Kenal dengan Ramli? Yang suka chatting mungkin kenal
banget, karena konon Ramli ini adalah si Raja
Chatting. Sahabat sejatinya adalah sebuah komputer,
tempat ia tiap hari online dari malam sampe' pagi,
bahkan konon lupa mandi ama gosok gigi, pokoknya udah
kaya' orang semedi.
Nah, suatu hari pas chatting, Ramli 'buzz-buzz'-an ama Putri,
kenalan, eh... akhirnya Ramli bilang wo ai ni. Tambah girang, karena
dijanjiin dikirimin foto via DCC, Ramlipun senyum, tertawa, ha ha ha ... hi
hi hi ... Ramli gembira, hatinya berseri-seri. Namun, waktu nerima photo, blep...,
listriknya mati. Yaa... kesian banget si Ramli, ihik...ihik...
Akhirnya mereka janji ketemuan. Ramli duduk menanti,
tak lama Putri pun datang menepati janji. Ramli
terpana, mulutnya menganga, karena ternyata si Putri
itu adalah kekasih Ramli. Ramli si Raja Chatting
tertipu, namun ia tak jera, malam ini Ramli chatting
lagi. Ih... gak kapok ya si Ramli!
Hmm...di era yang serba komputer seperti saat ini,
chatting bisa sebagai sarana komunikasi. Bisa nulis
untaian kata indah plus menyentuh hati kepada lawan
jenis, rayuan biasa, rayuan pulau kelapa, hingga
rayuan gombal, glek !!! Demikian canggihnya, sampe
bisa kirim-kiriman photo, teleconference, webcam, dll,
namun chatting bisa juga sebagai sarana silaturahim
dan saling memberikan tausyiah.
Emang kalo gak mau dikatakan 'gatek', kudu gaul, ikut
perkembangan teknologi. Kalo diajak ngomong masalah
teknologi, kudu nyambung, daripada dibilang kuper.
Namun, waspada juga, karena kadang tanpa disadari
norma-norma pergaulan bisa sedikit demi sedikit
bergeser. Yang dulunya menundukkan pandangan kalau
berbicara langsung, kini ha ha ha ... hi hi hi ... di
ajang chatting, meski satu sama lain belum kenal.
Akhirnya, lambat laun hari-hari para netters itu
seperti Ramli, si Raja Chatting. Kagak peduli mandi
boro-boro gosok gigi, tiap hari cuma didepan layar
komputer untuk tebar pesona, kata-kata mesra, kasih
sayang dan janji untuk merenda masa depan bersama.
Amboi... uendah nian!!!
Bohong-bohongan tentang data pribadi pun jadi lumrah,
karena itu Ramli gak tau kalo Putri itu sebenarnya
kekasihnya sendiri. Uups!!! Bukan membolehkan
'kasih-kasih'-an lho, maksudnya dalam dunia chatting,
gak ada siapapun bisa menjamin dengan siapa sebenarnya
ia ber-chatting ria.
Secara fisik, chatting memang tidak membuat 2 orang
yang bukan mahram menjadi berduaan/khalwat. Karena
patokan ini, dikhawatirkan di kalangan remaja Muslim
ada yang berpendapat, "Boleh aja kan chatting, lebih
aman, daripada ketemu langsung dengan resiko
berkhalwat!" Apa iya sih?
Dalam chatting, zahirnya emang tidak ada hal-hal yang
dilanggar dalam hubungan antara laki-laki dan wanita
yang bukan mahram. Namun gak cukup hanya itu aja kan,
karena kita juga harus melihat kecenderungan umum yang
terjadi, lalu juga liat gimana dampak psikologisnya.
Bukankah kesempatan chatting itu juga bisa memberikan
kesempatan untuk berbicara yang sifatnya pribadi?
Bahkan, bisa tambah parah kalau udah masuk ke hal-hal
yang kurang etis, 'parno' dan hal-hal negatif yang
lain. Topik yang tidak mungkin dibicarakan secara
verbal dengan bertatap muka, justru lebih leluasa
dilakukan dengan chatting.
Jadi permasalahannya, apakah chatting itu secara umum
melahirkan hal-hal yang lebih jauh atau tidak?
Misalnya, copy darat seperti Ramli dan Putri? Juga
apakah dialog itu menjurus ke hal-hal 'parno' atau
tidak sesuai dengan norma-norma Islam? Kalo menjamin
tidak melanggar syariat Islam, gak ada masalah kok.
Tapi, bisa menjamin gak? Karena meski secara fisik
tidak terjadi khalwat, secara psikologis bisa lebih
jauh dan lebih kuat.
Nah... karena itu kita butuh kiat-kiat gimana sih
'chatting yang sehat'.
- Yakinkan diri dan hati ini, kalo chatting itu bisa sebagai sarana dakwah,
saling mentausyiah, bukan untuk menebar kata-kata mesra nan cinta. Memulai
dengan satu kata cinta, bisa menggoda jutaan kata cinta lainnya muncul lho.
Katanya sih 'temen' kok ya jadi 'demen', glek!!!
- Kadang dari hati ini bisa muncul hasrat yang cenderung pada nafsu, karena
itu jaga sikap dan kata-kata untuk tidak merusak dan menghilangkan tujuan
dari ta'aruf dan ukhuwah itu sendiri. Ta'aruf itu sendiri kan untuk saling
mengenal, demikian juga ukhuwah, bisa nambah saudara. Lha, kalo belon apa-apa
kata-katanya udah ngajak 'perang', wah... bisa-bisa yang muncul di monitor
adalah 'kata-kata aneh bin ajaib'.
- Jangan terjebak pada permainan kata-kata, katanya sih mau ngasih perhatian,
tapi kok berlebihan, kaya' suami istri aja. Kata-kata manisnya, "Jangan
lupa makan ya, ntar sakit lho, kan jadi gak bisa chatting lagi!", atau
"Duh... kamu pasti manis deh, keliatan dari tulisannya" atau juga
"Kalo udah mau tidur, sebut namaku dalam hatimu ya, dan mimpikan diriku,
bla...bla...bla..." Gedubrak!!! Kudu ati-ati nih kalo nemu netters kaya'
ginian. Lha, ketikan di layar monitor dimana-mana kan sama aja, gimana bisa
tau yang nulis manis! Lagian kalau mau tidur kok nyebut nama si doi, gak diajar
tuh ama Rasulullah SAW.
- Jujur dong kalau ditanyakan data pribadinya, karena kalau sesuatu udah
dimulai dengan kebohongan atau sesuatu yang tidak baik, gimana bisa menjamin
proses selanjutnya? Inget lho, biasanya orang kalau udah dibohongi sekali
aja, gak bakalan kudu percaya lagi. Kata orang Jepang, shinjirarenai!!!
- Kalo emang hal ini berat, gak bisa jamin gak terjadi zina hati, sebaiknya
hindari deh chatting dengan lawan jenis, kecuali dengan suami atau istri sendiri,
curhat gak mesti dengan lawan jenis kan? Kalo maksa juga harus curhat dengan
lawan jenis dengan resiko gak bisa jaga hati, solusinya kudu cepet nikah,
jadinya chatting dengan pasangan sendiri, insya Allah 100% halal!!!
- Chatting itu kan hanya sebuah alat, karena itu maslahat atau mudharatnya
tergantung ke kita-kita juga, mau cari kebaikan atau sebaliknya. Kalau untuk
kebaikan, insya Allah memperoleh pahala, demikian juga sebaliknya.
Selamat ber-chatting ria akhi wa ukhti, jadikan
chatting sebagai sarana kita untuk menuai pahala di
dunia maya, saling mentausyiah dan beramal baik, insya
Allah ridho Allah SWT akan tercurah. Dan jangan lupa
mandi dan gosok gigi ya :)
Wallahu a'lam bishshawab.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Abu Aufa