Jakarta bergetar. Bukan terkena imbasan goyangan kaum Inul yang makin amburadul,
tapi bergetar karena ledakan bom berkekuatan tinggi. Yup, ledakan bom High Explosive
itu memporak-porandakan lokasi Plaza Mutiara dan Hotel Marriott yang terletak
di kompleks perkantoran Mega Kuningan, Jakarta. Peristiwa yang memakan korban
jiwa 14 orang meninggal dan puluhan lainnya mengalami luka itu terjadi saat
lokasi padat pengunjung untuk beristirahat dan makan siang. Tragis! (eramuslim.com)
Kasus peledakan bom di Hotel JW Marriott makin menambah deretan panjang tindakan
perusakan sarana umum yang terjadi di tengah masyarakat yang banyak menimbulkan
korban. Kasus yang serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Bahkan banyak banget.
Entah apa yang telah ditanam sehingga Indonesia kayak lagi panen Bom. Dan pasti
kita yakin, rentetan tindakan teror melalui peledakan bom ini bukan tanpa maksud.
Apalagi pas lagi hangat-hangatnya tahi ayam, eh persidangan kasus Bom Bali.
Bisa jadi kan, ada sangkut pautnya. Nah, ini barangkali yang kudu kita lihat
lebih dekat. Biar kita tambah gaul. Setuju? Kudu!
Sobat muda muslim, maraknya tindakan teror melalui aksi-aksi peledakan bom bikin
kita was-was. Masalahnya bom itu bukan cuma meledak di peperangan atawa pelem-pelem
Hollywood. Tapi udah melebarkan sayapnya menimpa prasarana umum. Mulai dari
perkantoran, pusat perbelajaan, rumah ibadah, bandara, sampe café dan
restoran. Korbannya pun nggak dipilih-pilih. Pokoknya bantai! Mungkin pelaku
bom itu mirip-mirip robot cewek antagonis musuhnya Arnold Schwarzeneger dalam
film teranyarnya; Terminator 3.. Sadis abis!
Ada teror di balik bom
Seandainya ada pertanyaan “apa motif dibalik teror bom ini?” di
benak kamu, kamu layak dapet applause yang meriah. Karena, nggak banyak di antara
kita yang peduli dengan tindakan teror ini. Kalo pun ada, nggak jauh dari ucapan
bela sungkawa, doa bersama, atau tabur bunga di TKP untuk mengenang para korban.
Salah? Nggak juga. Tapi mungkin kurang komplet. Akan lebih pas kalo rasa peduli
kita dibarengi dengan upaya mencari jawaban pertanyaan di atas. Biar kita gaul
en nggak ketinggalan informasi. Jangan sampe deh, orang-orang lagi rame ngomongin
Bom Marriot, eh kita dengernya Bom Mak Erot. Berabe kan?
Di negeri ini telah terjadi 63 kasus peledakan bom sejak tahun 1962–2002.
Seperti yang terjadi tahun 2000, ketika C4 menghantam kediaman Kedubes Filipina
di Jakarta yang memakan korban 2 orang meninggal dan 20 luka-luka. Atau tanggal
13 September 2000 di Gedung BEJ; dan 23 Juli 2001 di Atrium Senen Jakarta. (sekitarkita.com).
Sabtu (12/10), pukul 23.30 WITA, bom berkekuatan besar meledak di Bali. Meluluh-lantakkan
diskotek Sari Club, serta bangunan dan benda-benda lain di sekitarnya dalam
radius 10-20 meter. Peristiwa-yang selanjutnya disebut sebagai “Sabtu
Hitam di Legian”-memang benar-benar merupakan peristiwa tragis dan memilukan.
Siapa pun orangnya akan mengutuk pelakunya. Korban ledakan dalam peristiwa tersebut
tercatat 187 orang tewas, 282 orang cedera, 4 bangunan rubuh, 20 bangunan rusak
berat, 27 mobil rusak berat dan 7 buah motor rusat berat (Republika, 14/10/2002)
Nggak ketinggalan di belahan dunia lain pun peristiwa peledakan bom menghiasi
media massa. Peristiwa Bom Casablanca, Maroko dan Riyadh pada bulan Mei yang
lalu. Atau Bom Bombay, serta Bom Najaf, di Irak yang menewaskan pemimpin Syiah
Ayatollah Mohammed Baqer al-Hakim dan 126 lainnya pada 29 Agustus 2003 lalu..
Tindakan teror melalui peledakan bom ini memang menjadi momok
bagi masyarakat. Dan hal ini diawali pascatragedi WTC 11 September 2001. Tragedi
yang memakan korban ribuan jiwa itu seakan memicu aksi-aksi peledakan bom di
setiap penjuru dunia. Apalagi George W. Bush memanfaatkan peristiwa ini dengan
mempropagandakan 'War Against Terrorism'-nya untuk menguasai dunia.
Walhasil, setiap negara dipaksa untuk memilih: mendukung AS atau menentang AS.
Ini kelihatan banget dari pernyataan Bush yang bernada mengancam. Dia bilang:
"Either you are with us or you are with the terrorist?". Arogan
banget tuh!
Parahnya, AS menempatkan Indonesia termasuk negara yang masih
'malu-malu' mendukungnya. Ketika genderang perang melawan teroris ditabuh Amerika,
Indonesia masih enggan masuk barisan AS dalam menggempur teroris versi AS. Bahkan,
ketika AS menyerang Afghanistan, Indonesia termasuk yang gencar mengkritik.
Bahkan, soal JI dan seterusnya, Indonesia masih belum bertindak.
Meskipun majalah Time sudah berkali-kali membuat laporan
tentang aktivitas JI di Indonesia, dan mengangkat soal Abu Bakar Baasyir, Indonesia
belum mengambil tindakan apa-apa. Sehingga, disinyalir ada keterlibatan pihak
asing dalam tragedi bom Bali dan Bom Marriot. Agar Indonesia lebih gencar bin
responsif lagi melawan teroris dan berpihak pada AS. Nah lho. Bener apa bener?
Kenapa kudu Islam?
Makin gencarnya propaganda akan teroris turut mempopulerkan beberapa nama tokoh
aktivis Islam di kuping kita. Populernya bisa ngalahin Amelia Vega, miss Universe
asal Republik Dominika. Sebut aja nama-nama Imam Samudera, Amrozi, Encep Nurjaman
alias Hambali, Ali Imran, Ali Ghufran, Fathurrahman al-Ghazi atau Asmar Latin
Sani. Mereka semua dituding sebagai pelaku pengeboman yang menghebohkan. Padahal,
bisa jadi mereka adalah korban (atau sangat boleh jadi boneka yang dipajang
atas titah AS?).
Bisa juga emang korban dari sebuah konspirasi tingkat tinggi
intelijen (ciee.. kayak di film James Bond aja neh). Tapi emang bener lho. Tindakan
teror yang menghujani negeri ini nggak bisa dipisahkan dari muatan politis.
Seperti definisi terorisme yang ditetapkan oleh Amerika 'terorisme adalah penggunaan
kekerasan untuk melawan kepentingan-kepentingan sipil guna mewujudkan target-target
politis.'
Sobat muda muslim, kayaknya kita nggak bisa menutup mata dengan
sikap tendensius dunia—yang diwakili Amerika—terhadap Islam dan
kaum muslimin. Coba lihat, Amerika menyebut Gerakan Revolusioner Nikaragua (Zapatista)
atau Tentara Pembebasan Irlandia (IRA) sebagai 'Gerakan Perlawanan Rakyat'.
Sementara, terhadap gerakan-gerakan–khususnya gerakan Islam--yang bertentangan
atau mengusik kepentingannya disifati sebagai teroris. Tentu dengan definisi
yang ditetapkan sendiri oleh Amrik. Jahat bener tuh! Gejlig. Tewewew..!
Maka, al-Qaida dinobatkan sebagai musuh terbesar Amerika pascatragedi
WTC. Sama halnya dengan Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN) yang diklaim
bertanggung jawab terhadap aksi peledakan Masjid Istiqlal, 19 April 1999 silam.
Padahal keberadaan Al-Qaida, Jamaah Islamiyah atau AMIN secara organisasi tidak
terbukti alias fiktif. Jadi tuduhannya? Asal!
Dengan ujung tombak media massa, Amerika menggiring opini dunia
kepada gerakan Islam sebagai pelaku tindakan teror. Kompas tanggal 7 Agustus
2003, malah memberitakan, bahwa Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer
menyatakan, bom di Jakarta berkaitan dengan Jamaah Islamiyah. Menurut harian
ini, sehubungan dengan bom tersebut, seorang operator JI yang tidak diketahui
namanya menyebutkan kepada surat kabar Singapura, The Straits Times, bahwa ledakan
bom di Hotel JW Marriott itu sebagai “peringatan berdarah" kepada
Presiden Megawati.
Seperti catatan Adian Husaini tentang Bom Marriott yang ditulis
di eramuslim.com, 19-08-2003 menyatakan, “dari sisi jurnalistik berita
yang ditulis Kompas dan Strait Times itu sebagai berita sampah dan tidak layak
muat. Karena mana mungkin kita menyandarkan kebenaran sebuah berita kepada seseorang
yang mengaku sebagai operator JI. Padahal siapa pun bisa mengaku sebagai operator
JI..” (backsound: sekali lagi, asal!)
Nah, dari paparan di atas Amerika udah bener-bener benci banget
dengan Islam. Dan inilah yang coba diungkapkan oleh Samuel P. Huntington dalam
bukunya The Clash of Civilitation and the Remaking of World Order..
Dia bilang, musuh terbesar peradaban Barat-Kristen pasca perang dingin adalah
Islam.
Hal yang sama juga dinyatakan dalam tesis Esposito (1995:13),
bahwa banyak orang Barat mengatakan: "Islam dan gerakan-gerakannya merupakan
alternatif tantangan religius dan ideologis, yang beberapa hal, merupakan bahaya
bagi Barat." Jelas bukan jawabannya? Yup, Amerika tuh ibarat maling teriak
maling. Lha, doi sendiri teroris, malah nuduh Islam. Hih!
Maju terus pantang kabur
Sobat muda muslim, tindakan teror di mana-mana begitu banyak menimbulkan side
effect.. Yang pasti bukan rasa kantuk atau perut mual-mual. Tapi efek yang bikin
sebagian dari temen kita harus ekstra kerja keras melobi orang tuanya biar boleh
ngaji. Bener lho. Nggak sedikit dari orang tua remaja muslim merasa khawatir
kalo ngeliat anaknya ikut pengajian tapi bukan baca tulis al-Quran (masak iya
sih anak SMU masuk TPA? Hehehe..). Apalagi kalo udah ngelihat gelagat anaknya
berubah. Kaos oblong berubah menjadi baju koko. Musiknya jadi berbau religius.
Sampei ikut-ikutan tereak-tereak dalam aksi damai menentang Amerika.
Propaganda Amerika dalam perang melawan teroris mampu mengkerdilkan
makna ajaran Islam sebatas ajaran religius. Always Peace and No War.. Padahal,
ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. nggak cuman 'Peace' atau 'War'. Tapi
ada saatnya Islam mengajarkan adab bertetangga, berteman, atau bersosialisasi
tanpa mengedepankan kekerasan meski dengan nonmuslim.
Ada saatnya pula Islam mengharuskan kita tegas dalam bersikap
yang menunjukkan kedewasaan; ketika kaum muslimin mengalami penindasan di seluruh
penjuru dunia; ketika ajaran Islam di-'permak' agar sama dengan agama lain yang
hanya mengajarkan Ibadah.
So, mari kita sama-sama perdalam Islam. Biar kita bisa meyakinkan
orang-orang yang mengkhawatirkan kita karena ikut pengajian. Biar kita bisa
menunjukkan bahwa Islam tidak seperti yang diberitakan di media massa. Bahwa
Islam bukan agama teroris. Biar keyakinan kita akan kebenaran Islam kian tertancap
kuat dalam dada kita. Meski banyak suara-suara 'sumbang' dari musuh-musuh Islam.
Firman Allah Swt.: (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang
kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka",
maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah
Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
(QS Ali Imran [3]: 173)
Dan jangan lupa, kita perkuat juga barisan Islam. Dengan menempatkan
persamaan sebagai titik pemersatu. Bukan mencari perbedaan yang bisa berujung
pada perpecahan. Biar di antara kita bisa saling mengingatkan dan menasihati.
Juga saling memberikan dukungan untuk tetep istiqomah. Sehingga kita bisa bangkit
dan mampu melawan upaya musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan kaum
muslimin. Sapu lidi pasti lebih tokcer buat mengusir kucing daripada sebatang
lidi. Maju terus pantang kabur! Tetap semangat! [hafidz]