Kamu pernah ngeliat film lawas Little House on the Prairie? Yup, film
yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Michael Landon ini ngetop banget
di tahun 70-an ampe 80-an. Waktu saya kecil, suka banget film ini. Abisnya,
ini kayaknya film keluarga yang setidaknya memberikan kesejukan justru di tengah
film Amrik yang bertabur kekerasan waktu itu. Meski setting ceritanya nggak
islami, tapi dari segi nilai memang mengajarkan hal-hal yang baik bagi sebuah
keluarga. Keharmonisan, perjuangan, pengorbanan, kesetiaan, perhatian, dan kepedulian
ditanamkan dalam keluarga yang punya rumah kecil di padang rumput yang luas
itu.
Masih di tahun 80-an, selain film asing itu, TVRI juga rajin menayangkan film
Rumah Masa Depan, yang dibintangi Bang Septian Dwicahyo waktu masih ABG. Doi
berperan sebagai Bayu, anak SMP yang digambarkan baik hati, suka menolong, setiakawan,
dan juga cukup berprestasi di sekolah. Kehidupan keluarganya yang tinggal di
desa selain sederhana juga harmonis. Punya ayah yang bertanggung jawab, punya
ibu yang penuh perhatian. Bayu juga memiliki nenek yang baik hati meski sedikit
bawel, kakeknya juga digambarkan sayang ama cucu. Bagusnya, film ini juga ngasih
solusi ketika terjadi ‘gesekan’ di antara mereka dan kehidupan di
sekitarnya. Wah, pokoknya menarik deh. Waktu itu, film keluarga ini jadi favorit
bagi kami, yang kebetulan juga tinggal di desa. ?
Tahun 90-an, sinetron Keluarga Cemara yang pernah tayang di RCTI juga
lumayan bagus. Sayangnya, film ini kalah bersaing dalam mencari iklan dengan
sinetron lainnya yang bertabur bintang ngetop dan dipajang di prime time alias
waktu utama, dimana orang pada nonton televisi, sekitar pukul 19.00 ampe 21.00
WIB. Sementara Keluarga Cemara, ditayangkan pukul lima sore, malah pernah pukul
satu siang. Yang mau nonton jadi sedikit atuh!
Sekali lagi, kisah ini pun sebetulnya diangkat dari buku cerita degan judul
sama, karya Bang Arswendo Atmowiloto. Kalo di bukunya, sama sekali nggak ada
nilai islamnya. Bahkan kentel banget dengan nuansa kristiani. Maklum, sang penulis
penganut Kristen. Nah, pas diangkat ke sinetron, ceritanya jadi berlatar Islam,
bahkan hampir semua pemainnya muslim kecuali Adi Kurdi yang jadi si Abah.
Oke deh, terlepas dari pemeran dan latar belakang cerita itu, tapi yang pasti
Keluarga Cemara mengajarkan nilai kebaikan, bahkan menggambarkan realitas umum
masyarakat kita. Bagi sebuah keluarga, apalagi dengan kondisi kehidupan yang
amburadul begini, boleh dibilang bisa membantu untuk mengajarkan nilai moral.
Minimal lho. Soalnya sekarang, banyak keluarga muslim yang dari sikap moralnya
aja payah banget, apalagi nilai-nilai Islam.
Nah, kalo tadi film keluarga yang ‘baik-baik’, ternyata
ada juga film yang justru menggambarkan kehidupan keluarga yang amburadul macam
Malcom in the Middle yang pernah tayang di TransTV. Dibuat berdasarkan pengalaman
kreatornya, Linwood Boomer--juga kreator 3rd Rock from the Sun
dan pemeran Adam Kendall dalam Little House on the Prairie. Perjalanan
hidup Boomer nyaris sama dengan Malcolm. Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini harus
masuk kelas berbakat gara-gara punya skor IQ mencapai 165. Bukannya bangga,
dia justru merasa aneh dan terasing. "Sebagai anak kecil yang masuk kelas
istimewa, justru itu menjadi saat terburuk dalam hidup," kenang Boomer.
Di film itu, sang ayah yang kadang kelihatan tak bertanggung jawab, sang ibu
yang sangat keras dan menerapkan hukuman sekenanya. Keduanya bertindak seenaknya
di dalam rumah. Bayangin aje, mereka berdua berkeliaran dalam rumah dengan hanya
memakai, maaf, pakaian dalam!
Tokoh Francis yang dianggap paling normal di keluarga Malcolm, malah ‘dibuang’
ke sekolah militer. Jadilah Malcolm anak tengah di antara Reese dan Dewey. Perpaduan
yang menarik kalau mengingat karakternya.
Oke deh, dari sekian banyak film, yang juga sangat boleh jadi terinspirasi dari
kehidupan nyata, setidaknya ingin memberikan suasana sejuk di tengah keluarga
pemirsanya, meski selalu saja ada bias yang membuat kita sebagai penonton kesulitan
untuk mewujudkan pesan yang ditawarkan itu.
Tapi kita yakin kok, bahwa banyak orang berharap tercipta suasana
yang akrab di tengah keluarga. Jalinan komunikasi di antara mereka terus dikembangkan.
Seluruh anggota keluarga pasti mendambakan kondisi yang harmonis. Tul nggak?
Misalnya aja hubungan antara ortu dengan anak-anaknya, juga hubungan antara
ayah dengan ibu kita sebagai ortu yang bisa mengarahkan dan membimbing kita.
Pendek kata, semua orang menginginkan saat-saat indah bersama keluarga.
Sobat muda muslim, kita tentunya nggak berharap suasana di rumah
itu berantakan, komunikasi antar anggota keluarganya juga payah. Misalnya aja,
ayah dan ibu kita malah terus dalam posisi berhadapan kayak di ring tinju. Lebih
tragis lagi kalo kita sebagai anaknya cuma sanggup nonton dan ngasih komentar
nyelekit, “Emak apa bapak dulu neh yang ngejoprak?” Hih, emangnya
mereka lagi nimbrung di acara Duel, Smackdown, atau UFC?
Gimana kalo nggak ideal?
Sobat muda muslim, hidup ini nggak selamanya bisa memilih. Kadangkala harus
menerima realitas. Termasuk kalo kudu punya keluarga yang kebetulan belum ideal
seperti yang kita harapkan. Sementara nikmati aja dulu sambil berusaha untuk
membangun keluarga yang ideal.
Kalo bisa milih, tentu enak banget ya? Pasti kita bakalan minta yang enak-enak
aja. Nah, jika keluarga kita ternyata nggak seideal kehidupan keluarga Rasul,
atau paling banter tidak seideal seperti yang digambarkan dalam sinetron atau
film, jangan putus asa. Insya Allah masih ada hari esok bagi kita untuk berusaha
memperbaikinya.
Emang sih, punya keluarga yang ideal nggak musti diukur dengan memiliki banyak
harta. Tapi ditentukan dari terciptanya komunikasi yang sehat di antara anggota
keluarga. Dalam kebanyakan keluarga muslim sekarang memang udah dikondisikan
bahwa keluarga cuma sebatas status aja. Jadi jangan heran kalo kehidupan di
dalam rumah yang kadang bak istana malah nggak bikin tenteram penghuninya.
Ayahnya sering keluar kota karena tugas kantor. Sehari-harinya juga pergi pagi
pulang petang. Sang ibu, juga adalah wanita karir. Sementara anaknya banyak
yang dibiarkan diasuh oleh babby sitter. Sebagian malah diasuh penuh sama neneknya.
Emang sih dari segi kebutuhan jasmani, boleh jadi sudah terpenuhi. Tapi kasih
sayang? Itu sulit diraih.
Seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di Bogor ini pernah cerita kepada
saya, bahwa ia suatu ketika bertanya kepada salah seorang anak didiknya yang
masih betah main di sebuah warung di sekitar sekolah, “Kenapa kamu belum
pulang?” Ternyata jawaban yang keluar dari mulut remaja pria itu cukup
membuat kita tercengang. “Buat apa pulang? Di rumah juga nggak ada siapa-siapa.
Nggak ada orang yang bisa diajak berbagi cerita. Di sini banyak kawan saya”.
Duh, perih nian…
Perlu diketahui sobat, anak itu punya ortu yang keduanya bekerja, meski rumahnya
dipenuhi dengan barang-barang berharga, tapi tidak memberikan kebahagiaan bagi
si anak. Maklum, karena kebahagiaan tidak selalu berarti banyaknya harta. Justru
tanggung jawab dan perhatian dari kedua orang tua, seringkali menjadi energi
yang tanpa batas bagi anak.
Di sebuah radio yang menyiarkan program tentang keluarga pernah ada seorang
ibu yang curhat, bahwa ia sangat menyesal tidak bisa memandikan anaknya yang
berusia balita, karena dia sibuk bekerja. Rengekan manja si kecil yang minta
dimandikan olehnya tak membuatnya luluh. Ia tetap pergi pagi untuk bekerja.
Sampai suatu saat, ia bisa bisa juga memandikan anaknya, tapi ketika sang anak
sudah jadi jenazah. Hmm.. sedih banget deh.
Sobat muda muslim, kita bisa upayakan untuk ngobrol dengan ortu kita bahwa
kita inginkan suatu kehidupan keluarga yang harmonis. Bicarakan baik-baik bahwa
kita bukan robot. Kita manusia, yang perlu disentuh juga dengan kasih sayang
dan cinta. Kepedulian dan perhatian ortu adalah energi yang membuat kita percaya
diri. Kita pun berusaha untuk menanamkan rasa hormat kepada kedua ortu kita.
Keluarga adalah istana paling indah
Waktu saya kecil inget banget, meski awalnya nggak paham kenapa orang tua saya
cerewet banget melarang saya berantem dengan kawan main, melarang saya supaya
jangan masuk rumah orang sembarangan tanpa diizinkan pemiliknya, menganjurkan
saya untuk sopan santun kalo bermain, seringkali amat bawel dengan meminta supaya
saya hormat sama orang yang lebih tua, supaya meminta maaf kalo memang saya
bersalah. Wah, banyak banget deh aturannya. Saya sih nurut aja, meski nggak
tahu ‘hikmah’ apa di balik semua larangan dan perintahnya. Saya
berusaha untuk merealisasikan pesan tersebut tanpa pernah ngerti rencananya.
Polos abis, nggak tahu apa-apa.
Nah, waktu besar dan udah bisa ngaji, karena suka ikut ke surau bareng anak-anak
yang lain, pak ustadz ngasih penjelasan tentang banyak hal dari semua yang diajarkan
orang tua saya di rumah. Ya, entah orang tua saya nggak mau ngejelasin karena
mungkin percuma karena saya masih kecil, atau bisa juga kesulitan menterjemahkannya.
Tapi yang pasti, sampe sekarang pelajaran itu amat berkesan bagi saya.
Nah, udah gedean dikit (baca: baligh), baru tahu bahwa memang sopan santun,
berbuat baik sama keluarga dan juga kepada teman, menolong orang lain, menghargai
dan menghormati sesama bukan semata sikap moral, tapi memang adalah hukum syara,
alias memang ada dasar hukumnya yang diajarkan dalam Islam. Begitu kata pak
ustadz suatu saat. Aduh, nambah neh wawasan.
Kita semua mendambakan keluarga yang baik-baik. Ayah bertanggung jawab, ibu
perhatian, kakak penyayang, adik juga penurut. Nenek dan kakek menikmati masa
tuanya dengan melihat perkembangan pribadi anak dan cucunya dengan baik. Keluarga
penuh ceria, saling mengingatkan, mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan penuh
ketaatan. Duh, indah banget deh. Pantes aja kalo Rasulullah mengilustrasikan
kehidupan keluarga beliau yang penuh dengan keharmonisan, kebahagiaan, ketenangan,
sakinah, mawaddah, dan rahmah dengan ungkapan Baitiy jannatiy alias rumahku,
surgaku.
Bersama keluargalah kita lebih banyak berinteraksi, bersama keluarga
pula kita lebih banyak punya waktu untuk belajar tentang makna hidup. Kayaknya
masih pada inget deh penggalan OST-nya Keluarga Cemara. Yup, “Keluarga
adalah harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling
bermakna, dan mutiara tiada tara.”
Allah Swt. berfirman: “Dan hendaklah takut kepada
Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak
yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan
mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS an-Nisâ’
[4]: 9).
Kita semua berharap punya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kalo
ada konflik, kita selesaikan baik-baik. Jangan hawa nafsu yang jadi panglima,
tapi keikhlasan kita yang dikedepankan. Konflik bukan berarti bencana, tapi
kerikil kecil yang bisa mendewasakan kita semua. Tapi yang pasti, taburkan ajaran
Islam di dalam keluarga kita, insya Allah berkah. Yuk, kita bangun istana paling
indah dalam hidup ini. Syukur-syukur bisa dengan lega menyebut: rumahku, surgaku.
?