Rina sebut saja begitu. Siswi sebuah Madrasah Aliyah di Bogor. Penampilannya
modis banget. Kalo ke sekolah, seperti kebanyakan teman yang lainnya, pake kerudung.
Tapi model kerudungnya, kira-kira mirip dengan yang dipake sama Mbak Inneke
Koesherawaty dan Teh Desy Ratnasari.
Model kerudung itu dibuat ngepas dan ketat pada bagian leher. Model yang dipake
sama Mbak Inneke sebagian kain kerudung yang harusnya menutup bagian dada dan
punggung malah dimasukkin ke baju. Modelnya Teh Desy lain lagi, ujung-ujung
kain penutup kepala itu yang seharusnya menutupi bagian dada malah ditarik ke
atas dan dilipat ke bagian belakang leher lalu diikat. Kesannya memang jadi
lucu. Itulah yang disebut sebagai kudung gaul.
Kontan aja, tren itu diikuti banyak remaja, termasuk ibu-ibu yang kudu merasa
tampil modis dan trendi juga sekaligus ‘mahabbah’ kepada seleb (idih,
emangnnya ulama pake acara mahabbah segala?). Nah, karena dipromosikan sama
artis, jadinya cepet nyebar tren kudung gaul ini. Buktinya, diamalkan juga oleh
teman kita Rina. Bahkan “Rina-Rina” yang lain aktif juga mengenakan
kudung gaul tersebut.
Bagi mereka yang merasa kudu tampil modis dan trendi, tren ini jadi semacam
bentuk penyaluran dari seleranya. Maksudnya pengen mengenakan simbol islami,
tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang ‘in’ saat ini.
Akibatnya, dalam masalah kerudung aja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri.
Sobat muda muslim. Sebenarnya sih kita bahagia dengan mulai tumbuhnya dalam
diri temen-temen remaja puteri semacam kerinduan untuk tampil dengan simbol-simbol
Islam. Jujur saja, itu udah merupakan prestasi tersendiri bagi yang bersangkutan.
Maklum, jaman sekarang banyak kaum muslimin yang mulai berani mencampakkan nilai-nilai
Islam. Rasanya sulit menemukan orang yang mau bener-bener menegakkan nilai dan
ajaran Islam. Hanya saja, buat temen-temen yang masih begini, perlu bimbingan
lanjut supaya nggak salah arah.
Termasuk dalam tren kudung gaul ini. Di mana-mana memang marak. Satu sisi,
untuk kelas orang awam bolehlah berbangga diri. Tapi inget lho, yang seperti
itu bisa bikin blunder. Tahu blunder kan? (jangan sampe ketuker dengen blender
ya?) Coba, betapa ngerinya kalo itu kemudian bikin repot sendiri, layaknya orang
yang melakukan blunder dalam permainan sepakbola. Maksud hati menghalau bola
keluar lapangan, eh, ndak tahunya bola malah nemplok di kaki lawan. Karuan aja,
bikin lawan mudah untuk menceploskan ke gawang kita sendiri. Eh, hubungannya
dengan kudung gaul apa neh?
Begini sobat. Saat ini mungkin kamu belum menyadari akibatnya. Tapi suatu saat
nanti, yang beginian bakalan bikin repot, lho. Why? Because, maraknya temen-temen
remaja puteri yang mengenakan kudung gaul ini, justru karena ketidak-tahuannya
tentang aturan Islam dalam masalah ini (juga ada yang ngak mau tahu tuh). Adakalanya
temen-temen itu ikut-ikutan doang. Sebab, pemahaman Islamnya masih belum mapan.
Maka, maraknya kudung gaul ini justru akan semakin memberikan citra buruk buat
kaum muslimin. Karena, mereka udah merasa seneng ber-Islam tapi cuma mengandalkan
modal semangat. Sementara ilmunya, maaf-maaf aja, masih perlu perbaikan. Itulah
kenapa kita bilang berpotensi untuk jadi blunder buat Islam dan kaum muslimin.
Begitcu...
Pilih syariat atau mode?
Nah, dalam masalah kudung gaul ini, kalo dilihat dengan jernih, sebenarnya yang
ditonjolkan dari pemakainya adalah aturan modenya ketimbang aturan dalam ajaran
Islam. Apalagi diperparah dengan salah mendefinisikan istilah jilbab dan kerudung.
Ada yang nggak bisa ngebedain, malah kebalik-balik. Puguh aja, ini bikin kita
yakin kalo emang banyak temen kita nyang kagak paham soal ini.
Lihat aja di sekolah-sekolah berbasis agama sekalipun, ternyata pihak sekolah
tidak mewajibkan mengenakan jilbab bagi para siswinya. Yang boleh adalah cukup
mengenakan kerudung, karena katanya itulah jilbab. Lho kok?
Iya, banyak di antara kita suka kebalik-balik dalam membedakan antara kerudung
dengan jilbab. Ada yang bilang, kerudung malah disebut jilbab. Padahal, kerudung
ya, kerudung, alias penutup kepala. Sementara jilbab adalah pakaian longgar
semacam jubah. Nah, itu aturan syariatnya. Firman Allah Swt.: Hai Nabi katakanlah
kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka".
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (TQS.
al-Ahzab [33]: 59).
Kita coba ngasih penjelasan sedikit. Moga-moga aja kamu pada paham ya? Jilbab
bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak
tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian
(tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth
dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr
(lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung
atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya
baju kurung.
Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam
kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain
panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah
(baju kurung). Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika
membedakan antara jilbab dan kerudung.
Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai
syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika
keluar rumah. Di dalam rumah gimana? Emang sih nggak wajib, tapi ketika nemuin
orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kamu
or keluarga kamu, ya, wajib pake.
Sobat muda muslim, kita ‘cerewet’ begini bukan ngiri or nggak suka
sama kamu. Tapi justru sebagai bentuk kepedulian. Tentu karena sayang sama kamu.
Supaya ketika kamu berbuat patokannya adalah syariat Islam, bukan mode atawa
selera kamu semata.
Islam nggak sekadar simbol lho...
Memang sih, mengenakan simbol-simbol bisa dengan mudah kita mengenali siapa
orang tersebut. Simbol itu bisa berupa busana atau aksesoris lainnya. Busana,
menurut Kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku,
dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok,
atau golongan lain. Kalo ada orang yang pake tanda “salib”, kamu
udah langsung bisa nebak, kalo orang tersebut agamanya Nasrani. Begitu juga
ketika kamu ngelihat di televisi ada orang yang pake topi yarmelke, kamu bisa
langsung menyimpulkan kalo orang itu adalah Yahudi. Begitupun ketika kamu menyaksikan
ada orang yang pake baju koko, sarung, berpeci, dan masuk mesjid, segera saja
kamu menyimpulkan kalo orang itu adalah muslim. Paling nggak ini sebagai identifikasi
awal. Dan tentunya simbol-simbol itu udah disepakati bersama.
Bagi teman remaja puteri yang mengenakan jilbab dan kerudung, tentunya itu
adalah bagian dari simbol Islam. Dan jelas itu membedakan dengan golongan lain.
Kita udah memposisikan diri siapa kita. Sebab, busana juga bisa sebagai sarana
untuk menyampaikan pesan. Minimal, siapa kita. Tul nggak?
Terus, busana juga bisa mengendalikan perilaku, lho. Betul banget. Sebab, ketika
kamu pake sarung dan baju koko, maka pantesnya kamu menjaga tingkah lakumu.
Jadi kalo pas penampilan kamu begitu, pastinya kudu malu dong kalo kamu main
gaple or joget dangdutan di pesta kawinan tetangga kamu. Termasuk teman remaja
puteri bisa menjaga diri. Nggak pantes rasanya kalo udah pake jilbab, tapi ngomongnya
sering nyakitin ati teman kamu.
Lalu, busana juga ternyata bisa berfungsi emosional. Jaman kampanye pemilu
dulu, ketika kamu pake kaos partai pujaan kamu, kamu bangga banget. Ketika konvoi
bareng satu kelompok dengan kaos yang sama, terasa lebih terlibat secara emosi.
Begitupun ketika kamu tampil dengan kostum bak pejuang intifadha, rasanya seperti
sedang berada di medan tempur melawan Israel. Jadi jelas busana dan aksesoris
itu bisa berfungsi sebagai emosi.
Busana muslimah, jilbab, adalah juga simbol identitas. Simbol pembeda antara
yang benar dan salah. Memakai busana muslimah sekaligus merupakan simbol mental
baja pemakainya. Gimana nggak, dalam kondisi masyarakat yang rusak binti amburadul
ini masih ada orang yang berani tampil dan bangga dengan jilbab. Maklum saja,
jaman sekarang ini jaman amburadul, utamanya kaum wanita dalam soal busana.
Nggak abis pikir memang.
Padahal pabrik tekstil banyak, tapi aneh bin ajaib para wanita lebih seneng
berpakaian irit bahan. Termasuk yang rada kacau adalah tren kudung gaul ini.
Mereka masih malu untuk menyampaikan pesan Islam yang tegas dan benar. Masih
percaya mode ketimbang syariat. Barangkali cukup merasa sudah ber-Islam meski
dengan simbolnya yang ‘minim’ itu. Walah?
Seharusnya, di tengah kondisi masyarakat yang memuja kebebasan, di dalam arena
kehidupan yang kusut bin suram ini pemakai busana muslimah adalah orang-orang
yang bersemangat pantang menyerah. Ia tak gentar melawan kemunafikan, mereka
tak takut melawan arus, berani tampil beda dalam kebenaran. Inilah jilbab. Inilah
identitas muslimah. Inilah perjuangan mereka melawan hegemoni budaya tak beradab.
Dan jilbab menggelorakan emosi: emosi membela Islam, umat, dan dakwahnya. Maka
sungguh aneh apabila wanita berjilbab tidak marah kepada Israel, Amerika dan
sekutu-sekutunya yang doyan menghancurkan Islam. Sungguh hueran pula, bila ada
wanita berjilbab yang tidak sedih saat membaca berita penderitaan saudaranya
di Afghanistan, Poso, dan Ambon. Juga sebaliknya, sungguh tragis ada jilbaber
kok sempet-sempetnya histeris nonton Soneta, eh, Coldplay
manggung.
Saudaraku, seharusnya, jadikan citra jilbab dalam perspesi sosial umum sebagai
kebaikan; sopan, ramah, kalem, tahu agama, alim dan sebagainya. Jadi, seperti
kata Kefgen dan Touchie-Specht, bahwa busana adalah “menyampaikan pesan”.
Kamu menerima pesan di balik busana orang, kemudian merespon sesuai persepsi
sosial kamu.
Nggak usah setengah-setengah
Benar, nggak usah ragu untuk melaksanakan ajaran Islam. Buat kamu yang masih
betah berkerudung gaul, udah saatnya deh tampil lebih sempurna, yakni sesuai
syariat Islam; pake jilbab plus kerudungnya. Inget ya, jangan kudung gaul. Sebab,
malah bikin citra negatif tentang Islam. Lagipula, Islam tak sekadar simbol—apalagi
simbolnya nggak sempurna, tapi Islam adalah ajaran yang kudu diterapkan dalam
ucapan dan perbuatan pemeluknya. Sesempurna mungkin. Firman Allah Swt.: "Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya
(totalitas), (TQS al-Baqarah [2]: 208)
Sekali lagi buat teman remaja puteri jangan setengah-setengah deh kalo mau
melaksanakan ajaran Islam, khususnya dalam masalah busana muslimah ini. Insya
Allah kita yakin sama kamu, bahwa kamu bisa membedakan mana yang salah dan mana
yang bener. Sebab, kalo dikasih tahu tentang kesalahan biasanya ngaku. Jujur
gitu lho. Tapi, biasanya rada susah kalo kudu mengubah kebiasaan. ‘Mitos’
bahwa teori lebih gampang ketimbang praktik jadi bener-bener ada. Bagi sebagian
orang memang begitu kendalanya. Nah, kalo itu masalahnya, berarti kamu butuh
untuk mengubah kebiasaan kamu. Caranya, kamu kudu berani tampil beda. Dalam
kebaikan tentu ya? Nggak usah malu. Buang jauh-jauh rasa malu. Juga, coba gabung
en gaul dengan teman-teman yang udah sempurna mengenakan busana muslimahnya.
Biar mantep.
Asal sabar, insya Allah kamu mampu untuk melepaskan kudung gaulmu,
dan mengenakan busana muslimah sesuai syariat; jilbab dan kerudungnya. Dan jangan
lupa, senantiasa punya semangat untuk mengkaji Islam. Insya Allah, bersama Islam
kita raih kemenangan ?
_______________________________________
Edisi 120/Tahun ke-3 (21 Oktober 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke studia@dudung.net
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com