Gebyar World Cup 2002 Korea-Jepang makin panas menjelang semifinal dan final
pada akhir bulan ini. Tim-tim unggulan banyak yang rontok. Pemain dan ofisial
Argentina, Perancis, dan Portugal bahkan lebih dulu mengemas koper mereka untuk
meninggalkan medan tempur sepakbola sejagat itu. Mereka babak belur di babak
pertama.
Ada tangis dan tawa di arena dan di kampung mereka. Saat tim Dinamit Denmark
"melepes" dihantam tim "Union Jack" Inggris 3 gol tanpa
balas, pendukung Inggris di Niigata, stadion tempat mereka bertarung gegap gempita.
Pun nggak ketinggalan masyarakat London, dan juga penggemar di negeri ini yang
menyaksikan adegan itu, ikutan heboh. Sebaliknya, di Kopenhagen dan belahan
dunia lainnya, pendukung tim "Dinamit" merana total.
Begitu pula saat tim Rusia digasak Jepang dalam babak penyisihan, ratusan pendukung
kesebelasan "Beruang Merah" mengamuk di kota Moskow. Sebaliknya, di
Jepang pendukung kesebelasan negeri "Matahari Terbit" itu tenggelam
dalam pesta.
Pendukung tim "Azzurri" Italia gondok berat saat timnya dibungkam
tuan rumah Korea dalam babak perdelapan final. Penggemar Del Piero dan kawan-kawan
di seluruh dunia, termasuk di negeri ini terpaksa gigit jari menyaksikan tim
favoritnya terjungkal. Yup, dalam pertandingan memang selalu ada suka dan ada
duka. Yang satu pesta, yang lainnya sudah pasti berduka. Itulah 'perjuangan'.
Tapi sobat muda muslim, bagi kita, kaum muslimin, adanya hajatan ini makin
membuat kita berduka. Gimana nggak, nyaris seluruh penduduk dunia perhatiannya
tersedot untuk mantengin aksi-aksi bintang lapangan hijau mengolah si kulit
bundar. Sementara persoalan umat ini nyaris nggak teramati.
Coba aja perhatiin di stadion Sogwipo, pemain, ofisial, dan pendukung tim Jerman
pesta ketika Miroslav Klose dan kawan-kawan berhasil menjegal langkah tim asuhan
Cesare Maldini, Paraguay. Kita di sini juga ikutan heboh. Sementara di Jenin,
serdadu Israel kian garang menggempur rumah-rumah penduduk Palestina. Di Miyagi,
pemain dan pendukung Turki meneteskan airmata kebahagiaan setelah sukses menghentikan
langkah Jepang di babak perdelapan final, sementara di Yerusalem, airmata dan
darah warga Palestina menjadi saksi kekejaman Israel. Tentunya dua kenyataan
ini amat kontras. Lalu, mana kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita di
sana?
Sobat muda muslim, gara-gara hajatan sepakbola sejagat ini, sebagian dari kita
kian nggak peduli dengan nasib saudara kita sendiri. Entah itu yang dekat, lebih-lebih
di tempat yang jauh dari tempat tinggal kita. Gimana nggak, saat tak ada hajatan
putaran final sepakbola dunia aja banyak di antara kita yang cuek bebek ama
nasib saudaranya, apalagi sekarang yang nyaris tiap hari hadir di layar kaca
siaran langsung dan tunda ajang bal-balan sedunia itu. Pastinya makin lupa diri
tuh. Ih, jangan sampe deh.
Globalisasi emosi
Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat dunia ini bak sebesar daun
kelor. Jarak satu kota di suatu negeri dengan kota di negeri lain nyaris tanpa
batas. Jauhnya jarak bukan lagi persoalan. Sekarang, hal itu bisa diatasi dengan
satelit dan kabel. Pertandingan di Jepang dan Korea bisa dinikmati langsung
di Jakarta, hanya dengan me-relay siaran tersebut melalui stasiun televisi RCTI
sebagai official tv partner World Cup 2002. Gratis lagi. Akibatnya, luapan emosi
penonton di stadion dengan di rumah atau yang nonton bareng di kafe dan tempat
umum lainnya sama hebohnya. Tertawa dan nangis barengan!
Hmm… ternyata sepakbola pun menyimpan pesona globalisasi juga. Coba aja,
kita bisa saksikan kesedihan yang amat mendalam dari para pendukung tim Portugal
di Lisabon saat menyaksikan pahlawan mereka gagal membungkam Korea Selatan di
babak penyisihan. Bahkan kesedihan para penggemar berat tim Portugal di seluruh
dunia menjadi "satu". Teman-teman kita di sini yang ngefans sama Luis
Figo dan Rui Costa juga ikutan sedih, apalagi yang kalah taruhan. Dijamin kecewa
berat.
Untuk mendukung 'program' globalisasi emosi ini, seluruh negara yang menjadi
peserta Piala Dunia 2002 dan juga negara yang tak ikutan Piala Dunia rela me-relay
siaran pertandingan tersebut. Termasuk di negeri ini, meski kesebelasan Indonesia
nggak ikutan di ajang itu, tapi penggemar tim-tim langganan juara seperti Brasil,
Jerman, Italia, Spanyol, dan Argentina bejibun. Itu bisa disaksikan saat acara
nonton bareng yang digelar di restoran, kafe, sampe hotel, bahkan rencananya
RCTI bakalan menggelar nonton bareng di stadion Senayan saat pertandingan final
berlangsung akhir bulan ini. Wuih, bener-bener merasa kudu ikutan heboh di ajang
bal-balan sejagat ini.
Kita jadi merasa ikut terlibat secara emosi dengan para pemain yang sedang
berlaga. Saat tim favorit kita menyerang dan menjaringkan bola ke gawang musuhnya,
kita ikutan seneng, lega, dan teriak kegirangan. Dan sebaliknya, saat tim kesayangan
kita terdesak, bahkan kipernya harus memungut bola dari dalam gawangnya sendiri,
kita juga ikutan sedih, kecewa, dan gondok. Nggak habis pikir memang. Tapi inilah
kenyataannya.
Pestamu, dukaku
Sobat muda muslim, terus terang kita sedih lho. Ternyata ada juga di antara
kita yang mudah meneteskan airmata. Sayangnya, airmata itu bukan ketika mendengar
atau membaca berita tentang saudaranya di Palestina yang dibantai serdadu Israel.
Ada juga teman kita yang ternyata bisa tertawa dan heboh bela-belain tim kesayangannya
berjuang. Tapi kita amat jarang menemukan teman kita, atau malah mungkin kita
sendiri yang begitu senang dan gembira ketika saudara kita berhasil menggempur
serdadu Israel misalnya. Malah celakanya, banyak di antara kita yang kemudian
mengutuki aksi "bom syahid" saudara kita di sana. Ironi bukan? Inilah
yang membuat kita sedih banget sobat.
Padahal, persoalan umat jauh lebih penting ketimbang persoalan hiburan tersebut.
Sekarang begini. Kita pikirkan dan renungkan secara mendalam. Apakah ada pengaruhnya
buat kita, ketika tim "Ayam Jantan" Perancis harus pulang kandang
lebih awal? Apakah ada pengaruhnya bagi kita ketika tim "Azzurri"
Italia keluar lapangan dengan wajah ditekuk setelah kalah secara menyakitkan
dari Korea Selatan? Juga apakah ada keuntungannya bagi kita ketika tim "Samba"
Brasil sukses melenggang ke perempat final dan berhadapan dengan Inggris di
semifinal? Apakah kita akan dikasih hadiah ketika Senegal berhasil menjegal
Swedia dan akan bertemu tim "Abu Nawas" Turki di perempat final? Rasanya,
di antara kita sendiri sebetulnya udah tahu jawabannya. Yup, nggak ada untungnya
buat kita. Yang taruhan sekalipun sebetulnya nggak untung, karena ia sedang
terlena. Bahkan ia telah melupakan kewajibannya sendiri sebagai seorang muslim.
Di Korea dan Jepang, juga di belahan dunia yang lain tengah berlangsung drama.
Ada kesenangan dan kesedihan. Tapi yakinlah, bahwa itu sekadar permainan. Itu
sekadar hiburan. Ya, cuma menemani di sela-sela waktu luang kita aja. Nggak
lebih dari itu. Lagi pula, bagi kita di sini, rasanya, yang kita dapatkan hanyalah
sedikit rasa lega dan senang kalo tim favorit kita sukses. Atau kita kecewa
kalo "jagoan" kita keok. Tapi apakah kemudian akan berpengaruh kuat
dalam kehidupan kita di dunia ini atas kegagalan atau kesuksesan mereka? Nothing!
Itu sebabnya, kita sedih, kecewa, dan tentu saja berduka banget menyaksikan
teman-teman kita yang ternyata lebih semangat mengikuti berita mengenai seputar
piala dunia, lebih getol menyaksikan siaran langsung pertandingan demi pertandingan
yang digelar dengan tanpa ngantuk sedikitpun. Padahal kalo ngaji mah, baru setengah
jam aja matanya udah 5 watt, alias redup. Tinggal nungguin "ngampleh"
aja. Aduh, betul-betul prihatin. Benar, pesta itu milik mereka, tapi duka ternyata
jadi milik kita. Kita berduka karena sebagian besar dari kita lebih care dengan
urusan yang mubah, bahkan cenderung sia-sia itu. Sementara urusan penting bagi
kelangsungan masa depan ummat ini diabaikan, alias nggak mendapat perhatian
sedikitpun. Gaswat!
Hidup hanya untuk Islam
Kita, kaum muslimin, udah diajarkan oleh Rasulullah untuk belajar memahami hidup
ini. Setelah kita mampu menjawab pertanyaan; dari mana kita? Mau ngapain di
dunia ini, serta akan kemana kita setelah kehidupan dunia ini, insya Allah kita
bisa memahami arti kehidupan ini. Yup, kita berasal dari Allah Swt., di dunia
ini adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Dan tempat kembali pasti kepada
Allah Ta'ala. jua. Firman Allah Swt.: "Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (TQS adz-Dzâriyât
[51]: 56)
Apalagi kita sudah menyatakan "sumpah setia" kita kepada Allah dalam
doa iftitah kita ketika shalat. Firman Allah Swt.: "Katakanlah: "Sesungguhnya
shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,"
(TQS al-An'âm [6]: 162)
Sobat muda muslim, hidup kita hanyalah untuk Islam. Pastikan itu tetap berada
dalam tujuan kita. Kalo kita udah merasa hidup untuk Islam, insya Allah, biasanya
kita akan selalu menjadi pembela Islam. Itu bisa diwujudkan dengan perhatian
kita terhadap persoalan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Kemudian juga
bisa kita wujudkan dengan perhatian yang mendalam tentang masa depan Islam.
Jadi ketika kita bergaul dengan masyarakat, Islam selalu jadi patokan dalam
menyelesaikan problem mereka. Itu sebabnya, kalo kita nggak serius untuk mempelajari
dan memahami Islam, rasanya bakalan nggak ngeh terhadap problem-problem yang
dihadapi kaum muslimin dan persoalan yang mengancam keberlangsungan agama kita
ini.
So, kalo sekarang kita lebih betah, lebih getol, en kian semangat mengikuti
perkembangan World Cup, ketimbang mendalami Islam dan mengamati perkembangan
kaum muslimin ini, satu tenaga sudah terkuras sia-sia. Dan bayangkan bila ada
sekitar 100 juta kaum muslimin yang begitu sikapnya di seluruh dunia, berarti
energi yang seharusnya dicurahkan untuk Islam, berkurang sebesar itu pula. Umat
ini jelas sudah kalah, sobat. Telak lagi.
Sobat muda muslim, kesedihan, kekecewaan, dan duka kita seharusnya dialamatkan
ketika kita melihat umat Islam ini berada dalam jurang kehancuran. Ibarat tim
favorit kita berada di ujung tanduk. Meski tentu ada bedanya. Yakni, bila kita
sedih menyaksikan penderitaan umat, lalu kita berusaha untuk menyelesaikannya,
insya Allah dapat pahala, sementara kalo kita sedih dan kecewa karena tim favorit
kita bangkrut di ajang World Cup 2002, nggak dapat pahala sedikit pun. Jadi,
berpikirlah sejernih mungkin, sobat.
So, pikiran dan perasaan hanya kita curahkan semata untuk Islam dan kaum muslimin,
bukan untuk yang lain. Itu sebabnya, rasa suka dan duka kita pun pastikan ada
kaitannya dengan Islam. Kita gembira, bila memang Islam mulai banyak dipelajari
dan dibela oleh umatnya. Kita gelisah dan marah, saat kita menyaksikan ada orang
yang mengancam Islam dan umatnya.
Oke deh. Jangan sampe gempita World Cup 2002 menyita dan memalingkan perhatian
kita dari upaya mengemban dakwah dalam rangka melanjutkan kembali kehidupan
Islam. Catet ya…!
_____________________________
Edisi 103/Tahun ke-3 (24 Juni 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com