BANDUNG--Tahun 2005 Pondok Pesantren Daarut Tauhiid
(DT) berencana membangun sebuah staisun televisi Islami. Berbicara dalam
kesempatan Silaturahmi Ulama Kota Bandung yang diselenggarakan Radio Ummat MQ
1026 AM dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bandung, Rabu (16/1) malam lalu,
pimpinan DT KH Abdullah Gymnastiar menyatakan usaha ke arah itu tengah
dirintis.
KH Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym itu,
mengemukakan stasiun televisi itu nantinya operasional siarannya disesuaikan
dengan syariah Islam. Ide itu, kata Aa Gym, terinspirasi dari penayangan program
Manajemen Qolbu di televisi swasta selama bulan Ramadhan tahun lalu.
Dikatakannya, berdasarkan informasi dari pihak
televisi swasta tersebut, acara yang diisinya itu menempati rating yang tinggi.
Upaya mewujudkan stasiun itu lanjut Aa Gym saat ini tengah dirintis meski
perlahan. Saat ini, kata Aa Gym, DT baru mempunyai production house.
"Insya Allah, tahun 2005 nanti rencana ini sudah terlaksana," ujar Aa
Gym.
Namun, Aa Gym buru-buru menyatakan, meski gagasan itu
datang dari pihaknya, semua ulama dapat mendukung rencana itu. Ia berkali-kali
menegaskan bahwa rencana itu bukan semata-mata untuk kebesaran nama Darut
Tauhiid, melainkan untuk kemaslahatan umat Islam.
Selain terinspirasi oleh tayangan acara dakwahnya di
televisi, Aa Gym juga mengungkapkan bahwa inspirasi itu utamanya berangkat dari
kesuksesan siaran Radio Ummat MQ 10,26 AM.
Melihat perkembangan Radio Ummat tersebut, Aa Gym
menilai peluang untuk menghidupkan media Islam masih sangat terbuka luas. Hal
itu, kata dia, terlihat dari antusiasme khalayak dan pemasang iklan yang semakin
meningkat.
Menanggapi usul yang diajukan seorang peserta tentang
penggabungan radio FM dan AM milik Daarut Tauhiid, menurutnya, itu tidak perlu
dilakukan. Pasalnya, kata Aa Gym, segmentasi sangat penting bagi suatu media. Aa
Gym menjelaskan, kedua radio yang berbeda gelombang itu memiliki segmentasi yang
berbeda untuk menembak sasaran khalayaknya masing-masing.
Menurut Aa Gym, segmentasi itu sangat penting karena
dapat memperkuat posisi suatu media. "Kalau perlu, kita harus mendirikan radio
khusus untuk anak-anak," tambah Aa Gym berseloroh.
Kuatnya posisi media itu secara langsung akan dapat
digunakan sebagai sarana dakwah. Oleh karena itu, sambung Aa Gym , ulama Bandung
hendaknya tidak antipati terhadap perkembangan teknologi, khususnya yang
berbasis teknologi informasi. Sebaliknya, media massa yang tidak terlepas dari
kemajuan teknologi informasi itu harus dapat dimanfaatkan sebagai perangkat
dakwah.
Dengan menguasai media, umat Islam dapat melawan
ghawzul fikri (perang pemikiran) yang saat ini sedang berkembang pada
dunia media massa di Indonesia dan digencarkan media barat.
Kepada Republika, Aa Gym mengaku optimistis dengan
perkembangan media yang membawa misi ke-Islaman. Namun ia mengingatkan, supaya
hasilnya efektif media tersebut harus dikelola secara profesional. "Selain itu,
kredibilitas harus tetap diutamakan," tambahnya. Karena, ia yakin media massa
merupakan strategi potensial yang yang dapat digunakan untuk berdakwah.
Senada dengan Aa Gym, Ketua MUI Bandung, KH Miftah
Faridl menyerukan agar para ulama menggunakan media untuk berdakwah. Sebab, ia
menilai, saat ini umat muslim belum optimal dalam menggunakan media termasuk
media yang berbasis keislaman.
____________________
sumber :
pesantren.net