Kalo kamu membaca majalah Hai edisi 4-10 Maret 2002 lalu, kayaknya bakalan
dibikin kaget deh. Bukan apa-apa, edisi "bermasalah" dari majalah
remaja pria ini banyak diprotes. Majalah berpengaruh di kalangan remaja pria
kota-kota besar ini mengangkat laporan utama soal seks di luar nikah. Pengelolanya
mungkin berhasrat menyajikan pendidikan seks bagi pembaca muda. Namun, alih-alih
mendorong remaja untuk menjauhi seks bebas, majalah ini justru membangun citra
bahwa aktivitas seks di luar nikah adalah bagian yang sah, exciting (yang mengasyikan),
dan normal. Wah?
Kecaman terhadap majalah Hai terasa banget kalo kamu juga menyimak diskusi-diskusi
di beberapa mailing list di internet. Karena banyaknya kecaman tersebut, pengelola
Hai memutuskan untuk tidak menampilkan artikel-artikel tersebut di edisi online-nya.
Tapi ya, kalo edisi cetaknya udah nyebar kemana-mana. Mungkin di antara kamu
ada yang udah baca juga. Gimana, parah kan?
Sobat muda muslim, pendidikan seks yang diajarkan majalah Hai
di edisi tersebut benar-benar bikin kita-kita senewen. Bahkan terkesan hendak
meracuni kita. Gimana nggak, dalam beberapa bagian, memang disajikan keluhan dan
derita akibat hubungan seks di luar nikah. Ada masalah aborsi, kehamilan remaja,
bahaya penyakit kelamin, menjadi orangtua tunggal, dan sebagainya. Tapi,
sebaliknya Hai juga tak mengajarkan pembacanya menjauhi seks. Menurut catatan
Mas Ade Armando di harian Republika pada 16 Maret 2002, pesan utama edisi itu
tampaknya adalah, ''Kalau melakukan hubungan seks, berhati-hatilah.'' Sebagai
contoh, Hai menulis, ''Premarital seks sebaiknya jangan dilakuin. Bukan apa-apa,
risikonya berat. Tapi, kalau udah nggak tahan lagi dan nekat, ya terserah.''
Wuah, kacau banget kan?
Seperti biasa, untuk seolah-olah menjustifikasi apa yang ingin
disampaikannya, Hai menurunkan laporan investigasinya. Berisi pengakuan tiga
artis muda Jakarta. Pengantarnya begini, ''Making love bagi sebagian orang
memang menjadi bumbu penyedap dalam pacaran. Meski begitu, nggak berarti jadi
keharusan. Lebih bagus kalo kita melakukannya saat benar-benar sudah siap dan
berani bertanggung jawab. Artinya, tau apa akibat yang akan ditimbulkan. Dan
terutama, do it safely.''
Wah, wah, wah, ini gimana urusannya? Nggak dikomporin aja
teman-teman remaja banyak yang udah nekat ngelakuin, gimana kalo dikomporin
(baca: dianggap wajar). Bener-bener kacau bin parah. Itu artinya, Hai lewat
artikelnya itu tidak menganggap salah hubungan seks di luar pernikahan. Ketiga
artis yang diwawancara--Mario Lawalata, Shirley Margareta, dan Tomas ''Gigi''--
jelas lebih menekankan aspek kehati-hatian seks. Berzina bolehlah, yang penting
hati-hati. Naudzubillah min dzalik!
Parahnya lagi, Hai juga menunjukkan betapa normalnya perilaku
seks bebas di kalangan remaja. Buktinya, Hai menurunkan hasil wawancara dengan
delapan remaja usia 16-20 tahun. Hampir semua mengaku senang berhubungan seks,
yang mereka gambarkan sebagai kegiatan yang ''menyenangkan, membuat ketagihan,
dilakukan suka-sama-suka''. Wah, wah, wah… Selain itu, Hai juga menurunkan kuis.
Salah satu pertanyaannya adalah ''apa yang akan kamu lakukan bila cewek kamu
bilang pengen nyobain intercourse''. Alternatif jawabannya adalah (A) mau
ngasih, tapi bilang dulu, risikonya kamu yang tanggung ya; (B) Wuih mau mau,
tapi nanti kalau kenapa-kenapa gimana?; dan (C) Nasehatin dia kalau itu
berbahaya. Tapi, kalau dia maksa juga, ya hayo. Naudzubillahi min dzalik!
Sobat muda muslim, ini emang keterlaluan banget. Tren mengajak maksiat makin
berani dilakukan berbagai kalangan, termasuk oleh majalah Hai. Yup, emang bukan
cuma Hai yang brengsek. Semua media yang mengusung dan mengajak kepada kemaksiatan
juga amburadul.
Membahayakan
Pepatah lama menyebutkan, kalo takut dilebur ombak, jangan berumah di tepi
pantai. Kalo takut kebakar, jangan coba-coba main api. Nah, begitu pula kalo
kita nggak mau kecebur pergaulan bebas, jangan deket-deket dengan pemicunya.
Salah satunya, jangan deketin bacaan-bacaan atawa tontonan yang merangsang nafsu
seks kamu. Berbahaya.
Tapi celakanya, justru kini semua media mengepung kita dan seolah memaksa kita
untuk menikmati suguhan mereka yang beracun itu. Kalo kita menolak pun, mereka
tetap 'ngotot' dengan segala macam cara. Karena tujuan utamanya adalah menciptakan
kondisi tersebut.
Nah, Hai adalah contoh kasus dan saat ini jadi "sasaran empuk" berbagai
kalangan-termasuk Studia tentunya--untuk mengecam majalah remaja pria ini. Abisnya,
ini benar-benar membahayakan pembacanya. Apalagi kalo dilihat profil pembaca
Hai ini kan rata-rata remaja ibukota, dengan pendidikan agama yang minim, dan
jauh dari perhatian ortu. Paling nggak, Hai udah ngajak mereka mencari jalan
hidup sendiri, khususnya yang berkaitan dengan "petualangan seks".
Waduh! 9 9
Sobat muda muslim, perkembangan ini memang amat memprihatinkan. Terus terang
saja, ini semakin menambah daftar panjang noda hitam bagi perkembangan kepribadian
remaja negeri ini. Sebab, selama ini pun televisi getol banget menayangkan program
acara yang bikin otak pemirsanya jadi piktor alias pikiran kotor. Mikirnya ke
"situ" melulu. Tahu kan apa yang kita maksud? Ehm… Tahu aja deh!
:
Akibatnya nggak usah heran pula, kalo remaja di kota-kota besar makin berani
berhubungan seks. Salah satu penyebabnya adalah media yang mereka baca dan tonton
bukan saja merangsang aktivitas seksual, namun juga memberi pembenaran bahwa
''berzina tidak salah dan lazim dilakukan banyak remaja lainnya''. Wuah?
Kita seharusnya amat bisa memahami bahwa media massa adalah alat yang amat
ampuh untuk menyampaikan beragam ide. Kalo itu ide baik, tentu amat bermanfaat.
Celakanya, kalo itu kejadian seperti kasus majalah Hai ini. Media massa berubah
jadi "setan besar" pencipta dan penyebar globalisasi kesesatan.
Sobat muda muslim, kondisi ini terasa kian berat bagi kita. Sebab, setiap tarikan
napas kita sudah bercampur debu kemaksiatan. Mau nonton televisi, tayangan yang
banyak muncul justru yang "gersang" alias "seger" merangsang.
Mau baca tabloid, majalah, koran, juga kita rasanya pengen muntah karena disuguhi
menu yang "itu-itu" aja. Utamanya kini marak tabloid dan majalah "esek-esek".
Nyaris nggak ada pilihan bagi kita. Wah, karena semuanya begitu, maka jangan
salahkan pembaca dan pemirsa 100 persen, bila kemudian mereka berperilaku bejat.
Para pengelola acara televisi dan pengelola bisnis majalah, koran, dan juga
tabloid kudu bertanggung jawab juga dong. Kenapa? Karena mereka telah menyediakan
tempat yang amat berbahaya bagi perkembangan kepribadian pembaca dan pemirsanya.
Media massa emang "agen perubah".
Jadi begitulah, saat ini remaja pria Indonesia terus dibombardir dengan rangsangan
seks yang disertai pembenaran bahwa seks di masa remaja di luar nikah adalah
''asyik, mengikuti zaman, normal, serta dilakukan banyak artis dan anak muda
kota''.
Jangan sampe deh, Allah mengazab kita semua, karena kita udah menganggap wajar
perbuatan zina. Rasulullah saw. bersabda: "Apabila zina dan riba telah
merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan
dirinya untuk menerima azab Allah." (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu
Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132).
Pendidikan seks, yang bagaimana?
Kalo model pendidikan seks yang diajarkan majalah Hai dan juga konco-konco seperjuangannya,
maka jelas itu adalah sebuah kesalahan. Bukan hanya salah, tapi malah memberikan
kesempatan kepada pembacanya untuk berbuat maksiat. Itu artinya menjerumuskan
orang kepada dosa dan kesesatan. Wah, bener-bener ngaco deh.
Oya, kayaknya perlu kita pahami dulu, bahwa Hai, dan juga majalah remaja lainnya,
adalah produk dari sebuah sistem kehidupan yang ada saat ini, yakni kapitalisme.
Do you know capitalism? Yes, kapitalisme adalah sistem kehidupan untuk mengatur
manusia berdasarkan "akidah" pemisahan agama dari kehidupan. Artinya,
kalo mau ngurus kehidupan manusia, jauhkan agama sejauh-jauhnya. Alasannya,
karena agama dituding sebagai penghalang kebebasan manusia. Bahkan mereka menuduh
agama biang perpecahan di antara umat manusia. Padahal, justru model kehidupan
yang diajarkan oleh kapitalismelah yang telah memberikan ruang yang besar untuk
kehancuran umat manusia. Kenapa? Sebab dalam kapitalisme diajarkan kebebasan
dan asas manfaat. Kalo itu bermanfaat, kalo itu bisa menguntungkan secara materi,
maka sah-sah saja untuk dilakukan. Meski hal itu adalah perbuatan yang terlarang
dalam pandangan agama.
Nah, ngomong-ngomong tentang pendidikan seks ini, sebetulnya yang kayak gimana
sih yang kudu diajarkan itu? Soalnya, biar nggak distorsi. Biar jelas gitu lho.
Singkatnya begini, Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip dasar tentang pendidikan
seks, khususnya melalui institusi keluarga. Meski tidak secara langsung dan
vulgar tentunya. Misalnya, anak laki dan anak perempuan kalo tidur udah mulai
dipisahkan tempatnya. Sejak kecil pula dibiasakan untuk mengenali batasan auratnya.
Misalnya, bila "bidadari" kecil ini akan diajak keluar rumah, pastikan
disediakan busana muslimah untuknya. Itu akan membekas banget. Kalo ibunya udah
nyiapin baju itu, maka pasti ia akan diajak keluar rumah. Hal itu dilakukan
terus menerus. Nah, gedean dikit, yakni ketika udah bisa membedakan mana yang
salah dan mana yang benar, ortu harus memasukkan konsep-konsep tentang aurat.
Supaya lebih mantap. Firman Allah Swt.:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. (TQS an-Nûr [24]: 31)
Setelah usianya bertambah, kenalkan juga hubungan antara laki-laki dan wanita.
Misalnya, biasakan mereka hidup terpisah satu sama lain. Tidak campur-baur dan
bebas bergaul dengan lawan jenis tersebut.
Kedekatan ibu dengan anak perempuannya juga akan menolong anak-anak mengerti
tentang dirinya. Sebab, ketika anak mulai beranjak remaja, maka ibu kudu bener-bener
telaten memperhatikan perkembangannya. Dalam acara "curhat" antar
mereka bisa saja sang ibu memberikan pengalamannya sebagai wanita. Bahwa wanita
itu bisa mengalami haid, hamil, melahirkan, bahkan menyusui anak. Pola hubungan
sebab-akibat yang terjadi di antara fase-fase itu juga bisa disampaikan, meski
tetap dengan bahasa yang sopan. Anak laki juga demikian. Ayahnya berperan juga.
Selain bacaan tentang masalah "khusus" tersebut, juga disampaikan
pandangan Islam terhadapnya. Insya Allah, hal ini akan bisa menolong remaja
dari kebingungan tentang seks. Sebab, kalo dilihat kasusnya yang terjadi sekarang,
mereka miskin bimbingan yang benar dan baik.
Peran negara
Kita menyadari bahwa kita banyak kelemahan
dan keterbatasan. Keluarga misalnya, meski setiap hari dikondisikan dengan
penanaman nilai yang benar dan baik, tapi jangan harap bisa bertahan ketika
terjun ke lingkungan yang amburadul. Yup, sebab kita nggak mungkin dikurung
terus di dalam rumah (emangnya burung?). Kita butuh sosialisasi. Namun kita juga
khawatir, bila kondisi masyarakat kita brengsek; misalnya, sekolah nggak ketat
dalam membina kita, media massa menyuguhkan kerusakan, kehidupan masyarakat yang
doyan berbuat maksiat; itu bisa membuat dinding pertahanan iman kita jebol.
Bukan mustahil tentunya kan? Ckckckck....
Itu sebabnya, kita juga menyerukan kepada bapak-bapak pejabat dan aparat kita
supaya segera membreidel media massa brengsek yang mengajak dan mengajarkan
kemaksiatan. Kalo nggak, rasanya kehancuran itu sudah kian mendekat. Jadi emang
kudu ada niat baik dan sungguh-sungguh dari pemerintah untuk menyelesaikan problem
ini.
Tapi yang pasti, bila sistem kehidupannya masih model sekarang (baca: kapitalisme),
maka dijamin nggak bakalan bisa kelar-kelar. Sebaliknya, bila yang diterapkan
adalah syariat Islam, maka apapun jenis kemaksiatan yang terjadi akan segera
dibumi-hanguskan. Tanpa ragu-ragu lagi. Pasti. Itulah okenya syariat Islam.
Jadi, tunggu apalagi? Terapkan syariat Islam!
____________________________
Edisi
090/Tahun ke-3 (25 Maret 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com