| Setelah melesat awal 90-an, perekonomian Jepang serasa mandeg.
Para politisi impoten akibat skandal, dan banyak bank besar mengalami
kemunduran. Mampukah Jepang tetap memimpin masa depan?
Jangan khawatir. Jepang yang mengagungkan paham hypermodernism masih eksis.
Mereka masih memiliki teknologi super canggih sampai robotisasi individu.
Generasi hypermodernism muncul sekitar pertengahan 1980-an. Saat itu kekuatan
bisnis dan produk Jepang meledak dahsyat. Neuromancer melahirkan konsep
cyberpunk bagi masa depan Jepang. Logo hologram Fuji Electric tak lagi
menghiasi tower di jalanan Tokyo. Jepang mulai beralih ke era silico-,
nano- dan bio-Segala teknologi baru juga mengubah gaya hidup masyarakat
Jepang. Selain beragam teknologi baru, kita tak boleh melupakan beberapa
trade mark Jepang yang masih layak diperhitungkan. Sedikitnya, sepuluh asset
yang dimilikinya masih berjasa, sehingga Jepang tetap punya masa depan "wah".
Berikut adalah 10 kekayaan Jepang yang melanda kehidupan sehari-hari bangsa
itu.
1.
Industri
Produk buatan Jepang selalu memperhitungkan detil, tombol
sekecil apa pun, hingga setiap guratan, dirancang dengan teliti. Semua elemen
yang membentuk suatu produk seakan berkata, "Aku adalah bagian dari mesin ini
dan aku wajib menunaikan tugasku, meski tubuhku paling kecil." Bermacam model
yang akan dirilis tahun depan, mungkin tidak terlihat baru, tapi bisa dipastikan
lebih berkualitas. Dan, motto itu tidak hanya berlaku bagi perangkat
elektronik.
MUJI, pertokoan bergaya minimalis, sedang dalam usaha
memperluas pasar. Dalam waktu dua tahun, mereka telah membuka 15 toko di Prancis
dan Inggris.
2.
Arsitektur
Jepang mempengaruhi paham arsitektur modern dengan sebuah
kekuatan dan sentuhan elegan yang sungguh impresif. Konsep minimalis ruangan ala
Jepang tidak sekadar nyeni, namun menghadirkan suasana nyaman dan tenteram di
hati. Beberapa arsitek Jepang terkenal antara lain Tadao Ando, Yoshio Taniguchi,
Toyo Ito, Arata Isozaki, dan Shigeru Ban.
Inovasi arsitektur terbaru yang akan hadir di Jepang adalah
Tokyo Disney Seas. Pembangunan taman hiburan di atas tanah seluas 176 hektar
tersebut menghabiskan biaya US$ 2,8 miliar, rencananya akan dibuka
September.
3. Merek
Ngetop Hello Kitty tidak mencerminkan apa pun. Ia tak
pernah dan tak akan menjadi sesuatu. Ia hanyalah lisensi, padahal sudah
mendunia. Bahkan, ia tidak mewakili citra apa pun, ego sekalipun. Toh, ia ngetop
dari dulu hingga kini. Itulah Jepang. Bulan ini, Yu-Gi-Oh!
mengudara di WB Television Network. Serial remaja tersebut bercerita tentang
sebuah sekolah penuh monster jahat. Video game dan kartu permainannya sudah
populer di Jepang, dan akan diperdagangkan di Amerika Serikat saat Natal dan
tahun baru 2002. Saat ini Pokemon ditayangkan di 65 negara dan
diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Sejak debutnya pada 1996, Pokemon sudah meraup
US$ 15 miliar hanya dari penjualan pernak-perniknya.
4.
Musik
Disc Jockey (DJ) dan produser musik hip-hop
sangat tertarik pada perangkat audio Jepang produksi akhir 1970-an dan awal
1980-an. Technics 1200 merupakan pilihan terbaik DJ, dan Roland TR-808 Rhythm
Composer memiliki karakter bas yang kuat. Pokoknya, menyimbolkan dance
elektrik serta musik hip-hop. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah
piringan hitam yang terjual mencapai 10 kali lipat, dengan harga berlipat ganda.
Intinya, phonograph sudah dianggap sebagai instrumen musik, bukan sekadar alat
perekam. Perangkat DJ juga buatan Jepang, baik Technics maupun
Vestax.
5.
Robot
Tren Hollywood saat ini adalah, robot suatu hari nanti akan
menjadi penguasa dunia. Lihat saja film Terminator dan A.I. Selain itu, Amerika
Serikat juga rajin membahas pemberdayaan robot dalam setiap operasi militer.
Sebaliknya, Jepang justru melihat robot sebagai teman, pekerja, bahkan asisten.
Intinya, robot dapat bekerjasama dengan manusia, bukan menggantikan kedudukan
mereka di muka bumi. Itulah pembeda Jepang dengan negara lain. Buktinya, Eropa
mengimpor tenaga kerja murah dari Turki dan Afrika, Amerika Serikat mengimpor
dari Meksiko. Tapi, Jepang tidak melakukan hal serupa. Kan ada robot?! Lebih
dari separuh jumlah robot industri di dunia (750 ribu) diproduksi di
Jepang.
6.
Komik
Osamu Tezuka mengembangkan Manga setelah Perang Dunia
II. Rupanya Tezuka terpengaruh Carl Barks, kreator Paman Gober. Tezuka
menuangkan cita rasa Amerika Serikat ke dalam tubuh komik Jepang. Ia memadukan
Disney dengan cerita menarik. Di Jepang, komik berkembang menjadi bahan
literatur seni. Ada komik romantis, komik historis, sampai komik olahraga.
Intinya, komik diciptakan bagi setiap segmen pasar. Sekarang keadaan berbalik,
Disney justru yang meniru Jepang. Contohnya, The Little Mermaid sangat
dipengaruhi gaya Manga, bahkan The Lion King sesungguhnya diadaptasi dari
Kimba the White Lion
karya Tezuka. Manga seringkali
mengilhami terciptanya film animasi. Princess Mononoke adalah film kedua
terlaris di Jepang setelah Titanic.
7. Video
Game
Jepang adalah Hollywood-nya video game. Mereka
pembuat game terbaik. Jepang memiliki ribuan tim R&D serta dana raksasa
untuk menciptakan berbagai permainan canggih. Jika di belahan bumi lain satu tim
terdiri atas 50 orang, Jepang punya 200 orang. Cara Jepang memasuki ajang
industri itu sama dengan cara yang ditempuh Cecil B. DeMille dalam perfilman.
Seperti membuat film, Jepang juga menggunakan kamera, penyutradaraan, dan alur
cerita. Kini, game dan film berkolaborasi. Lihat saja The Matrix dan
Crouching Tiger, Hidden Dragon. Beberapa gerakan
tokoh utamanya justru banyak meniru gerakan jagoan dalam game. Nintendo telah
memproduksi 115 juta Game Boy. Jumlah yang cukup bagi seluruh orang Jepang. Satu
orang satu.
8. Barang
Baru
Siklus perdagangan produk Jepang jauh lebih aktif dari Amerika
Serikat: penjualan, pembelian, maupun jumlah produksi. Hiroshi, perancang busana
di balik label Good Enough memiliki toko di Osaka, buka Rabu sampai Sabtu.
Setiap Rabu ia memajang produk baru di etalase - biasanya T-shirt atau barang
lain. Ia juga mendesain untuk Nike - selalu laris manis. Pembeli antre dua jam
sebelum toko buka, karena persediaan terbatas.
Biasanya, Amerika Serikat tak mau merilis notebook
terbaru sebelum ada jaminan bakal laku, setidaknya 250 ribu unit di seluruh
dunia. Namun, Jepang lebih eksperimental. Bagi Sony, Fujitsu, Hitachi, Toshiba,
Sharp, Casio, dan NEC, laku 25 ribu unit saja sudah cukup untuk jadi landasan
produksi. Karena ongkos registrasi mahal, masyarakat Jepang sulit
memiliki mobil lebih dari lima tahun. Karenanya, masyarakat Jepang selalu haus
akan model baru. Yang lama akan diekspor ke Asia Tenggara dan
Eropa.
9.
Erotisme
Sebagai simbol kebaikan, dekorasi tali mempengaruhi banyak
aspek di Jepang. Sudah 3 ribu tahun tradisi itu menyatu dalam kultur Jepang.
Tali sering dipakai sebagai desain kerajinan tembikar Jepang masa prasejarah. Di
kuil pemujaan Shinto, bahkan terlihat tali raksasa pertanda tanah suci. Saat
upacara pernikahan, uang dibungkus dan diikat dengan simpul berbelit. Kimono,
pakaian tradisional Jepang, diikatkan begitu saja ke badan, tanpa retsleting dan
kancing. Tali-temali tak terpisahkan dari kultur Jepang. Samurai zaman
pertengahan pun memiliki tradisi hojo jitsu, yakni seni mengikat tawanan.
Memasuki abad XX, Seiu Ito mulai mengabadikan gambar perempuan dalam ikatan
tali. Seni tersebut dinamakan shibari.
Industri hiburan segmen
dewasa di Jepang membuat 5 ribu film porno setiap tahun, dan wajib disunting
satu persatu oleh Badan Sensor.
10. Pertunjukan
Game
Awal 1990-an, mempermalukan orang
merupakan permainan populer di Jepang. Di Trans-America Ultra Quiz, kontestan
yang kalah disertakan dalam 'the losers'. Mereka diminta melakukan
perbuatan memalukan atau pekerjaan sulit. Seseorang bahkan pernah dicat merah
sambil berdiri di sudut jalan, berteriak, "Saya kalah!". Sekarang, Amerika
Serikat gantian keranjingan Survivor dan The Weakest
Link. Saat ini, The Food Network sedang mengembangkan versi Amerika Serikat Iron Chef, pertunjukan
memasak yang melibatkan artis.
_______________ Sumber : Telset Maggazine |