Ajang pemilihan Putri Indonesia yang digelar tiap tahun adalah arena unjuk
penampilan para putri dari berbagai daerah di tanah air. Memang supaya kesannya
tidak mululu penampilan fisik, panitia menetapkan kriteria mereka yang berhak
menjadi Putri Indonesia adalah yang berhasil menggabungkan kekuatan 3 B (brain,
beauty, and behaviour). Tapi pernyataan ini masih diragukan kok.
Kesan ingin menghilangkan imej bahwa ajang pemilihan Putri Indonesia dianggap
sebagai arena adu kecantikan semata terlihat dari peserta yang berlomba untuk
mendapatkan mahkota itu. Tercatat ada sebanyak 30 persen lulusan S2 yang ikut
serta dan bersaing meraih predikat Putri Indonesia 2003. Selebihnya adalah 50
persen sarjana, dan sisanya terdiri dari mahasiswa perguruan tinggi. Sekadar
kamu tahu aja, orang yang berhak mengenakan mahkota Putri Indonesia 2003 adalah
berpendidikan S2. Namanya pasti kamu udah tahu dong. Yup, Dian Krisna, gadis
25 tahun asal DKI yang juga karyawati programming salah satu televisi swasta.
”Pemilihan Putri Indonesia bukan arena lenggak-lenggok
dan adu kecantikan, itu sebabnya semakin mendapat dukungan pihak orang tua,”
ujar Wakil Ketua Dewan Pengurus Yayasan Putri Indonesia, Putri Kuswisnuwardhani.
(sinarharapan.co.id, 26 Juli 2003)
Kayaknya emang ada kesan pengubahan imej. Maklum saja, waktu grand final pemilihan
PI tahun 2002 lalu, ada yang ganjil dan tentu saja jadi ganjelan yang menurunkan
mutu ajang itu. Kamu pasti masih inget dong kasusnya? Hehehe.. iya, waktu itu
ada peserta yang dijajal pengetahuan politiknya. Seorang juri ajang itu, Jean
Louis Ripoche, yang juga Manajer Hotel Le Meridien, Jakarta, bertanya: apakah
peserta setuju pada chauvinisme. Sebagaimana bisa disaksikan di layar televisi
oleh jutaan pemirsa, si peserta spontan bertanya balik kepada pembawa acara
Tantowi Yahya: apa itu chauvinisme.
Ketika Tantowi menjawab balik sekenanya bahwa itu artinya nasionalisme, peserta
sambil memasang senyum dengan antusias mendekatkan mikrofon ke mulutnya, lalu
menjawab, "Ya, saya setuju sekali dengan chauvinisme." Waduh.
Mungkin kesan asal-asalan itu akan bisa dihapus dengan model
pemilihan sekarang yang menekankan kepada kualitas brain (kecerdasan)
dan juga behaviour (perilaku baik), berikutnya baru beauty (penampilan
fisik). Tapi tetep aja sih, standar-standar seperti itu nggak bisa jadi jaminan
untuk menempatkan pesertanya pada level yang benar-benar punya kepribadian oke,
apalagi kepribadian Islam. Itu mah sekadar ukuran yang dibuat sepihak dan sesuai
selera yang bikin acara.
Bahkan kenyataan di lapangan nggak bisa dipungkiri kok, mereka yang punya penampilan
fisik, khususnya wajah yang kiut yang lolos seleksi awal. Kalo yang wajahnya
ngepas banget mah, harap tahu diri deh.
Selain ajang Putri Indonesia, kita juga udah akrab dengan ajang
serupa kayak Abang-None Jakarta dan Mojang-Jajaka. Syarat utama untuk lolos
seleksi awal, ya dilihat dari wajahnya yang fotogenik dong. Pokoknya menarik
dari sudut mana pun orang melihatnya. Beda banget dengan yang ‘fotogeuneuk’,
difoto deket sumur, hasilnya malah mirip timbaan. Gubrak!
Belum lagi yang lebih luas lagi macam Miss World dan Miss Universe. Pasti deh,
ukuran penampilan fisik jadi nomor satu. Apalagi sampe saat ini, penampilan
fisik memang masih layak jual kok. Lihat aja gimana cantiknya Miss Universe
2003, Amelia Vega yang baru berusia 18 tahun asal Dominika itu. Dengan tampilan
seperti itu, menjadi bukti bahwa memang hal itu yang jadi ukuran utama dalam
pemilihan Miss Universe. Sebelumnya juga begitu kok.
Tengok deh Miss Universe 2002, Justine Pasek asal Panama (doi menggantikan
Oxana Fedorova asal Rusia yang gelarnya dicabut sebelum masa tugasnya berakhir
karena ketahuan menikah dan hamil) gimana nggak cantiknya, Miss Universe 2001,
Denise M Quinones August asal Puerto Rico juga kiut benar. Atau Miss World 2002
asal Turki, Azra Akin (22 tahun) juga cantik secara fisik tuh.
Begitulah, meski pihak peyelenggara gembar-gembor bahwa untuk
menjadi Putri Indonesia, Miss World, atau Miss Universe dan ajang sejenis tidak
hanya dinilai dari penampilan fisik, melainkan juga dari kecerdasan, tetep aja
kesan yang muncul dengan fakta seperti itu adalah menunjukkan bahwa ajang itu
sebagai adu kecantikan fisik belaka. Betul itu. (backsound: maksa amat ya?)
Apa sih untungnya?
Tentu saja bro, yang namanya lomba pasti ada keuntugan yang bisa diraih. Setidaknya,
popularitas bisa diraih. Keuntungan berikutnya, duit. Yup, siapa sih yang nggak
tergiur dengan alat tukar terhadap barang dan jasa ini?
Sekadar gambaran saja, ini ditulis oleh situs www.tokohindonesia.com.
Sebagai Putri Indonesia 2002, Imel menerima hadiah antara lain adalah rumah
dinas, mobil dinas, dan uang sejumlah Rp 25 juta. Juara lomba nyanyi Asia Bagus
1999, peraih medali emas paduan suara di Austria dan juga Miss London School
ini bertugas sebagai duta Indonesia, di antaranya di bidang pariwisata, seni
dan kebudayaan, serta kampanye antinarkoba selama setahun.
Coba, dari sekian ‘job’ yang diberikan, bisa jadi mengeruk banyak
uang. Belum lagi tawaran iklan, dan doi juga pernah menghiasai layar kaca negeri
ini sebagai presenter. Wuih, pasti banyak yang mau dong jadi PI.
Kalo jadi Miss World tentunya lebih keren lagi hadiahnya. Selain mendapatkan
gelar Miss World 2002, Akin juga menerima hadiah sebesar 100.000 poundsterling
(sekitar Rp 1,4 miliar). Oxana Fedorova waktu dinobatkan sebagai Miss Universe
2002, menerima 250.000 dollar AS (lebih dari Rp 2 miliar) dan fasilitas menghuni
sebuah apartemen mewah di New York selama setahun dan berkesempatan keliling
dunia guna menggalang dana untuk penelitian tentang penyakit AIDS.
Miss Universe 2003, Amelia Vega, gadis setinggi 183 cm yang masih duduk di
bangku sekolah menengah atas itu dapet hadiah berupa uang yang diperkirakan
70.000 dollar AS. Dia juga akan berkeliling ke sejumlah negara.
Jadi jelas untung banget kan jadi Putri Indonesia, Miss World
dan juga Miss Universe itu? Ngetop iya, tajir juga heu-euh!
Siapa lagi yang untung? Tentu pihak penyelenggara dong. Meski tidak jelas berapa
nilainya, tapi pihak penyelenggara udah bisa mengantongi duit banyak. Paling
nggak itu didapat dari para sponsor acara tersebut.
Jadi nggak usah herman, eh, heran kalo dengan kenyataan yang seperti ini masih
banyak anak cewek yang ngantri pengen kepilih di ajang adu kecantikan itu. Maklum
saja, efek samping dari memenangkan lomba itu adalah beragam kemudahan fasilitas
dan seabrek tawaran iklan. Ujungnya, duit lagi deh.
Tampil syar’i? Wajib lho…
Sobat muda muslim, orang sering ngomongin soal inner beauty. Katanya
sih, inner beauty ditunjukkan dari sikap dan perilaku. Tentu menurut
ukuran yang juga dibuat sama penyelenggara. Disebutkan bahwa inner beauty
itu sopan-santun, menghargai, berjiwa sosial tinggi, hormat dan sejenisnya.
Itu sebabnya, meskipun wajahnya cantik, tapi nggak punya
inner beauty terasa kurang lengkap. Gimana kalo yang punya inner beauty
doang, tapi tampilan fisiknya ngepas atau di bawah garis standar yang dibuat
manusia? Sejujurnya, hal itu jarang banget diakui. Sebab, kalo memang di lomba
itu diset harus punya kelebihan di inner beauty para peserta yang wajahnya
pas-pasan tapi memiliki modal perilaku dan sikap yang oke harusnya lolos juga
untuk dipilih. Kenyataannya, nggak pernah ada dalam sejarah pemilihan tersebut.
Tampil cantik sebetulnya nggak terlalu penting. Sebab, definisi kecantikan
itu sendiri seringkali relatif. Bahkan ukuran penilaian yang ditentukan juga
sesuai dengan selera masing-masing pembuatnya. Jadi, yang penting dan mendesak,
serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kudu diwujudkan adalah tampil sesuai
tuntunan syar’i. Itu wajib lho.
Why? Sebagai seorang muslim/muslimah, patokan berpikir dan berbuat
adalah aturan Islam. Itu sebabnya, segala sesuatunya kudu match dengan pedoman
yang udah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah Swt.: "Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."
(QS al-Ahzab [33]: 36)
Sobat putri, ukuran seseorang dinilai mulia dan tidaknya oleh Allah Swt. itu
bukan karena penampilan fisiknya, atau juga kecerdasannya, atau perilaku yang
cuma ingin mendapat ridho manusia. Nggak. Duh, kalo ukuran kemuliaan seseorang
dinilai dari kecantikannya, maka kamu yang kebetulan ngepas tampilan wajahnya
bisa gigit jari karena nggak kebagian jatah di surga sebagai balasan bagi orang
yang mendapat kemuliaan dari Allah. Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya orang
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(TQS
al-Hujurât [49]: 13)
Gimana sih tampil syar’i? Tentunya melaksanakan seluruh ajaran Islam
dong. Buat anak puteri, salah satunya adalah melaksanakan kewajiban menutup
aurat kalo ke keluar rumah. Lha, kalo ikut ajang pemilihan PI, Miss Wolrd, atau
Miss Universe kan justru menampakkan aurat. Tul nggak? Dan jelas nggak tampil
syar’i dong, meskipun mereka tampil cantik (backsound: kasihan deh eluh!)
?
Padahal syariat Allah tentang menutup aurat sudah jelas. Khususnya tentang
jilbab. Firman Allah Swt.: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka
mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya
mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah
adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang." (TQS. al-Ahzab
[33]: 59).
Sabda Rasulullah saw.:“Wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka
melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya bagai punuk unta yang miring, mereka
tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan keharumannya, meskipun harum
surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (HR
Muslim)
Sobat muda muslim, orang sekarang kayaknya lebih senang main-main dan hiburan
aja ya? Sebab, ajang yang mengasah intelektualitas justru nggak diselenggarakan
dengan baik, bahkan sepi dari sambutan. Maklumlah, di negeri yang menerapkan
kapitalisme, asas manfaat selalu jadi ukuran berbuat. Kalo nggak bermanfaat
secara materi dan kepentingan tertentu, nggak usah dilakukan. Mungkin sekali
acara adu kepandaian di bidang iptek emang nggak mendatangkan duit banyak, jadinya
nggak digelar. Padahal manfaatnya banyak banget lho. utamanya untuk masa depan
negeri ini.
Coba, pernah ada nggak ajang bergengsi dengan kemasan menarik tentang lomba
matematika, kimia, fisika, teknologi infromasi tingkat nasional dan publikasinya
semarak? Nol! Atau sekali-kali diadakan pemilihan remaja berprestasi dibidang
iptek tapi juga dakwahnya oke (bisik-bisik: dakwah mah harus ikhlas atuh, nggak
boleh pengen dipuji orang..hehehe).
Jadi mulai sekarang, jangan malas mengkaji Islam dan tentunya juga berdakwah.
Jangan lupa, tampil syar’i. Kita ubah kondisi ini dengan aturan Islam.
Tetep semangat euy!?