| Jika Al Qur'an mengingatkan kita untuk menjaga diri dan
seluruh anggota keluarga kita dari api neraka, sangatlah beralasan. Karena
atmosfer bumi di mana kita hidup saat ini, kian sesak dengan komplotan perusak
yang akan menjerumuskan kita dan anak-anak kita ke dalam api neraka.
Perang dahsyat yang kini tengah mereka kobarkan bukan dalam bentuk
perang senjata belaka. Yang lebih berbahaya lagi adalah, mereka melakukan
penyerbuan secara intens alam pikiran anak-anak kita. Tujuan komplotan perusak
bumi itu adalah, untuk menghancurkan aqidah, pemikiran, dan cita-cita luhur
anak-anak kita yang merupakan calon generasi masa depan. Komplotan itu
telah menyebarkan narkoba secara massive, menjual syair lagu-lagu yang
melecehkan eksistensi Tuhan, memproduksi film-film yang mengeksploitasi praktek
percabulan, hingga menumbuhsuburkan game-game simulasi yang mampu membuai alam
pikiran anak-anak ke dunia awang-awang. Yang terakhir ini kita kelompokkan
sebagai permainan "Game Virtual". "Hampir di semua sudut, kini ditemukan
rental game, yang tidak saja digemari anak-anak, tapi juga orang dewasa,"
komentar Dimitri Mahayana, dosen jurusan Teknik Elektro ITB, dalam orasinya
bertajuk "Revolusi Digital, Mitos atau Realitas", pada Dies Natalis ke-35
Universitas Yarsi, Senin (29/04). Kondisi ini menurut Dimitri, perlu
disikapi lebih bijaksana oleh para orang tua khususnya. Sang dosen mengingatkan
kita untuk mencermati era digitalisasi yang bukan sekadar dampak natural dari
perkembangan iptek belaka. "Masuknya aspek digital dalam tiap sendi kehidupan
manusia sendiri, harus juga dicermati. Yaitu bagaimana mengantisipasi
berkembangnya nilai-nilai laten," ingatnya. Tentang nilai laten
tersebut, Dimitri menjelaskan bahwa seiring dengan booming internet,
peradaban dan kehidupan manusia menjadi makin digital, dan semakin mengikuti
perkembangan zaman. Berarti, nilai Dimitri, pengetahuan manusia selalu up to
date dan memiliki keunggulan kompetitif. "Hanya dengan sekali
klik, semua layanan yang kita butuhkan tersedia. Mulai dari kesehatan,
keuangan dan perbankan, sampai kencan pun bisa diatur lewat internet,"
komentarnya. "Namun bagaimana dampak cultural shock yang justru
tidak disadari kehadirannya," sambung Dimitri. Sebagian besar orang, menurutnya,
justru kurang peduli dengan efek samping perkembangan iptek. Digitalisasi, ujar
Dimitri, akan selalu diikuti dengan virtualisasi. Artinya, keberadaan realitas
nyata akan tergantikan oleh realitas virtual. Hal itu pula yang oleh
Dimitri dinilai, terjadi pada game virtual. Permainan modern yang banyak
digemari anak-anak itu telah menggeser keberadaan permainan tradisional.
"Sudah sulit sekarang kita temukan anak-anak main petak umpet
atau kucing-kucingan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam main
game, meski harus pergi ke rental dan bayar," papar Dimitri
tentang perilaku bermain anak-anak modern. Padahal, ingat dosen ITB itu,
game virtual justru tidak mendidik sama sekali. Sejauh ini berbagai
game yang tumbuh menjamur di berbagai tempat, hanya melulu menyajikan
aspek kekerasan dan erotisme (sensualitas). Selanjutnya Dimitri
mengingatkan lagi, bahwa eksplorasi imajinasi lewat realitas virtual tersebut,
dalam kurun waktu tertentu akan memunculkan problem baru di kalangan generasi
muda. Yaitu munculnya generasi baru hedonis, pemuja kenikmatan dan kemudahan.
"Bayangkan saja, anak bisa merasakan puasnya membunuh musuh dengan
senjata tajam atau bahkan berkencan dengan bintang film seksi terkenal
sekalipun. Siapapun yang diinginkannya tinggal diset, semua beres," jelas
Dimitri. Apa yang dikhawatirkan Dimitri, tepat. Sebab hari ini kalangan
anak-anak maupun generasi ABG, makin melecehkan norma-norma, sejalan maraknya
era teknologi digital. Baik normal sosial, apalagi norma-norma ketuhanan. Iga
Mawarni, aktivis Forum Bening, menyebut mereka sebagai generasi instan yang
tidak memahami hidup dalam arti sebenarnya. "Anak itu maunya serba
beres, tahu-tahu sudah tersedia. Padahal tidak begitu. Segala sesuatunya
berproses," ujar Iga. Apakah cuma orang dewasa yang bisa melihat
film-film keras berdarah-darah dan seks? Jawabannya tidak! Lewat game
virtual yang kian mem-booming di pasaran, norma-norma yang memisahkan
status dewasa dan anak-anak kian tipis dan akhirnya lenyap. Adegan-adegan
privasi dan kekerasan yang hanya "layak" ditonton orang dewasa pun, kini telah
dikonsumsi anak-anak. Nilai dan norma dalam abad modern ini kian digerus oleh
bacaan, film, tontonan, dan juga game-game itu. Akhirnya tulisan
ini ingin mengingatkan kita semua, untuk berhati-hati menjaga anak-anak dari
pengaruh budaya hedonisme yang kian marak tumbuh dalam masyarakat kita. Karena
anak-anak kita adalah titipan dan amanah Allah SWT yang harus kita jaga dengan
serius. Persis apa yang diingatkan Al Qur'an; "Dan hendaklah takut kepada
Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak
yang lemah, yang mereka khawatir terhadap anak-anak mereka. Oleh karena itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar,"
(Q.S 4 : 9). (sulthoni) sumber : eramuslim.com
|