| Teknologi jalamaya akan menjadi kuno. Setiap jaringan listrik masa depan, akan selalu jaga, responsif,
adaptif, kompetitif, ramah lingkungan, real-time, luwes, serta saling terhubung. Itulah puncak teknologi
masa depan paling efisien.
Kilasbalik: 9 November 1965. Tiba-tiba sinar gemerlap lampu Times Square meredup ketika sebuah pesawat
terbang melintas di atas kota New York. Sang pilot mengira ia sedang menyaksikan serangan para teroris.
Di bawah "ngarai-ngarai" Manhattan yang seketika gelap, tampak kereta bawah tanah terhenti, ratusan ribu
pekerja komputer yang dalam perjalanan pulang pun terjebak.
Pada mulanya adalah kota Toronto yang padam, lalu Rochester, Boston, dan akhirnya New York City. Dalam waktu
13 menit, satu dari hasil kebanggaan rekayasa industri, yaitu jaringan listrik seluas 80 ribu mil persegi
yang dikendalikan komputer, padam. Selama puluhan tahun, itulah untuk pertama kalinya gelap menguasai
kota-kota di bagian Timur Laut yang saat itu tak lagi menikmati televisi, pengatur lalu lintas, lampu
pendaratan pesawat, elevator, dan lemari pendingin.
Peristiwa bersejarah padamnya listrik secara berturut-turut pada 9 November 1965 di Amerika Serikat
tersebut - setelah ditelusuri ternyata ada satu stasiun relay di Ontario yang overloaded - merupakan
awal dari era jaringan. Tepat ketika lampu padam, 30 juta orang di wilayah itu tersadarkan, bahwa berbagai
hal penting ternyata sangat bergantung pada infrastruktur teknologi yang ruwet tapi ringkih, yang terbentang
sampai ke luar batas wilayah nasional.
Kini, 36 tahun kemudian, para staf Electric Power Research Institute (EPRI) menyebut, kegagalan energi
itu sebagai "badai yang sempurna." Institut yang didirikan mengikuti kegagalan 1965 itu yakin, bahwa
masyarakat AS belum sepenuhnya mengambil hikmah dari kejadian spektakuler tersebut. Krisis masa kini
membuat periset EPRI meyakini bahwa kita memerlukan metode pintar atas pembangkit listrik, transmisi,
dan pengantarnya, bukan hanya kebutuhan atas meningkatnya daya listrik. "Ini bukan soal memasang lebih
banyak lagi kabel listrik, atau bersatu untuk membuat teknologi masa kini berfungsi lebih baik," ujar
Presiden EPRI, Kurt Yeager. "Itu sama saja seperti berusaha menasikan sepiring bubur."
EPRI merupakan konsorsium pengembangan dan riset skala besar bidang industri di AS. Institut terbesar di
dunia itu merepresentasikan peralatan dari 40 negara. Saat ini EPRI bahkan menghasilkan 90 persen energi
yang digunakan di AS.
Deklarasi pemerintahan Bush mengenai penerapan jaringan listrik dengan teknologi abad 21 itu tak terdengar
asing bagi EPRI, karena mereka telah membuat fondasi ilmiah untuk teknologi itu selama berpuluh-puluh tahun.
Walau terdapat perbedaan pandangan di antara anggotanya, juru bicara EPRI menyuarakan kesamaan pendapat
dengan banyak periset nasional AS. Penekanan solusi suplai energi saja bisa membahayakan, bila hal-hal yang
datang kemudian justru menghilangkan riset perangkat alternatif untuk membangkitkan, mendistribusikan, dan
menggunakan energi listrik.
Dalam beberapa tahun belakangan, serangkaian inovasi teknologi - dan yang lebih penting, sekumpulan ide-ide
ilmiah kritis - telah mulai berkoalisi atas model sistem energi yang bisa memenuhi kebutuhan masa depan.
Model penyediaan energi itu memungkinkan para penghasil dan pengguna listrik memperkecil akibat negatif
bagi lingkungan jangka panjang. Baik institusi swasta atau umum berpendapat, bahwa kebijakan yang diajukan
pemerintah saat ini, akan menghalangi inovasi-inovasi paling menjanjikan. Hal yang mereka khawatirkan
adalah jaringan energi dengan emisi tinggi yang akan digunakan puluhan tahun ke depan. Kesulitan atas
dukungan riset jangka panjang itu juga melewati batas negara.
Dua tahun lalu, Kurt Yeager mengundang ahli dari 150 organisasi untuk mendiskusikan tentang target riset
dan pengembangan energi 50 tahun mendatang. Untuk pertama kalinya pihak-pihak dari MIT, General Electric,
AT&T, Motorola, Oracle, Microsoft dan pemerintah, duduk satu meja untuk membicarakan masa depan. Hasil
akhir dari pertemuan itu adalah "Peta Teknologi Listrik" (Electricity Technology Roadmap) EPRI
(www.epri.com/corporate/discover_epri/raodmap/index.html.)
Menurut para pencetus "peta" tadi, untuk memenuhi kebutuhan abad nanti, pola pandang atas listrik harus
diubah secara besar-besaran. Pengubahan pandangan itu termasuk pada konsep stasiun listrik pusat yang
menghasilkan listrik ke luar melalui kabel panjang. "Dalam periode perubahan besar, hal yang paling
berbahaya adalah pendekatan terhadap masa depan," ujar Kurt Yeager. "Masyarakat kita berubah secara massal
dan lebih cepat dibandingkan dengan saat-saat setelah era Edison. Infrastruktur saat ini tidak kompatibel
dengan masa depan, sama seperti jejak tapal kuda dengan ban mobil modern," katanya lagi.
Masalah ketidakcocokan infrastruktur seperti itu telah terlihat secara nyata di Silicon Valley. Perusahaan
besar seperti Oracle saat ini, sedang mendirikan konstruksi jaringan energi untuk mereka sendiri dalam
bentuk substitusi, generator diesel, dan sistem pengkondisian tenaga. Untuk industri yang sensitif atas
fluktuasi listrik seperti "ladang" server dan chip komputer, biaya untuk membangun sumber listrik mandiri
sungguh kecil dibandingkan kerugian yang bisa mereka alami. Hewlett-Packard pernah memperkirakan bahwa
kegagalan pasokan listrik selama 15 menit pada pabrik chip-nya, akan merugikan US$ 30 juta, atau separuh
dari dana energi yang dikeluarkan pabrik tersebut selama satu tahun. Jenis pendistribusian sumber energi
semacam itu merupakan gambaran jenis jaringan baru, yang akan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
digital.
Jaringan tersebar yang merupakan perkawinan teknologi abad 19 dengan penemuan akhir abad 20, itu belum
punya nama. Pada "inkubator" energi untuk masa depan seperti Pacific Northwest National Laboratory dan
Bonneville Power Administration, para periset menggambarkan sistem baru itu dengan fase Intelligent Grid
(jaringan pintar), The Energy Grid (jaringan energi), dan The Energy Web (jalaenergi).
Bagian dari jaringan itu telah muncul di seluruh sektor industri listrik. Bayangkan, sebuah peta yang
didesain oleh konsorsium pembuat mainframe, yang pada 1960 telah mendeklarasikan kehadiran komputer,
broadband wireless, dan Internet sebagai masa depan dunia! Pesan dari peta EPRI itu adalah pemberitahuan
bahwa revolusi dengan taraf di atas telah dimulai.
Pada 1999, perusahaan raksasa Swiss ABB mengejutkan dunia ketika mereka mengumumkan bahwa mereka mengalihkan
fokus dari pembangunan pembangkit energi listrik nuklir ke pembangunan pembangkit listrik dari sumber yang
bisa diperbarui dan tersebar. Itu merupakan istilah lain metode berukuran kecil untuk mendatangkan listrik
lebih dekat lagi ke konsumen. Seth Dunn dari Worldwatch Institute menggunakan istilah canggih untuk
pembangkit listrik tersebar: micropower.
Sumber daya ramah lingkungan seperti rangkaian photovoltaic dan turbin angin termasuk dalam kategori
micropower. Begitu juga mesin timbal balik, fuel cell, serta turbin mikro berbahan bakar bensin. Micropower
cukup populer di pasar dunia, di negara industri, dan di daerah-daerah tidak terjamah listrik, yang
memungkinkan daerah sekitarnya tumbuh tanpa harus menunggu listrik nasional berbiaya mahal.
Salah satu cerita sukses dari jaringan pembangkit listrik adalah penggunaan tenaga angin - sekarang
merupakan sumber tenaga paling cepat dengan perkembangan 24 persen per tahun. Kini kincir angin bertebaran,
terutama di Eropa. Denmark mengambil 13 persen kebutuhan listriknya dari sumber yang bisa diperbarui.
Sementara perusahaan Denmark seperti Vestas Wind System dan Bonus Energy menghasilkan turbin angin untuk
setengah permintaan dunia (Jerman, Spanyol, dan Inggris). Akhir tahun ini, ladang turbin angin di Texas
yang sedang dibangun, akan menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan 139 ribu rumah.
Menurut Majalah Wired edisi Juli, penyediaan listrik tenaga angin itu mengurangi emisi karbondioksida
sebesar 20 juta ton. EPRI juga membantu membentuk pasar pengguna listrik tenaga angin dengan mendesain
turbin yang bisa menghasilkan daya yang stabil dalam putaran turbin tidak tetap. Pada 1995 turbin angin
berkecepatan variabel yang berhasil didesain, mampu menghasilkan 3 miliar kilowatt/jam daya listrik tiap
tahun.
Photovoltaic yang menghasilkan listrik dari sinar matahari juga mulai populer. Musim gugur ini, proyek
tenaga matahari terbesar akan dijalankan di Filipina. Proyek bernilai US$ 48 juta itu akan menghasilkan
listrik untuk 400 ribu rumah dari 150 desa di Pulau Mindanao, rumah dari 1/3 penduduk miskin Filipina.
Proyek itu juga mampu membangun 69 sistem irigasi dan 97 sistem penyaluran air minum baru. Sementara itu
penerangan dan peralatan medis untuk 147 sekolah serta 37 klinik kesehatan juga ada, berkat proyek itu.
76 sistem AC baru juga tersedia hingga memungkinkan pembentukan bisnis lokal yang baru. Proyek Mindanao
itu memang besar namun potensi micropower untuk memperbaiki taraf hidup negara berkembang terlihat di
seluruh dunia.
Dalam artikel Micropower: The Next Electrical Era (www.worldwatch.org/pubs/paper151.html), Seth Dunn
menuliskan pasar untuk pembangkit listrik tenaga angin dan matahari di negara Cina, India, Indonesia,
dan Afsel yang telah menggunakan panel photovoltaic untuk jaringan telepon kota. Sementara itu puluhan
ribu penduduk Kenya akan menggunakan tenaga matahari untuk keperluan rumah mereka.
Di banyak negara yang memiliki sinar matahari serta angin yang cukup, biomass berkarbon tinggilah
yang digunakan oleh masyarakat ekonomi lemah. Sumber energi yang didapat dari kayu, batubara, dan kotoran
binatang, itu ternyata memberikan akibat membahayakan bagi tubuh pembakarnya, terutama perempuan. Menurut
Wired, di Cina, perempuan yang tidak merokok menderita bronkitis kronis, kanker rongga nafas, dan penyakit
jantung - jumlahnya melebihi perokok kronis.
Di negara yang telah memiliki akses listrik, sumber daya micropower akan memperkecil emisi karbondioksida,
menaikkan efisiensi energi, dan meringankan beban jaringan listrik yang ada, terutama saat tingginya
permintaan. Tidak semua metode yang ditawarkannya bersih - generator diesel yang dipakai di Silicon Valley
juga termasuk dalam kategori micropower, namun penghasil listrik yang menggunakan bahan bakar dari fosil
seperti itu, berakibat lebih ringan kepada lingkungan hidup bila dibandingkan dengan pusat pembangkit
listrik yang biasa kita jumpai. Microturbin bahkan bisa memakai bahan bakar pilihan seperti metanol,
propane, dan gas alam.
Terdapat cara lain untuk mendatangkan sumber energi lebih dekat lagi ke rumah. Salah satunya adalah
cogeneration yang menggunakan panas sebagai sumber energi. Di abad pertengahan, panas berlebih dari
tungku ditangkap untuk memutar panggangan makanan mereka. Sementara Pearl Street milik Edison,
mengalirkan panas ke kantor klien mereka. Cogen saat itu telah digunakan secara luas pada pabrik-pabrik
di AS, sampai energi tersebut jauh terpisah oleh konsep pengusaha Samuel Insull. Bila turbin konvensional
kehilangan 2/3 energinya ke atmosfer, maka cogeneration bisa menghasilkan efisiensi energi sampai 70
persen, atau malah lebih tinggi serta memotong emisi CO2 sampai 50 persen. Selama ini MIT telah menggunakan
turbin Cogen yang menghasilkan daya sebesar 21-kilowatt untuk memenuhi kebutuhan listrik kampusnya
sendiri.
Teknologi cogen/micropower dengan aspek komersial dan aspek ramah lingkungan adalah fuel cell. Fuel cell
menggunakan prinsip pembakaran elektrokimia antara hidrogen dengan oksigen, lalu menghasilkan arus
listrik stabil dan hanya mengeluarkan uap air serta panas. Tidak seperti turbin bensin, fuel cell tak
bekerja dengan suara berisik. Saat dihubungkan dengan electrolyzer air - seperti fuel cell yang dibalik
-juga bisa menyimpan listrik dalam bentuk hidrogen. Energi itu bisa dialirkan kembali ke sistem di atas
saat dibutuhkan lagi. Musim panas lalu pos Amerika mendirikan pusat pos di Alaska dengan tenaga fuel cell,
sementara sejak kejadian atas kegagalan listrik, First National Bank di Omaha menggunakan fuel cell untuk
memasok tenaga komputernya.
Fuel Cell yang pada awalnya dikembangkan oleh General Electric untuk NASA, sudah bergerak ke industri
otomotif. Perusahaan otomotif seperti DaimlerChrysler, Ford, dan Ballard Power System telah menginvestasikan
US$ 1 miliar untuk pengembangannya. Sementara General Motors, Toyota, Nissan, Honda, dan Mitsubishi telah
mengeluarkan dana mereka sendiri. Semua produsen utama otomotif telah memiliki rencana mobil hibrid, seperti
mobil Toyota dan Honda yang akan keluar dua tahun lagi. (Dua perusahaan itu sudah mengeluarkan mobil hibrid
listrik dan bensin - Prius dan Insight - di pasaran).
Mengubah tiap mobil untuk dapat menghasilkan energinya sendiri merupakan satu ekspresi potensial pada model
bisnis yang mulai muncul. Model bisnis penjajakan energi yang dicantumkan pada roadmap EPRI itu adalah:
perubahan pengguna energi pasif menjadi penghasil energi lepasan (freelance), yang berkembang paralel dalam
media interaktif, pembagian file dengan sistem peer-to-peer, dan pengaturan mandiri. Dengan menaikkan rasa
kepemilikan dalam hal penghasilan energi dan keuntungan finansial yang cepat, model power-to-the-people ini
bisa menjadi insentif yang lebih potensial untuk penggunaan "energi pintar" dibandingkan dengan permintaan
untuk melestarikan bumi.
Perubahan lambat laun akan terlihat di sekitar kita, sejalan dengan penerapan micropower itu. David Nye,
penulis Consuming Power and Electrifying America - dua tulisan mengenai bagaimana infrastruktur mempengaruhi
budaya dan masyarakat AS -menyatakan keyakinan pada penerapan teknologi dan strategi peta EPRI, yang
menghasilkan estetika arsitektural setempat.
Brent Barker dari EPRI melukiskan sebuah skenario yang menggambarkan bagaimana mobil-mobil menjadi palmtop
berjalan bagi jalamaya energi. "Bila Anda menjumlahkan tenaga dari semua mesin pada pabrik-pabrik di AS,
bisnis, ladang-ladang, pembangkit listrik, tambang-tambang, kapal dan pesawat terbang, kereta, dan
otomobil," ujar Barker, "maka akan ditemukan bahwa 95 persen kapasitas energi di AS berada di otomobil.
Hanya dua persen berada di pembangkit tenaga listrik."
Dengan penambahan interface untuk menyerap dan menyebarkan sumber energi baru itu pada jaringan yang
ada, Anda bahkan bisa memberikan energi untuk rumah atau kantor dengan bensin atau fuel cell hidrogen
dalam mobil Anda. Barker juga berpendapat, Anda bahkan bisa membantu pertokoan pada saat permintaan
listrik melonjak dengan cara menghubungkan mobil Anda pada outlet yang telah disediakan di areal parkir!
Saat itulah tawar menawar segera dilakukan.
Baker bukanlah satu-satunya yang berpikir demikian. The Economist edisi Februari menuliskan bahwa
Ferdinand Panik, kepala program fuel-cell DaimlerChrysler juga mendukung Baker. Dengan pembangkit energi
micropower yang tersebar luas, metode canggih untuk penyimpanan energi, serta kapasitor super, penyedia
energi dapat membantu melakukan stabilisasi seluruh infrastruktur dari bawah ke atas.
Untuk mengakomodasi jenis transaksi baru itu, struktur fisik jaringan itu sendiri harus diubah. Asumsi
bahwa listrik bergerak satu arah - dari pusat pembakaran batubara ke stop kontak di rumah Anda - terlekat
secara dalam pada relay-relay jaringan listrik yang ada. Influks tenaga dari sumber yang tak terduga,
bahkan bisa membahayakan bagi petugas penyedia energi listrik. Berbagai interface baru untuk
mengintegrasikan sumber daya micropower harus dikembangkan oleh lembaga seperti Institute of Electrical
and Electronics Engineers (IEEE). Bekerjasama dengan IEEE, EPRI bergerak membantu akselerasi penerapan
standar interface dari delapan tahun menjadi dua tahun saja, bahkan mungkin dirampungkan pada akhir
tahun ini.
Model bisnis baru penyedia listrik dan layanan energi terpadu, bermunculan di seluruh dunia dengan
kecepatan mengagumkan. Di Italia, sebuah penyedia layanan listrik memasang kabel bagi jutaan rumah untuk
mengakomodasi jaringan yang dibuat Echelon, sebuah perusahaan AS yang memungkinkan Anda mengatur
penggunaan energi rumah melalui ponsel. Di Denmark, sebuah penyedia layanan listrik menjual lemari
pendingin yang lebih efisien ke pelanggannya untuk mengurangi konsumsi energi jangka panjang. Dengan
cara itu pelanggan bisa berhemat sekaligus ramah pada lingkungan.
Tiga puluh tahun belakangan ini beberapa pemikir terbaik industri energi menaruh harapan yang
mengejutkan, sejalan dengan kritikus vokal, pakar ekonomi E.F. Schumacher. Pada 1873, ia mengatakan
bahwa para penyedia energi listrik memperlakukan sumber daya alam yang terbatas, seperti bahan bakar
fosil, sebagai pendapatan (income), bukannya sebagai modal (capital).
Listrik memang telah membius manusia. Itulah mungkin yang mendasari lahirnya industri nuklir, yaitu
utopia menghasilkan listrik murah tak terbatas. Masalahnya, kapan dunia bisa menemukan solusi lain
untuk mengatasi soal energi yang pelik itu.
|