Kegagalan Taliban mempertahan dua
kota utama, Kandahar dan Kabul membuat reputasi mereka terperosok. 'Niat
baik' mempertahan 'tradisi' Islam, terhapus dalam sekejap saja.
Hanya enam tahun bertahan. Kekuatan mereka yang didasarkan pada dakwah ini
dengan mudahnya dikalahkan oleh kekuatan kafir. Prinsip kenegaraan yang
difondasikan pada kegiatan dakwah ternyata tidak berhasil. Dukungan dari Afghan
Al Arab pada akhirnya tidak sepenuhnya disokong bahkan oleh sebagian besar orang
Afganistan sendiri. Afganistan, dibawah sistem Taliban, tidak berhasil
membujuk dunia untuk berpihak kepada mereka. Taliban menghadapi kesulitan dalam
menarik simpati dunia. Mengapa gagal?
Berdakwah memang tidak mudah.
Taliban, terlepas dari sudut mana kita menilainya, telah gagal dalam menunaikan
misi dakwahnya. Ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan ini. Abu Sayyaf,
seorang profesor dari Kelompok Mujahidin Afganistan yang pada masa pemerintahan
Taliban sempat dimusuhi oleh mereka, dalam wawancara dengan Al Jazeerah-Qatar,
mengemukakan bahwa kegagalan Taliban disebabkan kesalahan menerapkan konsep
Islam dimana satu diantaranya Taliban lebih 'memilih' perang daripada jalan
damai.
Awal tahun 90-an, Zainuddin MZ
begitu menjulang kepopulerannya dalam dakwah. Dakwah pada masa itu disebut-sebut
sebagai 'profesi' baru yang menjanjikan bukan saja kepopuleran, namun juga
peningkatan pendapatan. Tak jarang artis-artis pula menekuni profesi yang satu
ini, misalnya Harry Mukti. Lambat laun Zainuddin dan sejumlah artis pendakwah
ini 'pudar' ketenarannya. Berhasilkan misi mereka dalam dakwah?
Utama
Misi utama 'dikirimnya' Rasulullah
SAW ke muka bumi ini adalah untuk berdakwah. Beban terberat beliau adalah misi
dakwah ini, karena berbagai risiko yang harus dipikul beliau SAW tidaklah
ringan. Sanak saudara, teman, hingga pemimpin suku, semuanya memusuhi misi ini
terutama sekali pada tahun-tahun pertama beliau SAW memulainya. Berbagai
bentuk benturan dihadapi beliau dengan kesabaran yang luar biasa, yang
kadang-kadang 'diluar' kewajaran kita sebagai manusia. Suatu sikap yang
barangkali bagi kita biasa, ternyata Rasulullah menunjukkannya dalam bentuk
lain, yang membuat kita 'takjub'. Demikianlah Allah SWT memilih utusanNya.
Mereka yang memusuhi beliau SAW ternyata dibalas beliau dengan kasih. Beliau SAW
menyatakan bahwa mereka belum mengerti tentang Islam. Pengemis buta yang Yahudi,
yang senantiasa mencemoohkan nama beliau SAW ternyata beliau balas dengan
disuapinya dia setiap hari dengan makanan tanpa sepengetahuan pengemis tersebut.
Subhanallah.
Aisyah R.a, istri tercinta beliau
SAW, menggambarkan bahwa pribadi Rasulullah adalah pribadi yang termuat dalam Al
Quran. Rasullullah adalah Al Quran yang 'berjalan'. Karena itu, dakwah beliau
SAW, dalam konteks kesehatan, memanfaatkan pendekatan holistic. Suatu teknik
pendekatan dengan memperlakukan sasaran dakwah secara utuh sesuai dengan
unsur-unsur yang dimiliki oleh objek dakwah. Tanpa pendidikan formal, Rasulullah
SAW telah mengenal bahwa elemen-elemen yang ada dalam diri manusia itu meliputi
fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Meski sasaran utama beliau dalam
dakwah menitik beratkan pada elemen spiritual, namun beliau SAW tidak
mengabaikan peranan besar yang terdapat dalam jasmani, jiwa, dan
sosial.
Lihatlah contoh bagaimana beliau
SAW memperlakukan pengemis Yahudi diatas. Dalam segi spiritual, beliau sadar
bahwa pengemis tersebut warga Yahudi yang jelas-jelas berbeda pandangan imannya.
Namun kenapa beliau tidak langsung saja menjelaskan tentang Islam? Sebaliknya
beliau menempuh jalur lain, mengajarkan aspek dasar yang perlu didahulukan dalam
pemenuhan kebutuhan manusia. Makan, adalah yang dibutuhkan oleh pengemis tadi,
bukan 'ocehan'. Sesudah Rasulullah 'berpulang' ke Rahmatullah, barulah si
pengemis tersebut menanyakan kemana orang yang biasa memberikan sarapan itu
pergi karena tidak pernah nampak lagi? Dan masuk Islamlah dia.
Subhanallah!
Analisa
Seiring dengan berkembangnya
teori-teori penelitian sosial, dakwah pun seharusnya mendapatkan perlakukan yang
sama. Peranan menempatkan dakwah yang tidak disejajarkan dengan studi ilmiah
inilah yang salah satunya menyebabkan ketidakberhasilannya. Lewat pendekatan
ilmiah, maka akan bisa diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi dakwah
tersebut. Dakwah, bukan sekedar segumpal penguasaan ayat-ayat Al Qur-an yang
dibumbuhi dengan sedikit humor, kemudian diselingi sejumlah ceritera yang
terkait, titik!
Dakwah membutuhkan suatu proses
pendekatan yang berkesinambungan. Dalam Bahasa Inggris, kunci sederhana yang
bisa diterapkan adalah konsep 5-W dan 1 H. Dakwah harusnya dimulai dengan What,
why, who, when, where, dan how. Jadi, menghadapi masalah semakin tajamnya
pertentangan antara umat Islam dan Kristen di Sulawesi Tengah misalnya, konsep
yang demikian bisa berlaku. Apa issue yang sebenarnya, mengapa bisa demikian,
siapa pelakuknya, kapan, dimana, dan bagaimana semua ini bisa
terjadi.
Demikian pula peranan pendekatan
holistic diatas hendaknya diperhatikan. Kita tidak mungkin berdakwah tentang
zakat, sadaqah, dan infaq ditengah-tengah masyarakat yang kelaparan.
Secara moral-etis, kita tidak mungkin berdakwah ditengah-tengah (maaf) pelacur
dengan menempatakan profesi mereka sebagai obyek pembicaraan. Demikian pula jika
kita berdakwah tentang tidak diperbolehkannya pacaran ditengah-tengah
remaja yang berpasang-pasangan. 'Mudahkanlah, jangan dipersulit', demikian
Rasulullah SAW pernah bersabda.
Naik-turun tanggapun kita harus
satu demi satu tapak dilalui jika kita tidak menginginkan jatuh. Dalam Islam pun
hal ini bukan kesalahan. Bahkan sunnah. Bukankah Allah mencintai perbuatan baik
yang secara terus menerus, berkesinambungan, sekecil apapun bentuknya.
Rasulullah SAW berdakwah, dan 'kelihatan'hasilnya sesudah 23 tahun berkiprah
didalamnya. Bukankah tujuan dakwah sendiri adalah perubahan perilaku secara
menyeluruh? Integritas aspek-aspek yang ada dalam diri manusia itulah tujuan
akhir dakwah.
Libat
Telah diajarkan oleh Rasulullah SAW,
' berdakwahlah walau hanya satu ayat!' Dibalik anjuran ini tersembunyi makna
yang sangat luas. Dalam diampun kita bisa berdakwah. Diam bisa berarti 'satu
ayat'. Dalam suatu pertengkaran mulut misalnya, diam adalah lebih baik. Diam
disini menduduki posisi yang penting dalam turut andil menyelesaikan masalah.
Diam juga mempercepat redahnya sebuah pertikaian. Diam berarti dakwah. Apa yang
dilakukan Professor Sayyaf selama konflik Afganistan adalah dalam rangka
berdakwah. 'Jika tidak bisa berbicara yang baik, diamlah!',
Secara verbal dalam dakwah harus
memperhatikan unsur-unsur yang oleh Astrid dikelompokan dalam Pengirim pesan,
penerima pesan, pesan serta sarana pengiriman pesan. Teori komunikasi oleh
Astrid ini apabila diintegrasikan dengan aspek-aspek yang perlu diperhatikan
dalam penyampaian dakwah diatas, akan klop. Memang tidak mudah untuk
mengkombinasikan elemen diatas. Karena itu, guna menekuni bidang dakwah secara
profesional perlu keseriusan. Bagaimanapun bidang yang satu ini juga menuntut
adanya kespesialisasian.
Meskipun demikian tidak berarti bahwa
tanpa ketrampilan tersebut lantas kita harus berhenti berdakwah.
Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bahwa berdakwah tidak harus secara
lisan, dimuka publik, dalam forum pengajian atau seminar keagamaan.
Berbuat suatu kebaikan yang dilandasi ikhlas tidak kalah penting peranannya
dibanding dakwah lisan itu. Dakwah yang komprehensif adalah yang melibatkan
komunikasi verbal, yang diikuti dengan tindakan, disamping tentu saja adanya
niat. Akan tetapi perlu juga langkah evaluasi guna mengukur titik kelemahan kita
dalam dakwah. Evaluasi ini besar peranannya, agar dakwah dimasa mendatang bisa
lebih efektif dan efisien, mengarah pada titik tujuan dakwah. Jika faktor-faktor
tersebut tidak mendapatkan porsi yang cukup, maka dakwah hanya sekedar istilah.
Shardy@emirates.net.ae