Operasi narkoba yang dilancarkan Polda Metro Jaya antara 9-23 Februari 2002
berhasil menangkap 155 tersangka dengan barang bukti 56.060 gram ganja, 1.914,25
gram heroin, 3.489 butir ekstasi, 61,9 gram sabu-sabu dan 352 butir obat golongan
IV. Demikian dikatakan Kepala Satuan Reserse Narkotika Polda Metro Jaya AKBP
Carlo B Tewu (Warta Kota, 26 Februari 2002)
Hmm... ini adalah operasi yang kesekian kalinya dilakukan aparat kepolisian
sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi anehnya, semakin banyak operasi, kok malah
kian banyak aja yang make. Artinya kayak nggak ada abisnya, gitu lho. Narkoba
tetap merajalela. Korbannya pun udah nggak keitung jumlahnya. Karena sampe sekarang
aja kasusnya ibarat kasus “abadi”. Nggak kelar-kelar. Udah gitu membawa
petaka lagi. Wuah, narkoba bener-bener bikin repot semua orang.
Oya, ada yang belum gaul dengan istilah narkoba nggak? Oke deh, kita coba jelasin
lagi, semoga yang udah tahu kagak bete apalagi sewot. Sobat muda, narkoba adalah
singkatan dari Narkotika, Alkohol, dan Obat-obatan Berbahaya. Selain itu ada
istilah lain yang mempunyai makna sama, yaitu: NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif),
atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Istilah NAPZA lebih tepat
karena di dalam singkatan tersebut terdapat psikotropika, obat yang biasanya
digunakan untuk gangguan kesehatan jiwa.
Narkoba pada awalnya adalah sejenis obat-obatan tertentu yang digunakan oleh
dunia kedokteran. Biasanya untuk terapi penyakit, misalnya untuk menghilangkan
rasa nyeri. Namun pada perkembangannya obat-obatan itu disalahgunakan (abuse)
sehingga menimbulkan ketergantungan (adiksi).
Sobat muda muslim, bicara soal narkoba adalah bicara tentang nasib masa depan
anak muda negeri ini. Gimana nggak, lebih dari 80 persen korbannya adalah remaja.
Khususnya adalah remaja muslim. Nah lho. Gaswat bener kan? Sebab kalo dibiarin
aja bisa tambah ruwet dan berbelit-belit. Tapi inilah kenyataan yang kudu kita
hadapi bersama. Dan tentunya kenyataan yang begitu pahit. Karena, banyak teman
remaja yang “ahlul boat” kayaknya udah rada sulit untuk bisa dijadikan
sebagai pewaris kehidupan masa depan. Tragisnya lagi, nggak sedikit yang akhirnya
keburu “pensiun” dari dunia ini setelah mereka OD (over dosis) mengkonsumsi
boat.
Kenapa jadi junkies?
Sebut saja Rudi, cowok kutilang (kurus tinggi langsing) ini mengaku sebagai
junkies gara-gara frustasi masalah keluarga. Nggak tahan, akhirnya nyobain make
narkoba. Itu pun setelah diajak teman sekelasnya. Sejak saat itu, Rudi selalu
pake karena emang ketagihan. Rudi, mungkin tipe anak laki yang nggak bisa menghadapi
kenyataan hidup. Ia gamang melihat kehidupan ortunya nggak harmonis, akhirnya
milih menggunakan narkoba untuk menghilang-kan kekecewaannya. Meski akhirnya
bikin kecewa semua orang, karena jadi junkies.
Bagi orang model begini, apapun masalah yang dihadapinya seringkali lari ke
boat (drugs). Karena emang boleh dibilang punya “kepribadian” drugs
(drugs personality), yaitu orang yang gampang putus asa, nggak tahan konflik
(misalnya, nggak berani bilang “nggak” terhadap teman, atau nggak
bisa keluar dari masalah), terus nggak tahan stres, dan semua yang bersumber
pada kelemah-an dirinya. Pendek kata, mereka gampang frus-trasi. Walah? Hati-hati.
Sobat muda muslim, pengaruh teman sebaya emang amat besar. Itu sebabnya banyak
juga yang make boat gara-gara ditawari temannya yang kebetulan badung bin nakal.
Celakanya, ada juga tipe anak yang nggak bisa bilang “nggak” sama
temennya itu. Jadi deh langsung nyetel alias ngikutin kemauan sang teman. Wuah,
ini bahaya banget. Dan terus terang aja, model teman kamu yang seperti ini amat
mudah dijumpai, karena emang banyak.
Sebetulnya, dari banyak kasus yang sering dijadiin alasan bahwa dirinya jadi
junkies adalah alasan yang sepele banget. Cuma, karena kebetulan temen kita
yang labil ini salah gaul, ditambah keimanannya “blong”, maka nggak
heran kalo akhirnya jadi nyandu boat. Padahal, bahaya bagi dirinya sedang mengintai.
Jangan sampe deh.
Sekali coba “error”
Kamu memang pantas takut dan jangan bergaul dengan narkoba. Karena seperti
kata iklan, “sekali dicoba, narkoba langsung disuka”. Narkoba mampu
membuatmu ketagihan alias sakaw dan menjadikanmu seorang junkies (pecandu) yang
menghamba luar dalam kepada narkoba. Sekalipun kamu harus tersiksa saat sakauw,
tapi kamu tetap membutuhkannya, meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Hih,
syerem!
Selain menguras uang, narkoba adalah zat yang amat beracun bagi tubuhmu. Banyak
efek berbahaya yang terdapat pada narkoba, diantaranya;
- Secara umum, peng-guna narkoba akan menjadi kehilangan kepercayaan diri,
lemah, dan bloon.
- Para pengguna ekstasi dan kokain akan mengalami perubahan tingkah laku yang
menjurus ke arah paranoid dan antisosial sebagai akibat rusaknya sel-sel syaraf
otak. Akibatnya mereka dapat dengan mudah untuk melakukan tindak kriminal.
- Penggunaan zat adiktif juga mengakibatkan gangguan konsentrasi belajar.
- Heroin atau putauw juga dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan
narkotik dapat menekan pusat pernafasan yang terletak di batang otak (depresi
pusat pernafasan), pembengkakan (edema) paru-paru secara akut atau karena
terjadi reaksi yang fatal (syok-anafilaktik). Heroin juga memiliki daya ketagihan
yang tinggi (adiksi) sehingga si pengguna harus menambah dosis agar mereka
memperoleh euphoria yang diharapkan.
- Selain memberikan good tripping (rasa menyenangkan), ekstasi juga memberikan
bad tripping. Seorang pengguna yang sedang tripping bisa mengalami halusinasi
untuk membunuh orang, atau bunuh diri seperti meloncat dari gedung tingkat
tinggi karena terhalusinasi ada kolam renang di bawahnya.
- Ekstasi dapat menyem-pitkan pembuluh darah perifer (vasocinsyrici perifer),
membuat peng-guna merasa kedinginan, kesemutan; untuk itu ia harus menggoyangkan
tubuhnya (tripping), juga karena vasoconstricsi tersebut si pengguna tidak
mungkin bisa ereksi.
- Di luar negeri tingkat kecelakaan lalu lintas akibat mengkonsumsi ekstasi
ternyata telah meningkat.
- Cimeng bisa bikin paru-paru jebol. Berbagai penyakit paru-paru, dari yang
ringan sampe yang berat, seperti asthma, bronkhitis kronis, dan kanker paru-paru,
secara berurutan atau seka-ligus, akan menyerang tubuh. Repotnya, tanda-tandanya
sering nggak disadari.
Nah, lho. Kamu jangan coba-coba bergaul dengan narkoba. Bisa berabe. Uang melayang,
badan ringsek. Pokoknya “error” berat deh. Kalo pun mau, ya “narkoba”
yang lain aja, yakni, nasi, roti, kopi, dan bala-bala....
Barang haram
Mungkin saja, teman-teman kamu yang terlibat narkoba ada yang nggak ngeh kalo
ternyata barang tersebut adalah termasuk daftar barang haram dalam pandangan
Islam. Soalnya, banyak juga temen-teman kamu yang ngakunya muslim, tapi terlibat
dalam kasus ini. Jelas, bahwa beliau tidak ngerti dan nggak paham seputar barang
tersebut. Soalnya, bisa jadi informasi seputar narkoba dalam pandangan Islam
belum menyentuhnya. Kemu-dian yang paling parah adalah, lingkungan tempat kawan-kawan
kita bergaul amburadul. Jadinya klop.
Itu sebabnya, perlu diberi penjelasan bahwa narkoba itu, apa pun jenisnya;
dari mulai ganja alias cimeng, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu, putauw dan
saudara-saudaranya itu adalah barang haram. Sabda Rasulullah saw: “Segala
yang menga-caukan akal dan mema-bukkan adalah haram” (HR. Imam
Abu Daud).
Syeikh Ibnu Taimi-yah sebagaimana yang dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqh as-Sunah,
menyatakan bahwa ha-dis tersebut mencakup segala benda yang merusakkan akal
tanpa membeda-bedakan jenis dan tanpa terikat cara pemakaiannya, baik di-makan,
diminum, di-hisap, disuntik dan sebagainya. Maka ben-da-benda yang merusak akal
tersebut, termasuk putauw, ekstasi dan sejenisnya dari anggota narkoba, jelas
terkategori haram. Dan sebagai-mana pedoman Islam setiap pelaku perbuatan haram
akan diganjar dengan hukuman.
Bagaimana dengan para penjualnya? Adalah hal yang menggelikan bila sekarang
ini hanya dikenakan sanksi bagi para pemakai tapi membiarkan penjualnya berkeliaran
dengan bebas. Dalam hal ini terdapat kaidah umum dari para ulama: “Apa
saja yang diharamkan, maka diharamkan pula dijualbelikannya”. Kaidah ini
berlandaskan kepada hadis Rasulullah saw dari Ibnu Abi Syuaibah: “Jika
Allah mengharamkan sesuatu, maka haram pula harganya (yang diperoleh dari benda
tersebut).
Sadar diri
Cukuplah ini memberikan gambaran yang jelas buat kita semua, bahwa jangan berani
coba-coba akrab dengan narkoba. Kalo udah jadi junkies, pengobatannya aja nggak
cukup ratusan ribu rupiah, bisa jadi malah jutaan. Ambil contoh metode akupuntur.
Biaya yang biasa diperlukan untuk terapi ini di Jakarta bervariasi dari 20 ribu
sampai 75 ribu rupiah per pertemuan. Bahkan ada yang harus berobat sampe 20
kali pertemuan (HAI, No 6 Tahun 25). Belum lagi harga obat lainnya. Untuk menghantam
pengaruh morfin di dalam tubuh penderita, ada yang harus minum obat rata-rata
10-12 butir per hari. Harga obatnya sendiri mencapai 1,5 juta sampe 2 juta perak
per 50 butir. Maklum obat impor. Walah? Naudzubillahi min dzalik!
Terakhir, kita tetep meminta bapak-bapak aparat dan pejabat untuk menyelesaikan
kasus ini. Sebab, tanpa peran aktif penguasa, rasanya boleh dbilang bakalan
kurang “gereget’ deh. Jadinya percuma aja BIP jadi Duta Anti Narkoba
RCTI, yang sering gembar-gembor, “Aku gemuk lagi…” Iya nggak?
Sobat muda muslim, narkoba emang “nikmat” membawa sengsara. Wuah,
keluar duit gede, badan rusak, dosa lagi. Apa yang mau diharapkan? Jadi, jangan
coba-coba deh! Dan, tentu jangan sampe salah gaul dong.
____________________________
Edisi 088/Tahun ke-3 (11 Maret 2002)
Untuk berlangganan kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com