Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
“Lelah, tersinggung, terhina, kekurangan, uang, tertimpa penyakit, dan masih begitu banyak lagi masalah yang akan membuat orang menjadi goyah, tapi kalau terkelola hatinya, subhanallaah, ia tetap akan punya nilai produktif. Banyak orang yang sangat sibuk memikirkan kecerdasannya, memikirkan kesehatan fisiknya, tapi sangat sedikit memikirkan kondisi hatinya. Kalaulah kita harus memilih, seharusnya kita banyak meluangkan waktu untuk memikirkan qolbu ini. Karena jika qolbu ini baik, yang lainnya pun menjadi baik, Insya Allah.” (AA Gym)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Teknologi Informasi
26 November 2001 - 11:12
Internet dan Revolusi Media       
Oleh : Onno W. Purbo
 

Banyak media melihat bahwa Internet dipakai untuk memindahkan siaran atau tayangannya. Padahal, pendapat itu sangat salah. 

Media konvensional terutama media cetak sangat terasa nuansa pengiriman informasi satu arah yang sangat lambat. Media radio dan TV yang diintegrasikan dengan kemampuan talkshow didukung fax dan telepon, memungkinkannya lebih bersifat dua arah daripada media cetak. Ciri khas media konvensional itu, selain lebih bernuansa satu arah, peralatan di sisi pemirsanya (jika dibutuhkan) relatif murah, terutama media cetak dan radio. Kekuatan itu akan terus menjadi penunjang media konvensional Indonesia, sampai pada titik di mana seluruh bangsa Indonesia tersambung ke Internet. Entah kapan. 

Media baru seperti Internet, yang sangat kontradiktif dengan media konvensional, kemampuan interaksi dan customisasi-nya menjadi sangat tinggi. Bagi yang hidup 80-90 persen di Internet, terutama yang aktif di berbagai mailing list - (milis) tempat diskusi di Internet yang sangat interaktif - maka hampir pasti jarang membaca detil koran dan majalah yang ada. Paling cukup melihat judul artikel dan sedikit browsing untuk melihat akurasi beritanya. Mengapa hal itu terjadi? Para pengguna aktif Internet biasanya sudah memperoleh inside information dari berbagai diskusi di milis tersebut. Sehingga, informasi di majalah dan media konvensional, biasanya sudah "basi" untuk mereka.

Untunglah hanya ada satu persen bangsa Indonesia yang terkait ke Internet. Kondisi itu memberikan peluang bagi media konvensional untuk berkiprah, di luar tantangan adanya proses lokalisasi media yang menjadi ancaman langsung bagi media nasional. Soalnya, di dunia media cetak, kita mengenal koran daerah, majalah daerah, dan lain-lain. Memang, dalam dunia radio dan TV, ancamannya belum separah di media cetak. Bayangkan jika konsep community broadcasting disetujui DPR, untuk menjamin hak asasi bangsa Indonesia akan akses informasi yang dijamin amandemen kedua UUD 45 pasal 28F. Urusan pasti akan berabe bagi dunia radio dan TV.

Jaringan atau networking antarradio, TV, media cetak maupun media Internet, dengan demikian, menjadi kunci keberhasilan seorang kampiun media di masa datang. Sialnya, banyak media melihat bahwa Internet dipakai untuk memindahkan siaran atau tayangannya. Padahal, pendapat itu sangat salah. Sebab, pada hari ini, memindahkan siaran, tulisan dan tayangan ke Internet, tak akan menimbulkan keuntungan maksimal untuk media konvensional.

Beruntung sekali mitra usaha, nara sumber, mitra media lainnya saat ini, banyak di Internet. Sehingga, efisiensi networking antarmedia dan nara sumbernya menjadi sangat memungkinkan, dan jauh lebih efisien melalui Internet. Contohnya, liputan berita PRSSNI dengan mudah disebarluaskan melalui milis antarradio. 

Teknologi informasi sangat baik untuk efisiensi dalam pembangunan jaringan antarmedia. Misalnya, percetakan jarak jauh, telepon Internet yang harga SLJJ-nya 1/8 dari SLJJ normal, maupun networking antarmedia dan nara sumbernya. Di samping itu, teknologi informasi akan memudahkan media mengefisiensikan proses internal mereka. Misalnya, penggunaan MP3 di radio, komputerisasi siaran, belum termasuk database berita untuk membangun sumber pengetahuan bagi jurnalis yang sedang membuat laporan.

Dalam bahasa sederhana, media konvensional akan tetap berjaya selama bangsa Indonesia masih bodoh dan gagap teknologi (gaptek). Teknologi informasi akan membantu terbentuknya jaringan media dan peningkatan kualitas media tersebut.

 
 
(Dibaca: 10664 kali | Dikirim: 1 kali | Print: 360 kali | Nilai: 8.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha