Dunia perfilman Indonesia mulai bangkit dari liang lahat, eh, mulai menunjukkan
tanda-tanda kehidupannya. Setelah sekian lama terlelap en cuma bisa bikin
film-film yang isinya nggak jauh dari 'sepeda bupati', alias,
maaf, seputar perut dan dada serta buka paha tinggi-tinggi (idih, film apa senam
aerobik) Kamu boleh bangga ngeliat film-film layar lebar produksi dalam negeri
udah bisa 'nangkring' di bioskop-bioskop bonafide, saingan ama "The
Scorpion King"-nya The Rock. Ditambah lagi maraknya pemutaran
SMS (Sinetron Mini Seri) yang habis satu muncul banyak menjadi ajang seleksi
bintang muda untuk diangkat ke layar lebar. Siapa yang nggak kenal, Irgi Fahrezi
dan Marcella dalam Sephia-nya, atau Leony yang membintangi Siapa Takut
Jatuh Cinta? Penulis yakin kamu-kamu udah nggak asing ama mereka. Atau mungkin
malah ada yang ngefans dengan salah satu dari mereka.
Bejibunnya saluran TV swasta baru, menuntut para produser TV banting tulang
untuk ngegaet pemirsa. Salah satunya via pemutaran sinetron, biar pemirsa kecantol
dan nggak pindah chanel. Maka lahir sinetron-sinetron remaja kayak Percikan,
Dilarang Jatuh Cinta, atawa Kalau Cinta Jangan Marah. Ditambah pemaennya
juga bintang-bintang muda yang lagi naik daon (ulet kali..). Udah gitu, ceritanya
nggak jauh dari persoalan cintrong dua insan yang selalu menarik perhatian.
Siapa yang nggak betah ngecengin Didi 'Element' en Vonny 'Bening' dalam Tunjuk
Satu Bintang atawa muka-muka baru kayak Adelia Lontoh, Revalina dan Diana Fitria
yang membintangi 'Percikan'?
Meskipun judul en pemaennya beda, isinya nggak jauh dari seluk-beluk
cinta remaja. Diawali masa perjuangan saat PDKT. Benci dan rindu jadi satu.
Diikuti aksi "nembak pujaan hati". Mengikat janji setia menjalin cinta
kasih hingga ujung waktu (cieeee…). Yang berarti lampu hijau buat jalan
bareng alias pacaran sebagai episode terakhir upaya mencari cinta bak arjuna.
Namun, kayaknya nggak semua setuju ama gaya pacaran remaja sekarang. Banyak
pro dan kontra yang cukup bikin kepala kita pusing tujuh belas koma tiga puluh
empat keliling lapangan senayan (makin pusing khan?). Bukannya dapet jalan terang,
malah bikin remaja ngambil kesimpulan sendiri. Pokoke, pacaran itu boleh dan
keputusan itu nggak bisa diganggu gugat. Titik! Nah lho!
Cinta = Pacaran + Seks?
Tren orang pacaran, kayaknya udah mendarah daging dan berurat akar di negerinya
si Unyil ini. Seakan nggak bisa di-delete dari kehidupan kita. So, istilah pacaran
dan segala kembarannya udah populer. Sepopuler album '07 Des'-nya Sheila
on Tujuh. Ada istilah cimot (cinta monyet), cilok (cinta lokasi),
atawa cimplung yang artinya cinta kecemplung, alias kasih tak sampai.
Juga ada ciner (eh, itu sih adiknya Cuplis ya?). Lucunya lagi, ada gaya
pacaran Islami. No kiss no touch. Aneh-aneh aja, emangnya jalan bareng atawa
nonton bareng, bisa disebut islami? Asal!!
Celakanya lagi, banyak yang menobatkan pacaran sebagai simbol pergaulan modern.
Kamu baru dianggap dewasa en gaul kalo udah punya doi. Kalau belum punya, siap-siap
aja dinobatkan jadi pejabat, alias pemuda jaman batu. Dan itu bisa bikin kamu
manyun en berjuang dengan semangat '45 ngegaet sang buah hati. Meski harus ngorbanin
uang SPP biar bisa nge-date nonton aksi Tobey 'Spider' Maguire. Sekaligus
biar nggak disebut jomblo!
Sobat muda muslim, banyak teman remaja yang pacaran beralasan bahwa doi butuh
seseorang yang bisa ngertiin dan merhatiin kamu. Pokoknya, yang lebih dari sekadar
temen, bisa mompa semangat bak cheerleader waktu kamu lagi putus asa, bisa jadi
tempat berbagi rasa dan masalah, atau paling jauh buat ajang seleksi pasangan
hidup. Tiap remaja membutuhkan orang dekat yang bisa mengingatkan dan membimbing
tanpa harus menggurui. Dan biasanya teman sebaya atau lawan jenis berada di
urutan pertama (emangnya klasemen) sebelum orangtua atawa guru.
Tapi kayaknya alasan-alasan temen kamu itu cuma justifikasi aja, alias pembenaran
biar dilegalisasi sekolah, keluarga dan lingkungan. Buktinya pacaran cuma jadi
ajang baku syahwat. Nggak hanya jalan bareng, tapi bisa-bahkan kebanyakan remaja-sampe
rela 'tidur bareng'. Naudzubillah min dzalik!
Sobat, setan paling doyan nongkrongin orang yang lagi pacaran alias mojok,
lho. Temen kamu boleh bilang pacaran itu manis, tapi sebenarnya itu jalan iblis!
"Ih, itukan tergantung orangnya?". Bisa jadi. Tapi nggak selalu.
Sekuat-kuatnya iman, tetep akan ambrol juga. Karena rasa cinta plus kebutuhan
akan kasih sayang dan perhatian akan selalu menghinggapi manusia selagi masih
hidup. Seperti halnya hawa nafsu. Ketika berpacaran, batas antara cinta dan
nafsu itu jadi bias, alias nggak jelas.
Nggak ada yang ngejamin kamu atau pacar kamu bisa jaga diri alias tahan godaan
ketika lagi asyik berduaan. Apalagi di tengah maraknya kampanye gaul bebas (baca:
seks bebas) melalui media massa dan tayangan televisi. Awalnya mungkin cuma
nonton bareng, makan bareng, pegangan tangan, berpelukan kayak teletubies, sampe
teler abis. Udah gitu, wallahu'alam. En, kalo kamu udah lengket ama doi, kamu
akan ngerasa berat banget untuk menolak 'aksi gerilya' tangan pacar kamu yang
bisa berujung kamu nggak gadis lagi. Ih, syerem..! Jangan sampe deh.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita,
sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga
di antara mereka adalah setan" (H.R. Ahmad)
Kalau cinta jangan maksiat
"Cinta itu anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara, bila tak
punya cinta". Kamu pasti inget ama penggalan lirik lagunya Kang Doel
Soembang itu. Dan so pasti setuju juga kalo rasa cinta itu adalah anugerah terindah
yang kita miliki. Nggak kebayang deh, kalo kita nggak punya rasa cinta. Mungkin
nggak jauh bedanya ama patung pak polisi di perempatan jalan. Karena itulah,
Mbak Melly Guslaw wanti-wanti agar kita jangan pernah menyanjung cinta bila
tak mengerti maknanya cinta, yang dilantunkan lewat "Hanya"
dalam album OST A2DC. Tapi, tahukah kita maknanya cinta?
Tatkala Allah Swt. menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbaik. Allah
pun mengkaruniakan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi agar manusia bisa
hidup dan nggak punah sebelum hari kiamat. Ada kebutuhan jasmani (hajjatul
'udawiyah) seperti rasa lapar, haus, tidur atau pengen buang air. Kebutuhan
ini mutlak harus dipenuhi. Kalau nggak, badan kita bakal protes dan bisa sampai
pada kondisi yang "mengundang" malaikat Ijrail.
Ada juga yang disebut kebutuhan naluri (hajjatul gharaa'iz). Terdiri
dari naluri beragama (gharizatun tadayyun), naluri mempertahankan diri
(gharizatu al-baqa) yang berbentuk rasa takut, atau pengen populer, terakhir
naluri melestarikan keturunan (gharizatun nau') yang berwujud rasa cinta.
Kalo kebutuhan ini nggak dipenuhi, perasaan kita jadi resah dan gelisah. Tapi
badan kamu pun nggak akan protes. Persis perasaan kamu waktu lagi nunggu jawaban
dari doi. Kalo ternyata cinta kamu sebatas mimpi, biasanya kamu cuma uring-uringan
terus dengan 'bijak' sana-sini kamu bilang "cinta kan tak harus memiliki"
dengan suara nge-bass kayak Butet Kertaradjasa. Padahal gondok. Hatinya serasa
kompor meledug. Kasiaan… deh!
Sobat muda muslim, Allah mengkaruniakan kebutuhan-kebutuhan itu satu paket
ama aturan maennya. Nggak bisa cara pemenuhan kebutuhan itu semau gue. Karena
manusia itu lemah, nggak tahu mana dan apa yang terbaik buat dirinya. Allah
Swt. berfirman: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [TQS al-Baqarah [2]:
216]
Termasuk dalam masalah cinta kepada lawan jenis. Allah Swt. udah ngasih aturan
pemenuhannya melalui pernikahan seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan
begitu, manusia akan lebih mulia kedudukannya dan jelas asal-usulnya. Nggak
kayak ayam yang maen sosor aja kalo lagi 'pengen'. Ditambah dengan janji
Allah yang akan memberi pertolongan dan kemudahan buat para bujangan yang udah
nggak kuku pengen nikah biar bisa jaga diri dari perbuatan maksiat. Apa nggak
pengen?
Nah, sobat muda muslim, kalo rasa cinta itu diwujudkan dengan pacaran, berarti
udah ngelanggar aturan Allah. Itu maksiat. Selain dosa, kesengsaraan akan menimpa.
Alih-alih sayang sama pacar, malah kamu bikin celaka. Maka, kalau kamu jatuh
cinta jangan terus maksiat, karena akan rugi dunia akhirat!
Sobat muda muslim, sekarang kita udah tahu kalo pacaran itu nggak boleh (baca:
haram). Terus kamu pasti berpikir gimana caranya bisa mengendalikan virus cinta
itu. Tapi tidak untuk dihilangkan. Biar virus ini nggak bikin hati kita tergoda
untuk pacaran. Mau tahu?
Rasa cinta itu muncul tatkala ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu bisa
berupa film yang berkisah tentang cinta, lagu-lagu melankolis, atawa majalah
remaja yang nggak bosen-bosennya ngomongin cinta. Selain itu, pergaulan juga
kudu diwaspadai. Seperti kata pepatah jawa, witing trisno jalaran soko kulino.
Terjemah bebasnya, rasa cinta itu tumbuh karena keseringan meeting alias ketemu.
Kebayang kan kalo kita bergaul bebas, persahabatan dengan lawan jenis akan menjadi
lahan subur tumbuhnya benih-benih cinta. Persis dalam film "Kuch Kuch
Hota Hai".
Itu sebabnya, kita bisa mulai upaya mengendalikan virus cinta dengan membatasi
pergaulan bebas. Dalam Islam, ada aturan mainnya lho. Ketemu atawa berinteraksi
cuma seperlunya aja, jika memang diperlukan. Udah gitu, jika dikhawatirkan virus
itu meradang lagi, tahan diri untuk nonton film romantis, atawa enjoy dengerin
"Seberapa Pantas"-nya So7.
Nggak cukup sampe situ, kita juga kudu bangun benteng pertahanan dengan ikut
pengajian. Karena dengan ikut pengajian, kecintaan terhadap Allah, keyakinan
terhadap janji Allah, dan kebenaran aturan Allah bisa terpupuk. Dengan begitu,
kita bisa istiqomah meski banyak penghalang. Jika Allah sayang kepada kita karena
kita ngikutin aturan-Nya, kelak jodoh yang baik alias sholeh or sholehah akan
datang menghampiri. Allah Swt. berfirman: "Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)."
[TQS an-Nűr [24]: 26]
Sobat muda muslim, bisa jadi kamu ngerasa berat bin bete kalo harus berbuat
kayak gitu. Tapi berat, bukan berarti nggak bisa. Pasti bisa. Masalahnya cuma
waktu dan kemauan kamu untuk dapetin ridho Allah. Iya nggak?
Nah, Buat kamu atau temen kamu yang masih aktif pacaran, pintu taubat insya
Allah masih terbuka. Jangan sampe kita habiskan masa muda kita dengan menabung
dosa tiap harinya. Nggak ada yang tahu kapan Allah bakal 'memecat' kita jadi
manusia ketika ajal menjemput. Mari, kita kuatkan tekad untuk nggak pacaran.
Jangan lupa, ikut pengajian!
_______________________________________
Edisi 101/Tahun ke-3 (10 Juni 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com