Eko Patrio bareng Ulfa Dwiyanti mandu acara Sahur Kita di SCTV. Lengkap dengan
gaya ‘norak’ dan nyablaknya yang memang lengket masket dengan pribadi
mereka. Boleh dibilang dua orang ini memang klop dalam urusan ngocol. Hampir
tiap pagi Eko dan Ulfa menemani kita makan sahur (tentu bagi yang tune in di
stasiun SCTV dong). Penonton senang, karena dihibur dua makhluk ini. Hasilnya,
acara yang dipandu komedian ini tetap mendapat tempat di hati pemirsa. Lihat
saja iklan yang nangkring di acara itu bejibun banget. Itu salah satu tanda
kalo acara tersebut berhasil merebut perhatian pemirsa. Konon, Eko dan Ulfa
tetep betah memandu acara itu karena honornya juga kenceng.
Taufik Savalas, Elma Theana, dan Dik Doank nggak ketinggalan ikutan menyemarakkan
tayangan Ramadhan. Beliau-beliau ini tampil di RCTI membawakan acara Salam Mesra
(Satu dalam Kemesraan Ramadhan). Bodoran khas Taufik juga bikin pemirsa betah
menontonnya.
TPI, stasiun pendidikan yang kini berubah jadi televisi hiburan untuk keluarga
juga nggak mau ketinggalan. Stasiun televisi milik Mbak Tutut ini setiap sahur
memasang Peggy Melati Sukma, Topan, dan Leysus di acara Mozaik Ramadhan. Hasilnya,
acara ini pun bersaing ketat dengan tayangan sejenis di televisi lain. Seleb
lain seperti Bang Miing, Didin, Parto, Akrie, dan Mbak Maudi Koesnaedy sering
nongol di Trans TV lewat acara Yuk Sahur Yuk.
Tayangan sinetron Ramadhan juga masih laku keras. Jalan Lain Ke Sana yang didukung
Kang Syahrul Gunawan, Alya Rohali, Enno Lerian, dan bintang lainnya, menjadi
andalan stasiun SCTV untuk menarik perhatian pemirsa setianya. Alung, yang dibintangi
Billy Glenn cukup mendapat tempat di hati penonton. Apalagi di sinetron itu
bercokol para artis lainnya; di antaranya Gito Rollies dan Ineke Koesherawaty.
Mas Deddy Mizwar juga nggak ketinggalan main untuk sinetron Lorong Waktu 3 di
SCTV. Di TPI ada sinetron Doa dan Cinta, dan di Indosiar menggelar Doa dan Anugerah.
TV7, stasiun televisi milik grup usaha Kelompok Kompas Gramedia menggelar sinetron
Ramadhan berjudul Jendela Hati yang Terbuka.
Sobat muda muslim, di satu sisi, tentunya kita merasa senang juga bahwa kalangan
seleb mau menunjukkan identitas kemuslimannya di bulan suci ini. Terlepas dari
niat pribadi masing-masing, yang penting beliau-beliau ini udah menunjukkan
kepada pemirsa bahwa ia, paling nggak, ingin menjadi pihak yang mengisi Ramadhan
dengan baik. Konon kabarnya mereka juga terus terang mengaku bahwa keterlibatannya
dalam acara-cara Ramadhan di televisi tersebut adalah untuk membantu syiar Islam.
Semoga saja memang demikian adanya. Wallahu’alam.
Namun sobat, belajar dari pengalaman sebelumnya, ternyata kalangan seleb yang
biasa tampil di acara sejenis tahun kemarin aja, ‘nyadarnya’ pas
Ramadhan doang. Bulan syawal dan seterusnya kembali ‘senewen’ dengan
kelakuannya. Secepat kilat berubah wujud. Secepat kilat pula berubah jadi liar.
Yang tadinya tampil manis dengan kerudung, bahkan ada juga seleb yang menutup
tubuhnya dengan jilbab, tapi begitu Ramadhan selesai, mereka kembali ke ‘habitat’
awalnya; amburadul!
Aduh, sayang banget ya? Kenapa musti begitu rupa kelakuan para seleb? Aduh,
bukan kita sok suci, apalagi sok alim kalo kita ngomentarin kelakuan mereka.
Justru kita peduli dan kasihan juga sama mereka. Sebab, penghibur adakalanya
nggak bisa lepas dari tuntutan skenario meski itu kudu bertentangan dengan tuntunan
syariat. Celaka dua belas ini mah!
Mereka menodai Ramadhan
Hmm...ini bukan maksud kita nantangin kaum seleb. Nggak. Kita sekadar berbagi
rasa peduli, dan juga mungkin empati terhadap Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang kebetulan
jadi seleb. Risiko jadi seleb memang harus kehilangan privasi, selain tentunya
jaminan ngetop dan beken udah di depan mata. Dua ‘risiko’ yang kudu
dijalani oleh seorang selebriti.
Sobat muda muslim, kalangan seleb yang bisa kita saksikan di setiap tayangan
televisi di rumah kita, memang tampil alim dan sopan di bulan Ramadhan, tapi
begitu Syawal tiba, banyak di antara mereka yang kembali maksiat. Aduh, jangan
sampe deh kamu-kamu mah ya? Emang sih, nggak cuma artis yang begitu, dari kalangan
kita juga sama. Cuma nggak diekspos aja tuh. Maklum, bukan bahan berita. Kalo
seleb kan hampir seluruh kegiatanya layak jadi berita.
Bahkan sebetulnya, sebagian besar dari gaya kaum seleb yang mengisi acara Ramadhan
saat ini lebih banyak yang bikin rancu ajaran Islam. Ambil contoh sinetron Jalan
Lain Ke Sana. Kak Gun yang juga ngetop di film Pernikahan Dini berperan sebagai
ustadz muda dari desa yang mengembara di kota, lengkap dengan lika-liku laki-laki
yang tak laku-laku (upppsss, sori deh, he..he..he..) di sinetron garapan Pak
Chairul Umam itu. Dalam sinetron itu masih ada bias, bahkan rancu dan racun
bagi remaja. Gimana nggak, masak Jaka (ustadz muda) yang diperani oleh, Syahrul
Gunawan itu ternyata ’ngajarin’ juga hubungan bebas atara laki dan
wanita. Tepatnya ngasih peluang pemirsa untuk bisa berbuat salah (baca: ngasih
legalisasi). Coba, kalo kayak gini, rasanya sulit banget bagi kita untuk tidak
mengatakan bahwa kaum seleb bersih. Sebaliknya, duh nggak tega deh nyebutnya….ihik..ihik..
Dan biasanya kaum seleb juga ogah kalo kudu menuai badai kritik dari pemirsanya.
Karena dianggap pemirsa udah terlalu lancang menjamah ruang pribadinya. Bahkan
nggak segan ada kaum seleb yang mengatakan—untuk menutupi kebejatannya—bahwa
itu adalah hak asasi manusia. Jadi, orang lain nggak punya hak itu mengatur
kehidupan orang lain. Titik. Suka-suka, yang penting asyik. Sekali lagi.. asyik!
Kalo gitu, kita juga mau ngasih masukan sama Mbak dan Mas kalangan seleb, bahwa
silakan saja sibuk dengan urusan Mbak dan Mas, tapi inget lho dengan Allah Swt.,
jangan sampe kita mendapat murka-Nya. Allah itu murka, jika kita juga udah bikin
Dia murka. Salah satunya, dengan kelakuan buruk yang kita tampilkan. Jadi mohon
segera sadar.
Memang bukan cuma kalangan seleb papan atas yang sering tampil di acara Ramadhan
itu, tapi hampir semua seleb, termasuk kelas ‘ecek-ecek’, boleh
dibilang punya catatan rekor jelek juga untuk urusan label ‘selebriti
bunglon’. Maksudnya, saat Ramadhan tiba, mereka berlomba-lomba untuk tampil
dan menghibur pemirsa. Sangkaannya, yang penting pemirsa senang, dia senang,
dan tentunya semua senang. Selesai Ramadhan, setumpuk kertas perjanjian untuk
ditanda-tangani dalam berbagai tayangan lengkap dengan segala tuntutan skenario
menjadi hal sulit yang biasanya menjadi alasan untuk kembali tampil senewen.
Maklum, sebagai peghibur, mereka merasa bahwa hidupnya sudah dimiliki penggemar
dan pembuat skenario. Alamaaaak..!
Inilah yang kita bilang, bahwa tingkah polahnya itu malah menodai kesucian
Ramadhan itu sendiri. Padahal kita juga ngotot ingin bisa menjadi baik. Nggak
mau juga kalo tontonan kita sekalipun, dan sekecil apapun dijejali dengan racun
buat pemikiran kita. Memang sih, aktivitas mereka itu kagak bikin puasa kita-kita
batal dalam pengertian menahan rasa lapar dan haus, tapi, kelakuan Mbak dan
Mas kalangan seleb yang ikutan gabung mengisi program acara Ramadhan itu udah
menodai kesucian Ramadhan. Tentu dengan ragam kegiatan dan gayanya ketika mengisi
acara tersebut. Apalagi kalo di situ kudu di-match-kan antara ucapan dan perbuatan.
Malu dong kalo sampe tulalit antara teori dan praktik. Firman Allah Swt.:
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada
kamu kerjakan. (TQS ash-Shaff [61]: 3)
Nggak mau dong salah terus...
Sobat muda muslim, jawaban yang sering muncul dari kalangan seleb (termasuk
kita-kita) ketika kelakuan salahnya dikritik orang adalah, “Kita kan manusia
biasa, nggak bisa lepas dari kesalahan”. Barangkali, jawaban ‘sakti’
seperti itu bisa menenangkan penggemarnya, utamanya yang masih awam. Tapi tentunya
nggak berlaku buat kaum muslimin yang memang kritis. Boleh jadi pernyataannya
itu adalah salah satu bentuk dari upaya pembelaan diri. Tul nggak?
Emang sih, paling enak itu berlindung di balik itu. Dulu aja banyak artis ngeles
ketika dikritik soal penampilannya yang kelewat seronok berlindung di balik
pernyataan bahwa itu adalah tuntutan skenario, bahwa itu trik kamera saja, dan
inilah risiko sebagai penghibur. Aduh, kita pikir itu memang alasan yang sebenarnya
nggak bisa dipertanggungjawabkan.
Benar, kalo dikatakan bahwa manusia itu tempatnya salah dan dosa. Jadi, manusia
memang punya potensi untuk bisa berbuat salah dan juga baik. Itu artinya, manusia
dimaklumi jika berbuat salah. Sebab, nggak ada manusia yang salah selamanya
dalam hidupnya, begitupula nggak ada manusia yang benar terus selama hidupnya.
Hanya saja, kita juga nggak mau kalo terus menerus dalam kesalahan. Pengennya
sih baik terus, supaya kita terpacu untuk selalu benar sesuai ajaran Islam.
Karena memang ada pahala di sisi Allah untuk orang-orang yang berbuat baik.
Bicara soal kalangan seleb yang kebetulan bermasalah dalam gaya hidupnya selama
ini, khususnya yang ‘berubah’ di bulan Ramadhan, untuk kemudian
‘berubah’ lagi di bulan lainnya, kita cuma bisa berpesan, bahwa
jangan merasa bahwa kelakuannya itu bisa menjamin untuk tidak dihisab oleh Allah
Swt. Manusia bisa saja mengelabui manusia lain, tapi Allah Swt. nggak akan bisa
dikibulin. Jadi nggak bisa lolos dong. Dan tentunya Mas dan Mbak kaum seleb,
kudu merasa bahwa apa yang menjadi tingkah lakunya bakalan ditiru ribuan penggemarnya
di seluruh tanah air. Jika Mas dan Mbak kalangan seleb berbuat salah, dan kemudian
kesalahan itu diikuti oleh penggemar lainnya, aduh, nggak kebayang deh betapa
besar dosanya. Dan sebaliknya, jika mengajarkan kebaikan, lalu diikuti oleh
orang lain, maka insya Allah akan bertambah banyak pahalanya.
Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik
kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan
serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya,
maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi
balasan mereka sedikitpun, (HR. Ibnu Majah)
Apa yang bisa kita lakukan?
Sobat muda muslim, paling nggak ada tiga hal yang bisa kita lakukan dalam menyikapi
masalah ini. Pertama, kita menyeru kepada kalangan seleb supaya
menghentikan prinsip ‘bunglon’. Jadikan Ramadhan kali ini sebagai
momen yang tepat untuk mengubah diri. Nggak sulit kok, asal kita mau, insya
Allah dimudahkan oleh Allah Swt. Allah akan menolong orang-orang yang mencari
kebenaran. Silakan dicoba.
Kedua, kita, dan masyarakat yang lain jangan menganggap wajar
kelakuan kalangan seleb. Kenapa kita katakan demikian? Karena banyak juga masyarakat
yang menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh kalangan seleb itu adalah hal
yang nggak usah dianggap masalah. Artinya memang wajar saja. Nah, kini diubah
cara pandangnya, bahwa itu nggak wajar dan kudu diubah. Ketiga,
agar kesucian Ramadhan tak ternodai, maka pemerintah kudu cepat tanggap atas
masalah ini. Kita ngasih masukan buat bapak-bapak pejabat kita supaya lebih
serius dalam menyeleksi tayangan televisi dan mensensor semua media massa. Dan
tentunya ini hanya bisa dilakukan dengan menempuh jalur pembinaan kepada masyarakat
dan menerapkan aturan dan sanksi dengan tegas. Memang ini butuh waktu yang lama.
Tapi bukan berarti nggak bisa dicoba untuk diupayakan. Insya Allah bisa deh.
Jadi, mari selamatkan puasa kita dengan menyelamatkan masyarakat
ini dengan syariat Islam. Supaya jangan lagi ada noda di Ramadhan kita. Setuju
kan? Yuk, kita upayakan! ?
____________________________________________
Edisi 124/Tahun ke-3 (18 November 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke studia@dudung.net
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com