat tingkah polah remaja sekarang. Bener.
Tetap waspada!
Perkembangan ini kan bisa baik tapi sekaligus bisa jahat. Maka sikap bijaksana
itu wajib kita miliki. Supaya nggak keburu nafsu menghukumi yang halal menjadi
haram—atau sebaliknya. Apalagi kalo sampai terjebak menjadi pengikut budaya
global yang nggak bener. Itu sebabnya, kita harus bertanggung jawab. Yang benar
kita ambil, dan yang salah kita buang. Inilah tantangannya bagi kita. Tentu,
tantangan yang harus dihadapi dengan bijaksana dan butuh penyelesaian jitu.
Iya nggak?
Dan, kayaknya sekarang kita kudu lebih cerdas lagi dalam menyikapinya. Bukan
apa-apa, ekspansi bukan global ini makin berbahaya karena ditunjang dengan teknologi
canggih. Jaringan internet misalnya, sudah merupakan kebutuhan tersendiri. Bukan
fasilitas mewah lagi. Berarti setiap orang hampir bisa dipastikan mampu mengakses
dengan mudah. Wah, padahal nggak semua informasi yang ditampilkan jaringan ini
mendidik. Jadi, jaringan maya ini ternyata perlu diperhitungkan juga. Why? Ya,
itu tadi, karena di jaringan ini akses informasi nyaris tanpa batas dan sulit
dibendung.
Nggak ada jalan lain kecuali waspada memang. Waspada dalam pengertian tidak
mudah tergoda dengan budaya baru yang bukan berasal dari Islam. Kamu harus pilih-pilih
dulu. Jangan langsung caplok aja. Pokoknya pandai memilih dan memilah. Dan perlu
dingat, patokan yang kamu pakai untuk menilai budaya tersebut adalah ajaran
Islam. Kalo menurut Islam haram, maka kamu jangan maksa mengambil atau melakukan
sesuatu itu.
Dan sebaliknya bila menurut Islam itu boleh atau halal, kamu nggak dilarang
untuk mengambil atau mengamalkannya. Well, jadi kamu dituntut untuk bisa bertanggung
jawab. Dan itu cuma bisa dilakukan bila kamu udah paham tentang Islam. Maka,
kalo belum paham soal Islam, jangan nekat melabrak. Harus tahu diri, berati
kamu kudu belajar dulu tentang ajaran dan nilai-nilai Islam. Tapi memang harus
diakui juga sih, penjagaan diri itu nggak cukup. Harus didukung oleh pengawasan
masyarakat dan kekuasaan sebuah negara. Tujuannya? Supaya lebih joss! Lebih
kuat dan oke!
Selain kita kudu waspada, kita juga nggak boleh menjadikan musuh-musuh Islam
sebagai teladan atau teman kita. Apalagi kalo kita mau aja ngikutin gaya hidup
mereka. Hati-hati, jangan sampai deh! Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang
di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan
bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.
Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 118).
Waduh, ngeri juga kan? Makanya nggak usahlah kamu bergaya hidup seperti kaum
lain. Jangan sampai pengaruh jelek globalisasi menjadikan kamu lepas dari Islam.
Karena ketika kamu terpengaruh dan kemudian ikut bergaya hidup seperti musuh-musuh
Islam itu, berarti kamu telah menjadi pengikutnya (baca: temannya). Ih, syerem
banget!
Makanya kamu nggak boleh latah ikut-ikutan budaya yang bukan berasal dari Islam.
Nggak bener dan memang nggak baik. Bahkan kewajiban kamu adalah mengamalkan
(ajaran) Islam, bukan ajaran kaum atau peradaban lain. Karena tentu saja, dengan
adanya globalisasi ini musuh-musuh Islam sengaja membuat jalan agar kaum muslimin—khususnya
remaja—untuk mengikuti kehendak mereka. Ini jelas sangat berbahaya. Karena
bila kita masuk perangkap mereka, alamat hidup kita ancur-ancuran, bro.
Allah Swt. menggambarkan bagaimana kebencian musuh-musuh Islam—yakni
kaum Yahudi dan Nasrani—dalam menghancurkan ummat Islam. Firman Allah
Swt.: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu
hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk
Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi
pelindung dan penolong bagimu.” (QS. al-Baqarah
[2]: 120)
Dengan demikian, kita wajib waspada, jangan sampai terjerumus mengikuti budaya
dan gaya hidup selain Islam. Kita bisa menang kawan. Jadi hati-hati dengan globalisasi.
Tetap semangat mengkaji Islam!?