Ada yang mengartikan kesetiaan sebagai sebuah ikhtiar untuk menjaga
hubungan yang telah dibina. misalnya, antara sahabat dengan sahabat, bawahan
dengan atasan, rakyat dengan tanah airnya, dan lain-lain. Lebih kepada wujud
cinta yang diaplikasikan untuk memberikan yang terbaik agar "sesuatu"
yang sedang dimiliki tidak hilang. Lain lagi bagi suami istri. Mungkin kesetiaan
bisa diartikan sebagai utuhnya kasih sayang yang diterima dari pasangannya,
yang diiring ketulusan untuk selalu mendampingi dalam kondisi apapun.
Hari itu, pelajaran Embriologi yang membosankan ditiadakan. Karena
ibu dosen yang bersangkutan tidak datang. Aku dan teman-teman bisa bernafas
lega, karena otak bisa diistirahatkan dari gambar-gambar perubahan bentuk yang
susah sekali untuk di mengerti. Namun, ada sesuatu yang terasa lain .. "menurutku,
tidak biasanya Ibu absen", . Dalam keadaan sakit sekalipun, ibu memaksakan
diri datang.
Jujur saja, dunia kuliah kadang menjemukan. Dalam canda, sering
aku dan teman-teman melontarkan pertanyaan "Kapan ya giliran si ibu sakit
?". Sulit juga mencari standar sakit buat Ibu, karena sudah sekitar lima
tahun beliau berperang melawan kanker. Padahal menurut prediksi dokter luar
negeri yang menangani pengobatannya, seharusnya diperkirakan dua tahun yang
lalu usianya habis. Ternyata Alhamdulilah, sampai kini Ibu masih segar bugar.
Dalam kegembiraan, mau tidak mau ada juga rasa gelisah yang hadir
dalam pikiranku "Ada apa dengan ibu yah ? ". Masih teringat senyum
dan semangat Ibu saat memberi kuliah seminggu yang lalu. Walau sebelah matanya
sudah diperban. Namun, sedikitpun tidak terbersit wajah putus asa. Seperti lazimnya
terlihat pada pasien penderita kanker lainnya. Saat sedang merenung, tiba-tiba
muncul Bang Rudi (asisten ibu) sambil berkata, "Ibu masuk Rumah Sakit.",
ujarnya. Kontan, diam-diam muncul pertanyaan di hati... " Buah dari doa
kita kah ?". Mata-mata yang tadinya jail berubah jadi sendu. Inikah saatnya
perjuangan Ibu berakhir ?, pikirku kembali.
Perlahan. ., aku dan teman-teman melangkah ke kantor Jurusan dengan alam
pikiran masing-masing. Tepat di depan Dekanat, Suami ibu yang juga dosenku
melintas dan menyapa dengan keramahannya yang khas "Habis kuliah ya? Kuliah
apa ?", sapa beliau.
Lalu, Bagai berondongan senapan mesin, kami semua ingin bersuara untuk
menjawab sambil mengajukan perrtanyaan, "jadwal kuliah sama Ibu Pak, tapi
kami dapat kabar Ibu dirawat." "Ibu nggak apa-apa kan Pak ?",
"Ibu kenapa
Pak? ", tanya kami.
Sambil tersenyum, Bapak tersebut menjawab "Ibu anfal semalam, menurut
dokter
... kanker ibu sudah menjalar ke kepala sehingga harus dioperasi, mohon doa
dari kalian semua" , ujar beliau penuh harap.
"Wah, gue salut banget sama Bapak. Beliau gagah. padahal ibu nggak gitu
cantik, ga punya anak lagi tapi setianya itu. gue benar-benar salut deh !"
tiba-tiba Anti nyerocos tanpa diminta. "Gue mau deh jadi isteri keduanya
Bapak" tambah Anti lagi, kontan semua rekanku menjadi tertawa.
========== ***
=========
Hari itu, sudah dua pekan Ibu dirawat di Rumah Sakit, namun selalu saja
cari-cari alasan untuk tidak menjenguk beliau. Kuliah Exacta-lah, Jadwal
kuliah dan praktikum yang sangat padat lah, belum lagi setumpuk tugas dan
laporan yang harus diselesaikan. Kalaupun ada waktu, siang hari di saat
mentari sedang bersinar garang. Melelahkan.
Dari kejauhan, di ujung koridor.. wajah Bapak terlihat sendu, tidak seperti
biasanya. "Apa yang terjadi dengan ibu yah ?, tanyaku. "Jangan-jangan."
,
diriku mulai berpikir cemas.
Kali ini, setengah berlari aku dan teman-teman menyongsong Bapak, tidak
sabar ingin dapat jawaban.
"Pak, maafin ya.. kami belum sempat menjenguk ibu." Dengan penyesalan
yang
dalam Dida membuka percakapan.
"Bapak ngerti. " , sambil tersenyum, walaupun dalam sorot matanya
tidak bisa
menyembunyikan kesenduan.
"Ibu kalian mulai tidak sadarkan diri, dan juga Bapak telah melakukan
kesalahan", kata beliau memulai ceritanya pada kami. "Dua hari yang
lalu,
ujar beliau, seperti biasa Bapak papah Ibu ke kamar kecil. tapi Bapak
ceroboh sehingga Ibu tergelincir. bapak spontan menarik tangan Ibu agar
jangan jatuh. Ibu memang tidak jadi jatuh, tapi tangan kiri Ibu patah,
sesalnya.
Namun, dalam sakitnya Ibu masih bisa tersenyum dan menghibur. bahwa itu
bukan salah Bapak", kata beliau sambil merenung.
Belum selesai Bapak bercerita.., bulir-bulir air mata beliau perlahan turun
menuruni pipinya.
Suasana itu pun membawa kami jadi ikut bersedih, sehingga menangis bersama.
Aku pun bertanya dalam hati, kenapa dalam duka kebersamaan itu baru terasa
?, Ya Rabb, beri kami kesempatan untuk tetap menikmati semangat Ibu,
harapku.
Entahlah, mungkin doa yang sama terucap dari batin masing-masing ketika itu.
Sore itu, kami akhirnya menjenguk Ibu ke Rumah Sakit. Dan memang Ibu mulai
tidak sadarkan diri. Dia mengigau. Sebentar-sebentar memanggil Bapak. Lalu
dengan setia, Bapak mengusap tangan Ibu yang mulai bengkak karena telah lama
dipasok infus dan terus berbaring. Dengan tatapan cinta dan senyuman Bapak
membesarkan hati Ibu dan meyakinkannya bahwa ibu Insya Alloh bisa sembuh.
Pemandangan itu meluluh lantakkan segala kearoganan. Sampai akhirnya ada
seorang teman Bapak bersuara "Sebenarnya istrimu sudah lama ingin menghadap
Rabbnya, tapi kasih sayangmu masih membelenggunya, sehingga dia belum bisa
pergi tenang. Lepaskanlah dia.. biarkanlah dia kembali. Allah mencintainya
lebih dari cinta yang kau punya. Yakinlah saudaraku ! Allah pun takkan
mengambilnya tanpa restumu, orang yang telah menjaga cinta yang
dititipkan-Nya", jelas bapak tersebut memberi nasehat.
Genangan air mata yang tadi tertahan, sekarang meluncur deras . mengiringi
perjuangan seorang hamba mempertaruhkan cintanya. Semua terpaku diam..
hening..
"Ya Rabb, bantu Bapak untuk mengikhlaskan Ibu pergi. Jangan hukum Bapak
karena rasa cintanya" , kataku dalam hati ini berharap.
Lalu, dengan suara tersendat, Bapak berujar "Pergilah kekasih hatiku.
sudah
banyak kebahagiaan yang kau beri untukku, dengan sabarmu telah kau buat aku
SETIA, dengan ketegasanmu telah kau antar aku menjadi seorang yang berarti.
Dia lebih mencintaimu sayang. kembalilah kepadanya dengan tenang. Semoga
kedamaian rumah tangga yang selama ini kita bina akan mempertemukan kita
kembali di surga-Nya. Aku mencintaimu isteriku. Asyhaadu allaa ilaaha
illallaah wa asyhaadu anna muhammaadurrasuulullaah.." Bapak terkulai di
dahi
Ibu. seakan tak rela berpisah. Ibu pun tersenyum perlahan. Dan ternyata
itulah senyumannya yang terakhir.
"Innalillaahi wa ina ilaihi raaji'un."
Ibu kembali ke pangkuan Yang Kuasa. Akankah Embriologi tetap menjemukan ?
Tidak !! Kami harus semangat. tidak boleh gagal ! Setidaknya, Ibu tetap bisa
tersenyum dari alam sana. karena perjuangannya tidak sia-sia.
"Ringankan siksa Ibu di kuburnya ya Rabb. Izinkan Ibu tetap tersenyum
dalam
menjalani penantian menunggu hisabnya. Beri kami semangat dan ketabahan
seperti yang Ibu punya ya Allah. Sampaikan kalau kami sangat kehilangan.
Ampuni kesalahan kami pada Ibu. Kami menyayanginya ya Rahman"
Saudaraku yang baik. mungkin kesetiaan menjadi lain artinya dalam versi
sahabat semua. Mudah-mudahan cerita ini menjadi bahan renungan, bahwa setia
itu tidak diukur oleh faktor yang tampak, tapi lebih didominasi oleh
komitmen dan cinta yang terarah. Mudah-mudahan SETIA yang terbentuk hanya
berasal dari cinta kepada Allah.
Wallaahu'alam (patra / Villa sekpim / 12 / 4 /2003) © 2003
www.manajemenqolbu.com ***
*Mohon maaf kepada Bapak karena kisah hidup Bapak saya modifikasi.
Mudah-mudahan pelajaran ini bisa jadi bekal bagi kami dalam membina
keluarga. Amin.
Teruntuk "viet camp". Jangan lupa panjatkan doa untuk Ibu ya.