| Mengapa Kita Membutuhkan Web Enabled Contact Center?
Kita mengetahui lingkungan web yang biasa disaksikan dan dinikmati oleh pelanggan
di dalam dunia “e” saat ini, sehari-hari pasca jam kerja atau pra–jam
kerja dan bahkan dengan mencuri waktu di dalam jam kerja memang dinilai mampu
menyajikan informasi kepada netter dalam bentuk tertulis yang dapat dicetak,
dan apabila perlu dapat dipergunakan sebagai bahan laporan ke Yayasan Lembaga
Konsumen atau badan hukum, jika ternyata ada ketimpangan antara informasi yang
diberikan dengan kenyataan di lapangan.
Melalui web pula setiap netter dapat memperoleh informasi yang menbentuk suatu
wawasan e-knowledge yang membuat pelangan semakin memahami apa yang akan dia
inginkan. Pelanggan dapat mengetahui secara 2 dimensi atau secara visualisasi
3 dimensi dari barang yang akan dibeli. Apabila ia tertarik, maka bukan tidak
mungkin untuk bisa langsung melakukan pembelian barang melalui kartu kredit
yang sudah dapat dilakukan seluruhnya melalui interface web dengan sekuriti
yang baik.
Mungkin timbul pertanyaan di benak
beberapa orang mengapa kita membutuhkan suatu contact center yang lebih maju,
yang bisa memberikan nilai tambah pada web yang dimiliki. Apakah perlu membangun
web enabled contact center? Beberapa literatur menyebutkan bahwa web enabled
contact center
(WECC) merupakan web
di mana di dalamnya tersedia fasilitas untuk bisa berkomunikasi suara bahkan
multimedia dengan customer service representative perusahaan. Apakah kurang
performansi call center, web dan customer service yang dimiliki dalam memberikan
layanan?
Apalagi apabila tim perumus sudah
menyatakan bahwa untuk membangun WECC ini akan berkaitan dengan investasi. Sudah
wajar apabila ada feasibility study yang akan menanyakan apa pentingnya
membangun sebuah web enabled contact center
.
Pimpinan perusahaan dapat langsung
melakukan investigasi terhadap investasi yang sudah digelar besar-besaran mulai
dari membayar konsultan, membayar designer, design review meeting, outsource
gambar ke seorang artist, content manager, transaction manager dan e-commerce
supervisor, bahkan manager khusus untuk menangani kanal perusahaan melalui dunia
maya, yaitu web. Pimpinan harus menggaji per bulan atau per kontrak yang harus
selalu diamati dan dilaporkan performansinya di depan komisaris dan sebagainya.
Dan tiba-tiba atau tanpa disadari atau tidak, ternyata ada saran untuk membangun
web enabled contact center
?
Mari kita anggap saja negara atau industri kita sudah benar-benar hendak melibatkan
dirinya ke dalam komunitas global information infrastructure melalui internet
dan sudah ada undang-undang yang mengharuskan serta ada tuntutan sebagai perusahaan
yang siap bersaing di APEC, AFTA atau bahkan WT0.
Beberapa alasan atau jawaban yang bisa dipergunakan untuk menjustifikasi keperluan
tersebut antara lain bisa dipandang dari sudut yang mungkin terlupakan, bahwa:
- Di dalam web, pelanggan dapat memperoleh informasi
e-knowledge sampai membeli suatu produk dengan memindahkan icon yang memiliki
link dengan produk yang akan dibeli ke sebuah “shopping basket” yang akan
dikalkulasi di “kasir” kemudian kita diwajibkan memasukkan tagihan ke kartu
kredit dan sebagainya. Namun pada kenyataannya sebagian pelanggan mengakses
via network yang kurang handal baik di jaringan kantor atau jaringan publik
sehingga bisa terjadi kemungkinan 60% akan mengakhiri sesi, sebelum masuk ke
dalam shopping cart dan transaksi. Kalau saja ini dianggap sebagai opportunity
lost, maka mungkin perlu dikalkulasi lagi. Dan apalagi di dunia “e” saat ini
seseorang yang tidak puas bisa saja menghubungi 10 email lainnya atau minimal
1 mailing list untuk membicarakan ketidakpuasan baik terhadap network
infrastructure atau kepada e-commerce server yang dimiliki. Pelanggan memiliki
suara dan berhak untuk menilai apa saja. Namun apakah seorang perusahaan yang
sudah ber-“e” life style akan mengelak dan mencoba mengalihkan kesalahan pada
yang lain. Email berikutnya yang membicarakan ping-pong kesalahan ini akan
muncul dari pelanggan yang sama yang pada akhirnya tentu berakibat kurang
baik.
- Web merupakan sebuah channel yang dapat kita isi
dengan animasi dan menjadikannya sebuah vending machine maya yang sangat
menarik. Mulai dari tata letak warna, animasi, suara bahkan sekuritas yang
“sangat” terjamin serta menghilangkan edge of business. Namun perlu disadari
bahwa web lebih “pasif “ daripada suatu call center, namun call center di satu
sisi tidak bisa menjadi vending machine dengan citra, suara dan video yang
sangat menarik. Se-canggih apapun web tersebut dipercaya hingga periode akhir
tahun 2001 sampai pertengahan 2002, khususnya di Indonesia web presence dan
web commerce tetap saja memiliki lebih banyak sifat pasif. Susunan informasi
pada web presence dan web commerce tidak akan bisa melakukan real time
customizing, negosiasi, dan lainnya masih tetap memerlukan komunikasi yang
lebih real time langsung dengan company representative. Mungkin bisa
dibayangkan suatu e-banking bisa hadir tanpa phone bankingnya. Atau sebuah
Bank swasta (karena yakin lebih jauh inovasinya) yang berbisnis Kredit
Pemilikan Rumah memberikan space untuk berinteraksi di web, namun Bank dan
calon kreditur tersebut tidak akan bisa bernegosiasi untuk menentukan plafon.
Satu contoh misalnya BCA di Indonesia yang selain menjual di www.klikbca.co.id
atau www.bca.co.id namun juga mencantumkan bahwa keterangan lebih lanjut dapat
menghubungi HALO BCA. Hal yang sangat sulit dilakukan oleh Bank milik
pemerintah. Untuk itu di antara kedua channel ini akan dibuat linknya.
- Perlu sarana untuk menangani dan memberikan perlakuan khusus kepada suatu
masyarakat atau komunitas pelanggan yang apabila dilihat kulturnya masih menyukai
interaktivitas dengan company representative untuk memperkuat opini
mereka terhadap perusahaan tersebut. Bangsa Indonesia memiliki kebiasaan gotong
royong yang demikian kuat di masa lalu. Selain itu bangsa Indonesia sudah
terlalu sering untuk menjadikan bahan lisan sebagai pegangan dan bukan berpegang
pada aturan yang tertulis formal. Bahkan sering sekali peraturan formal akan
tidak diberlakukan tergantung pihak yang berinteraksi. Untuk itu bukanlah
jelek apabila perusahaan yang akan ber “e” life style melengkapi
webnya dengan suatu sarana yang mampu untuk berkomunikasi dengan customer
representative (CSR). Bukan tidak mungkin akan ada hit atau call yang
lebih besar ke call center sambil membuka web sites. Fitur web escorted
browsing, web chat dengan dukungan VoIP bisa menambah gemarnya orang membuka
web sambil menghubungi perusahaan.
Di dalam transaksi dengan dunia maya, diakui atau tidak, maka pelaku bisnis
yang sangat powerful ialah Sumber Daya Manusia. Tentunya bisa saja berbeda apabila
hal ini dinyatakan oleh vendor, karena mereka ingin produknya laku, meskipun
di akhir presentasi mereka akan mengatakan hal serupa.
SDM ini akan sangat berperan besar pada saat closing dari suatu proses marketing
dan selling. SDM yanfg mengalami reorganisasi dan redefining business process
besar-besaran akan dapat memberikan jawaban dengan wewenang tertentu yang cukup
luas dibandingkan sistem konvensional saat ini. Pertanyaan dari pelanggan yang
mungkin tidak akan terjawab di halaman-halaman web dengan susunan paragraf dan
animasi seatraktif apapun. Jawabannya cukup sederhana, karena web hingga awal
abad milenium ini tidak memiliki jiwa, bank emosi dan IQ dan EQ yang selalu
terupdate ke arah negatif atau positif untuk berinteraksi. Web tidak akan memberikan
kepuasan kepada pelanggan yang kadang harus “dimenangkan” sedikit
demi memperlancar jalannya proses commerce. Indonesia dengan segmen kelompok
the have yang ternyata sudah tidak buta dunia “e” namun menuntut terlalu
banyak dari suatu web dapat dijembatani oleh lahirnya web enabled contact center.
Ia dapat berminat ditelepon kembali atau langsung berkomunikasi melalui Voice
over IP melalui kanal ISDN atau PSTN dan melakukan chat dengan CSR. Dan belum
tentu si pelanggan tersebut yang mengakses, tetapi asisten atau sekretarisnya.
Bagaimana tanggapan terhadap e-mail?
Beberapa organisasi mempercayai bahwa interactive email response akan
dapat memberikan suatu berita yang dapat memberikan jawaban kepada pelanggan
dengan segera, dengan harapan pelanggan itu merasa diperhatikan. Namun saat
ini kita berada di era milenium dengan kecanggihan aplikasi sekelas Ms Exchange
dan Outlook yang mampu memainkan rules atau out of office reply atau automatic
reply dalam menjawab email. Namun apakah disadari dan pernah disurvey bahwa
hal ini jelas tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan? Kembali kita
mengingat bahwa perusahaan “e” di Indonesia perlu sekali-kali berkunjung
ke YLKI atau ke Researcher terkenal untuk mendapatkan data, apa yang diharapkan
dari perusahaan. Mungkin jawabannya akan berwujud kebutuhan akan sistem CRM
dan e-CRM, akan tetapi pada satu titik harus dipertanyakan mengenai apakah netters
(konsumen juga) memiliki ekspektasi kepada perusahaan “e’ yang ada
di Indonesia.
Mungkin perlu pula mendefinisikan apa yang diharapkan customer dari suatu framework
internet bisnis sebagaimana tersirat berikut ini.
Salah satu pedoman yang dapat diambil dari beberapa pendapat pakar, meskipun
ia sering berkecimpung di dalam dunia marketing ialah Email handling is very
poor at present for most companies. Hal ini tidak saja berlaku di Indonesia
di mana tingkat kepuasan pelanggannya boleh dibilang cukup rendah, namun juga
berlaku untuk perusahaan kelas ASEAN atau Asia. Hal ini memang berlaku, karena
email tidak bisa merepresentasikan real time communication dan komunikasi emosi.
Akan tetapi harus disadari pula apabila berkacamata dari sudut teknologi, maka
memang email merupakan teknologi messaging atau pesan. Pesan memang tidak bisa
real time sebagaimana lazimnya titip pesan untuk disampaikan ke suatu pihak.
Menurut sebuah badan riset (Gartner Research 1999) yang telah melayangkan email
ke 38 perusahaan financial services yang sering menerima dan memberikan informasi
melalui email diperoleh data-data sebagai berikut:
- 2 % tidak memberikan respon asli dari orang, tapi
hanya sebuah email otomatis
- 50% email tersebut mengucapkan terima kasih
- Rata-rata respon perusahaan terhadap inquiry yang
free of charge ialah 3 hari
- Rata-rata respon terhadap inquiry yang formal ialah 5
hari
- 25 % tidak pernah memberikan respon
Sepertinya dari data di atas terlihat bahwa memang masih ada perusahaan yang
menyajikan web yang sangat menarik, namun belum menetapkan atau tepatnya mengetahui
apa harapan pelanggan di suatu masyarakat khususnya negeri Indonesia yang mungkin
memiliki kultur tertentu. Suatu kultur yang senang mencoba hal baru, dan terjebak
dengan banyaknya promosi dari hal-hal baru tersebut.
Pertanyaan Pertama: Apa Strategi Bisnis Kita?
Apa yang menjadi pertimbangan atau hal yang harus dipikirkan secara praktek
dalam mempergunakan e-channel dan contact center.
- Seperti apakah strategi bisnis kita dan apakah
strategi itu? Apapun jawabannya harus berdasarkan customer-oriented,
- Teknologi seperti apakah yang dipergunakan? Apakah
standard driven, master plan driven atau vendor driven. Perlu disadari bahwa
masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan,
- Apa saja yang harus dilatih dan bagaimana dampaknya terhadap SDM? Hal ini
merupakan hal yang sering diabaikan oleh suatu perusahaan bahwa training memang
perlu selain untuk menempa diri di mana di suatu session training ia akan
melihat orang lain yang lebih “cerdas” atau sebagai saran mengembangkan
networking dengan orang lain.
Bagaimanakah implementasi web enabled contact center?
Ada dua pendekatan yang mendasari implementasi web enabled contact center,
yaitu:
a. Memisahkan web dan seluruh contact center yang lain,
- Baik dilakukan dengan menggunakan teknologi yang
berbeda. Sistem web akan berbeda dengan customer service
- Atau menerapkan layanan yang sama sekali berbeda. Misalnya dimulai dari
perbedaan kemudahan, perbedaan layanan, atau kita mengarahkan untuk menggunakan
ke salah satu kanal seperti Citibank yang dulu benar-benar memberikan arahan
untuk mengajak customer untuk mentransfer tagihan kartu dari ATM dan bukan
dari CSR
b. Mengintegrasikan pendekatan integrasi teknologi dari survey pemasaran.
Call Me buttons, terdapat sebuah icon untuk mengisi jadwal dan agenda
serta topik yang akan dibicarakan di suatu form dan kemudian dikirim dan CSR
di call center akan menelepon sesuai dengan jadwal yang diinginkan. Pertanyaan
yang muncul apakah si pelanggan mengingat jadwal kontak tadi atau apabila ada
keperluan mendadak, maka jadwal akan terpakai dan harus dibuat jadwal yang baru.
Sementara itu dapatkah web mengirimkan data real time mengenai perubahan jadwal?
- Contact Me – dengan
mempergunakan Voice over IP. Ini merupakan teknologi yang menjadi alternatif
utama. Namun apakah kondisi jaringan kita masih sanggup untuk memenuhinya.
- Co-browsing- bisa
dilakukan terintegrasi dengan contact me atau web chat, pelanggan akan
terpandu untuk membuka web sites, namun perlu dilihat bagaimana kultur
seseorang apabila sudah berbicara dengan CSR. Mungkin CSR tersebut sendiri
akan sia-sia memandu, karena si pelanggan akan terus bertanya. Hal ini hanya
mungkin bisa dilakukan untuk hal-hal yang susah direpresentasikan dengan
visual, tetapi pada peraturan. Misalnya tata cara KPR, syarat-syarat asuransi
dan sebagainya. Sehingga si pelanggan bisa bertanya pada butir-butir
pertanyaan yang jauh dari pertanyaan klasikal seperti, ”warnanya bagus atau
tidak? Enak atau tidak rasanya? "
- Web Chat- ini merupakan
teknologi chat yang menarik. Sekaligus mungkin membuat siapa pun akan bisa
menembus firewall untuk menghalangi orang-orang melakukan chatting di kantor
melalui mIRC.
- Human email dibundel dengan voice calls. Pertanyaannya sebesar
apa file kompresi wav dan mp3 yang akan dikirimkan?
Perlu dicermati lagi, web page itu sendiri sebenarnya sama sekali bukan pulau
tersendiri, melainkan sebuah strategi kontak yang multithreaded. Web enabled
contact center sendiri bukanlah merupakan pulau tersendiri, ia bukan merupakan
tanggung jawab dari call center manager atau bukan tanggung jawab dari web admin
dan supervisor semata. Namun merupakan tanggung jawab perusahaan “e”
yang mengaku dirinya sudah membentuk proses dan organisasi yang customer-oriented.
Penerapannya di dunia meskipun di negara-negara maju di bidang teknologi ternyata
mengintegrasikan legacy system mereka dengan yang baru ataupun menggantikan
teknologi lama dengan yang sama sekali baru.
Tipe komunikasi bagaimana yang cocok untuk percakapan singkat?
Para praktisi pasti sudah cukup familiar dengan “Beresford Grid”.
Di bawah ini cuplikan dari diagram yang dicantumkan di dalam salah satu web
sites.

Gambar 1. Teori Beresford Grid
Namun dengan perkembangan teknologi, ternyata Beresford Grid ini disesuaikan
dengan perkembangan zaman sehingga menjadi sebuah diagram yang cukup menyulitkan
dan seolah-olah terdapat tumpukan-tumpukan dan irisan. Di dalam diagram ini
co browsing dengan VoIP merupakan salah satu alternatif yang terbaik dengan
kebutuhan pengalaman seorang CSR yang tinggi, dengan gaya penjualan yang cukup
dingin. Sementara call me buttons justru akan membuat percakapan menjadi lebih
hangat.

Gambar 2. Pemetaan Relationship Channel Terhadap
Beresford Grid
Email bersifat Universal
Email telah membuat jenjang dan batasan-batasan yang kaku khususnya di suatu
instansi yang menyadari perubahan menjadi hilang. Seorang SDM yang dianggap
berpangkat rendah (umumnya anggapan ini dilakukan oleh perusahaan konservatif)
bisa bertemu dengan manager yang mungkin hanya dilihat setahun dua kali pada
saat Hari raya atau Tahun baru. Pertemuan melalui email pun bisa membuat siapa
pun di perusahaan tersebut memiliki bukti otentik akan ucapan, pikiran dan tindakan
seseorang yang tertuang di email. Seorang SDM yang merupakan officer bisa mengaku
sebagai manager dan dapat mendapatkan informasi dan mendapatkan perlakuan email
yang baik dari counterpartnya.
Tribalism atau persukuan-pun terjadi dengan pembentukan mailing list untuk
masalah tukar menukar informasi mengenai trick membeli handphone, mengakali
software aplikasi buatan Microsoft dan Linux. Hal ini membuat timbulnya suku-suku
di dalam dunia maya tersebut.
Yang paling tidak disadari adalah, email dapat ditransfer ke orang person yang
berhak jauh lebih efektif daripada sebuah sambungan telepon konvensional. Apakah
mungkin menerapkan CTI application hingga ke meja manager HRD apabila terjadi
pertanyaan dari evaluator kartu kredit terhadap calon pelanggan yang berasal
dari perusahaan tersebut. Dengan email, dapat disampaikan dan apabila media
kapasitas messaging sangat besar, maka email ini dijamin akan datang dan kemungkinan
dibaca sekitar 70%. Secara internal di kantor pun seorang staff akan dapat mencari
alamat email managernya dengan membuka address book atau Global Address List
(Microsoft).
Alternatif untuk sedikit memisahkan antara Web dengan Contact Center
- Penggunaan email dari teknologi yang terpisah, dalam
arti antara email dan web sites yang memiliki form feedback merupakan island
yang berbeda. Penerima feedback dari website akan berbeda dengan penerima
email yang berisikan feedback. Bisa saja terjadi selama kandungannya tidak
membutuhkan suatu order atau transaksi yang bisa menjadikan transaksi ganda
- Menunjukkan nomor telepon di dalam web sites.
Sebagaimana lazimnya di dalam web sites biasanya ada nomor telepon CSR yang
bisa dihubungi baik dalam jargonnya menyatakan 24 jam, meskipun tidak demikian
dalam kenyataannya
- Menggunakan sistem direct web-based transactions, dimana web tersebut
lengkap menyediakan fasilitas e-commercenya dan tidak akan ada satu jalanpun
untuk menghubungi CSR melalui kanal lain baik telepon, email atau fax atau
bahkan kantornya sekaligus
Ini merupakan pendekatan yang sangat baik dalam mencoba implementasi teknologi
dan business process. Dari berbagai kanal tersebut akan lebih baik dapat menarik
suatu garis yang ternyata berintegrasi antara proses bisnis di email, web, CSR
dan marketing perusahaan.
Perlu mengetahui apa yang harus dilaksanakan pada saat awal dan apa yang
belum perlu dilaksanakan:

Diagram di atas menunjukkan suatu proses di mana seorang supervisor atau seorang
CS manager akan berusaha menkoordinasikan seluruh kanal kontak perusahaan. Namun
tentu saja sangat sulit terutama bagi perusahaan yang baru akan bergerak ke
bisnis tele-services secara “e” life style atau call center. Ia akan
terjebak pada pemilihan satu kanal yang akan lebih diprioritaskan.
Memang diagram seperti di atas akan diutarakan oleh banyak orang, namun pada
kenyataannya tidak mencapai sasaran. Untuk itu starting point harus dimulai
dari suatu tempat. Tidaklah mungkin suatu proyek dimulai bersama-sama secara
sinergi. Namun jelas harus dimulai dari suatu starting point yang ditetapkan
oleh Project Manager yang memang harus memiliki kualifikasi Project Management
yang baik. Dari sini semua akan berjalan sesuai dengan alur yang akan digambarkan.
Bagaimana membangun web enable contact center?
- Call me button di dalam web page
Dipergunakan untuk mengatur jadwal call dari call center ke customer, baik
disusun berdasarkan tanggal, jam, atau nomor urut.
Mudah-mudahan saja ini merupakan really powerful technique dengan high value
product. Customer akan sangat menyukainya apabila hal ini bisa berjalan baik.
- Click to call (talk) button
Teknologi ini meggunakan Voice over IP untuk membangun komunikasi dari sistem
PSTN / ISDN atau legacy system voice ke call center melalui IP.
Namun perlu diperhatikan untuk alternatif kedua ini akan terbentur masalah
delay. Apabila ini terjadi, maka bukanlah customer satisfaction yang dicapai,
namun sesuatu yang malah lebih rawan lagi yaitu keluhan pelanggan akan jeleknya
komunikasi. Apalagi pelanggan tersebut tidak mau tahu dan tidak perlu tahu bahwa
ada transformasi dari PSTN/ISDN ke IP LAN.
Call center mem-browse halaman yang sama dengan customers, bahkan bisa membimbing
customer untuk membuka page yang sesuai.
Namun hal ini akan cocok untuk web site dengan proses bisnis yang sangat kompleks
misalnya masalah bursa saham, atau customizing produk otomotif. Kalau masih
sederhana dengan shopping cart, mungkin fitur ini malah membutuhkan konsentrasi
pelanggan.
Melakukan chatting. Cukup baik untuk low-end product, akan tetapi berhati-hatilah
bahwa seakan-akan membeli, namun ternyata ada pelanggan usil. Ada baiknya recording
dan quality monitoring system diterapkan dengan baik.
Email bisa dikirim secara berjadwal dengan sebuah citra yang mewakili suatu
“quality of service”.
Mungkin sebagian dari kita pernah melihat bahwa sepertinya jawaban email dari
suatu perusahaan adalah jawaban yang seadanya. Hal ini harus dihindari, karena
akan memberikan kesan yang buruk. Cara merubahnya dapat diusulkan sebagai berikut:
- Memberitakan bahwa email yang dikirimkan ke pelanggan
memang ada yang bersifat auto acknowledgement. Namun perlu diingat bahwa
semaksimal mungkin hanya dilakukan cukup sekali.
- Atau apabila sangat sulit, dan sementara perusahaan
sedang sangat kesulitan menghandle email, maka bisa dilakukan dengan membuat
bahasa yang sangat manusiawi.
- Menyediakan sebuah atau sesuatu tempat word
processing yang menyimpan paragraf-paragraf yang isinya suatu bahasa yang
layak dipergunakan oleh orang berkomunikasi dengan suasana yang lebih humanis
dan sediakan pula tulisan-tulisan seperti FAQ untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan.
- Daripada terlibat dengan balas membalas email, apakah
tidak lebih baik agent menelepon seorang pelanggan atau sebaliknya.
- Cepatlah, sebuah perusahaan akan dianggap bagus apabila mampu menghandle
90% dalam 2 jam bekerja. Angka tersebut merupakan angka maximum dari suatu
penilaian good quality service.
Teknologi apa yang akan dipergunakan
Setiap teknologi memiliki karakteristik berbeda untuk kepentingan perangkatnya,
akan tetapi sebagian memiliki kelebihan untuk bisa mengeluarkan data dalam format
yang lebih disukai umum. Hal yang lebih penting ialah sebagaimana jauh dukungan
teknis dan customizability sistem yang mereka tawarkan.
- Hasil ini hampir mendekati dengan apa yang dikatakan convergence services,
untuk itu ACD dengan kemampuan dapat mendistribusi panggilan dalam format
VoIP serta melakukan call dalam VoIP, dapat menjadi salah satu opsi.
Beberapa vendor yang cukup terkenal sering memberikan solusinya dalam web
sites ialah Siemens dengan Hipath-nya, serta Avaya, Aspect dan sekarang di
Asia, dan macan-macan dari Korea mulai ikut meramaikan.
- Good email assistance
- Suggested responses,
berupa isi yang bersumber dari masukan-masukan dari CS manager dan manajemen
perusahaan.
- Pre-written paragraphs
berupa paragraf-paragraf semacam FAQ yang sudah disusun berdasarkan masa field
trial dan survey pelanggan secara nyata
- Spelling dan grammar check, sebaiknya isi yang dikirimkan harus pula
menggunakan susunan tata bahasa yang baku dan formal untuk menghindari salah
pengertian.
- Integrated queuing – benar-benar memberikan solusi
antrian untuk email, call secara lebih baik
- Workflow across channels – sudah saatnya setiap perusahaan mengabaikan
atau benar membatasi diri untuk memperlihatkan birokrasi hubungan antar channel,
namun sudah saatnya ke manapun channel yang dihubungi akan dapat mendapatkan
jawaban serupa.
- A Good Front End
- Produk apa yang sudah dikuasai dan diperbolehkan
untuk dijual di customer service
- Seperti apa gaya penjualan yang akan dipergunakan di
kemudian hari.
- Kontak history apakah yang dilakukan dengan multi chanel terintegrasi (email
apa yang dikirim, web page manakah yang dicari, form apa yang diisi, telpon
yang keluar/masuk)?
Isu apakah yang terkait dengan pengembangan SDM untuk mencapai kualifikasi
terbaik?
Dalam kasus berkomunikasi melalui email, apakah agent memiliki kemampuan
yang baik antara berkomunikasi lisan dan berkomunikasi tulisan?
Salah satu upaya untuk mengurangi kuatnya benteng yang membuat agent merasa
bosan akibat melakukan satu cara saja dalam waktu yang cukup lama, misalnya
terus menerus menjadi call center agent tanpa pernah melakukan komunikasi melalui
email dan sebaliknya. Caranya tak lain adalah melalui Built in Training, learning
by doing dan pelatihan formal ke suatu lembaga pelatihan agar selain mendapatkan
pengajaran dari badan yang berkompeten untuk melatih, juga sebagai sarana refreshing
bagi para agent. Setidaknya surat referensi/ijazah, sertifikat pada mereka merupakan
salah satu sarana untuk mencapai kesuksesan yang dimiliki orang.
Dapatkan seorang agent melayani multi web chat dalam waktu yang bersamaan
dengan kualitas layanan?
Jawaban yang mudah ialah mereka harus sanggup, demikian jawaban yang biasa
diucapkan oleh supervisor CSR perusahaan yang ditarget pendapatan, padahal perusahaannya
baru saja berusaha menyatukan dirinya ke dunia “e” setelah ia dan
timnya berusaha meyakinkan perusahaan untuk segera menggunakan web enabled contact
center.
Namun para agent harus dilatih untuk mengetik cepat dan benar di suatu lembaga
dan memiliki lingkungan screen interface ke komputer yang mudah selayaknya click
and drag untuk menjawab pertanyaan pelanggan yang mirip dengan FAQ dengan paragraf-paragrafnya.
Bagaimana cara untuk selalu memelihara performansi sekaligus?
Caranya sebagaimana biasa mengurusi sebuah Call Center, yaitu dengan menggunakan
pekerja yang dipekerjakan secara shifts, ada session istirahat untuk agentnya,
masa-masa latihan, produk baru, adanya quality management dengan sistem recording
serta antara perusahaan dan agent juga memiliki perjanjian atau kontrak yang
ditepati dan menjamin hal-hak agent sesuai dengan peraturan dan etika yang barlaku.
Bagaimana cara untuk mendapatkan skilled voice agents yang baik di dalam
multi lingkungan untuk berkomunikasi dengan pelanggan?
Latihan, dan latihan. Baik dengan BIT(Built in Training), atau dengan melatihnya
di lembaga profesional. Atau rekrutasi pegawai baru dengan konsekwensi –
konsekwensi lainnya.
Bagaimana membuat agent semakin cocok untuk bekerja secara “e-culture
”?
Kembali lagi jawabannya adalah Latihan dan Latihan. Baik dengan BIT(Built in
Training), atau dengan melatihnya di lembaga profesional. Atau rekrutasi pegawai
baru dengan konsekwensi – konsekwensi lainnya.
Penulis : Rudy Harinugroho
Penulis ialah lulusan STT TELKOM 1999, mulai bergabung dengan DivRisTI TELKOM
sejak Juli 1999. Saat ini bekerja di Laboratorium Service dan berkecimpung di
proyek-proyek kajian dan perencanaan layanan dan bisnis Intelligent Network,
konsep Integrated Call Center dan Customer Relationship Management. Proyek yang
saat ini sedang ditangani ialah standarisasi layanan IN, Proyek Pembangunan
konsep CRM TELKOM
Sumber : Majalah Gematel edisi 31 |