Ibu, apa yang ibu lakukan saat marah? Teriak-teriak sampe' terdengar
tetangga? Diam seribu bahasa, lalu cemberut atau malah memukul? Hati-hati
lho, anak adalah 'perekam' yang terbaik dari kejadian yang ia lihat di
sekitarnya. Anak bercermin dari lingkungannya, dan lingkungan terdekat
adalah orangtua-nya. Siapa tahu anak kita jadi tukang ngamuk, karena
emang pernah melihat kita saat marah. Siapa tahu anak kita guling-guling
di lantai, karena pernah melihat ibu juga 'gulingan' saat marah.
Wah...wah...wah...Nikoniko*
Ayah, pernahkah makan sambil jalan? Kalau pernah, jangan heran kalau
anak kita makan pun sambil jalan, karena ayahnya adalah contoh yang
pernah dilihatnya. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan adab makan adalah
sambil duduk. Mungkin pula, saat anak marah pintu yang gak salah pun
dibanting, karena pernah melihat ayahnya membanting pintu sekeras mungkin,
biar ada yang tahu 'Ini nih, gue lagi marah!" Kowai ne...*
Pepatah Jawa mengatakan, 'kacang mangsa ninggal lanjaran' artinya,
kacang tak mungkin meninggalkan rambatannya. Maksudnya, watak dan tingkah
laku anak biasanya mirip dengan tingkah laku orangtua. Makanya, saat
anak kita nakal, ada orangtua yang cuma nyengir, dalam hati berkata, "Iya
ya...kaya' saya dulu." Namun ada pula orangtua yang yakin banget, bahwa
anaknya gak bakalan nakal, alasannya, "Lha...dulu saya udah nakal
sekalee, jadinya anak saya gak bakalan nakal lagi!" Yang ini model PUEDE
buangeett!!!
Ikhwah fillah...
Anak kita adalah ibarat beningnya telaga, dan sebuah telaga laksana cermin diri.
Anak juga ibarat permata alami, dan kitalah pemahat-pemahatnya. Seorang pemahat
yang tak sabaran, marahan melulu, emosional, maka jangan heran kalau hasil pahatannya
serupa dengan perasaannya saat memahat. Namun, pahatan yang terbentuk rapih,
memancarkan kilauan keindahan tentu terbentuk dari seorang pemahat yang brilliant,
pemahat yang mengerti bagaimana memoles pahatan hingga menjadi 'nilai jual yang
tinggi' di mata Allah SWT dan ciptaan-Nya.
Emmy Soekresno, S.Pd. seorang ibu yang sering membawakan seminar
tentang anak pernah mengatakan bahwa susunan otak terbentuk dari pengalaman,
sehingga jika pengalaman anak takut dan stress, maka respons otak
terhadap dua hal itulah yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat
merubah struktur fisik otak.
Itulah mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau
memukulnya. Jika anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu
yang tidak sopan, sebaiknya kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan
sopan santun dengan cara yang arif serta penuh kesabaran. Tentunya,
contoh yang terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah SAW.
Seorang anak yang dibiasakan dan diajarkan kebaikan maka akan tumbuh
dalam kebaikan pula, karena itu berbahagialah kedua orangtuanya di dunia
dan akhirat, juga setiap pendidiknya. Namun, jika dibiasakan kejelekan
dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya ia akan menjadi
jahat dan binasa. Karena itu hendaklah ia memelihara, mendidik dan membina
serta mengajarinya dengan akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman
jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang, dan tidak pula
menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari
hal tersebut bila ia dewasa, demikian menurut Syaikh Abu Hamid Al
Ghazali.
Namun...ada masa-masa di mana anak kita memang mengalami masa
kemandirian dan sikap negatifnya, atau dengan kata lain sifat bandelnya muncul.
Terkadang, perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan
membuat kita jengkel. Karena mereka bersikap negatif, apakah kita boleh
pula bersikap negatif? Kadang tanpa sadar, kejengkelan kita dijadikan
file-file yang tersimpan rapih di memori mereka, hingga saat mereka
jengkel mereka dapat menggunakan file-file tersebut kapan saja. Nah lho,
kalau gini gimana?
Ada beberapa tips untuk menghindari kemarahan saat kita jengkel kepada
anak, yaitu:
- Kata Rasulullah SAW, kalau marah maka ubahlah posisi. Maksudnya, bila masih
marah berbaringlah, karena gak lucukan marah sambil baring. :-) Bila masih
marah, ambil wudhu dan minta perlindungan Allah SWT sambil mengucapkan lafadz
taawudz 'Audzubillahimisysyaithaanirrajim.'
- Saat hendak marah, tarik nafas panjang, tenangkan diri. Tinggalkan ruangan,
masuk kamar, atau apalah untuk membantu menenangkan perasaan.
- Jangan 'menyerang' anak dengan kata 'kamu', misalnya nih "Kamu kok
gak pernah belajar bersihkan rumah sih!" atau "Aduh...kok kamu gak
pernah bisa bangun pagi?" Biasanya kalau mengucapkan kata-kata ini, mata
tanpa sadar melotot seperti ikan mas koki, nafas pun tersengal-sengal. Gak
percaya, coba aja deh depan cermin. :D Yang lebih baik adalah dengan menggunakan
kata 'saya', misalnya nih, "Ibu gak suka lho, kalau kamu buang sampah
sembarangan" atau "Sayang, ibu kecewa kalau kamu bangunnya selalu
siang" Ini akan mengurangi rasa sakit hati anak.
- Bila terlalu marah untuk berbicara, tahanlah! Kalau anak sudah dapat membaca,
maka ekspresikan perasaan dengan menulis, karena selembar kertas dan sebatang
pena dapat membantu mengontrol emosi. Artinya, 'menulis tidak hanya untuk
mengikat ilmu' lho, tapi juga untuk 'mengikat emosi.' :-)
- Ketika anak membuat marah, jelaskanlah mengapa kita kecewa kepada mereka.
Jangan menyebut-nyebut kesalahannya yang lampau, karena anak bingung, gak
mengerti penyebab kemarahan ayah dan ibunya.
- Bila terlanjur marah, imbangilah dengan pelukan hangat dan kata maaf. Jangan
sok gengsi wibawa akan turun karena melakukan hal itu, karena kita pun selaku
orangtua bisa melakukan kesalahan sewaktu-waktu.
- Saat kemarahan ingin meledak, coba deh menghadap ke cermin. Lihat betapa
'cantiknya' wajah kita saat itu. Mungkin pertanyaan yang muncul, "Ara...kimi
dare?"* Mudah-mudahan kita pun tak ingin anak yang kita cintai melihat
ekspresi kita saat itu.
- Evaluasi, kenapa kita marah. Apakah karena kamar anak yang berantakan, anak
gak patuh pada aturan, atau karena kita marah karena masalah kita sendiri?
Jangan lampiaskan kekecewaan kita dengan pasangan, di kantor, di lab dan lain-lain
terhadap anak kita. Apalagi kalau kita 'gondok' sama sensei* lantas pelampiasannya
kepada anak, wah...
Akhi wa ukhti yang disayang Allah SWT...
Memang, mendidik anak tidaklah seperti mudahnya kita membalik telapak
tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orangtua.
Simaklah perkataan Sayyid Qutb, yang mempunyai ayah sebagai panutannya:
"Semasa kecilku, ayah tanamkan ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut
akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan
sehari-harimu telah menjadi teladanku, sebagaimana prilaku orang yang ingat
akan hari akhir."
Anak adalah amanah dari Allah SWT kepada kita. Selama ia masih
'dititipkan' kepada kita, itulah salah satu saat kita dapat menuai pahala dari
Allah SWT. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban dari
'pemiliknya', sudahkah kita mendidiknya dengan baik atau malah sebaliknya. Seperti
kata-kata bijak dari Batak, 'Natoras na tutu mengkaholongi ianakkona,
ianakkon na tutu pasangap natorasna', orangtua yang benar ialah yang
mencintai anak-anaknya dan anak-anak yang benar ialah yang menghormati
orangtua.
Tidurlah tidur anakku tidurlah sayang Ibu senantiasa menjaga dan
berdoa
Agar kelak kau dijadikan manusia Pembebas durjana pelepas duka lara
Puji syukur padaMu ya Illahi Rabbi Tercipta buah hati dambaan insani
Kuserahkan jiwa raga sebagai bukti Sang ibu dan ayah bersatu dalam
janji
Kususun jemari kusulam kata pinta Hanya kepadaMu, kumohon selalu
Luruskanlah jalan dan ringankan langkahku Menuju ridho Mu Illahi
Wallahu a'lam bi showab.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Abu Aufa
Notes: (* in Japanese)
- Nikoniko = senyum
- Kowai ne... = menakutkan ya
- Ara...kimi dare? = Oh...kamu siapa? (kata 'ara' merupakan kata surprised,
dan kata 'kimi' biasanya hanya digunakan laki-laki dalam keadaan informal) -
Sensei = professor, pembimbing
Maraji':
- Majalah UMMI
- Al-Muslimun no.298, Jan 1995
- Sumber-sumber lain yang berhubungan
- Lirik nasyid Snada, Doa Untuk Anakku