Puluhan ribu satgas dan kader militan PDS, kabarnya mulai minggu
ini
akan diterjunkan ke target-target sasaran di wilayah-wilayah
terpencil. Mereka berada sekitar seminggu di lapangan, untuk
pengenalan medan sehingga pada hari "H" nanti sudah tidak canggung
lagi. Berbeda dengan Satgas parpol lainnya yang terkesan
militeristik
dan seram, wajah Satgas PDS sangat berbeda.
Dengan wajah lembut
yang
membawa kedamaian, rencananya mereka akan banyak menyapa kalangan
rakyat kecil yang terlupakan di daerah terpencil. Tak ada uniform
resmi, melainkan baju ala kadarnya, bahkan di beberapa wilayah
seperti di suku-suku pegunungan di Irian sana mereka
akan 'menyesuaikan' costum mereka. Beban fisik mereka cukup berat,
rata-rata memikul antara 20-30 kg bekal bantuan untuk masyarakat
setempat, seperti beras, ikan asin, garam dan indomie. Sebuah cara
simpatik dalam upaya menjalin keakraban dengan calon pemilih yang
patut dicontoh parpol lainnya.
Kalau dilihat taktis partai PDS seperti yang telah dipublikasikan
kepada umum di situsnya ( http://www.partaidamaisejahtera.com )
dimana sasaran PDS terutama ditujukan kepada kalangan rakyat lemah
seperti petani miskin, nelayan miskin, suku pegunungan, pedagang
bakul, PKL, masyarakat terabaikan seperti pasukan kuning, pemulung,
anak jalanan, bahkan pelacur kelas teri. Mereka semua menjadi
prioritas sasaran PDS untuk dientaskan kehidupannya.
Kalangan
penduduk kurang beruntung seperti itu, sebenarnya lebih banyak yang
tinggal di daerah pedesaan daripada daerah perkotaan. Terutama di
daerah pedesaan terpencil, seperti di daerah-daerah pedalaman
Kalimantan, di puncak-puncak gunung dan lembah di Irian, daerah-
daerah minus di pegunungan kapur seperti di Wonogiri, Pacitan dan
NTT. Mereka semua sangat jauh dari jangkauan tangan Pemerintah, LSM
dan Organisasi Keagaamaan semacam NU atau Muhammadiyah, apalagi
parpol yang sedang berebut kursi menjelang Pemilu sekarang ini.
Disitulah peluang terbuka luas bagi kader PDS untuk menderma-
bhaktikan semua kemampuan dan keakhliannya sebagai pelayan ummat,
mengajak mereka menuju masyarakat yang damai dan sejahtera bila PDS
menang Pemilu kelak tentunya.
Oleh sebab itu, di luar basis-basis PDS seperti di Tanah Batak,
Kalimantan Tengah, Sulut, Maluku Selatan, Irian dan NTT, masyarakat
tak akan banyak melihat kiprah PDS di daerah-daerah perkotaan
karena
mereka lebih banyak berkiprah di daerah pedesaan miskin dan
terpencil
yang sangat jauh dari hiruk-pikuk kampanye politik.
Di Jawa
sendiri,
terutama di daerah perkotaan, kader-kader PDS lebih banyak bergerak
dalam Persekutuan-Persekutuan Do'a yang sudah terbentuk dan
pemantapan iman Kritiani melalui mimbar-mimbar Gereja. Jawa memang
bukan basis PDS, tapi masih ada peluang disini terutama di daerah-
daerah miskin dan terkebelakang di wilayah-wilayah pegunungan kapur
selatan pulau Jawa. Sebelumnya sudah banyak missi Kegerejaan yang
sudah memiliki pos-pos terdepan di wilayah itu.
Taktik strategi PDS dibawah arahan RM Hutasoit ini memang diakui
sangat jeli melihat peluang dibanding parpol lainnya. Ketika 23
parpol lainnya berebut hidup-mati suara pemilih di daerah perkotaan
dan terutama di Jawa, sementara itu ada lahan luas yang mereka
lupakan di daerah pedesaannya ( di Jawa) dan di Luar Jawa yang
umumnya masih jauh dari jangkauan kerja parpol-parpol itu.
Memang
untuk merebut lahan kosong yang sengaja dilupakan dan ditinggalkan
parpol lain itu (termasuk parpol besar seperti PDIP dan Golkar)
diperlukan pengorbanan yang sangat besar, baik pendanaan,
akomodasi,
perencanaan, dan sumber daya manusia yang ulet, militan dan
terampil
di lapangan serta bisa berkomunikasi dengan masyarakat setempat.
Parpol lain akan berfikir seribu kali kalau harus berkorban seperti
itu, apalagi kalau yang ditangani hanya suara rakyat lemah yang
tidak
begitu penting diperhatikan keberadaannya secara ekonomis dan
politis. Pasti akan di nilai buang-buang tenaga dan waktu saja.
Tapi disitulah bedanya antara PDS dan parpol-parpol itu. Mereka (ke
23 parpol peserta pemilu) hanya bekerja aktif selama 5 tahun
sekali,
bila menjelang pemilu saja. Sementara PDS, selain misi politis,
mereka juga memiliki misi da'wah agama yang bisa jadi lebih penting
dari sekedar memperoleh suara mereka sebagai pemilih. Mereka punya
misi untuk mengembala ummat yang belum menemukan kedamaian dan
kesejahteraan dalam hidupnya selama ini.
Jujur saja, mana ada satu
pun parpol yang mau berfikir seperti itu selama ini? Meskipun
parpol
itu mengklaim sebagai partai da'wah misalnya. Oleh sebab itu, apa-
apa yang dikerjakan kader PDS saat ini sebenarnya lebih merupakan
sebuah "investasi jangka panjang" yang hasilnya tidak harus dipetik
pada pemilu sekarang ini. Tapi nanti lihatlah, 10-20 tahun lagi, apa yang akan terjadi?